Saturday, March 21, 2009

DI TENGAH FESTIVAL - a short story by anindya rahadi

Festival yang penuh sesak, manusia-manusia berjejalan. Turut serta kucing dan ayam di sela kerumunan di depan gedung, nampak kebingungan dengan bising yang tak biasa. Festival home band kampus. Beberapa waktu lalu baru saja Fi membaca prosa firasat dari buku Rectoverso yang ditulis Dewi Lestari. Entah mengapa, sejak beberapa lama ia kemudian sadar sesuatu dalam prosa itu mungkin saja terjadi pada dirinya, Fi sudah merasa akan ada yang terjadi sebentar lagi. Ada yang samar memberitahu ini kejadian yang sudah dia perkirakan. Tapi diusirnya pikiran itu lekas, sepertinya Fi bukan jenis manusia yang sepeka itu hingga diberi pertanda sebelum peristiwa itu menyeruak. Lihat saja kebebalannya yang sering lambat menangkap maksud dan isyarat.

Tidak ada bukti akan terjadi, dan Fi takut pada sekelumit bagian hatinya yang menginginkan potongan itu hadir di depan mata. Entah… ia tidak tau apa ini memang murni kehendak hati ataukah cuma keinginan untuk membuktikan bahwa ini bukanlah suatu cobaan yang patut ditakutkan. Karena Fi bukan tak sendiri. Meskipun Bintang berada pada tempat yang berbeda dan rentang jarak yang tidak bisa dibilang dekat. Perlu mencuri waktu diantara segudang aktivitas mereka untuk bisa saling menyapa dan menangkap sosok masing-masing.

Menyadari alasannya hadir disini bukan lantaran dia suka berada ditempat ramai seperti layaknya di festival ini, hanya demi menonton teman sekelas sejak semester dua turut serta di ajang lomba. Teman sekelas sekaligus teman baik, yang mau berbaik hati untuk kadang-kadang menampung sampah hatinya, atau membantu Fi menguraikan deretan angka di buku yang penuh sesak dengan bilangan. Fi selalu butuh keramaian dan mengakui dalam hati jika ini demi menghilangkan berbagai macam pikiran buruk yang melanda. Tapi Fi tidak pernah nyaman berada di dalamnya, jenis keramaian yang biasa dia pilih untuk berada disana juga biasanya tidak sejenis ini. Ramai yang lebih bisa membuat ia tidak merasa menjadi alien di dalamnya.

Dan Fi menjadi salah satu dari berjubel orang yang repot-repot mau datang dan menonton dengan motivasi masing-masing berbeda. Matanya mencari, mencari satu sosok yang merupakan pembuktian apakah apa yang ia rasakan benar atau salah. Ia tidak berhasil menemukannya dimana-mana, ternyata hati kecilnya salah. Hmmmh, keras-keras Fi menghembuskan nafas dengan setengah lega. Kini dia tak perlu kuatir akan apa-apa dan merasa cukup tenang.

Hampir semua orang turut serta berbalur dalam keriaan ini, terbahak dan mengangguk-angguk mengikuti irama atau bergoyang. Fi tergolong manusia kikuk yang lebih baik melarikan diri ketimbang menikmati irama dalam dansa. Dia tersenyum dalam termenung dan muram. Terbayang banyak hal, banyak sekali termasuk Bintang, dan ‘dia’… yang membuat Fi sempat terpesona dulu.

Mendadak Fi terpaku ketika tiba-tiba saja matanya menangkap sosok ‘dia’ di barisan belakang, nampak baru saja melibatkan diri di arena jubelan manusia yang bukan main padat ini. Senyuman yang sama, tatapan yang sama dengan bertahun lalu. Dia berdiri disana, dan ditengah keramaian festival mendadak Fi tidak ingin berbuat apa-apa kecuali memandanginya dari tempatnya berada saat ini. Senyuman yang sempat mematikan sel otak Fi, membuatnya menjadi manusia paling aneh dan memalukan dengan merona hanya karena dia mendekat.

Fi tidak tahu kenapa bisa meletakkan hatinya pada dia yang sekarang tengah ditatapnya. Semua serba buram dan ia hanya tahu terlalu banyak wanita yang menaruh perhatian lebih pada dia, berusaha merebut perhatian dari dia dan malangnya, Fi termasuk. Segala hal terlihat sangat menarik, dia orang baik yang penuh daya tarik pesona. Hati Fi tak cukup bisa bertahan dengan itu. Ia jatuh cinta. Belakangan ia mendapati ternyata dirinya jatuh hati karena kemiripan raut wajah dia dengan Fi Biangliliana. Entah… apa itu berarti Fi jatuh cinta pada diri sendiri atau karena terobsesi dengan isu yang mengatakan kemiripan antara dua jenis manusia bisa berarti meant to be? Perasaannya terhadap dia adalah perasaan aneh tak berbalas yang paling membekas dalam ingatan.

Fi dulu selalu suka mengamati dia dari kejauhan, mengamati tanpa mau dia tahu Fi memperhatikan segala tentangnya, menunduk saat tanpa sengaja mata saling menangkap. Sudah bertahun-tahun sejak semua itu nyata. Dan Fi bukan lagi sosok messy look yang sama sekali bukan siapa-siapa, yang jarang mendapat pengakuan atas eksistensi. Fi yang dulu sering muluk membayangkan orang tipe begini bakal jatuh cinta dengan Fi, orang yang tipe begitu, orang yang seperti di tv... yang seperti Synyster? Ehm, kurang lebih seperti itu.

Fi semenjak sekitar setahun lalu telah menjadi stasiun tempat cinta datang dan pergi. Mulai kerepotan dengan sms yang membanjir, telepon yang menunggu diangkat dan tawaran mengantar ke berbagai tempat dari orang-orang yang bukan teman baiknya. Status single yang ia sandang membuatnya sedikit banyak menikmati ini, meski sering merasa tidak nyaman. Fi tidak pernah merasa suka berdekatan dengan teman yang kemudian ia tahu menaruh hatinya pada Fi dan ia sendiri tidak merasakan hal yang sama. Mendadak Fi selalu ingin menjauh dari jangkauannya, melarikan diri seperti narapidana takut mati.

Semua menjadi lebih mudah dan berjalan baik ketika Fi memiliki Bintang. Ia tidak perlu khawatir dan merasa tidak nyaman lagi dengan semua orang yang menelepon, mengirim sms atau mengunjungi. Tidak perlu ketakutan dan merasa tiba-tiba sebal dan ingin marah. Karena ada Bintang, alasan utama Fi. Danau yang menampung aliran sungai hatinya. Pelindung saat dekat dan saat jauh meskipun kadang Bintang tidak menyadari. Orang yang membuat Fi melihat banyak hal dari sisi yang berbeda, yang membuatnya benar-benar terjatuh dalam cinta. Yang benar-benar bisa membuat Fi merasa dicintai tanpa merasa ingin lari.

Dan dia yang saat ini Fi pandangi, membuat hatinya tiba-tiba tergelitik untuk menyapa tapi tidak tahu bagaimana caranya. Fi mengirim pesan singkat ke ponselnya, memberi tahu kehadirannya ditempat yang sama dan ternyata itu cukup membuat dia mencari-cari Fi. Cukup lama,hingga akhirnya dia berhasil, mata mereka bertemu dan saling melempar senyum dan mengirim sapaan lewat mata.

Beberapa saat lamanya Fi merasa semuanya berbalik, histeria bodoh yang disebabkan dia empat tahun lalu membumbung. Rasanya begitu mirip dengan masa itu, band yang memainkan musik, Fi yang diam dan jarang terlihat tertarik dan acuh tak acuh dengan apapun yang dipertontonkan, dan dia yang terlihat excited. Fi tak pernah sepenuhnya tertarik dengan musik yang dimainkan, Fi hanya memperhatikan dia. Senyuman dan mata yang bercahaya, seperti menemukan oase dari kehidupannya sendiri.

Ada banyak hal yang mirip dengan empat tahun lalu, banyak sekali. Dan Fi masih bisa merasakan histeria yang pernah ada meski dalam jumlah yang jauh tidak sama dengan yang dulu, atmosfer membahagiakan saat momen-momen seperti ini terjadi. Seperti membongkar file yang tidak pernah dibuka sejak lama dalam komputer tua. Entah apa pendapatnya saat ini tentang Fi, entah bagaimana caranya menilai Fi. Entah… hal itu menjadi sangat tidak penting untuk dipertanyakan saat ini.

Dia masih disana, tatapan mata bercahaya seolah hidup dan menghanyutkan yang masih sama, senyum yang masih sama yang dulunya Fi kagumi. Fi juga masih disini, berada pada jarak terjaga dengan dia, masih menatap sosoknya yang seperti magnet menarik untuk didekati dalam padatnya keramaian. Tapi saat ini, Fi tahu semua hanya terlihat sama seolah rekonstruksi kejadian masa yang telah lama lewat. Karena Fi tidak lagi menatap dan memandangi dia dari cara pandang yang sama, Fi tidak lagi tersenyum dan merasakan hatinya menghangat ketika menemukan dia, Fi tidak lagi mendapati mendadak wajahnya merah padam ketika tanpa sengaja beradu pandang. Hatinya berubah dan mendadak merasa ia lega mendapati ini.

Sebelum Fi pulang, sebelum festival selesai… dia sudah tidak ada disana. Seperti posisinya dalam hidup Fi yang ‘mampir’, cuma sebentar dan sudah berlalu. Tidak ada lagi. Hati dan hidup Fi seperti festival ini, yang dia kunjungi dan setelah itu pergi. Fi tertawa giris dalam hati, ternyata semua hanya butuh waktu yang nantinya akan menggerakkan segala. Dulu Fi memohon-mohon pada waktu agar mengalir deras dan membuatnya sembuh dari kegilaan itu. Ternyata waktu mengabulkan permohonan Fi, menyadari tanpa dia Fi tidak akan apa-apa. Ia baik-baik saja dan masih hidup hingga sekarang, bukannya bunuh diri atau apa.

Ponsel Fi bergetar, pesan singkat dari Bintang menyapa matanya. Iya, Fi sekarang memiliki pengirim pesan singkat itu. Fi berharap jika dengan Bintang – tujuannya mengirim pesan balasan saat itu, waktu berhenti selamanya di tempat saja.


###TAMAT###
Untuk Sofi Aisyah.

2 comments:

Previous Page Next Page Home
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...