Saturday, January 14, 2012

Cita-cita dan Saya

Harapan saya mulai seperti balon-balon yang mulai banyak meletus hingga rumah kecil terbang semakin rendah
(image taken from UP movie)

Cita-cita saya berubah-ubah terus dari dulu hingga sekarang, ketika saya duduk di sekolah dasar saya menyebutkan bahwa cita-cita saya menjadi guru. Hanya karena itu tampak gampang disebut, teman-teman sekelas saya menyebutkan cita-cita yang sama dan lembar kerja soal saya yang memuat profil pelajar-pelajar sekolah dasar pun juga mengumumkan cita-cita yang serupa. Saya juga mau jadi anggota angkatan bersenjata hanya karena alm. tante saya sering mengajak saya berolah raga, kedekatan kami dan cita-cita yang menjadi cita-cita beliau juga. Meskipun akhirnya berbanding terbalik. Beliau kemudian menekuni pekerjaan sebagai pegawai salah satu bank besar. Dan saya mendadak juga mikir, sepertinya jadi pegawai bank lumayan juga kok... setelah melihat dandanan tante saya dan teman-temannya yang tidak pernah tidak cantik-cantik.
Gampangan ya, saya...

Waktu duduk di sekolah menengah pertama cita-cita saya berubah lagi, saya tetap ingin jadi guru namun bertekat bahwa kalau saya nantinya menjadi guru maka saya tidak akan menjadi pendidik begitu saja. Saya harus sekolah tinggi bahkan kalau perlu sampai Strata 3 dan mengajar mahasiswa. Cita-cita yang kontras mengingat jaman SMP saya tukang bolos dan malas belajar. Saya cuma semangat ketika kelas satu semester pertama, bahkan juga sempat punya nilai 100 di pelajaran biologi waktu itu, kemudian malas berkepanjangan. Baru sembuh ketika saya naik ke kelas tiga dan sadar bahwa saya mesti lulus dengan nilai bagus agar tidak menyesal. Sejenis kesadaran yang terlambat karena saya cuma rajin disaat menjelang akhir kelulusan. Ck.

Saya sempat punya keinginan jadi penulis karena seringnya saya menang lomba karena nilai tinggi saya di mengarang tapi keinginan itu surut ketika SMP karena guru-guru SMP saya mengirim murid yang menulisnya cetek banget (kayak anak SD dikasih tugas menceritakan liburannya) hanya karena dia terkenal dan anggota Osis. Hmm ini awal permusuhan saya dengan organisasi siswa sejenis Osis, kenapa ya? Karena anggotanya itu-itu saja, yang milih wali kelas bukan karena seleksi terbuka. Kebanyakan tanpa prestasi, kecuali membanggakan tampang bahkan juga dikelas rata-rata mereka bisa sangat.... nothing. (Haha bolehnya sirik deh Nin, padahal kamu juga sudah nongkrongnya di perpus mulu, cupu abis, sombong pulak!).

Ketika SMA cita-cita yang terpengaruh karena alm. tante saya muncul lagi ke permukaan. Saya rajin banget olahraga waktu itu hanya untuk masuk akademi sekolah kepolisian. Tipe cowok saya juga yang sejenis itu. Krik banget deh. Tapi cita-cita itu selesai karena saya tidak mencukupi persyaratan usia dan alm.Ibu saya terlihat seolah setuju tapi sebenarnya berat kalau masa depan saya mengarah kesitu. Saya masuk universitas biasa di jurusan yang saya pikir bisa masuk ke semua bidang pekerjaan. Ketika kuliah itu cita-cita saya berubah lagi, saya kepingin jadi orang yang mengurusi keuangan perusahaan besar atau mungkin bankir. Atau mungkin menjalani hidup lebih independen dengan menjadi dosen. Keinginan saya yang semasa SMP timbul lagi.

Tipe lelaki favorit saya sudah bukan lagi pemuda calon jendral, pandangan saya sudah sangat berubah dengan tipe cowok ini. Termasuk karena rerata hobi main hati kaum wanita dan suka memilih wanita secara random yang penting cantik. So lame. Entahlah begitu cepatnya hati bisa dibalikkan, karena sampai sekarang saya masih tetap menganggap lelaki muda dengan tipe-tipe ya gitu deh itu sama sekali tidak mengesankan lagi. Tapi dititik ini saya sudah sangat absurd kalau membicarakan tipe cowok.

Ada waktu-waktu saya suka cowok berkaca mata, kemudian cowok apa saja yang penting berkulit gelap mungkin dari mahasiswa sefakultas atau fakultas tetangga agak dekat (baca: FT). Kemudian berubah lagi, saya jadi tidak punya tipe khusus, yang penting kulitnya gelap... ngga seperti saya yang dandan agak coklat sedikit saja biar cakepan dianggap belum mandi. Bagian yang paling penting lagi adalah cocok, cocok dalam arti luas termasuk juga dalam hal mengobrol segala topik bukan cuma hal yang itu-itu saja. Pada akhirnya semua orang akan lebih butuh teman hidup ketimbang kekasih, kan? Saya juga. Jadi tidak mengapa kalau teman hidup saya bertolak belakang dengan apapun yang saya inginkan sebagai kriteria pasangan ketika saya masih dalam masa mencari jati diri dulunya*halah.

Ketika lulus kuliah cita-cita saya sudah berubah lagi, saya bercita-cita berkerja dalam bidang apapun yang bisa memasukkan saya dalam kualifikasi dan bisa mendapatkan penghasilan yang lumayan untuk membiayai sekolah adik saya apapun bidang ilmu yang dia pilih ketika kuliah. Ya, goal saya itu. Sementara sudah 4bulan ini saya jobless. Bleh. Saya sudah bosan sih kalau dipikir-pikir. Bosan berdiam tanpa rutinitas yang jelas, kecuali bengong menghadapi layar.

Mulai memutuskan untuk meninjau ulang cita-cita jaman SMP itu, sekolah tinggi dan mengajar. Mulai memutuskan akan mengambil beasiswa sekolah lanjutan sambil mengajar yang saya tunda keputusannya sampai awal tahun ajaran baru nanti. Mulai mengira bahwa jalan saya mungkin berada disitu. Saking bosannya mengambang seperti saat ini.
Jika bukan, bagaimanapun Allah... semoga engkau memberikan pekerjaan tetap bagi aku yang baik, dan aku bekerja bukan semata karena faktor kemenarikan penampilan atau juga koneksi. Tapi cuma karena aku, dan kuasaMu.
~

19 comments:

  1. baca ini saya malah kayak ngaca loh mbak ninda.. :)

    dimulai dari cita-cita yg berubah-ubah.. sampai pemaparan tentang teman hidup.. bukan kekasih.. TSAH!

    btw.. kalau boleh cerita.. sejak dari SD saya kagum sama guru. dan saya jg bercita-cita menjadi guru.. beneran..
    dan itu masih belum berubah loh..

    ah.. intinya.. semangat ya mba'e..
    kayak yg aku bilang di twit aja "nikmati hujan-mu".. :))

    ReplyDelete
  2. fighting mbk, moga cepet ketemu "jodoh"nya... kta orang save the best for the last.. jd mungkin yg terbaik buat mbk masih disimpenin dulu sampe bener2 siap buat ditampilkan.. hehehe

    ReplyDelete
  3. semoga segera dapet mewujudkan semua cita2nya, mba.. :)
    karena pada dasar'a Allah selalu punya rencana untuk apapun yang diinginkan oleh hambaNya, Allah akan segera mewujudkannya, atau ditunda untuk bersabar atau juga diganti dengan hal yg jauh lebih baik dari apa yang kita mau :)

    Salam kenal, mba :))

    ReplyDelete
  4. Hope you'll find your way hehe

    ReplyDelete
  5. ninda tukang bolos waktu smp? siapa sangka sekarang telah berubah :)

    ReplyDelete
  6. sekarang apa nih cita-citanya mbak?
    :D
    penyanyi? model?
    hehe
    yg ptg tetap berjuang di jalan Allah dimanapun kita berada dan jadi apapun nanti kita..
    ^^

    ReplyDelete
  7. Jadi mau sekolah S2 nih? Mau ngambil apa?

    ReplyDelete
  8. aku juga berdoa mbak buatmu, semoga bisa dapat pekerjaan yg bisa membuatmu nyaman.

    sungguh, aku pernah merasa 3 bulan saja sudah bosan, apalagi sampe 4 bulan kayak mbak nin.... gak bakal aku bisa bertahan. yg ada aku malah uring-uringan mungkin.

    ReplyDelete
  9. cita-cita yg berubah-ubah wajar saja nin, mngkn krn masa pencarian jati diri. mba yakin, ninda akan menemukan pekerjaan yg memang betul-betul krn ninda...kemampuan dan krn memang ninda ingin disitu :)

    selamat untuk alamat barunya ninda...PR nya merosot tajam kah?

    ReplyDelete
  10. cita pertama saya adalah pilot tapi berubaha seiring dengan perjalanan waktu & usia yang memilih2 mana yang terbaik untuk kita
    tapi cita2 saya saat ini & kedepan,saya bertekad sebelum saa meninggal nanti saya ingin berbuat yang terbaik untuk sesama manusia

    ReplyDelete
  11. Sesaat sebelum masukin formulir masuk kuliah, saya pengen banget jadi arsitek. Eh gak tahunya berubah sekarang. Saya pengen bekerja di bidang yang berhubungan dengan buku. Entah apa aja deh, pokoknya yang kerjaannya membaca. :D

    Asal jangan membaca angka2 di laporan keuangan ya. LOL

    ReplyDelete
  12. memang cita-cita kita masih kecil dengan kita sekarang .berbeda

    ReplyDelete
  13. @arif, aku lagi gak pengin hujan-hujanan rif :P hehehe

    @meriska, makasih ya dek

    @rio, sekarang gak ada hari masuk jadi ya apa yang mau dibolosin XD *becanda

    @sri, gak dua-duanya dong... aku mau memberdayakan otakku aja

    @mbak vicky, umm beasiswa sambil ngajarnya komunikasi mbak... makanya aku pikir2 dulu. eman sama kuliah s1

    ReplyDelete
  14. @fitri, ah makasih fitri. rasanya senang. komentarmu selalu bikin aku senang :) :P hehe

    @mbak ir, sementara ini belum mbak..

    @asop, itu karena kau tidak berkecimpung di dalamnya nak *tepuk bahu*

    ReplyDelete
  15. wah, saya termasuk orang yang gak jelas cita-citanya. sekarang kerja pun di bidang yang sangat tidak dibayangkan waktu kecil dan remaja.

    ReplyDelete
  16. hahahhaa
    sama dengan saya sob...
    citanya berubah mulu dari jaman tk sampe kuliah ...
    btw mau tukeran link ga sob ?
    kalau maua bales di blog saya yakh :D

    ReplyDelete
  17. oia, jangan lupa folbeck blog saya juga ya sob
    hehehehe

    ReplyDelete
  18. cita-cita saya gak pernah jelan Nin :D cueka aja deh ya ^^

    ReplyDelete