Monday, December 2, 2013

Huru-Hara Mogok Dokter

Oke, saya tidak akan membahas terlalu dalam mengenai dunia kesehatan karena memang tidak berkompeten dengan itu. Tapi melihat seliweran curcolan di twitter dan facebook oleh kawan-kawan saya yang berprofesi sebagai dokter, membuat saya pengin urun suara juga.

Saya paham apa yang bikin mereka resah. Meskipun diberbagai media sosial banyak yang mengeluhkan beberapa kelakuan buruk OKNUM dokter yang tidak bertanggung jawab. Gini deh, seberapa banyak yang merasa kalau sinetron tidak sesuai dengan dunia nyata? Contohnya anak-anak sekolah yang bajunya dikeluarkan semuanya? Dengan setting Jakarta, bayangkan saja berapa banyak anak SMA Jakarta yang ngeluh...,"ah padahal di SMA gue nggak begitu,"

Kemudian nih berapa banyak berita yang melibatkan profesi guru dalam kasus. Entah yang pelecehan terhadap anak muridnya atau kasus lainnya. Iya, itu namanya oknum. Bukan cuma dokter, semua profesi dan pekerjaan mempunya 'oknum' yang terlibat masalah sehingga pandangan miring pada profesi/pekerjaan itu menjadi bumerang bagi yang lain meskipun mereka tidak bermasalah dan menjalankan tugasnya dengan baik.

Membaca begitu banyak tulisan dimana-mana mengenai kekecewaan terhadap dokter, saya melihat adalah sesuatu yang wajar. Namun pandanglah itu sebagai oknum, lihatlah itu dari segi 'kekecewaan pada dokter X, dokter Y dan yang lain... bukan kekecewaan terhadap profesi dokter'. Oknum tetaplah oknum, kita tidak bisa menyamaratakan karena ini bukan survey yang mengambil sample sebagian. Kalaupun ini survey, saya yakin tidak sedikit dan profesional dan sangat baik menjalankan tugasnya dengan tidak meninggalkan nuraninya.

Kita lihat kebelakang dalam sejarah, pernah tidak sepanjang sejarah ada aksi mogok yang sama dari para dokter?
Saya pikir tidak pernah.
Dan bahkan dalam aksi mereka, UGD tetap dijalankan, tetap dilayani.
Barangkali kita semua perlu menilik ulang dan melihat dari persepsi mereka. Melihat dari berbagai sisi baru bisa melihat sebuah permasalahan secara utuh. Tidak cuma bermain debat kusir di media sosial dengan menggunakan ID palsu.

Kemarin ini saya sempat baca curhatan seorang kawan yang dulu pernah tinggal satu kosan dengan saya, dokter bahkan masih tegar bertugas menjalani internship (masa penugasan di daerah setelah lulus pendidikan kedokteran dan profesi di rumah sakit), meskipun dengan gaji yang minim dengan pas UMR atau lebih rendah, yang turunnya tidak selalu tepat waktu dan sering direkap... misal bulan ini tidak gaji tidak diberikan, bulan depan dua kali gaji turun. Berapa gajinya? Ya perkirakanlah setara UMR daerah yang rendah sekitar 1,3 juta - 1,7 juta *saya agak lupa nominalnya. Coba dipikir ulang, lulusan Universitas bagus... sudah lulus dengan nilai lumayan, sudah menempuh pendidikan profesi dengan total lebih 5 tahun... diberikan gaji senilai itu dan diharapkan mengabdi pada masyarakat yang sedikit-sedikit seringnya menuduh mal praktek.

Ayo para akuntan, engineer, atau yang menempuh jalur management trainee...? Coba bandingkan dengan gaji kalian setelah lulus kuliah yang waktunya bisa dipersingkat karena kerajinan dan kecerdasan. Saya yakin pasti nominal itu jauh dibawah gaji kalian semua :)

Semoga dokter Indonesia lebih diperhatikan untuk mendukung kinerja dan tanggung jawab mereka yang begitu besar dari sisi kesejahteraan dan perlindungan hukum.

Selamat mengawali bulan desember, semuanya :)


2 comments:

  1. Saya tidak menyangkal bahwa di dunia ini ada dokter yg baik, yg sholeh, yg tulus dan ikhlas merawat dan mengayomi pasiennya. Bahkan dia sampai termimpi-mimpi dan terbayang-bayang akan pasiennya di rumah kala dia sedang tidak dinas.

    Tapi akan sangat naif sekali kalau kita berpikir bahwa semua dokter sesuci dan semulia itu.

    Begitu pula halnya ttg guru, atau ttg pejabat pemerintah, atau ttg pedagang.
    Seprofesi bukan berarti sekepribadian atau sekepentingan. Guru yg mendidik ada, guru yg prilakunya macam tak berpendidikan juga ada. Pejabat yg lurus ada, pejabat yg korup tak punya malu juga ada. Pedagang yg jujur ada, pedagang yg culas juga ada.

    Masyarakat memang tidak seharusnya men-generalisasi semua dokter itu suka malpraktek dan money-oriented, misalnya. Tapi dokter yang cerdas juga tidak seharusnya membela diri dengan mengklaim bahwa semua dokter itu baik dan mulia, sehingga tidak mungkin ada dokter yang sengaja salah. Oh, selalu ada orang yang sengaja, saya kira.

    ReplyDelete
  2. Wah kesindir nih,,haha..engineer dan jadi management trainee. Oke Nin,,melihat dari sisi lain kejadian ini :-)

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...