Thursday, February 27, 2014

Titik Balik

Sore, pemandangan di luar jendela. Dalam kereta.
Tidak ada yang lebih saya rindukan dari anda.
Dan apakah anda merasakan hal yang serupa? Mungkin tidak dari bagaimana anda tidak mempedulikan saya. Mungkin juga iya mengingat andalah yang pertama menyapa saya tadi. Mungkin anda cuma sedang bersikap baik, sementara anda paham seberapa besar ego yang saya punya bahkan sekedar untuk memulai sapaan.
Pesan pendek di ponsel saya bolak-balik saya lihat. Saya ketik draftnya tadi. Begitu gembira dan pura-pura ceria menanyakan kabar anda dan cerita lanjutannya. Kita tadi tidak sempat bertegur sapa lama dan bertukar cerita. Bolak-balik juga saya cuma bisa menatapi anda di keramaian. Segalanya mendadak hablur, mata saya berubah seperti lensa kamera yang distel fokus pada satu titik. Anda dengan remah repihnya. Segala kedetailannya.
Pesan pendek di ponsel saya tetap saja menjadi sekadar draft.
"Hai, apa kabar?" tangan yang diulurkan duluan, menyentak saya.
"Baik," saya sambut uluran tangan anda, senyum sekadarnya.
Saya sudah melepaskan anda selama setahun, dengan segala keikhlasan yang pelan-pelan saya kumpulkan dalam kurun waktu itu, meniadakan kontak. Saya terus mempercayai bagaimana saya mengelola keikhlasan dan kepercayaan bahwa perasaan saya sudah lenyap.
Kata yang populer saat ini move on.
Tapi beberapa jam lalu perasaan itu kembali seperti banjir yang susah saya bendung, memenuhi seluruh pikiran dan hati saya kembali. Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan dengan rinci apa nama dari perasaan itu. Saya sungguh tidak ingin menerima kenyataan bahwa setelah satu tahun tanpa kontak, perasaan saya kepada anda tetap berlangsung dengan sedemikian lugu dan tidak terhenti meskipun saya paksa sedemikian keras untuk lenyap.
Saya menatap kosong gambar amplop di ponsel saya dengan sedih.
Jadi saya harus mulai lagi dari awal untuk memupus rindu saya kepada anda?
Sementara tidak ada lagi yang bisa saya harapkan, bahkan sekedar kedatangan anda mengantarkan saya kembali dari perjalanan ini.
Saya memejamkan mata, tidur... tidur akan melegakan segala perasaan yang demikian tumpah ruah sampai terasa sesak.
Mata saya mengintip pemandangan yang berlalu, beberapa kilometer lagi saya sudah resmi menjauh dari kota tempat anda berada. Ponsel saya mati begitu saja. Baguslah. Draftnya tidak usah terkirim, saya tidak perlu bingung.
Saya pamit. Saya bergumam dalam hati, memperhatikan pemandangan yang berlalu di jendela kereta.
Rindu mengakar dan membebani saat ini, saya nelangsa.

~

"Apa?"
"Dia ada?" lelaki itu bertanya gelisah.
"Dia sudah pergi sejak pagi. Jadwal keretanya siang kan... sudah kami antar tadi. Ada apa? Ada barangnya yang ketinggalan setelah acara kemarin?"
"Oh oke... aku terlambat. Iya ada yang tertinggal kemarin,"
"Masuklah... kami sedang packing. Penerbangan 4 jam lagi,"
"Terima kasih, aku pulang saja," lelaki itu tersenyum tipis dan berjalan berlalu kemudian mendial nomor telepon di ponselnya. Tidak aktif.
Dia mencoba lagi. Nada tidak aktif lagi.
Semoga kamu selamat sampai tujuan.

~

2 comments:

  1. Kucoba mencerna tulisan ini, tapi (masih) gagal :(

    ReplyDelete
  2. ceritanya ada sambungannya lagi ya..

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...