Thursday, December 4, 2014

Giveaway Listeninda #3

Seperti yang sudah pernah saya bicarakan di bulan kemarin, Desember ini akan ada giveaway lagi.

Hadiahnya....


HIJAB STARTUP 
yang meliputi:
1) Bergo mocca bahan jersey adem banget, kriwil. Cocok dipadukan dengan semua warna rok dan gamis. Bisa dipakai sholat sebagai pengganti mukena bagian atas.
2) Dalaman kerudung warna mint, brand Peri Cantieq. Enak banget dipakai. Bahan jersey. Nggak bikin telinga sakit.
3) Buku "Yuk Berhijab!" Ustdz. Felix Siaw dan Benefiko. Bagus banget. Wajib tahu loh muslim dan muslimah.

Buku bisa dibaca muslim dan muslimah. Nah kalau pemenangnya cowok, bisa dihadiahkan pada keluarga atau orang yang membutuhkan.

Caranya:

1) Follow blog ini

2) Tulis komentar di postingan ini yang berisi:
- nama
- ID yang digunakan untuk follow blog ini
- email yang bisa dihubungi
- tulisan bertema "Cerita Hijrahku". Bisa apa saja.
Dari yang nggak pakai kerudung jadi pakai kerudung. Dari pakai kerudung pendek hingga memutuskan memanjangkan kerudung. Memelihara jenggot bagi yang cowok. Memutuskan lebih dekat dengan Allah dengan memperbanyak baca Qur'an, dan semacamnya. Setiap langkah pasti ada sejarah dan latar belakang. Jadi yuk berbagi cerita :)
Sengaja bentuk komen biar lebih mudah menyeleksinya.

3) share mengenai giveaway ini dan pasang logo giveaway dengan link hidup ke postingan ini di blog kalian. Semakin banyak cerita. Semakin banyak hal yang bisa dipelajari.

Semoga syaratnya nggak memberatkan yaa... Oke giveaway dimulai :D





~






17 comments:

  1. dhyna azeegha
    dhyna_84@yahoo.co.id

    Bismillah
    sebenarnya tulisan ini draft blog aku, cuma belum sempurna ^^
    ini tentang perjalanan hijrah yang sampai sekarang masih jadi renungan setiap malam dan setelah shalat
    tentang jilbab ku yang sehari2 memang selalu melekat padaku hampir 21 tahun
    aku memakai jilbab sejak kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah dulu, karena peraturan sekolah

    saat masuk SMP dan SMA aku pernah berniat untuk buka jilbab lagi, tapi ayah gak pernah ngijinin, meskipun aku merengek, karena bagiku berjilbab itu gak gaul, kuper, gak bisa ikut2 kegiatan ekskul kayak temen2 yang laen
    dengan kecewa aku akhirnya terpaksa kembali berjilbab

    tahun kedua SMA, daerah aku mulai diberlakukan syariat islam, jadi semua sekolah diwajibkan siswanya berpakaian islami, bahkan untuk kegiatan sehari2 pun harus berbusana islami
    aku pasrah, dengan berjalannya waktu keinginan untuk membuka jilbab itu seperti menguap, aku gak kepikiran lagi untuk memakai baju pendek, mungkin karena semua orang saat itu sudah berjilbab, jadi tidak ada pembedaan lagi yang mencolok

    saat masuk kuliah
    disini bertemu dengan mahasiswi2 yang memakai jilbab secara berbeda
    lebih lebar, lebih longgar, lebih panjang dan tanpa gaya aneh2, plus gamis setiap hari
    mereka lebih sering berkumpul di musholla kampus, ikut kajian2 rutin
    dan aku saat itu masih nyaman dengan jilbab lilit dengan berbagai motif dan warna
    masih suka pake jeans dan kalaupun pake rok tetap yang pas badan
    aku tahu harusnya jilbab yang baik itu seperti mereka, tapi aku cuek
    aku ingin tetap nyaman pada zona keegoisan ini
    begitu terus sampai aku lulus kuliah

    seiring banyaknya buku yang aku baca aku semakin terbuka mata tentang kewajiban muslimah
    dan saat aku mengetahui kalau dosa anak perempuan yang terbuka auratnya ditanggung oleh ayahnya selama dia belum menikah, aku terenyuh, aku menangis
    aku secara tidak sadar telah menumpuk dosa buat ayahku selama ini
    aku berjanji akan berubah, aku mulai pake rok, kemeja dan jilbab yang dilepaskan saja hingga nutup dada

    dua tahun selanjutnya diterima bekerja di perusahaan swasta
    resikonya bekerja di perusahaan seperti ini, harus menerima seragam kerja yang disamakan antara perempuan dan laki-laki
    parahnya ada beberapa muslimah yang berjilbab lebar terpaksa memangkas jilbabnya agar bisa bekerja di perusahan swasta seperti ini
    aku miris, bukankah di negeri syariat seperti ini harusnya banyak kemudahan untuk berpakaian secara islami?
    di hari pertama bekerja aku memakai kemeja lengan panjang, rok dan sepatu flat aja, tanpa make-up
    sedangkan yang lain lengkap dengan high heel dan full make-up
    dan alhamdulillah sampai akhir masa training aku baik2 saja
    pernah aku beranikan diri bertanya ke HRD dan mereka bilang gak apa2 karena aku kerja di back office, Alhamdulillah

    saat aku menikah setahun lalu
    ada rasa aneh mengusik hati aku setiap kali melihat wanita2 yang memakai jilbab lebar, bergamis, aku sering mandangin mereka dengan rasa kagum, jujur saja kalau aku suka melihat mereka
    aku ingin sekali seperti itu, tapi aku diam saja
    hingga saat melahirkan Aisyah 7 bulan lalu
    aku bilang kalu aku ingin berjilbab lebar dan pake gamis ke suami aku
    u know what? itu juga keinginan lamanya
    hanya saja dia tidak mau bilang, karena tidak ingin dianggap memaksa
    dia ingin aku sendiri yang menginginkannya
    dan do'a2nya terjawab sudah
    senang banget rasanya

    mulailah aku hunting baju gamis
    kadang jika ada budget lebih aku menjahitkannya ke tukang jahit
    namun kendalanya untuk ukuran aku, sangat susah sekali mendapatkannya
    mau tidak mau aku harus menyisihkan sedikit penghasilan tiap bulan untuk tabungan menjahitkan atau order gamis

    seragam kerja aku menyiasatinya dengan memakai baju kaos longgar lengan panjang jika kebetulan seragam kerjanya berlengan pendek, mengkombinasikan dengan rok hitam lebar
    dan alhamdulillah hingga saat ini belum ada komplain dari management terkait seragam kerja aku
    semoga juga rejeki aku dilancarkan sehingga masih cukup buat nabung buat jahit gamis dan jilbab lagi, amien

    ReplyDelete
  2. nama : Nur Dina Mustaqima
    ID : Dhyna Azeegha
    email : dhyna_84@yahoo.co.id

    ReplyDelete
  3. Warastri Rezka Hardini
    Warastri Rezka Hardini
    dini.rezka@gmail.com
    Assalamualaikum :)
    Disini saya ingin berbagi pengalaman saya pertama kali memutuskan untuk berhijab.
    Saya mulai berhijab sekitar tiga tahun yang lalu, ketika kelas 1 SMA di semester dua. Orang yang tidak pernah bosan mendorong saya untuk berhijab adalah guru agama saya. Kenapa saya tidak berhijab sejak awal masuk SMA? Itu karena keinginan Ayah saya.
    Kebijakan di sekolah saya ketika pembelajaran pendidikan agama islam adalah untuk putra mengenakan songkok dan untuk putri mengenakan kerudung. Di semester 1, saya mendapat materi pendidikan agama islam di hari senin. di mana pada hari itu seragam yang dikenakan berlengan panjang dengan rok panjang, jadi hanya tinggal mengenakan kerudung. Saat itu, guru agama saya selalu bertanya pada siswi putri “kapan berhijab?” di setiap pertemuan. Dan tiba pada giliran saya, saya menjawab “semester 2 Pak” tanpa berpikir panjang. Jujur dalam hati saya, saya ingin sekali menutup aurat saya tapi saya merasa tidak cukup baik dan tidak cukup pantas mengenakan hijab. Pemikiran saya yang seperti ini mutlak salah. Guru saya menasihati saya, “kalau kamu menunggu baik dulu sebelum berhijab sampai matipun kamu tidak akan pernah berhijab. Justru mulailah berhijab sekarang dan kamu akan berusaha menjadi orang yang lebih baik dengan hijab yang sudah kamu kenakan.” Saya hanya terdiam.
    Di semester 2 jadwal mata pelajaran pendidikan agama islam diganti hari kamis. Hari kamis seragam yang dikenakan adalah seragam pramuka. Tidak mungkin saya mengenakan kerudung dengan seragam berlengan pendek. Untuk mengakalinya saya mengenakan jaket untuk menutupi lengan saya. Hari itu, guru saya menagih “janji” yang saya ucapkan, mengenakan kerudung mulai semester dua. Saya hanya bisa menjawab, minggu depan Pak. Seusai pelajaran pendidikan agama islam berakhir, saya melepas kerudung saya. Saat itu ada tugas mata pelajaran lain, saya dengan asik mengerjakan tugas tersebut tanpa menyadari ada seseorang tengah berdiri di samping saya. Saya tersadar ketika dia berkata, “awas kelihatan.” Saya berpikir sejenak, maksudnya apa. Baru setelah itu saya sadar kalau model kerah seragam pramuka terlalu rendah. Saya sangat malu.
    Sepulangnya, saya meminta izin kepada Ibu untuk berhijab. Ibu mengiyakan, asalkan saya sholatnya tidak bolong-bolong lagi. Saya mengangguk. Ya, saya bukanlah muslimah yang baik. Saya pernah melakukan protes dan tidak sholat karena Ayah saya tidak sholat. Saya merasa Allah tidak adil kepada saya ketika teman-teman saya bisa ke masjid bersama Ayah mereka tapi saya tidak. Saya iri ketika Ayah teman-teman saya bisa menjadi Imam di masjid dan Ayah saya tidak. Dan untuk kedua kalinya saya salah mutlak. Bukan seperti itu caranya. Allah menguji saya dan keluarga saya. Saya harusnya terus sholat dan mendoakan kedua oangtua saya. dan mengajak Ayah saya untuk sholat. Saat saya masih kecil, saya pernah punya cita-cita “saya ingin berkerudung ketika sekolah, nanti saya akan menjadi guru.”
    Semua itu membuat saya merenung untuk memantapkan hati saya mengenakan kerudung. Dan ketika saya sudah benar-benar berkerudung, saya merasakan perubahannya. Saya merasa lebih tenang, nyaman, damai. Saya lebih sering sholat. Saya sering mengaji lagi. Dan saya merasa lebih sejuk dengan menutup aurat saya.
    Satu tantangan saya adalah, Ayah saya kurang begitu suka saya memakai kerudung. Ayah selalu menceritakan diskriminasi yang dilakukan kepada orang-orang yang memakai kerudung. Namun saya tetap berusaha mempertahankan kerudung saya. Lama-lama beliau membiarkan saya karena melihat saya lebih sering beribadah setelah mengenakan kerudung.
    Sekarang saya mulai berusaha mengenakan kerudung yang lebih panjang, karena saya tahu itu yang lebih baik. Namun masih belum terealisasi seutuhnya. Dan satu lagi cita-cita saya.. mengajak Ayah saya untuk sholat lagi.. Saya ingin keluarga saya menjadi keluarga yang selalu berada di jalan Allah.. semoga saya bisa mewujudkan cita-cita itu.. aamiin
    Begitulah cerita awal saya “berhijrah”, dan sampai sekarang pun saya masih terus “berhijrah”.. :)

    ReplyDelete
  4. Rosa Al-Rosyid
    rosa.alrosyid@gmail.com

    Ngomong2 soal hijrah, baruu aja saya mengalaminya. Hijrah dalam makna lugas: pindah tempat. Yup, per 1 November 2014 kemarin saya hijrah dari Jepara ke Semarang. Dari anak rumahan jadi anak kost-an. Kenapa? Bukannya udah enak kerja di Jepara, deket sama rumah, sama keluarga, bisa pulang tiap hari, gaji nggak kepotong biaya hidup?! Hampir semua orang komentar gitu. Sebagian kaget, bahkan menyayangkan keputusan saya tersebut. Tapi saya telah memilih, Bismillah, saya yakin ini jalan dari Allah.
    Lingkungan kerja saya di Jepara masih sangat asing dengan hijab syar'i. Terlalu aneh di mata mereka ketika ada anak muda seumuran saya, kerja di pabrik, pakainya rok dengan atasan longgar dan jilbab lebar. Mirip emak2 dan guru TPQ kata mereka. Teman2 saya sebagian juga pakai jilbab, tapi ya jilbab yang masih sangat sering kita jumpai di masyarakat kita. Hanya menutupi kepala, tapi nggak benar-benar menutupi aurat. Apa saya jadi goyah? Ya, saya goyah. Tidak hanya goyah, saya sudah sempat benar-benar 'pindah' jalur. Saya sempet pakai celana saat pergi kerja, meskipun bukan celana jeans. Jilbab saya mengecil, dan mengikuti model2 jilbab modis. Tapi Alhamdulillah, hidayah Allah kembali menyentuh hati saya. Semakin hari saya merasa semakin sadar bahwa saya nggak nyaman dengan itu. Lalu perlahan, dengan menebalkan telinga atas macam-macam komentar teman2, saya kembali memakai rok dan mengulurkan jilbab saya. Soal sholat? Jam kerja membuat kami hampir nggak memungkinkan untuk sholat tepat waktu. (Bersambung)

    ReplyDelete
  5. (Lanjutan)
    Iman saya yang belum mapan merasa berat sekali menempuh jalan ini sendirian. Lalu saya berdoa pada Allah untuk ditempatkan di lingkungan yang jauh lebih baik. Lalu kesempatan itu datang. Saat pada suatu hari seorang teman mengirim link lowongan di sebuah Yayasan Badan Wakaf yang juga membawahi Universitas tempat saya kuliah dulu. Ketika membaca link tersebut, saya berdoa, "Ya Allah, jika bekerja di situ bisa menjadikan saya hamba yang lebih baik di mata-Mu, mudahkanlah...", lalu malamnya saya sholat hajat dan sholat istikharoh. Saat mulai menjalani proses seleksi, saya pesimis. Jumlah pendaftar 150 orang lebih, sedangkan yang dibutuhkan hanya 4 orang. Belum lagi panjangnya proses seleksi membuat saya harus sering ijin nggak masuk kerja. Dan, Subhanallah walhamdulillah, Allah seperti memudahkan segala sesuatunya. Dari ijin Ibu yang kali ini cukup mudah saya dapat, padahal sebelumnya beliau nggak pengen saya kerja jauh dari rumah. Lalu atasan di tempat kerja lama yang seperti lapang dada sekali membiarkan saya berkali-kali nggak masuk kerja -- padahal kasus2 sebelumnya nggak kayak gitu. Berbagai kemudahan tsb saya artikan sebagai salah satu tanda bahwa Allah ridho dengan usaha saya ini. Saat interview terakhir saya ditanya alasan saya mau kerja di yayasan ini. Padahal bisa dibilang gajinya lebih kecil. Padahal lagi, kalo di sini masih harus kepotong biaya hidup juga, kan. Saya menjawab, 'Karna saya ingin bekerja di tempat di mana dunia dan akhirat saya bisa bersinergi dengan baik'. Ah, semoga jawaban tersebut bukan jawaban naif saya semata :')
    Di sini tiap adzan dhuhur dan ashar berkumandang kami dipersilakan untuk segera menuju masjid. Bahkan jika ada yang tak kunjung berdiri, atasan akan segera mengingatkan, 'Ayo, sudah waktunya sholat, tinggalkan dunia...'. Lalu setiap pagi sebelum bekerja - selama satu jam-- kami difasilitasi untuk menambah ilmu agama. Senin kami mengkaji hadist, selasa kajian dengan tema bervariasi, Rabu kami belajar menerjemahkan Al-Qur'an dan kitab kuning dengan metode tamyiz, kamis tahsin sholat, dan Jum'at tahsin Qur'an. Soal pakaian? Jilbab syar'i sangat digalakkan di sini. Lalu, adakah alasan untuk saya nggak bersyukur sedangkan di luar sana banyak sekali saudara yang tertatih menjaga dirinya di jalan kebaikan di tengah ganasnya dunia kerja?!
    Saya tau hijrah saya belum boleh berhenti sampai di sini. Tapi hijrah yang telah saya jalani satu bulan lebih satu minggu ini, semoga menjadi awal bagi hijrah-hijrah saya selanjutnya. Aamiin.

    ReplyDelete
  6. Nama: Nurfitriyani
    ID : gulunganpita
    Email: gulunganpita@yahoo.com
    Tulisan:
    Sewaktu sekolah dasar hingga sekarang, saya adalah seorang perempuan tomboy. Hanya saja kadar kelelaki-lakiannya itu semakin hari semakin berkurang. Mungkin karena sudah menikah, dan semakin hari semakin tahu kewajiban seorang muslimah. Tentang fiqih berpakaian, adab berkomunikasi, berperilaku, dan sebagainya.

    Tidak pernah menyangka saya bisa memakai khimar syar'i seperti sekarang. Alhamdulillah suami juga membimbing ke arah yang lebih baik. Tidak pernah menyesal dulu pernah mengalami kejadian konyol yang membawa ke arah lebih baik.

    Ketika duduk di kelas 2 SMP, saya memotong rambut saya di salon. Hasilnya gagal! rambut saya cepak. Bahkan lebih pendek dari laki-laki. Meskipun saya masih tomboy, tapi malu sekali waktu itu. Apalagi esoknya saya diberi tugas untuk membawa plang sekolah di barisan depan pawai ulang tahun kota. Seminggu kemudian, pembagian rapor semester. Saya masih cepak saja. Kemudian mama menyarankan untuk pakai khimar saja ketika ke sekolah kalau malu bertemu dengan orangtua teman-teman. Dan akhirnya, saya memakai khimar.

    Senang sekali ketika dipuji salah seorang orangtua sahabat saya. Katanya terlihat cantik pakai khimar Sejak itu saya jadi termotivasi untuk berkhimar. Hingga awal mula kelas 1 SMA, saya masih buka tutup khimar. Khimar yang dipakai pun masih instan atau segi empat yang terawang. Lama-kelamaan saya menjadi lebih nyaman karena terbiasa memakai ketika les Bahasa Inggris (tutornya mewajibkan memakai khimar). Alhamdulillah sampai sekarang berkhimar dan semakin panjang. Senang sekali diberikan hidayah dengan lembut oleh Allah. Banyak yang mengalami kejadian tak mengenakkan karena berpakaian tak sesuai syariah, alhamdulillah Allah melindungi saya dan mengajari dengan indah.

    Pengalaman saya ini kemudian membuat saya berpikir bahwa hidayah itu tidak semata-mata diberikan oleh Allah.. ada usaha untuk menuju lebih baik dari seorang hamba di dalamnya.

    ReplyDelete
  7. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  8. Nama : yuni sartika
    ID : https://plus.google.com/u/0/ yuni sartika
    email : yunisartika26@gmail.com
    cerita :
    Hijab…
    Hijab adalah salah satu kebutuhan pokokku saat ini. Hijab bagaikan sahabat yang selalu bersamaku, menemani setiap langkahku dan menjadi saksi cerita hidup yang telah aku lalui selama hampir 4 setengah tahun belakangan ini.
    Sejak kecil hijab bukan hal asing lagi bagiku, karena aku terlahir di Aceh. Dimana Aceh merupakan salah satu provinsi yang mewajibkan warga wanita yang muslim mengenakan hijab. Jadi, ibu, dan kakakku keduanya mengenakan hijab. Namun berbeda dengan aku, karena ketika itu anak perempuan yang belum baligh belum diwajibkan mengenakan hijab, jadi aku selalu menolak ketika disuruh mengenakan hijab. Aku selalu beralasan kalau mengenakan hijab itu jelek, kelihatan tua, tidak modis, pokoknya aku selalu punya alasan jitu yang membuat ibu dan kakakku menyerah menyuruhku mengenakan hijab..
    Seiring waktu berlalu, ketika itu aku sudah duduk di kelas 1 SMP, dimana aku sudah baligh dan didalam islam aku sudah diwajibkan menutup aurat dan menggunakan hijab. Namun karena aku belum mendapat hidayah mungkin.. Hehehe aku masih tetap dengan pendirianku tidak mau mengenakan hijab, rasanya terlalu sayang kalau rambut hitam lurusku harus ditutupi oleh hijab. Ditambah lagi aku memiliki postur tubuh yang kecil, jadi aku masih kelihatan seperti anak SD, jadi tidak ada orang yang mempermasalahkan ketika aku berjalan-jalan tidak menggunakan hijab.. Hehehe namun karena siswi SMP dikotaku diharuskan mengenakan hijab, jadi setiap berangkat sekolah aku menggunakan hijab seperti siswi SMP lainnya, namun tetap saja, ketika pulang dari sekolah dan sampai dirumah, aku membukanya dan masih ribet dengan ikat rambut, bandana, pita dan hiasan rambut lainnya ketik aku hendak berpergian. Dan kondisi ini terus berlangsung sampai pada waktu dimana aku tersadar bagaimana pentingnya menggunakan hijab, tepatnya yaitu ketika aku duduk di kelas 2 SMA. Saat itu aku iseng-iseng mengikuti sebuah kajian rutin organisasi kerohanian setiap hari jum’at disekolahku. Padahal sebelumnya aku selalu punya alasan menolak mengikuti kajian itu jika diajak oeh temanku, alasan ada acara keluargalah, tidak diijinkan orang tua pulang terlalu lamalah, dan alasan- alasan lainnya. Namun berbeda dengan jum’at itu, tanpa sibuk memikirkan alasan, aku dengan semangat mengikuti acara kajian hari itu. Ketika kajiannya dimulai dan pembijaranya mulai membuka, dan menyampaikan tema, dan temanya adalah betapa indahnya berhijab.
    Kesan awalnya sih biasa-biasa saja, sampai-sampai aku menyeletuk dalam hati
    “ahhh sudah basi, sering aku mendengar ceramah seperti itu. Gak keren.”
    Sampai pada sesi terakhir ketika pembicaranya menyampaikan sebuah cerita tentang betapa berharganya wanita yang benar-benar membuat hati ini tergugah.,

    ReplyDelete
  9. sambungan cerita
    Beliau menceritakan ada seorang laki-laki inggris bertanya pada seorang Syaikh.
    Lelaki inggris bertanya: "Kenapa dalam Islam wanita tidak boleh jabat tangan dengan pria?
    Syaikh menjawab: "Bisakah kamu berjabat tangan dengan ratu elizabeth?
    Lelaki inggris menjawab: "oh tentu tidak bisa! cuma orang2 tertentu saja yg bisa berjabat tangan dengan ratu."
    Syaikh tersenyum & berkata:" Wanita-wanita kami (Kaum muslimin) adalah para ratu, dan ratu tidak boleh berjabat tangan dengan pria sembarangan (yang bukan mahramnya")
    lalu si inggris bertanya lagi, "Kenapa perempuan Islam menutupi tubuh dan rambut mereka?"
    Syaikh tersenyum dan punya 2 permen, ia membuka yang pertama terus yang satu lagi tertutup. dia melemparkan keduanya kelantai yang kotor.
    Syaikh bertanya: "Jika saya meminta anda untuk mengambil satu permen, mana yang anda pilih?
    Si inggris menjawab: "Yang tertutup.."

    Syeikh berkata: " Itulah cara kami memperlakukan dan melihat perempuan kami"
    - 'Kami dilihat dari sejauh mana ketaqwaan, kecerdasan dan kepandaian kami, bukan dari pesona tubuh seksi kami'
    - "Segala sesuatu yang Allah (SWT) buat yang berharga di dunia ditutupi dan sulit untuk untuk didapatkan.
    Di mana kamu menemukan berlian? Jauh di dalam tanah ditutupi dan dilindungi.
    Di mana kamumenemukan mutiara?
    Jauh di dasar laut ditutupi dan dilindungi dalam SHELL yang indah.
    Di mana kamu menemukan emas?
    Jalan menurun di tambang, ditutupi dengan lapisan dan lapisan batuan. kamu harus bekerja keras untuk mendapatkan mereka.
    Tubuh kamu adalah suci. kamu jauh lebih berharga dari berlian dan mutiara, dan kamu harus ditutupi & dilindungi juga."
    Dari cerita diatas hati ini tergugah untuk segera menutup aurat, dan berhijab dengan benar. Aku ingin menjadi salah satu bagian dari wanita berharga tersebut. Ternya persepsiku selama ini salah. Aku sangat bersyukur karena Allah telah memberikan hidayahnya kepadaku, sehingga aku tidak semakin tersesat dan terbuai dalam dosa. Semoga aku dan hijabku akan terus menjadi sahabat sejati dan selalu menjagaku dari segala sesuatu yang dimurkai Allah hingga nanti Allah menjemputku kembali.. AAAMMMMMMIIIINNN  

    ReplyDelete
  10. Nama : Silviana Noerita
    ID : Silviana Apple
    E-mail : silviadjah@gmail.com

    Cerita hijrah saya ini tentang berkerudung.
    Saya berkerudung sejak kecil, namun saat mengaji dan acara- acara keagamaan saja. Belum konsisten berkerudung disetiap waktu karena masih kecil, apalagi keluarga saya yang multikultur, keluarga besar terdiri dari campuran 2 agama, muslim dan non muslim, namun untuk keluarga inti dari ayah dan ibu murni muslim.
    Saat itu akhir SMP, sedang marak- maraknya tren mode rambut rebonding/ bonding/ meluruskan rambut. Karena latah banyak yang melakukan rebonding, ibu saya pun menyuruh saya untuk melakukannya juga. "lucu mbak", kata beliau. Maklum, karena dari 13 cucu uti dari ibu saya hanya 5 yang perempuan, sisanya laki- laki, dan hanya saya yang ada di Jawa Timur. Namun, karena saya bukan tipe orang yang suka disamai oleh banyak orang, saya tidak pernah melakukan permintaan ibu saya. Memasuki jenjang SMA, akhirnya saya memutuskan untuk berkerudung dengan baju panjang, dan sejak saat itu saya tidak pernah mau melepas kerudung saya meskipun tidak sekolah. Misalnya saat bermain di luar rumah saya selalu menggunakan kerudung. Syukurlah, saya tidak ikut latah dengan tren mode buka tutup jilbab yang banyak dilakukan sekarang ini.
    Meskipun masih baru 7 tahun menggunakan kerudung, saya senang karena terus konsisten dengan ini. Menggunakan kerudung yang menutupi dada, dan baju yang tidak menampakkan lekuk tubuh.
    Sekian ceritanya.

    Terimakasih mba Ninda sudah berkenan baca. :D

    ReplyDelete
  11. Nama: Wenny Pangestuti
    ID : Wenny Pangestuti
    E-mail: wennyp2014@gmail.com
    Tulisan:
    Kelas 2 SMP adalah masa dimana seseorang biasanya memasukan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa atau bisa kita sebut masa remaja. Masa dimana seseorang mengenal suka-sukaan pada lawan jenis. Masa dimana seseorang mengalami yang namanya cinta monyet. Intinya, masa dimana ia berkenalan dengan cinta pada lawan jenis. Setidaknya, itu yang dulu saya alami.
    Sebenarnya kalo mengenal suka-sukaan pada lawan jenis sudah sejak SD. Tapi babak penuh cerita cinta terjadi pada saat SMP kelas 2. Saya seringkali melihat dan mendengar remaja putri seperti saya yang kasmaran, banyak menceritakan cowok idamannya, mulai yang berstatus pacar hingga gebetan. Saya seringkali menempatkan posisi sebagai pendengar saja dalam hal ini. Maklum, saya benar2 tdk punya pengalaman pacaran. Saya hanya pelaku cinta dalam hati. Dari mengindera fakta itulah dan seiring masa baligh saya, saya pun penasaran sebenarnya gimana sich rasanya pacaran itu, gimana rasanya punya pacar.. Dari rasa penasaran itu tertanam harapan ingin berpacaran, setidaknya nanti saat di bangku SMA saya ingin berpacaran.. Menurut saya kala itu, waktu SMA udah cukup pantas untuk mengaku bahwa ‘aku pacaran’, ‘aku punya pacar’.
    Ketika harapan telah menggema dalam pikiran, suatu ketika saya membaca KumCer terbitan DarMizan!... Salah satu cerpennya menceritakan yang intinya di dalam Islam sebenarnya tidak ada kamus ‘pacaran’ sebelum menikah. Hah? Benarkah? Saya baru tahu Islam, agama saya mengatur demikian. Selama ini saya hanya tahu tentangg Islam ya kewajiban shalat, baca Qur’an, puasa, tidak durhaka kepada ortu, dan akhlak yang baik. Pengetahuan tentang tidak bolehnya pacara dalam Islam itu akhirnya hanya berhenti sebatas ‘benarkah’. Setelahnya, saya lupa dan larut dalam masa remaja saya dengan sahabat-sahabat saya.

    (bersambung)

    ReplyDelete
  12. (lanjutan)

    Ketika kelas 3 SMP, sebuah kejadian yang tak terduga terjadi pd diri saya. Seorang laki2 yang telah saya sukai sejak kelas 5 SD mengajak saya untuk berpacaran dengannya. Siapa yang tidak senang? Sebenarnya saya senang. Pertama, karena dia orang yangg saya suka. Kedua, akhirnya kesempatan saya untuk berpacaran tinggal selangkah lagi. Tetapi,.. ada yang mengganjal di hati saya. Meskipun di satu sisi saya senang, di sisi lain saya galau. Saya takut dengan yang namanya patah hati. Ya..saya takut patah hati. Sebab, tak sedikit saya melihat teman-teman perempuan yang patah hati setelah putus pacaran. Dan kalo sudah patah hati, mereka murungnya bukan main. Apa semenyedihkan itu patah hati. Apalagi orang yg kusuka adalah laki-laki ganteng dan berpotensi melirik sana-sini perempuan lain yang lebih cantik dari saya mungkin. Ditambah, kami tidak satu sekolah saat itu. Jadi, saya tidak tahu detail bagaimana kelakuannya di belakang saya. Sehingga lama bagi saya memberikan jawaban kepastian pada dia. Di tengah kegalauan saya itu, saya teringat pada bacaan saya satu tahun lalu tentang tidak bolehnya pacaran dalam Islam. Benarkah? Lalu, bagaimana bila kita jatuh cinta? Saya pikir itu adalah hal yang tak bisa didustai, yaitu setiap orang pasti akan mengalami jatuh cinta.. Lalu, bagaimana kita menyikapinya, bila tdk boleh pacaran? Nikah belum siap? Masih ABG. Akhirnya, saya melakukan pelarian pada buku. Saya mencari informasi tentang benarkah tidak boleh pacaran dalam Islam dan bagaimana kita menyikapi cinta bila tidak dengan pacaran. Mulanya mencari ilmu tentang pacaran dalam Islam, tetapi lambat laun saya jadi tahu lebih tentang aturan-aturan Islam yang lain, seperti wajibnya menutup aurat ketika telah baligh. Bagi perempuan , wajib menutup tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan saat keluar rumah atau di hadapan non-mahram. Dari sanalah, rasa penasaran saya berubah, tidak lagi penasaran pada bagaimana rasanya pacaran, tapi penasaran tentang ilmu Islam lebih luas dan dalam sebagai pandangan hidup. Dari sanalah pula, rasa jatuh cinta saya berubah, tidak lagi pada dia –laki-laki yg kusuka sejak kelas 5 SD-, tapi pada keinginan berubah menjadi muslimah yang lebih baik menurut Islam, seperti menutup aurat.

    Inilah hijrah cinta saya. Semua berawal dari CINTA (semu) dan menuju pada CINTA (sejati) hingga titik akhir.

    (The End)

    ReplyDelete
  13. Nama : Fredy Setiawan
    Email : fredysetiawan216@gmail.com
    Blog : fredysetiawan.com
    Judul : Saksikan...!!


    Ada yang beda. Musim hujan telah lama beranjak meninggalkan pepohonan yang mulai kerontang dengan daun yang berguguran. Matahari yang bergeser menuju belahan utara bumi membuat terik udara Jakarta kian menjadi-jadi. Ini bulan Agustus 2012. Ramadhan juga telah usai, menyisakan roti-roti Idul Fitri yang keras, sekeras batu, karena terpanggang pengap kereta api Matarmaja sepanjang Madiun hingga ibukota.



    Dia juga nampak berbeda. Sudah setahun tak bercanda lama-lama dengannya, juga 6 sahabat yang lain. Setahun belakangan aku menghabiskan waktu magang di Jakarta Selatan. Setahun berlalu aku menghabiskan waktu, pikiran dan pulsa untuk sebuah 'unhealth relationship'. Absurd. Hari itu aku kembali ke Jakarta Utara, berkuliah lagi, ngekost bareng lagi. Kini di tangannya selalu tergenggam sebuah buku. Sepanjang hari selama libur kuliah ia baca. Setiap sore setelah kuliah ia baca kembali. Setiap jam istirahat, waktu luang, waktu sempit, saat dosen terasa membosankan, atau perlu kuliah diistirahatkan saja. Sorenya ia buka laptop kecil barunya. Menulis.

    "Bangkit, kau nampak berbeda sekarang?" Tanyaku penasaran. Ia tertawa kecil, menunjukkan gigi-giginya yang terbungkus kulit pipi yang kisut. Tawa yang menjengkelkan. "Baca buku apaan sih?" Tak ada basa-basi. Ia pun sama ketusnya. Disodorkanlah buku itu tepat di depan wajahku. Judulnya, 'Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim'.

    Hari-hari berikutnya ada yang nampak aneh dalam diriku. Judul buku itu semakin membuatku penasaran. Berkali-kali aku coba meminjamnya, berkali-kali pula ia tolak. Berdalih bahwa itu buku pinjaman dan harus membuat resume sebagai tiket pengembalian ke pemiliknya. Ia semakin menjengkelkan saja. "Udah Fred, ntar pinjem saja sendiri sama yang punya." Tuturnya diplomatis.

    Lima kata dalam judul buku itu sekarang menjadi dua frasa yang terngiang-ngiang, bergaung menggangu pikiranku. Yang pertama, kata 'Saksikan', itu ibarat Al-Itsbat dalam rukun syahadat. Dan kita semua tahu bahwa di dalam dua kaliamat tauhid tersebut selalu diawali dengan kata 'Saksikan/Aku bersaksi'.



    Yang kedua adalah kalimat 'Bahwa Aku Seorang Muslim', Normalnya kalimat tersebut pantas disandangkan bagi seluruh laki-laki -juga wanita- muslim. Harusnya setiap muslim bangga dan lantang dengan seruan itu. Namun sayangnya sulit mencari kalimat tersebut dari seorang muslim. Termasuk aku. Ringkasnya, aku sendiri pun tak sanggup jika disuruh bersaksi seperti judul buku yang mengganggu itu. Aku malu.

    Begitu banyak ilmu agama yang belum kupelajari. Sebaliknya, sedikit sekali dari yang sudah kupelajari untuk diamalkan. Parahnya adalah setahun belakangan ini. Aku menjalin kasih. Aku kalah dengan pendirian semasa SMK dulu pada kebiasaan kebanyakan laki-laki negeri ini. Berpacaran.

    Jalinan kasih yang begitu ranum, masam, dan terkadang buta. Jalinan yang tak halal dan tak memilili semua aspek kebaikan dilihat dari sisi manapun,kecuali nafsu dan rindu yang tak mementu. Jalinan yang sudah dilarang dengan sangat lembut oleh Allah dalam firmannya di Surah An Nur ayat 30-31.

    Meskipun hubungan itu adalah sebuah hubungan jarak jauh. Aku di negeri ini dan ia di negeri orang. Tetap saja, Allah cemburu. Rabbku cemburu karena hamba yang masih tertawan dosanya ini tengah menzalimi dirinya dan menzalimi orang lain. Sebuah tinta hitam dalam riwayat perjalanan hidup. Sebuah noda yang mengaburkan kalimat, 'bahwa Aku Seorang Muslim'.


    ReplyDelete
  14. Bulan-bulan itu aku lebih banyak melamun. Ketika teman-teman bercanda riang di sela-sela perkuliahn aku diam, membatu. Saat jam istirahat, saat jam kosong karena dosen tak datang, saat diskusi di meja payung taman Astra International, saat beli jajan di warung Mang Ujang. Pikiranku melesat entah kemana hanya karena judul buku, yang isinya sama sekali belum pernah kubaca. Aku merenung di pagar-pagar besi lantai dua Masjid Astra, di lantai dua kosan Mbak Novi, di warteg, di Indomaret, di warnet, di fotocopyan, di metromini 07, di busway, di mana saja. Tragisnya, Bangkit yang tahu perubahan sifat dan kegalauan hubunganku justru mentertawakanku. Dia memang sangat menjengkelkan.

    Kurasa ia pun juga melihat perubahan sifatku yang semakin aneh. Hubungan ini sudah tak sehat, atau memang sudah tak sehat sedari awalnya. An unhealth relationship. Absurd. Dan entah siapa yang memulai, malam itu kami putus hubungan. Tak ada lagi pesan dan inbox FB. Tak ada lagi panggilan HP. Tak ada lagi hubungan ambigu tanpa kejelasan pasti. Aku ingin sendiri. Hingga nanti terlengkapi oleh bagian dari rusuk kiri.

    Pagi harinya, 15 November 2012. Bertepatan dengan 1 Muharram 1434 Hijriyah. Aku pun berhijrah. Memenuhi tantangan Salim A. Fillah lewat judul bukunya, 'Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim'.

    Hari baru di tahun baru Islam. Aku meninggalkan semua lamunan dan perenungan. Aku menjadi pribadi yang terbarukan.

    Maka aku pun berhijrah. Mesti tak sejauh Habasyah, pun tak seberat menuju Madinah. Biarkan gundah hanya menyergap, sekejap pandangan. Karna niatku akan tetap tergenggam, meski bara apinya merajam.

    Hingga kukatakan pada mereka, Saksikan...!!

    -------oOo-------

    Enam bulan kemudian aku baru membeli dan membaca seisi buku itu. Semoga menjadi lompatan di tangga kehidupan yang senantiasa menanjak, berliku dan berat. Dan belakangan ini aku juga baru sadar, kenapa cover bukunya seperti itu. Sebuah buku yang menggugah. Haha. Belum terlambat kok, Fred.


    ((dipostkan juga di link berikut ini : http://www.fredysetiawan.com/2014/12/saksikan_28.html))

    ReplyDelete
  15. Nama : Inge
    ID : non Inge
    E-Mail : n0n1n9e@gmail.com

    CeritaKu :

    Mungkin saya sedikit memiliki banyak cerita tentang hijrah saya, mulai dari akhirnya memutuskan untuk memeluk agama Islam, memutuskan untuk berhijab, atau mungkin mengganti hijab saya dari yang biasa ke hijab yang lebih syar'i.

    Namun ada 1 cerita yang buat saya adalah hijrah saya sesungguhnya sebagai seorang perempuan, yaitu ketika saya memiliki anak. Saya menganggap bahwa itu adalah hijrah saya karena ketika saya memiliki anak di situlah titik balik saya. Saat saya masih menjadi seorang anak, mungkin tak terhitung perbuat saya yang mungkin telah membuat orang tua saya sedih, bahkan sampai marah. Kemudian ketika saya menjadi seorang istri, terkadang saya pun masih begitu egois, dengan pemikiran saya dan suami sudah sama-sama dewasa sehingga tak jarang saya masih mengutamakan apa yang saya inginkan, dibanding apa yang kami bersama inginkan.

    Tetapi saat akhirnya Allah memberikan saya kepercayaan dengan mengandung, kemudian melahirkan seorang anak. Disitulah titik balik saya. Saat mengandung, saya harus berhati-hati membawa diri saya sendiri, makan juga nggak bisa menuruti nafsu saya sendiri, bahkan ketika sedang hamil besar, untuk tidur-pun rasanya sudah tidak bisa seenaknya saja. Alhamdullilah saya tidak pernah menganggap semua itu sebagai beban, tetapi merupakan latihan yang diberikan Allah dengan jalan nikmat yang mungkin tak semua orang bisa merasakan. Saya lebih merasa bahwa ada yang begitu bergantung pada saya, Allah telah menyerahkan hal penting dan percaya bahwa saya bisa menjaganya. Itu yang menjadi penguat saya apabila mulai menghadapi hal-hal yang terasa begitu berat.

    Saat bayi saya lahir, dan mendengarkan suami saya melafalkan adzan di telinga mungilnya, saat itu juga saya sadar, bahwa saya tidak sendiri. Saya diberikan kepercayaan itu tak hanya sediri, tetapi bersama suami saya. Membuat saya semakin paham dan belajar untuk menjalaninya bersama maka keegoisan dalam diri saya harus benar-benar saya buang.

    Itulah titik hijrah saya, menjadi seorang yang belajar untuk tak hanya memikirkan 'AKU'.

    ReplyDelete
  16. Waahhh... telat nih aku.. baru liat hari ini..hiks.. Gak bisa ikutan giveaway deeh.. :(
    Lain kali deh yaahh ^___^

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...