Wednesday, January 14, 2015

Cerita Hijrah - Fredy Setiawan

Ada yang beda. Musim hujan telah lama beranjak meninggalkan pepohonan yang mulai kerontang dengan daun yang berguguran. Matahari yang bergeser menuju belahan utara bumi membuat terik udara Jakarta kian menjadi-jadi. Ini bulan Agustus 2012. Ramadhan juga telah usai, menyisakan roti-roti Idul Fitri yang keras, sekeras batu, karena terpanggang pengap kereta api Matarmaja sepanjang Madiun hingga ibukota.

Dia juga nampak berbeda. Sudah setahun tak bercanda lama-lama dengannya, juga 6 sahabat yang lain. Setahun belakangan aku menghabiskan waktu magang di Jakarta Selatan. Setahun berlalu aku menghabiskan waktu, pikiran dan pulsa untuk sebuah 'unhealth relationship'. Absurd. Hari itu aku kembali ke Jakarta Utara, berkuliah lagi, ngekost bareng lagi. Kini di tangannya selalu tergenggam sebuah buku. Sepanjang hari selama libur kuliah ia baca. Setiap sore setelah kuliah ia baca kembali. Setiap jam istirahat, waktu luang, waktu sempit, saat dosen terasa membosankan, atau perlu kuliah diistirahatkan saja. Sorenya ia buka laptop kecil barunya. Menulis.

"Bangkit, kau nampak berbeda sekarang?" Tanyaku penasaran. Ia tertawa kecil, menunjukkan gigi-giginya yang terbungkus kulit pipi yang kisut. Tawa yang menjengkelkan. "Baca buku apaan sih?" Tak ada basa-basi. Ia pun sama ketusnya. Disodorkanlah buku itu tepat di depan wajahku. Judulnya, 'Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim'.

Hari-hari berikutnya ada yang nampak aneh dalam diriku. Judul buku itu semakin membuatku penasaran. Berkali-kali aku coba meminjamnya, berkali-kali pula ia tolak. Berdalih bahwa itu buku pinjaman dan harus membuat resume sebagai tiket pengembalian ke pemiliknya. Ia semakin menjengkelkan saja. "Udah Fred, ntar pinjem saja sendiri sama yang punya." Tuturnya diplomatis.

Lima kata dalam judul buku itu sekarang menjadi dua frasa yang terngiang-ngiang, bergaung menggangu pikiranku. Yang pertama, kata 'Saksikan', itu ibarat Al-Itsbat dalam rukun syahadat. Dan kita semua tahu bahwa di dalam dua kaliamat tauhid tersebut selalu diawali dengan kata 'Saksikan/Aku bersaksi'.

Yang kedua adalah kalimat 'Bahwa Aku Seorang Muslim', Normalnya kalimat tersebut pantas disandangkan bagi seluruh laki-laki -juga wanita- muslim. Harusnya setiap muslim bangga dan lantang dengan seruan itu. Namun sayangnya sulit mencari kalimat tersebut dari seorang muslim. Termasuk aku. Ringkasnya, aku sendiri pun tak sanggup jika disuruh bersaksi seperti judul buku yang mengganggu itu. Aku malu.

Begitu banyak ilmu agama yang belum kupelajari. Sebaliknya, sedikit sekali dari yang sudah kupelajari untuk diamalkan. Parahnya adalah setahun belakangan ini. Aku menjalin kasih. Aku kalah dengan pendirian semasa SMK dulu pada kebiasaan kebanyakan laki-laki negeri ini. Berpacaran.

Jalinan kasih yang begitu ranum, masam, dan terkadang buta. Jalinan yang tak halal dan tak memilili semua aspek kebaikan dilihat dari sisi manapun,kecuali nafsu dan rindu yang tak mementu. Jalinan yang sudah dilarang dengan sangat lembut oleh Allah dalam firmannya di Surah An Nur ayat 30-31.

Meskipun hubungan itu adalah sebuah hubungan jarak jauh. Aku di negeri ini dan ia di negeri orang. Tetap saja, Allah cemburu. Rabbku cemburu karena hamba yang masih tertawan dosanya ini tengah menzalimi dirinya dan menzalimi orang lain. Sebuah tinta hitam dalam riwayat perjalanan hidup. Sebuah noda yang mengaburkan kalimat, 'bahwa Aku Seorang Muslim'.

 Bulan-bulan itu aku lebih banyak melamun. Ketika teman-teman bercanda riang di sela-sela perkuliahn aku diam, membatu. Saat jam istirahat, saat jam kosong karena dosen tak datang, saat diskusi di meja payung taman Astra International, saat beli jajan di warung Mang Ujang. Pikiranku melesat entah kemana hanya karena judul buku, yang isinya sama sekali belum pernah kubaca. Aku merenung di pagar-pagar besi lantai dua Masjid Astra, di lantai dua kosan Mbak Novi, di warteg, di Indomaret, di warnet, di fotocopyan, di metromini 07, di busway, di mana saja. Tragisnya, Bangkit yang tahu perubahan sifat dan kegalauan hubunganku justru mentertawakanku. Dia memang sangat menjengkelkan.

Kurasa ia pun juga melihat perubahan sifatku yang semakin aneh. Hubungan ini sudah tak sehat, atau memang sudah tak sehat sedari awalnya. An unhealth relationship. Absurd. Dan entah siapa yang memulai, malam itu kami putus hubungan. Tak ada lagi pesan dan inbox FB. Tak ada lagi panggilan HP. Tak ada lagi hubungan ambigu tanpa kejelasan pasti. Aku ingin sendiri. Hingga nanti terlengkapi oleh bagian dari rusuk kiri.

Pagi harinya, 15 November 2012. Bertepatan dengan 1 Muharram 1434 Hijriyah. Aku pun berhijrah. Memenuhi tantangan Salim A. Fillah lewat judul bukunya, 'Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim'.

Hari baru di tahun baru Islam. Aku meninggalkan semua lamunan dan perenungan. Aku menjadi pribadi yang terbarukan.

Maka aku pun berhijrah. Mesti tak sejauh Habasyah, pun tak seberat menuju Madinah. Biarkan gundah hanya menyergap, sekejap pandangan. Karna niatku akan tetap tergenggam, meski bara apinya merajam.

Hingga kukatakan pada mereka, Saksikan...!!

-------oOo-------

Enam bulan kemudian aku baru membeli dan membaca seisi buku itu. Semoga menjadi lompatan di tangga kehidupan yang senantiasa menanjak, berliku dan berat. Dan belakangan ini aku juga baru sadar, kenapa cover bukunya seperti itu. Sebuah buku yang menggugah. Haha. Belum terlambat kok, Fred.

visit :  http://www.fredysetiawan.com

No comments:

Post a Comment

Previous Page Next Page Home
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...