Tuesday, May 17, 2016

{ REVIEW } THE STARDUST CATCHER


Sinopsis:
Suatu hari dalam perjalanannya, Joe menemukan sebuah jaket teronggok di KRL. Jaket seorang wanita, berusaha mencari tanda kepemilikan melalui KTP atau semacamnya, Joe tidak menemukan apa-apa namun malah menemukan secarik kertas yang di print rapi. Isinya adalah tanya jawab sebuah akun dalam ask.fm. Akun itu menarik perhatian Joe karena kelucuannya, Joe pun berteman di media sosial dengan id pemilik akun bernama melamelamela.

Joe seorang pemuda tanggung yang mengalami masalah keluarga, serta kondisi psikologisnya yang belum siap dengan perpisahan kedua orang tua. Joe tidak ingin memilih salah satu dari mereka, karena pilihan apapun sepertinya tidak tepat. Tanpa sengaja, dalam sebuah perjalanan wisata di Bali bersama rombongan teman kuliah, Joe malah tertinggal bis.

Saat itulah Joe bertemu dan berbicara dengan seorang peri bernama Sally Cinnamon. Sial! pikir Joe. Dia merasa mulai gila karena berfantasi tentang makhluk mitos dalam dunia dongeng berjenis peri. Apalagi peri itu mengaku sebagai peri jodoh yang bertugas mempertemukan dan menjodohkannya dengan Mela. Apa-apaan peri jodoh? Joe merasa masih terlalu muda dan memiliki kehidupan yang berantakan, boro-boro mikir jodoh!

Dilain pihak, kedua orang tua Joe yang akhirnya menerima kabar bahwa Joe hilang di Bali merasa sangat khawatir. Apa Joe benar-benar tertinggal bis, atau sengaja menghilangkan diri karena penat terhadap masalah dalam keluarga?

Kata Ninda:
Begitu tahu seorang teman blogger, Nchi atau yang biasa dikenal dengan nama ID Mocca-chi  (nama asli Suarcani) menerbitkan bukunya, saya tidak ingin ketinggalan menjadi pembaca. Senang kami bisa in touch lagi setelah sekian lama Nchi berhenti mengupdate blognya, sibuk dengan kegiatan lain. Antara menjadi istri, ibu dan merintis karir di dunia kepenulisan. 

Saya sudah sering membaca tulisan Nchi ketika dia masih membagikan tulisannya secara gratis di blognya, ceritanya unik dan sering berkisar mengenai makhluk mitologi peri. Nchi memang punya ketertarikan khusus pada makhluk ajaib yang satu ini. Di buku inipun ternyata ciri khas itu belum hilang pada tulisannya. Ada satu lagi bukunya yang sudah duluan terbit, tapi saya belum baca sih jadi belum bisa komentar dan membandingkan. Begitu buku ini datang saya menyambutnya dengan sukacita, dari lembar-lembar pertama saja saya sudah suka dengan cara penuturan ceritanya.


Buku ini beneran enak jadi teman di sore hari, dengan susu cokelat hangat yang direbus pakai dark cooking chocolate dan pisang goreng panas. Tuturannya ringan dan nggak gitu berat, sesuai tema yang mengangkat cerita seputar young adult dan segala permasalahan hidupnya.

Alurnya juga ringan, seringan kisah yang diceritakan meskipun tentang bagaimana seorang Joe yang awalnya anak tunggal harus menghadapi kenyataan perpisahan orang tuanya. Sementara kedua orang tua Joe meskipun belum ketok palu di meja pengadilan dan resmi bercerai, namun sama-sama sudah punya kekasih. Orang tuanya justru lebih repot memperhatikan anak dari pacarnya masing-masing ketimbang Joe.

Jujur saya ikut terhanyut dalam emosi Joe yang merasa sendirian, tentu tidak mudah pada transisi dari anak tunggal yang menjadi curahan cinta orang tuanya menjadi orang yang tidak terlalu dipedulikan dibanding para calon anak-anak tiri, sekalipun mungkin orang tuanya tidak bermaksud demikian.

Meski berjenis young adult yang artinya remaja tanggung menuju dewasa, saya merasa Joe menemukan penyelesaiannya dengan proses yang relatif singkat, dalam sebuah perjalanan dan peri berkarakter kuat bernama Sally Cinnamon. Sosok peri yang dikiranya hantu pada awal pertemuan namun justru menjadi sosok yang paling dekat dengan Joe dan menemaninya melewati saat-saat yang berat. Dan penyelesaian konfliknya juga smooth, dalam proses itu Joe benar-benar belajar untuk menjadi lebih dewasa dan belajar melepaskan.

Saat membaca novel ini, saya ikut terhanyut dalam harapan kalau orang tua Joe akan menyadari bahwa pacar mereka masing-masing butuh ditoyor dan ditinggalin kemudian mereka balik bersama jadi keluarga yang utuh saat peristiwa menghilangnya Joe. Turut merasakan momentum percaya dan emosional antara Joe dan Sally saat keduanya saling memahami. Dengan momentum sekuat itu, interaksi Mela dan Oscar entah kenapa justru terasa hambar dan kurang chemistry. Atau mungkin karena keduanya bukan karakter yang menjadi selera saya heheh. I really enjoyed this book.

Namun ada beberapa hal yang saya sayangkan disini:
#1
Antara Oscar dengan Sally Cinnamon sepertinya berhubungan pada awal hingga pertengahan cerita. Saya penasaran dengan hubungan mereka namun hingga akhir cerita malah jadi missing link. Nggak ada penjelasan tentang itu.
#2
Adegan cabut jarum infus dalam cuplikan berikut ini. Saya kok jadi ingat adegan cabut infus di sinetron indonesia? Mungkin Nchi menulis adegan itu karena dipengaruhi oleh adegan khas yang sampai saat ini masih sering diselipkan di drama atau sinetron televisi.
Realitasnya, orang tidak bisa sembarang cabut infus hanya untuk karena sebab-sebab sepele, apalagi yah well... kabur dari rumah sakit (adegan sinetron). Gimana mungkin dicabut, gerak-gerak aja bisa bikin darah naik ke atas selang infus. Kalau dicabut sembarang, muncrat lah itu darahnya, atau yah ngocor. Berdasarkan pengalaman jadi pasien inap dan pendonor darah sih ini.


#3
Ini kesalahan minor banget sih, dalam percakapan Mela dengan Joe ada kata ganti 'gadis itu' untuk Mela. Padahal Mela ceritanya sedang hamil besar. Sejauh yang saya tahu, wanita yang hamil besar nggak bisa dibilang gadis. Mungkin bagian ini terlewat dari meja editing. Atau entah.


Namun dari semua yang saya sayangkan, saya tetap menikmati novel ini dan menantikan novel Nchi yang berikutnya. Bagi yang mau kenal dengan yang nulis, bisa main-main ke blog barunya di www.suarcani.com.

.

12 comments:

  1. rinci banget reviewnya sampe ada poin-poinny segala.
    jadi ada gambaran tentang isi dari novelnya, sapa tau juga novel ini jadi whitelistku.

    ReplyDelete
  2. hahaha belum baca, belum beli juga padahal penasaran banget pengen baca, di bbm sempet chat juga sama nchi malah diketawain ih. haha nasib mahasiswa akhir yg lg skripsi.

    ReplyDelete
  3. Saya selalu ingin membuat cerita sendiri namun belum pernah berhasil, setidaknya untuk muncul sebagai buku. Saya selalu kagum dan takjuk setiap kali melihat penulis-penulis baru bermunculan. Cover bukunya keren :)

    ReplyDelete
  4. makasih banget mbak, kayaknya jadi list berikut di rak buku saya, oya makasih juga atas alamat blog, surcani langsung meluncur

    ReplyDelete
  5. Wahh Reviewnya lengkap banget.. yang di bagian koreksi.. asli kak itu niat banget haha
    Aku kadang review begini aku catet, tapi koreksinya malah kelupaan.

    ReplyDelete
  6. Btw, "adegan cabut infus" itu beneran bisa lho. Aku pernah 1 kali pas habis operasi tumor saking gak mau rawat inap, hahaha. Tapi mungkin gara-gara letaknya di punggung tangan, ya :))

    ReplyDelete
  7. Laammaaa ndak main kesini udah review-review ajaaa nihhh :D

    ReplyDelete
  8. Wah... kudu punya inih... gak bisa komentar banyak karena belum baca bukunya hehehe

    ReplyDelete
  9. Bukan aku banget. Ntar baper. Bahaya. Wkwkkw

    ReplyDelete
  10. Kayanya ramee novel nyaa.. jadi kepengen baca...

    ReplyDelete
  11. Wah lucuk ada keselip fantasi perinya juga tah

    ReplyDelete
  12. Aku pengen review buku gini deh, eh tapi ga ada yg nawarin :(

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...