Monday, July 11, 2016

PADA MALAM ITU...


Menjelang 10 hari terakhir Ramadhan, Paksu mengajak saya untuk itikaf berdiam di masjid hingga usai sholat subuh di masjid terbesar kota tempat tinggal kami untuk 10 hari terakhir. Dia bilang ini adalah wishlist-nya semenjak menikah, itikaf bareng istri. Bulan Ramadhan tahun lalu saya sedang berhalangan sehingga tidak bisa menemani.
Jadi berangkatlah kami menjelang tengah malam dengan persiapan konsumsi untuk sahur dan perlengkapan ibadah. Saya bahkan bawa ice coffee juga karena ngantuk dan merasa kurang tidur. So we're all set.

Kami tiba di masjid dan bingung mencari lahan parkir, tak diduga area parkir penuh dengan kendaraan jamaah. Bingung tapi juga senang melihat saudara sesama muslim bersemangat meramaikan masjid seperti ini. Buat saya terus terang saja, ini itikaf yang pertama kali karena selama menjadi perantau saya menghindari berkeliaran di luar rumah pada dini hari meskipun urusannya ibadah. Plus nggak ada teman atau mahram yang menemani.

Yang keren dari Masjid Agung kota kami adalah, jamaah yang datang tidak hanya sendiri-sendiri beribadah. Ada kegiatan, sholat berjamaah dan tempatnya relatif nyaman untuk ukuran masjid. Luas dan kamar mandinya juga bersih, luas, terpisah jauh antara kamar mandi pria dan wanita.

Di masjid, mungkin karena baru amatiran pertama kali sholat malam dengan ritme per gerakan yang pelan sekali dan waktunya superlama terus bikin saya nggak konsentrasi dan mengantuk. Ketika bertemu di jam sahur, Paksu bilang ya memang begitu kalau sholat malam berjamaah di masjid itu untuk itikaf. Oh saya merasa cupu. Karena nggak tahu dan merasa nggak konsen dengan jamaah yang membludak, dikelilingi balita menangis di sekeliling saya dan pelataran masjid yang panas banget mungkin karena padatnya jamaah. Dibeberapa rakaat terakhir saya memutuskan untuk nggak ikut melanjutkan, memilih membaca mushaf hingga waktu sahur. Lumayan paling tidak hampir satu juz, jadi nggak cuma pindah tempat ngantuk doang. Banyak pula yang mutusin berhenti ikut sholat dan beraktivitas mengaji.

Menjelang sahur, saya menunggu Paksu di pelataran masjid, mengawasi pedagang kaki lima di luar pagar masjid. Banyak diantara mereka yang adalah abang-abang penjual jajanan, terus ya saya tergoda aja untuk beli pentol berhubung saya penggemar jajanan abang-abang begini. Anyway pentol ini jajanan di Jawa Timur yang mirip cilok secara penampilan, tapi rasa beda jauh. Cilok di Jawa Barat dan Jakarta umumnya terbuat dari tepung kanji, daun bawang dan bumbu pelengkap. Pentol di Jawa Timur dari tepung kanji, sedikit tepung terigu, bumbu-bumbu dan sedikit daging. 

Sambil makan jajanan dan menunggu Paksu yang belum muncul karena masih sholat witir, saya jadi mikir... jamaahnya banyak banget dan penjual penganan dan jajanan di luar pagar masjid juga nggak kalah banyak. Dini hari begini, mereka mencari nafkah di pelataran masjid dengan jualan makanan. Padahal jamaah yang datang juga banyak yang membawa bekal seperti kami atau mendapat nasi kotak untuk sahur dari masjid. Dengan sepuluh hari terakhir, kok mereka nggak ikutan jadi jamaah masjid aja ya? Belum tentu kan tahun depan masih ketemu lagi dengan bulan Ramadhan?

Paksu kemudian muncul dan dia pengin makan pentol juga, agak tumben mengingat dia bukan penggemar jajanan abang-abang seperti saya. Sahur kami jadi terlalu kenyang, karena makan bekal plus makan cemilan pula. 

Setelah usai sahur dan ikut serta dalam sholat subuh berjamaah, kami berjalan pulang menuju tempat kendaraan kami terparkir. Dari balik kaca, saya lihat penjual makanan masih banyak yang berada ditempatnya. Mereka masih mengobrol satu sama lain sembari menunggui dagangannya. Mungkin karena anak-anak yang tidak puasa dan turut serta orang tuanya jadi pengin makan jualan mereka ketika mereka lewat. Udara masih dingin di pagi itu, bahkan untuk ukuran kota Surabaya yang sering dikeluhkan udara panasnya.

Mungkin saya salah untuk satu hal pada pertanyaan di kepala tentang mengapa mereka tidak turut serta dalam kegiatan itikaf di masjid bersama banyak jamaah lainnya. Mereka tengah beribadah juga, bekerja menjual makanan pada saat bulan puasa di negara mayoritas muslim memang bukan hal yang mudah. Apalagi bagi mereka yang konsumen utamanya adalah anak-anak sekolah yang sedang menikmati liburan panjang. Demi mencari nafkah untuk keluarga mereka di rumah, begadang menjual makanan hingga usai shubuh karena jam-jam itulah orang yang puasa di siang hari, makan dan minum.

Mereka juga sedang beribadah, saat kami sholat berjamaah di masjid dan menekuri lembaran surat cinta. Mereka beribadah untuk keluarganya.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ
Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi, pen)” (HR. Muslim no. 995).
Sumber: Rumaysho.com

11 comments:

  1. Waw antusias nya gede banget ya disana. Btw, mbak, itu masjid agung di kota apa kah?

    ReplyDelete
  2. Kalau saya mbak itikafnya di mesjid terdekat di tempat saya tinggal walaupun hanya mesjid biasa tetapi walaupun tidur satu jam itu rasa nikmat sekali mbak kaya tidur lama gituh.

    ReplyDelete
  3. alhamdulillah mesjid komplek tiap tahun mengadakan itikaf mba, jadi kalo saya ga perlu jauh2 utk itikaf :)

    ReplyDelete
  4. Pengen deh bisa i'tikaf mbak, tapi belum kesampaian karna beberapa alasan

    ReplyDelete
  5. Ibadah Vs Dagang,,, kayaknya pahalanya lebih banyak itikaf di mesjid deh,,, meskipun berdagang termasuk kedalam kategori ibadah...

    ReplyDelete
  6. Nah ini yang menjadi catatan penting.
    Kadang orang sibuk dengan ibadah sunahnya. Wirid dan sholat sudan rajin sekali sampai berjam-jam. Tapi dia lupa kerja, dia lupa punya istri dan anak-anak yang harus dikasih makan. Lupa dan asek dengan ibadahnya sendiri. Ini yang banyak aku jumpai disekitarku.

    ReplyDelete
  7. bikin saya makin mensyukuri apa yang saya miliki sekarang :)

    nice post

    ReplyDelete
  8. So sweeettt...
    Ya Allah...saya mau gini juga

    ReplyDelete
  9. aku masih belum terlaksana, padahal udah dari tahun kemarin pengen iktikaf di Masjid Agung atau gak ya di Ampel. Tapi kalau gak ada temannya takut juga, ada teman tapi cowok kan ya gak enak. Mungkin nunggu kalau udah ada Suami kali yak. Hehehe.

    ReplyDelete
  10. sungguh syahdu...itikaf bareng nyin, la aku malah haid akhir akhir romadon huhu
    jadi penasaran ama pentol

    ReplyDelete
  11. Durasi shalat yg agak panjang disaat itikaf adlh utk menghadirkan kekhusyuan ddlmnya.

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...