Wednesday, August 31, 2016

AWAL YANG DINANTI

source: instagram

"Halo, gamisnya bagus. Kamu beli dimana?" seorang muslimah seusia saya bertanya, usai jam sholat di sebuah mall besar di ibukota.
Pertanyaan agak asing yang kurang familiar untuk dimulai pada awal sapaan dengan seseorang, tapi itulah awal perkenalan saya dengan teman saya ini. Saat itu dia masih memakai setelan atasan dan bawahan dengan pashmina chiffon yang dibentangkan lebar hingga menutup banyak area dada dan punggungnya, saat ini dia sudah bercadar.

Berbagi kontak dan referensi toko online busana muslim, kami kemudian berpisah dengan kepentingan sendiri-sendiri. Dia mengantar adiknya dan saya hang out weekend bersama seorang sahabat. But we stay in touch, anehnya sering saling mengobrol tentang apa saja yang bisa kami bagi.

Mengenai aneka perangkat wanita, film, keluarga bahkan topik dan ringkasan kajian rutin.
Tidak seperti saya, dia sebenarnya tidak tinggal di ibukota, hanya saja ada agenda keluarga yang harus dia tunaikan disana entah sampai kapan. Demi keluarga adalah salah satu alasan dia keluar dari tempatnya bekerja untuk berada di Jakarta sementara, menjaga adik dan merawat kakaknya yang sedang sakit. Sudah cukup lama dia di Jakarta, keluarganya tinggal di pulau seberang.

Teman saya memiliki beberapa saudara dan ibu sebagai tulang punggung keluarga, orang tua tunggal yang berperan ganda. Ibunyalah yang meminta tolong dia untuk berada disini dan sungguh dia tidak kuasa menolak permintaan wanita yang dia sayang dan hormati tersebut. Dia bosan dan ingin bekerja kembali dia bilang, tapi masih ada hal-hal yang harus terus dia urus. Tidak akan bisa jika dia bekerja lagi saat itu. Mungkin dia harus menunggu, begitu katanya.

Saya merasa tidak enak karena jarang membalas obrolan kami via aplikasi chatting karena hari-hari saya yang padat dan sibuk sehingga sapaannya sering terlupa, belum sempat saya balas.

Suatu hari, beberapa minggu menjelang pernikahan saya menyampaikan pada teman saya ini bahwa saya akan pulang kampung dan menikah untuk kurun waktu itu saya mungkin repot dan jarang memperhatikan ponsel. Jika dia bersedia, saya mengundangnya untuk hadir dalam pernikahan.

"Do'a saya untukmu, dear. Kalau hadir saya tidak bisa sepertinya, tapi semoga saja bisa," kata teman saya itu.

Rupanya obrolan itu membuka topik kami mengenai jodoh. Dia mengirimkan foto kepada saya, sebuah bis transjakarta dan dia bersama beberapa orang teman, ada seorang lelaki yang paling tinggi di sisi foto. Kepada laki-laki itu dia menitipkan hatinya.

"Dia teman kantor saya dulu dan kemarin sedang ada di Jakarta jadi kami bertemu dengan teman-teman lainnya juga. Dulu saya masih punya pacar dan masih belum belajar hijrah, dia adalah teman saya yang paling baik. Bahkan dia tahu setiap mood saya sedang jelek karena bertengkar dengan pacar. Selama itu pula dia menahan perasaannya. He's just too sweet."

"Jadi?" saya penasaran pada lanjutan ceritanya.
"Ketika saya putus dengan pacar, saya baru paham segala kebaikan yang dia berikan. Dan saya juga mengagumi dia. Tapi dia bukan orang yang setuju pacaran maka kami berniat untuk menikah pada tahun 2016," ujar teman saya itu.

"Semoga lancar ya," kata saya, nggak tahu harus ngomong apa. Teman saya berkata bahwa dia tidak percaya diri untuk masuk ke keluarga lelaki itu meskipun dia akrab dan dekat dengan ibu dari si lelaki. Dia tidak bekerja dan merasa minder.

Saya bilang bahwa ibu rumah tangga yang tinggal di rumah adalah pekerjaan yang mengagumkan karena nggak semua orang mampu begitu, nggak semua wanita sanggup. Sementara wanita-wanita semakin cerdas dan langkahnya semakin panjang, jarang yang benar-benar mau tinggal di rumah sepanjang waktu.

Beberapa bulan kemudian dia sibuk mengurus bisnis yang belum lama dia rintis, saya juga sibuk dengan pekerjaan dan peran baru sebagai seorang istri saat dia menyapa dan obrolan kami berjalan lagi seperti biasa.

"Eh ya apa kabar dia?" tanya saya, seharusnya tahun ini mereka memulai persiapan pernikahan. Atau setidaknya lamaran dulu.
"Sudah nggak lagi, dear." dia mengetikkan emoticon senyum simpul dan mengirimkan itu ke saya.
Eh maksudnya? Nggak lagi?
"Jadi gini, dia memulai cerita. Kami antar dua keluarga sudah menyepakati  hari lamaran. Sudah ditunggu, mereka juga sudah menyiapkan hantaran sesuai adat, kami kan berasal dari suku yang sama. Tapi mereka tidak datang juga. Katanya ada peristiwa penting yang tidak bisa ditunda dan mendadak. Saya marah dan melampiaskan kemarahan kepada dia melalui telepon meskipun dia sudah menjelaskan kondisinya,"
"kemudian perpisahan terjadi begitu saja, terucapkan salah satu dari kami dan diamini yang lain. Tidak ada lagi persetujuan janji menikah tahun 2016," dalam beberapa saat lamanya dia terdiam, "Saya menyesal,"

Sungguh, saya tidak pernah tahu kalimat terbaik apa yang layak diutarakan kepada orang-orang yang hatinya terpatahkan, merasa tertipu pengharapan sendiri dan menjumpai pahitnya kenyataan. Teman saya menyesal karena tidak banyak laki-laki yang bisa mengerti proses hijrahnya, mendukung langkah yang dia ambil dan lelaki itu memenuhi kriterianya akan saling mendukung dan berusaha bersama-sama. Tapi sepertinya bagaimanapun indahnya harapan itu, tetaplah telah tertinggal di belakang.

Saya tahu dia sedih, tapi tak sedikitpun dia bergalau ria dan putus asa, tidak pernah merasa tersindir kalau jomblo karena belum menikah padahal dia lebih tua dari saya. Selalu bersemangat, mengurus keluarga, berbakti pada ibunya dan disaat sedang suntuk dia pergi wisata kuliner ke tempat makan jalanan yang enak dan dia suka. Jalan bersama teman-teman lamanya saat pulang kampung, aktif di kajian apapun yang terdekat dengan tempat tinggalnya dan selalu berusaha makin dekat dari sisi emosi dengan adiknya yang masih remaja. Dia selalu percaya bahwa sekalipun harus bersabar dengan status singlenya tapi dia selalu punya banyak hal untuk dilakukan, banyak waktu untuk diisi kegiatan positif.

"Tahu nggak dear, masa aku dilamar istri ustadz buat jadi istri kedua suaminya? Kaget serius!" kata dia pada suatu obrolan kami, sekitar beberapa bulan dari kegagalan potensi komitmen saat itu. Saya terdiam karena belum tahu arah pembicaraan ini, apa teman saya ini suka dengan ustadz tersebut atau bagaimana? Apa dia berminat menerima lamaran itu?
"Ya kalau sama-sama ikhlas dan nggak keberatan sih hak kalian ya. Terus, emangnya kamu mau?"
"Enggaklah kata dia, shock banget dan berusaha menghindar. Kaget!" jawab dia. Saya menghembuskan nafas rileks, merasa geli karena mikir yang macam-macam. Dia nggak desperate atau apapun itu seperti yang untuk sekitar 2 detik muncul di pikiran saya. Kami kemudian mengobrol seperti biasa.

Saya bilang bahwa saya sudah pindah mengikuti suami, dia bilang dia senang tapi dia kemungkinan tidak bisa bertemu saya lagi. Saya sampaikan bahwa kami toh masih bisa mengobrol seperti saat ini. Obrolan biasa saja, topik-topik umum, dia nggak bercerita apapun secara khusus. Hingga saya sungguh kaget ketika sekitar sebulanan lebih dari itu dia mengirimkan undangan pernikahan kepada saya.

Kaget, saya bertanya, "Kok mendadak? Cepat sekali?"
"Aku juga nggak mengira secepat ini, tapi insyaAllah ini yang terbaik. Jadi ceritanya gini dear, dari CV dan dibantu murabbi saling kenal hanya sekitar sebulanan kemudian mantap untuk menikah. Calon suamiku seorang ustadz," jelasnya.
"Nggg,"
"No bukan yang dulu aku ceritakan itu! Ini serius masih single," dia tertawa, menebak arah pikiran saya.
Saya meringis malu karena ke-gap mikir begitu.

Tapi lihatlah dia, teman saya itu. Berbulan-bulan lalu patah hati dan menyesal karena batal lamaran, batal diperistri seorang lelaki yang bagi dia cocok secara karakter dan dapat saling mendukung dalam mengejar ridho Allah. Lihatlah dia, teman saya itu yang sempat bercanda kenapa sekalinya benar-benar serius dilamar justru oleh wanita bersuami untuk suaminya bukan oleh ibu seorang laki-laki untuk menjadi istri dari anaknya.

Dia benar-benar menikah di 2016, bersama laki-laki yang insyaAllah bisa membimbing langkahnya dalam agama sekaligus saling mendukung dalam ridho Allah. Lelaki yang menghargai gamisnya yang longgar dan kerudungnya yang besar juga cadar yang dia kenakan saat keluar rumah sekaligus juga wajah dan fisiknya saat di dalam rumah. Bukan laki-laki yang dia kira akan berada disisinya dalam pelaminan, orang lain memang namun insyaAllah lebih baik.

Dia memang menunggu demikian lama, mengalami patah hati berkali-kali sebelumnya untuk menemukan potongan yang tepat untuk jiwanya dalam sakralnya tali pernikahan tapi dia selalu mengisi masa penantian itu dengan semua kesabaran yang dia miliki, pikiran positif, keceriaan dan hal-hal yang bermanfaat. Mungkin itulah sebabnya Allah mempertemukan dia dengan awal yang dia nanti. Seseorang yang bukan hanya suami tapi juga sahabat dan tempatnya bermanja, tempat menyandarkan isi hati dan pengharapan setelah sekian lama dia menjadi sandaran bagi orang-orang terdekatnya.


8 comments:

  1. Nyin jadi si mbak ini yang kemarin ceritanya hamil lalu bebynya berpulang ke rahmatullah kah? Jadi lika liku ketemu jodohnya demikian berliku ya...huhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. bukan nit, beda orang atuh

      Delete
    2. Aku juga pernah lama pacaran, tapi harus pisah karena belum siap modal. Pihak istri ingin segera menikah ,tapi aku sama sekali tidak punya uang.

      Delete
  2. That's destiny, it will come when the time is perfect.
    *apa sih apa sih

    ReplyDelete
  3. Perempuan bercadar itu biasanya mendapatkan jodohnya seorang muslim yg berlabel ikhwan (yg memegang teguh sunnah2 nabi-Nya)

    ReplyDelete
  4. Sering juga denger cerita begini loh Nin, bahkan ada yang terhenti di-iya-kan menjadi hmmm..istri bagi suami yang yah gitu deh. Sama, wanita bersuami juga yang melamar teman saya. Tapi, ada juga yang nggak berada di jalan itu, lanjuttt sampai akhirnya menemukan tambatan hatinya

    ReplyDelete
  5. Reply for comment:

    Cornelia Funke itu penulis cerita anak-anak, Nin ^^
    Coba cek aja bio-nya di Wikipedia

    https://en.wikipedia.org/wiki/Cornelia_Funke

    ReplyDelete
  6. Aheuuheuuu....baper to the max

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...