Sunday, September 18, 2016

ARTI LEBIH SELEMBAR UANG

'uang bukan segalanya, tapi banyak hal perlu uang', kata orang gitu
Beberapa hari lalu, tanpa sengaja saya membaca di timeline media sosial mengenai seorang blogger yang 'ngamuk' karena ditawari harga yang sangat rendah untuk jasa mereview situs atau produk. Dia juga sampai memaki-maki agency yang mengontak dia itu. Entah situs apa dan entah produk apa, saya pun kurang jelas karena memang di blur.

Saya tercenung membaca tulisannya, seperlu itukah marah-marah ke orang yang mengontak dia tersebut? Saya kemudian teringat cerita beberapa teman yang sedang merasa sensitif ketika rekan sesama blogger mulai beropini bahwa mereka ini ngasih harga terlalu rendah dan kok mau-mau saja sih menulis sponsored dengan harga yang berada di kisaran 50-100,000 rupiah? Seringkali kalimatnya itu nggak enak gitu dibacanya. Dari yang frontal sampai selintas komen 'oh memang sih blognya emang layak dihargain segini doang'. Yang bagi saya nih yang baca, sama aja jehongnya, sama aja peluang mancing keributannya :))

Uang yang kayaknya cuma buat jajan sebentar ke minimarket bawa pulang snack atau dua gelas kopi di cafe ternama bagi sebagian orang itu bukan berarti kecil bagi orang lain. 100,000 yang kerasa bukan apa-apa kalau dibawa ke mall itu bisa bawa belanjaan yang bikin kulkas penuh kalau dibawa ke pasar. 100,000 juga sangat memiliki arti dan pengharapan jika disedekahkan kepada anak-anak yang kesulitan biaya sekolah atau dibelikan beras untuk orang yang tidak mampu.

Kalau memang tidak setuju dengan nominal yang dimau blogger lain untuk mereview ya tidak apa-apa, itu hak kita. Penentuan rate masing-masing kan suka-suka kita wong 'rumah' punya kita sendiri ya jelas otoritas kita juga. Tapi kalau jadinya pasang status yang terkesan mencibir mereka ya apa untungnya sih buat kita? Kenapa kok kita campur tangan dengan rezeki halal orang lain? Mereview produk atau website itu kan sah saja, bukan mencuri, nggak ngemis pula dan lebih penting lagi mereka kan juga nggak minta makan sama kita. Selama rezeki itu halal, ya sudah... sama saja kita meremehkan petani yang bercocok tanam sepanjang musim padahal hasil panennya dibeli murah sama tengkulak. Sama halalnya. Menyayangkan? Iya sih tapi apa kita bisa kasih solusinya? Kita nggak tahu lho biaya kebutuhan orang lain itu apa aja. Dan apa kendala serta alasan mereka untuk setuju gitu aja hasil panennya dijual harga murah.

Entah, mungkin yang demen ngatain begini belum melewati fase ketika bayaran Blogger hanya melalui paypal dengan mata uang USD. Dulu kira-kira 5-10 dollar perposting dengan link 3 buah dan review ditulis dalam bahasa inggris yang readable, bukan bahasa semau gue ala kita saat ini, itu masih baik agencynya. Ada juga lho yang harus pasang banner dan 'hasemeleh-hasemeleh' lain dalam satu posting, padahal fee-nya cuma 5 dollar. Ngerjain task ini sama aja uji nyali nantangin 'mbah' banget, habis review langsung PR-nya jeblok atau masuk sandbox kayak blog saya ini dulu. Pagerank bisa not available berbulan-bulan nggak peduli si mbah update berapa kali.

Google PageRank dulu diupdate-nya suka-suka si mbah, nggak teratur. Jadi kalau blog kamu baru mletek, untuk punya PR 1 aja cukup memakan waktu lama. Itu masih belum ditambah dengan resiko di banned Adsense, masa itu adsense cuma diapprove untuk blog berbahasa inggris, nggak terima yang bahasa indonesia. Saya diapprove Adsense ini dua kali dan dua kali pula di banned untuk sebab yang setahu saya salah satunya adalah job repiu. Ini luka patah hati nggak sembuh sampek sekarang nih :))))

Ada juga agen lokal yang sudah fee-nya hanya 25,000-35,000 terus harus 500-an kata dan lama nunggak pula. Harus ngamuk-ngamuk dulu baru deh ditransfer. Sumpah ya emosi dan gemes yang kita derita dibandingkan dengan harganya berasa nggak worth it banget.

Semua itu berubah sekitar tahun 2010 atau 2011 kalau saya nggak salah ingat, saat itu rate Blogger antara 800,000-1,500,000 mentok paling rendah 500,000. Nilai sejumlah uang tersebut sangat besar pada masa itu. Buat saya, mahasiswa yang kembang kempis isi dompetnya waktu itu, lumayan banget bisa untuk biaya hidup 2-3 bulan. Mungkin karena jumlah blogger semakin banyak saja makin kesini sehingga rate fee sudah nggak setinggi dulu yang minim blogger konsisten. Ya sudah lah ya... kita nikmati saja prosesnya berdasarkan prinsip masing-masing dalam negosiasi.

Ada ajakan untuk menstandarkan fee Blogger pada posting-posting yang tersebar di linimasa, tapi kalau menurut saya kok nggak bisa ya? Rasanya nggak apple to apple. Gimana kita bisa menstandarkan fee blog yang domain authority dan page authoritynya saja beda-beda? Alexa beda-beda, traffic juga beda-beda, tahun eksisnya blog dan engagement sama pengunjungnya juga enggak sama. Susah ya kan?

Mungkin nilai uang 100,000 ini receh banget buat kita yang pekerjaan utamanya bukan di ranah blog, nambah-nambahin uang jajan atau alokasi budget buat nongkrong aja. Tapi buat mereka yang mengandalkan hidupnya dari situ doang?

Yah yah semoga kita tidak termasuk orang-orang yang meremehkan rezeki halal. Aamiin, insyaAllah. Uang satu juta nggak bisa jadi satu juta kalau 100,000-nya keselip entah kemana :)) Fee 300,000 nggak bisa jadi 300,000 kalau 100,000-nya ketinggalan belum ditransfer :P Dicariin juga kan? Ditagih juga ye kan? ;))

Ini kok numben banget saya nulis gini pagi buta ya... biasanya saya malas nanggepin beginian sik :)

26 comments:

  1. Haha, aku tau status itu, malah si anak kena bully..

    Kadang aku bingung sm blogger yg permasalahin harga.. para blogger pemula di brief buat jangan mau harga murah, kita harus kompak blablabla, tapi ntar di lain waktu,, ngomongnya: suka sebel deh sama blogger baru, baru ngeblog udah sok ngarep harga tinggi.. trus karepe piyee?? Wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Meriska Putri W:

      Newbie blogger dihimbau buat enggak masang harga murah? Itu siapa yg nge-brief ya? Hehe #penasaran.
      Bisa berubah pikiran gitu ya, kemarin harus pasang rate tinggi, besoknya harus sadar dengan kualitas blognya, apalagi masih baru. Yang masih newbie blogger dilema kayaknya, serbasalah, udah mengiyakan master bloggernya, trus malah disalahin. Hehe :D
      Good perspective meriska.

      Delete
    2. Tiba2 sepemikiran ama meris n agung, kadang nemu artikel yg nyuruh kita blogger nubie kudu ini dan itu, pas pengen tau infonya mlh dikira : blogger baru ga usah terlalu money oriented blablabla...#lalu aku sebage blogger baru akhirnya bingung hahaaa, trus urusan netapin job, deal dealan harga akhirnya nentukan sendiri, ga mau yg terpatok penjelasan blogger a,b,c kudu ini ini ini...
      #aku memilih pede aja dengan blog sendiri nyin (walo punyaku masi blogspot en tampilan sederhana binggow wkkkk, tapi insyaalloh klo dikerjain dg hati, mah agency bakal dateng dg sendirinya)....karena kendali ada pada kemampuan diri kita sendiri dlm hal membangun blog ya nyin. Jahaha
      E tapi aku mlh ga tau ada kabar terhangat apa wkkkk

      Delete
    3. yahsud suka suka kita ajijah :D

      Delete
  2. Ooo dasar blogger matre, saya mah gak ngerti bgituan kakakk wkwkkwkw.. salam kenal dari ummi Kinza #muntah

    ReplyDelete
  3. Baru tahu blogger bisa terima fee. Hohohoh.Kebiasaan nulis cuma buat diri sendiri. Jadi lebih banyak tahu nih. Salam kenal yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal balik mbak, terima kasih sudah mampir baca tulisan saya :)

      Delete
  4. Iya sis kebutuhan ku banyak beli popok beli susu, beli kuota, beli beras, huahahaha
    100rb an asal banyak, jadi jutaan juga kok.
    Ya kalo ga mau dibayar segitu, ya sudah, msh banyak yg butuh nominal segitu.
    Aku aja ga dapet vocer alpamart gegara lupa kirim imel kontest aja santai *tapi kemudian gigit jari.
    Hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin mbak bakal dapat yang lebih gede dari vocer ituh :))))

      Delete
  5. keknya inilah masalahnya

    Entah, mungkin yang demen ngatain begini belum melewati fase ketika bayaran Blogger hanya melalui paypal dengan mata uang USD. Dulu kira-kira 5-10 dollar perposting dengan link 3 buah dan review ditulis dalam bahasa inggris yang readable, bukan bahasa semau gue ala kita saat ini, itu masih baik agencynya.

    ketika dulu berdarah tanpa perlu komplain berlebihan.

    semoga mereka dapat menenangkan diri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. gakbisa komplen, bisa curhat doang oom sama setemenan blog :))
      haha

      Delete
  6. Bingung mau nanggepinnya gimana, menurut gue even if dia enggak puas sama rate-nya, enggak usah dikeluhkan di internet kali ya, disana bisa muncul banyak respon yg malah bisa bikin dia tambah kesel, tapi yasudahlah, itu pilihannya, selama dia bertanggungjawab siap menerima konsekuensi dari perbuatannya, biarin aja, nanti juga lama-lama belajar sendiri whether his action is right or wrong, perhaps.

    Thanks for your article. I enjoy read it a lot. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. kayaknya sudah baca tulisan terkait ya agung? :)

      Delete
  7. ya itulah manusia ya mba kadang suka mukul rata menurut persepsinya tanpa lihat dari persepsi orang lain :')

    ReplyDelete
  8. BOOM!!! Kak ninda udah bahas rate gini, akunya jadi hening. :D Aku mah, apa atuh kak? Semuanya diterima. Karena, aku selalu punya misi membuat brand lebih sering betah daripada sekali kerjasama, langsung good bye.

    Aku mikirnya gini, sih, kak. Di waktu sekarang mungkin bener-bener banyak blogger yang gak ngerti ada istilah Job Review.

    Paling yg tau blogger yg udah pernah dapet (biasanya orang2 lama) kemudian membuat rate.

    Tapi, bener kata Agung, kalo soal ini gak usah share ke Sosmed, sih. Memang, bagus untuk memperbaiki citra, tapi apa daya?

    Aku sih, sejauh ini pake teknik sendiri. Jadi, tetep have fun.. Bahkan, suka dikasi lebih banyak dari ekspektasi. :) Yg penting apa yg mereka minta sesuai dgn apa yg kita berikan.

    Mereka aslinya 500 kata gak harus full review. Sekarang teknik soft selling lebih mereka gemari. Jadi, sebagai blogger gak akan ganggu konten kita. :)

    ReplyDelete
  9. aku dapet 100ribu mah udah seneeeeeeng banget mbaaa... terserah yg komentar lah nyebut aku apa.. haha

    ReplyDelete
  10. salah satu hal yang bikin blogger baru (masuk ke dunia berbayar) jadi serba salah ya? rate murah salah, rate tinggi dianggep gak ngaca.

    ide menstandarkan rate juga menurutku susah sih. ntar jadinya tetep merugikan blogger baru juga. pasti yang berkuasa adalah para blogger "senior" dibidang rate-rate an.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau ngomongin soal senior junior gak habis2 mbak saya pikir :) saya sudah lama ngeblog dan yang lebih expert dalam per blog an, sukses monetize blognya lebih dulu juga banyak. buat saya dapat 1,500,000 itu udah gede banget, tapi ada temen yang berhasil dapat dari pay per click sampek 11 juta pada masa itu.

      kagum sih, tapi memang kan rezeki orang beda-beda :)

      Delete
  11. Replies
    1. sudah tuh di atas, dan udah dibales juga :D

      Delete
  12. klo soal fee sih itu ranahnya si blogger sendiri. terserah mau nngasih harga berapa dan nego berapa. kadang juga aku terima yang harga sekian, ada yang mahal juga. lagi2 bergantung sama negonya dg agensi. pernah jg nolak harga yang seperti Ninda bilang, 100 rb. setelah 2 bulan agensinya balik lagi hubungi dan dinaikan harganya 4 kali lipat dari harga awal. buatku itu proses, karena meyakinkan agensi bahwa blog itu emang layak dapet sekian itu ya lama juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju mbak ila, tempat-tempat kita ya otoritas kita kok. mau nolak atau terima silahkan. tapi semua memang ada adab nya
      ya kan? ;)

      Delete
  13. hmm sebagai pendatang baru (eaaaa) banyak belajar dari artikel sama komen-komennya...

    ReplyDelete
  14. Aku nyimak baek2. Soal ngeblog aku emang start 2009, tapi soal fee aku baru ajah melek.
    Tawaran pertama di blogku aku tolak dg pertimbangan personal. Lebih ke rela ngga aku kerja sepenuh hati dg imbalan yg ditawarkan. Kalo berat ya ngga kuterima. Soal besarannya sih tergantung masing2 lah, kayak kata Ninda.
    Buatku, ngerti kisaran umumnya itu perlu, habis itu ... ya dinilai n ditentuin sendiri.

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...