Wednesday, October 19, 2016

KETIKA JARAK MASIH MEMBENTANG


"How you feel about LDM Long Distance Marriage?"
"Kok kamu bisa sih Nin, kepisah lama-lama?"
Rame, temen-temen saya sendiri nyecer saya soal itu sewaktu kami lagi makan baso bareng sepulang kerja di warung baso tidak jauh dari kompleks perkantoran kami. Percakapan ini terjadi beberapa bulan setelah saya menikah, masih dalam rumah tangga jarak jauh bareng suami dan saya juga masih ngantor. Saat itu sudah malam usai Magrib, kantor kami terletak di tempat yang berbeda-beda. Ada teman yang memang kantornya hanya berselisih sekian bangunan dengan saya tapi kami jarang ketemu untuk makan bareng saking sibuknya kerja di kantor masing-masing. Paling komunikasi kami baru lancar jalan setelah sama-sama pulang dari kantor dan mengobrol via messenger memakai paket wifi tercepat Telkomsel.

Seorang teman lain sebenarnya berkantor di luar kota, tapi karena urusan pekerjaan dia harus ke kompleks perkantoran kami di sebelah utara ibu kota. Karena dia jugalah kami buru-buru menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya masih menumpuk hari itu demi bisa makan malam bareng-bareng. Memang jenis agendanya cuma sesaat, hanya makan malam tapi makan malam versi para teman yang sudah lama nggak ngumpul-ngumpul pasti bakalan jadi ajang ngobrol berjam-jam. 

Mungkin kamu berpikir bahwa ini karena kami yang hadir disini adalah para perempuan makanya kalau ngobrol bisa ngalor-ngidul dan butuh waktu yang panjang. Tapi hal yang sama juga kejadian kalau bareng teman cowok sekantor kami, selalu ada bahan percakapan tentang apa saja meskipun sebagian besar mengenai kantor.


Ehm, selalu agak sulit bagi saya menjawab pertanyaan seperti ini karena biasanya bakalan bikin cerita panjang lebar yang berhubungan dengan ini. Cerita berbalut curhat.

Pertama, kita nggak pernah tahu jodoh akan membawa kita kemana. Jodoh dalam hal ini berarti luas, nggak cuma pasangan saja tapi juga pekerjaan dan hubungan pertemanan. Saya sudah pernah cerita bahwa ketika harus menjadi perantau untuk pertama kalinya saya nggak pernah kepikiran untuk jadi penduduk kota lain karena saya masih punya orang tua yang mengharapkan anak-anaknya nggak jauh-jauh tinggal dari mereka. Saya nggak pernah kebayang akan menikah dengan orang domisili mana dan nggak pernah kepikiran juga untuk tinggal dimana mengikuti suami. Begitupun saya juga nggak pernah mimpi bahwa pekerjaan yang menjadi jodoh saya akan membuat saya berpindah-pindah tempat tinggal dan mengharuskan saya tinggal di kota besar.

Ketika suami saya tinggal dan bekerja di Surabaya ya sudah itu yang harus saya jalani. Dalam berbagai perbincangan kami yang lebih sering memakai messenger melalui koneksi paket wifi tercepat Telkomsel karena kendala jarak, dan kami tidak mau kendala jarak itu semakin diperpanjang dengan sinyal parah dari provider. Meskipun tetap saja ada hal-hal yang susah untuk dicari jalan keluarnya. Dia bisa saja pindah ke Jakarta tetapi dalam jangka waktu pencapaian kami untuk 5 tahun ke depan sepertinya akan nggak terlalu bagus. Kemungkinan untuk tinggal jauh dari Jakarta karena rumah di Jakarta yang harganya masih jauh di luar jangkauan pasangan muda, terjebak macet dan waktu habis di jalan sampai jarang bisa bener-bener menghabiskan sisa waktu setelah kerja sepertinya nggak bakal mudah. Apalagi kalau sudah ada anak. Dan ya kami memiliki beberapa goals lain yang harus tercapai dalam kurun waktu kurang dari 5 tahun. Tinggal di Jakarta berarti akan sulit untuk merealisasikan goals tersebut.


Kepisah lama-lama dengan pasangan tentu saja beneran nggak nyaman. Pada saat awal pernikahan mungkin saya belum benar-benar terbiasa punya partner tidur di sebelah sampai kadang kebangun malam-malam dan merasa kaget karena di sebelah ada orang. Tapi kemudian setelah-setelahnya serasa ada bagian yang hilang dari hari-hari kita. Bukan berarti saya tidak lagi mandiri setelah menikah, saya masih bisa jalan-jalan atau pergi sendirian kemanapun yang saya mau dengan izin dia tentu saja. Saya juga masih bisa menghabiskan waktu bersama teman-teman, hari-hari saya berlangsung biasa seperti sebelumnya. Tapi ada yang terasa nggak lengkap, selalu ada yang terasa kurang dalam hari-hari saya yang tanpa kehadiran dia. Namun apapun itu saya masih harus terus berjalan dan melalui masa-masa LDM kami, tidak harus khawatir karena setiap LDM akan selalu punya akhir meskipun periode waktunya tidak selalu sama.
Ya... seperti saat ini.

10 comments:

  1. kalau aku dulu malah pas pacaran pas LDR tapi ada enaknya sih kalau LDR setiap ketemu ada rasa kangen. Kalau ketemu setiap hari ya gitu2 aja hihihi

    ReplyDelete
  2. Aku pernah, ldm, tapi jaraknya ecek ecek sih, 3 bulan tangerang jakrta wakakakak, teteup aja ga bisa ..daku orangnya ga bisa klo ndiri idupnya hihi
    Jadi sekarang kdm lagikah? Tapi dg periode singkat ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. teteeep aja butuh waktu untuk ketemu dia ya kan nyit

      Delete
  3. Aku mba yang sudah bertahun-tahun LDM. Ya, aku nggak pernah tahu bakal memilih seperti ini. Tapi berjauhan merupakan keputusan bersama dengan segala resikonya.

    ReplyDelete
  4. Aku waktu pacaran setahun satu kota, dua tahun sisanya ldr. Setelah merit dan dikaruniai dua nak, ldm tiga setengah tahun. Capek. Tapi yaaa kujalani aja dg rela

    ReplyDelete
  5. akhirnya jaraknya tinggal sejengkal ya :D

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...