Monday, October 3, 2016

LEGENDA MENANTU DAN IBU MERTUA


Saya ingat pernah membaca novel tulisan Ollie pada jaman-jaman awal penerbit Gagas Media mengusung konsep baru dalam novel-novel terbitannya. Ya beberapa novel Ollie yang saya baca pada masa itu, sekitar tahun 2008 sepertinya, berkisar mengenai permasalahan seputar pernikahan. Beberapa bagian dari novel itu menjadi catatan bagi saya untuk diambil sebagai pelajaran untuk masa-masa ke depan meskipun tentu saja saat itu saya masih remaja 18 tahun.

Salah satu isi novelnya yang paling saya ingat adalah tentang bahwa pernikahan bukanlah sebuah akhir dari segalanya, justru merupakan awal dari banyak hal lainnya.
Dalam pernikahan di negeri dongeng selalu saja berakhir dengan happily ever after, bahagia selamanya. Sehingga masing-masing dari kita mungkin sudah sejak kecil terbiasa dengan pikiran itu. Masa muda dihabiskan untuk bertanya-tanya jodoh itu yang seperti apa? Jodoh kita yang bagaimana? Dan ketika semua pertanyaan itu terpecahkan dengan munculnya jawaban maka ya sudah, problem solved.

Padahal nggak sesederhana itu.

Rumah tangga itu kompleks, dan ketika sudah berumah tangga maka itu berarti kita sudah naik level. Naik level untuk permasalahan yang lebih beragam, naik level untuk cara pemecahan yang semakin lama juga harus semakin taktis.

Pada salah satu novel Ollie, ada kisah mengenai rumitnya hubungan antara menantu wanita dengan ibu mertua. Saya lupa sih bagaimana cerita lengkapnya, berhubung bacanya juga sudah lama banget euh 5-6 tahun lalu? Tapi novel itu yang saya ingat ketika membaca share sebuah akun di dunia maya tentang perbedaan ibu kandung dan ibu mertua. Pemilik akun itu juga menulis bersama dengan gambar perbandingannya bahwa dia benar-benar merasakan hal serupa, merasakan ketidaknyamanan dari ibu mertua.

Hal yang saya coba tanamkan dalam pikiran ketika hendak menikah adalah bahwa setelah menikah itu berarti saya terlepas dari kedua orang tua dalam segala keutamaan, terkecuali nasab tentunya. Saya tak lantas mengganti nama belakang saya dengan nama suami karena nasab saya tidak pernah berubah sampai kapanpun. Tapi saya lantas mengutamakan suami baik untuk izin pergi atau kepentingan lainnya, bakti seorang wanita telah berubah kepada suami, bukan lagi kepada orang tua setelah ijab. Tapi bakti suami tetap sama kepada orang tuanya, terutama kepada ibunya.

Dengan berpikir seperti itu maka selalu tidak ada alasan bagi saya untuk menghalangi bakti suami kepada ibu, karena itu merupakan salah satu tanggung jawab sekaligus ladang pahalanya. Dalam rumah tangga tentu sih harus ada keseimbangan, istri harus mengerti hubungan antara suami dan kedua orang tuanya, jauh-jauh dari pikiran menganggap ibu mertua adalah rival. Ibu mertua juga seharusnya mengerti posisi diri dan tidak menggunakan otoritasnya untuk bersaing dengan menantu.

Yang sebenarnya adalah, saya beruntung memiliki mertua apalagi ibu mertua yang sama sekali tidak seperti digambarkan dalam novel dan share media sosial itu. Berbeda pendapat sih wajar, berhubung dengan orang tua sendiri saja kita sering berselisih paham. Ya kan?

Justru untuk berusaha menghilangkan gap itu, kita sebagai menantu juga harus mendekatkan diri ya kan? Cara yang paling mudah menurut saya adalah lebih sering ke dapur untuk memasak macam-macam, untuk mertua juga. Dan jika beliau sedang memasak saya suka mendengar petunjuknya dalam mengurus rumah atau dapur bahkan sekecil cara membersihkan kompor gas yang biasanya beliau lakukan 2 minggu hingga sebulan sekali dengan memakai Sunlight. Mengapa memakai Sunlight, cairan sabun untuk cuci piring itu? Karena Sunlight mampu menghilangkan kelengketan bekas makanan dan sisa minyak yang tersisa di kompor dan sekitarnya. Saya tahu saya butuh, karena mami saya sudah nggak ada pada saat saya masih ababil dan kami masih menggunakan kompor minyak dulunya jadi saya belum pernah mendapatkan arahan detail seperti ini.

Ibu mertua saya selalu keheranan setiap saya mengambil buku catatan untuk menulis resep masakan ala beliau. Saya sampaikan kepada beliau bahwa, ini bukan karena saya nggak bisa memasak masakan itu, tapi pasti hasilnya beda sama racikan ibu. Karena bagi seorang anak, nggak terkecuali bagi suami yang adalah anak beliau, masakan ibu selalu ngangenin dan nggak tertandingi rasa khasnya. Ya kan? Dan beliau tertawa, menepuk lengan saya kemudian bilang,"ah masa?"

Orang tua juga selalu senang kalau masakannya dipuji, I always found some spark in her eyes when I tell her that her food was finger licking good. Itu adalah cara saya bersyukur bahwa meskipun mami sudah tidak ada, tapi ada beliau yang jelas-jelas bukan tim ibu mertua jahat seperti yang sebagian besar para menantu perempuan keluhkan.


14 comments:

  1. Bumerku juga gak antagonis kayak di fb itu.. malah mantunya sg mayak, haha..

    Tapi gimana pun pasti sedikit banyak ada gak sregnya,, cuman kalo urusan uang, aku gak pernah ikut campur, yg penting suami terbuka n adil aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha sebenarnya posting ini mengundang curhat ya?

      Delete
  2. konflik sama mertua pasti ada ya mbak, sebagaimana kita juga pernah konflik sama orangtua sendiri. cuma kadang kalo sama mertua suka di panjang-panjangin, jadi bikin berlarut-larut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. tergantung kedua belah pihak sih lagi-lagi cha, kalau menurutku

      Delete
  3. Kayaknya saya tahu postingan itu. Saya ga pernah share balik hhahaha karna cuma nambahin minyak ke istri-istri yang memang punya masalah sama mertua.

    Gimana pun mertua itu seorang perempuan dan ibu juga,kalau dijadiin rival, jangan2 kalo kita nanti jadi mertua, menantu kita, kita jadikan rival. Lingkaran setan.

    ReplyDelete
  4. Mau nyoba ah, kompor saya mba..udah bulukan karena saya ga rajin nyucinya ><

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah di sekitarku kisah2nya baik baik sama mertua. Kalau di sinetron apalagi ya aduuh ngeri amat kayaknya

    ReplyDelete
  6. Makanan buatan orang tua memang selalu terasa berbeda ya..
    Salam kak Ninda.. :)

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...