Tuesday, October 4, 2016

PADA SUATU PAGI


Dari semenjak kecil kita sudah dididik untuk bangun begitu pagi, bahkan tidak tidur lagi setelah sholat shubuh dengan arahan bahwa tidur setelah shubuh membuat rejeki kita dipatok ayam, kita tak lagi kebagian. Sebuah ungkapan yang oleh Pidi Baiq, salah satu penulis favorit saya dijawab dengan lugas dan lucu: ayamnya kan nanti saya makan. Pada kondisi tertentu, terutama setelah kerja saya menyadari bahwa tidur setelah shubuh bukan cuma soal anjuran untuk dilakukan tapi setelah bangun biasanya kita akan merasa kurang siap menghadapi hari. Ketika terbangun dari tidur kedua setelah shubuh kita jadi lemas dan terus mengantuk, kurang bersemangat sepanjang hari. Karena itu saya lebih suka tidur awal untuk menghindari tidur lagi setelah shubuh saat jam kerja saya masih jam 8 pagi sampai 5 sore.

Dulunya saat masih tinggal di desa bertiga bareng kakek nenek, saya selalu menghargai pagi hari terutama setelah hujan. Embun yang terserak di rerumputan, udara pagi yang dingin berkabut meskipun desa saya jauh dari lingkungan pegunungan. Memandangi langit pagi dan mencuci wajah sebelum memulai rutinitas membeli ketan dan tempe hangat di dusun sebelah.

Pada pagi yang tenang setelah sebelumnya hujan deras membasuh tanah, saya justru bangun lebih pagi untuk banyak alasan yang saya sudah tidak sepenuhnya ingat sekarang. Tapi salah satunya adalah karena berburu pelangi di pagi hari, tanah yang becek dan membuat sandal jepit saya menjadi demikian tebal oleh lumpur, daun dan ranting yang bersatu memberatkan setiap langkah rasanya tidak menghalangi keinginan itu. Pelangi adalah keindahan yang selalu saya tunggu semenjak malam hujan deras berpetir kencang.

Melangkah ke area ladang-ladang yang tidak jauh dari rumah untuk menyapukan pandangan pada keluasan langit yang lebih tak banyak batas, ke seluruh penjuru sampai menemukan lengkung warnanya. Saya pernah tergoda untuk berjalan lebih jauh lagi, mencoba menelusuri jejak ujung pelangi, termakan cerita tentang makhluk yang menyembunyikan emas dalam gentong di ujung pelangi.

Konyol ya, tapi memang bikin penasaran kan?
Setiap kali mencoba, setiap kali itu pula waktu beranjak siang dan saya ingat saya harus ke sekolah atau pelangi sudah duluan mengabur dan menghilang bahkan ketika saya barusan saja memulai langkah.

Matahari terbit hanya saya rasakan dari biasan cahayanya yang menimpa daun-daun dan tingkat kesilauan. Saya tidak benar-benar menyaksikan matahari terbit karena rimbunnya pepohonan di desa saya. Saya hanya menilainya sebagai waktu, kapan harus menyiram tanaman atau membantu rutinitas nenek kakek saya, kapan saya harus mandi dan segera berangkat sekolah ke dusun sebelah. Matahari adalah pengganti jam akan segala aktivitas saya di pagi dan seusai sekolah.

Pertama kali saya melihat cantiknya matahari terbit yang berwarna oranye kekuningan menyibak langit gelap adalah pada usia 13 tahun di Pantai Sanur, Bali. Bersama ratusan orang asing yang memenuhi pantai dari berbagai negara, siap dengan kameranya masing-masing. Saya justru lebih tertarik melihat pemandangan malam yang berganti pagi dan matahari berubah dari temaram lembut menjadi perlahan memanas dan garang hingga mata saya tidak lagi mampu telanjang menantang sinarnya.

Tidak mudah melupakan ingatan pertama kali matahari terbit di salah satu pantai Pulau Dewata, pada tapak-tapak pertama saya berada disana, terutama saat membaca artikel sanur bali indonesia.travel. Indonesia.travel adalah sebuah situs yang mengulas keindahan indonesia dan tempat-tempat wisatanya yang eksotis, lengkap dengan petunjuk arah dan rekomendasinya.

Mendadak saya rindu aroma air laut di pagi hari, di tepian Pantai Sanur, menanti cahaya orange terbangun.

4 comments:

  1. Aku waktu ke Bali juga pengen banget ke Sanur liat sunrise sambil sepedahan,, tapi apa daya, liburannya ngikut kantornya suami, gak bisa kemana-mana.

    Sunrise terbagusku di Sembalun, kaki gunung rinjani.. hotelnya membelakangi gunung rinjani persis, jadi waktu sunrise bisa liat gunungnya jadi warna merah.. waa jadi pengen jalan-jalan.. :(

    ReplyDelete
  2. aku liat sunrise dari rooftop rumah aja udah seneng banget mba hahaha

    ReplyDelete
  3. Kalau tidur setelah bangun pagi itu yang ada jadi pusing kalau saya hahaha, jadi engga semangat gitu.. jadi kalaupun masih ngantuk tetep dipaksa bangun atau minum kopi dulu :)
    Laut memang selalu bikin kangen ya.. suara ombak selalu bikin tenang..

    Salam Kak Ninda..

    ReplyDelete
  4. Ohhh namanya emang indonesia.travel ya. Emang ada titik ditengahnya. Aku kira typo

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...