Sunday, October 23, 2016

PARADOKS

pic source: random by google
Saya hanya bisa mengingat satu kata ini yang menurut saya paling mampu mewakili banyak peristiwa yang terjadi belakangan ini.
Paradoks.

Tentang ibu-ibu yang membuang keibuan mereka bersamaan dengan membuang bayi-bayi mungil tanpa dosa ke tempat sampah atau meletakkannya di area persawahan hingga dehidrasi dan meninggal. Tentang ayah-ayah tidak bertanggung jawab dan tidak tahu malu, mendorong para ibu melakukan pembuangan melalui sikap tidak mau tahu atau justru membantu eksekusinya. Mau berbuat dengan segala cara di pojok taman-taman gelap atau tempat-tempat lain yang lebih bagus, beberapa diantaranya mungkin sesumbar pada kawan-kawannya bahwa dia sudah pernah melakukan hal-hal yang orang bilang terlarang.

Untuk membanggakan diri, bahwa mereka 'laku', bahwa ada kok yang bertekuk lutut pada rayuan mereka, untuk terlihat lebih jantan di mata lingkungannya. Percayalah saya pernah dengar obrolan sejenis, kemudian merasa mual dan jijik dengan pelakunya.
Mereka begitu bangga pernah berbuat tapi lebih parah dari pengecut jika urusannya sudah menyangkut pertanggungjawaban. Dengan alasan, "kan sama-sama mau."

Kontras sekali rasanya, sementara banyak para ibu yang tulisannya masih membanjiri media sosial dan blog, tentang surat-surat terbuka kepada anak-anak mereka yang meninggal saat lahir, meninggal saat usianya masih bayi atau kepada anak-anak yang belum pernah mereka miliki. Menyakitkan ya kan? Melihat sedemikian banyak pasangan suami istri yang ingin dikaruniai keturunan setelah menikah bertahun-tahun dan dilain pihak setiap hari saya menonton acara berita di televisi, setiap kali itu pula selalu saja ada berita bayi dibuang di jalan sembarangan seolah barang bekas.

Seorang teman kantor selalu mendadak marah-marah ketika menyaksikan berita seperti itu. Dia yang seorang ibu mendapatkan anak setelah penantian yang tidak sebentar, setelah itu pun ketika dia ingin menambah anak maka tidak kunjung dikaruniai pula. Waktu itu saya bingung kenapa dia sampai sesensitif itu, tapi sekarang... ya saya rasa saya bisa mengerti.

Lain dengan masalah buah hati, lain pula masalah hubungan percintaan.
Seorang teman mengadu kepada saya bahwa dia sudah sangat ingin menikah, sudah siap menikah. Dia menanti lamaran yang hingga saat ini tak juga kunjung datang. Teman lain membuka curahan hatinya bahwa diantara sekian orang yang ingin mengajukan diri untuk melamarnya, tak satupun diantara mereka yang membuat dirinya yakin memilih. Dan ketidakyakinan seperti itu bisa jadi berakibat kurang baik pada hidup yang akan dijalaninya dimasa depan nanti.

Teman seorang sahabat saya yang lain, kelewat banyak lelaki yang mengincarnya menjadi calon istri. Semua berkata serius dan ingin menikahinya tapi kemudian dia jauhi perlahan satu per satu karena dia belum ingin serius membina hubungan apalagi sampai menikah. Dia masih menikmati status singlenya. Bolehlah kalau sekadar main-main dan berpacaran saja, katanya.

Ada banyak sisi yang kontras dengan banyak sisi lainnya di dunia ini. Hingga membuat kita kehilangan kata untuk mendeskripsikannya dengan tepat.

Bagi saya, kata yang paling tepat mewakili kekontrasan itu adalah paradoks, entah benar-benar sesuai definisi majasnya atau tidak tapi itulah kata pertama yang tercetus di kepala saya. Menurut seorang teman, incredibly ironic adalah padanan kata yang paling cocok untuk kondisi ini.

Mungkin kamu pun memiliki perwakilan kata tepat lain, yang berbeda dari kami.

10 comments:

  1. Entah, saya belum bisa menemukan diksi yang tepat juga mengenai itu ka ninda. Well, tiap orang punya ceritanya tersendiri, bisa cerita yang baik dan menginspirasi atau sebaliknya, cerita kelam yang penuh dengan ketidakadilan. Mungkin kekontrasan itu muncul karena pengaruh lingkungan mereka tinggal ka, perhaps.

    ReplyDelete
  2. That's what we call life, I guess..

    ReplyDelete
  3. Kalo kata mas anang, kalo aku sih iyes. Hahaha.
    Apa ya? Kalo aku bilang ini yin yang, hitam putih.
    Ada yg dtg, ada yg pergi.
    Ada yg merindukan, ada yg menyia2kan.

    Ps. Aku kok bacanya pandora box ya :[

    ReplyDelete
  4. Hem... Sebagai cowok. Aku sih, ngalamin fase ini sekarang. Saatnya untuk serius. Harusanya udah dari kemaren. Tapi, ada something yg terjadi. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengulur waktu supaya benar-benar adanya.

    Menanggapi ini, aku sendiri bingung kak. Harus bilang apa. Ya, seperti kakak. Bingung mendeskripsikan ini tentang apa.

    ReplyDelete
  5. Wooo pancen njaluk di buak ae manungso model ngunu iku, dibuak sikap elek'e maksudte whwhwhwhhahahhaha.. paradoks tak pikir karedok, lesu langsungan hahaha

    ReplyDelete
  6. Astaghfirullah, aku terharu bacanya, Mbak. :'( Apalagi tentang ibu2 yang gak bertanggungjawab. Pasahal di luar sana banyak yang menjalani ruwet pengobatan medis maupun non medis hanya agar bisa memiliki keturunan. Ada juga yang diberkahi kehamilan berkali-kali, tapi janin meninggal sebelum dilahirkan. :'(

    ReplyDelete
  7. jadi inget tetangga depan rumah. beliau sudah bertahun-tahun menanti buah hati mbak, berikhtiar sekuat tenaga. Beliau nangis saat dengar kabar anak tetangga yg masih SMP ketauan hamil di luar nikah.

    ReplyDelete
  8. hmmm, sungguh ironis yah Mba Ninda :(

    kadang apa yang dianggap si A biasa saja, bisa menjadi hal luar biasa bagi si B dan begitu pula sebaliknya.

    ReplyDelete
  9. Nin, di paragraf kedua apa lagi ada kasus hebohnya kah? Ya kalau kau tahu, saya sering nggak ngerti tiap ada kasus2 yg kamu sentil, jadi penasaran, jadi gemes, apalagi tulisanmu pasti nantangin pengen tahu.
    Kayak gini, jadi pengen merenung deh.

    ReplyDelete
  10. Manusia emang gitu ya...
    Makanya, yg tak kita inginkan kdg sgt diinginkan org lain

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home