Sunday, December 11, 2016

TOLERAN TANPA MENYAKITI

Sejak bulan lalu dan bahkan beberapa minggu ini, saya rasa sedang memasuki rentannya sembarang beropini di dunia maya. Terutama status media sosial berkaitan dengan Aksi Bela Islam dan apapun yang tersangkut paut dengan itu.

Menurut pandangan saya pribadi, jika memang kita tidak siap dengan dampak sebuah tulisan yang kita unggah di media sosial, menuai pro dan kontra maka lebih baik untuk tidak membahas itu. Ataupun menanggapi. Maraknya unfollow dan unfriend dalam jejaring pertemanan, jujur menurut saya wajar saja. Karena langkah tersebut adalah langkah tercepat dan termudah untuk mengakhiri sebuah ketidaknyamanan dengan pendapat seseorang yang kita kenal tanpa harus bermusuhan atau konfrontasi terlebih dahulu. Bisa jadi karena semakin lama orang lebih suka untuk memilih mengabaikan jika ada pandangan-pandangan yang kurang sesuai dengan mereka ketimbang harus ribut-ribut dan menambah musuh.

Jujur melihat aksi Bela Islam membuat saya merasa haru dan nggak kuat untuk menonton video-videonya, selalu saja tanpa bisa saya kontrol air mata bergerak berjatuhan. Iya sebegitu besarnya pengaruhnya kepada saya, meskipun saya bukan orang yang langsung berpartisipasi dengan aksi ini dalam bentuk kehadiran fisik.

Sungguh salut dengan sahabat dan orang-orang yang saya kenal, mereka memilih untuk turut berpartisipasi langsung.

Seperti semua haru dan rasa senang melihat begitu banyak muslim yang sangat mencintai Al Qur'an, saya juga sedih karena beberapa hal. Salah satunya teman-teman sesama muslim yang menghujat aksi demi aksi ini dan mengkritisi dengan bahasa yang tidak semestinya dilontarkan. Sementara melihat perjuangan saudara-saudara lain dari berbagai daerah untuk menuju tempat berkumpul di Monas Jakarta. Bayangkan sebegitu banyak orang tanpa briefing koordinator atau apa dan bisa berlangsung begitu tertib? Ada tangan tidak terlihat diluar batas nalar kita yang menurut saya turut mengatur semuanya. Karena bayangkan saja, dalam lingkup kecil seperti ospek saja begitu susah untuk mengatur dan mengkoordinasi para mahasiswa baru yang hitungannya sudah dewasa dan berpendidikan. Nah aksi ini, muslim dari berbagai lapisan masyarakat, status sosial dan pendidikan hadir dalam jumlah yang sekian banyak dan bisa begitu tertib. Apakah make sense jika dipikirkan dengan akal kita?

Saya juga nggak mengerti mengapa sebagian mereka ini, mengaku muslim tapi bisa demikian memandang aksi ini hal yang tidak berlogika dan menghina, menganggap mereka tidak menjunjung tinggi bhineka tunggal ika dan toleransi. Kawan, cobalah hina mereka. Para peserta aksi bela islam itu dengan hinaan personal? Mungkin mereka marah dan tersinggung tapi pasti banyak juga yang tidak akan marah dan tersinggung dengan hinaan kita yang ditujukan kepada mereka. Berbeda dengan kalau yang dihina panduan hidup mereka selama ini: Al Qur'an.

Orang bilang Rasulullah saja pemaaf dan tidak marah pada orang-orang yang menghinanya, memang begitu. Tapi beliau marah jika ada orang yang menghina Al Qur'an.

Sedih sekali ketika beberapa dari kita meyakini lack of tolerance dari teman-teman yang berangkat untuk Aksi Bela Qur'an, tidak menghargai Bhineka Tunggal Ika padahal apa yang kita lakukan saat itu dengan mengutarakan pendapat ini juga berarti bahwa kita tidak menghargai toleransi dan Bhineka Tunggal Ika.

Kebersamaan ini, antar pemeluk agama yang berbeda tapi tetap rukun dan menghargai kebebasan menjalankan ibadah agamanya adalah sesuatu yang tentunya menjadi idaman sebagian besar dari kita semua. Jangan sampai dimasa depan, orang merasa berhak untuk berkata-kata menghina agama lain karena beranggapan bahwa semua hal bisa diselesaikan dengan meminta maaf saja.

Mungkin ada keinginan untuk dihargai, dipandang berpikiran terbuka dan menerima semua perbedaan... orang-orang yang menghujat saudara seagamanya sendiri untuk memperoleh nilai tertentu dimata kebanyakan orang. Yang biasanya mereka lupa adalah, mereka merasa sangat menjunjung tinggi toleransi pada semua orang, semua pemeluk agama padahal tidak demikian. Buktinya apa yang dia lakukan itu tidak mencerminkan sesuatu yang menoleransi saudara seagamanya yang rela menempuh perjalanan jauh karena keyakinan yang mereka bela. Ini nggak ada hubungannya dengan sentimen kepada agama lain, antar ras dan etnis lho.

Bagi saya, toleransi tidak perlu dikumandangkan atau dilakukan untuk menyakiti satu pihak. Kamu tidak perlu berkoar-koar kalau kamu mendukung toleransi dengan menjatuhkan saudaramu sendiri untuk mendapatkan simpati publik, yang kamu bahkan mungkin tidak mengenal mereka dengan baik. Bersikap baik, ramah, tidak menghalangi kebebasan beribadah sesuai agamanya (tentu agama yang diakui dinegara kita) antar teman-teman dan keluarga yang berbeda keyakinan dengan kita sudah cukup untuk membuat lingkungan kita tahu kalau kita orang yang toleran dan menyenangkan sebagai teman dan keluarga.

Demikian menurut saya yang memiliki tidak sedikit teman-teman baik berbeda keyakinan pun juga keluarga yang tidak semuanya muslim :)
Spread the love, not hate.

8 comments:

  1. Semua aksi itu memang bagus baget, jarang-jarang umat muslim bisa berkumpul dalam jumlah besar dan bisa tertib bangett... Kadang semuanya tentang perspektif, dari sudut padang mana seseorang memandang sebuah fenomena. Ya dari setiap aksi pasti ada pro kontra nya, tapi kadang harus dilihat juga sisi positif nya ya :) Selama tidak ada aksi anarkis sih engga apa-apa kalau kata aku...

    ReplyDelete
  2. Ka, kita sama, saya juga gak turut berpartisipasi langsung. Tapi saya tetep komunikasi dengan teman2 yang ada di lokasi.

    Membahas post ka Nida. Saya pikir, teman-teman yang turun aksi bela islam punya hak menyampaikan suaranya untuk membela agamanya. Dan itu sah-sah saja, tidak ada yang salah.

    Saya heran malah sama orang-orang seagama yang menyalahkan temen2 kita yang turun aksi ke monas. Orang2 ini memiliki opini yg berbeda, itu sah saja, kita memang dilahirkan berbeda sejak lahir, karena itu kita harus menerima perbedaan itu sebagaimana adanya perbedaan itu, bukan malah menyalahkan hanya karena opininya berbeda, ditambah mereka mengklaim tidak toleran, saya malah menpertanyakan argumentasi mereka ini, saya melihatnya orang2 yang tidak senang dengan aksi bela islam inilah yang tidak toleran. Mereka meneriakkan toleransi pada dunia, namun mereka lupa dengan dirinya bahwa ia tak sama dengan apa yang diucapkannya, seharusnya ia menghargai teman2 kita yang aksi di monas. Dengan begitu, terwujudlah toleransi antar sesama.

    That is what I am thinking after read your post ka Nida. Great article.

    ReplyDelete
  3. Setuju banget ini. Saya masih suka heran dengan saudara seiman yang malah menghujat aksi kemarin. Tapi karena rasa nggak enakan saya lebih gede, saya nggak unfriend atau unfollow, tapi dihidden :D hihihi

    ReplyDelete
  4. iya mbak, aku juga sedih melihat beberapa teman yg gak sependapat melontarkan kritik yg menyakitkan. Gak sepakat boleh kok, tp saling menghargai keputusan lah.

    ReplyDelete
  5. yang bikin senewen adalah artikel2 yang memojokkan, dari pihak satu dan pihak lain, agak jengah ngeliat sosmed yang itu, kenapa nggak bisa damai aja sih ya

    ReplyDelete
  6. Huum tema ini lagi hawt hawtnya di fb, makanya aku kadang suka melipir bentar dari fb biar nda ikut kepancing yang gontok gontokan,.hihi...unfol dan unfriend bahkan block di fb diem2 juga sik nglakuin, soalnya lagi nda mau mikir yang berat2 atau ikutan berkonfrontasi saling sindir saling berprasangka...jadi lebih aman liat yang adem adem dulu ahihihi..

    ReplyDelete
  7. Boleh bela sesuatu, tp tdk dg menjatuhkan atau mencaci org lain. pendapatku sih gitu, Mbak

    ReplyDelete
  8. ga cuma socmed Nin, di kantor juga. selama ini aku diam...ya anggaplah itu netral (maksudnya ngga nyalahin siapapun...pro damai). nah, sekarang muncul juga yang ga berpendapat disemprot semprot. didalilin macem macem, padahal kan kita diem bukan berarti abai.cuma ngga mau buang tenaga buat debat hal yg emang gkan ada beresnya kalau didebatin.

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home