Tuesday, January 24, 2017

MUARA SEGALANYA

Mengapa diatas segalanya kita paling perlu mengedepankan Allah dan aturannya?

Bagi saya, pemilik ilmu agama yang dangkal ini mungkin jawabannya tidaklah lengkap. Tapi bisa saya katakan, puzzle kejadian demi kejadian lah yang membentuk manusia, pun juga perkataan dan jawaban yang dia keluarkan.

Jadi, mengapa diatas segalanya kita perlu mengedepankan aturan Allah, sebelum yang lain?
Karena hidup hanya sebentar, teramat sebentar hingga pada beberapa orang memiliki durasi hidup yang lebih singkat dari yang lain.

Dan apakah hidup yang teramat sebentar hanya akan kita lewatkan dengan membiarkan ucapan kurang baik keluar dari mulut kita, jari-jari yang mengetik sumpah serapah dengan teramat mudah dan pemikiran yang menganggap sah-sah saja segala hal dan tindak tanduk kurang baik hanya karena menilai itu tidak munafik.

Nggak papa dong mabuk-mabukan dan share di media sosial, karena itu tandanya nggak munafik. Daripada atribut pakaian tertutup tapi dibelakang backstabbing orang? Daripada nampak alim anak mama ternyata doyan dugem diluaran?

Yang paling mending tentu saja nampak alim, nggak doyan dugem, mabuk-mabukan dan nggak sibuk backstabbing teman, Itu menurut saya.

Apa yang menjadi dosa kita, itu dosa kita. Menyadari bahwa itu dosa dan tidak membanggakan di khalayak umum akan lebih baik ketimbang mengumumkannya dengan dalih nggak munafik.

Sosial media itu kan harus penuh dengan orang-orang berpikiran terbuka, bisa memilah yang baik dan buruk. Memang. Tapi yang kita lupa, kitalah juga salah satu filternya.

Dengan mempopulerkan sesuatu yang bahkan secara moral saja dipandang kurang baik apalagi secara agama kemudian banyak yang meniru tingkah polah kita itu, kita bisa berlepas tangan saat di dunia tapi apakah bisa diakhirat?

I don't think so.

Sementara ketika waktunya tiba, bahkan waktu saja sudah tiada untuk kita apalagi kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Sudah tidak ada hari esok.

Orang yang kita bela-bela setengah mati sebagai artis idola atau pejabat idola itu, nanti akan sibuk sendiri mempertanggungkan kesalahannya yang tidak luput dari mata Allah. Mereka terlalu sibuk takut dengan hasil pertimbangan amalnya bahkan tidak mempedulikan keluarganya sendiri, apalagi kita?

Perkataan kurang baik akibat kurangnya pengkajian pada agama sendiri dengan dalih toleransi namun pada kenyataannya intoleran pada sebagian yang lain, apakah akan luput dan terlupakan? Tidak.
Kita bisa memakai akun media sosial yang berbeda, membully, melontarkan perkataan kurang baik, orang mungkin tidak tahu siapa kita namun malaikat tidak pernah luput mencatat itu. Pun jari-jari kita yang adalah milik Allah pun tahu apa yang kita  tulis dan akan menjadi saksi atas apa yang telah kita perbuat.

Hari esok adalah hadiah yang kita tidak tahu apakah akan diberikan pada kita atau tidak. Jangan terlalu yakin akan memperolehnya.
Hari esok adalah lembaran kesempatan baru, karena itu sungguh membuang waktu dengan percuma ketika kita mengisinya dengan hal-hal yang tidak baik.
Karena mungkin meskipun hari esok yang ini Allah bolehkan menjadi milik kita, maka tidak demikian dengan lusa.

Waktu hidup terbatas dan kesehatan tidak akan selalu kita miliki. Jadi mengapa masih mengisi hari kita dengan hal-hal negatif? Mengapa masih ringan tangan dan mulut untuk menyampaikan hal-hal yang semestinya tidak kita utarakan.

Ketika menulis ini, saya tahu bahwa mungkin bagi sebagian orang tulisan ini akan terlihat 'begini amat' atau mungkin 'nggak humanis' atau yang lain. Mereka bisa menganggapnya  demikian. Saya bisa membaca komentarnya, mendengarnya atau mungkin tidak sama sekali.

Tapi tidak pernah rugi bagi kita, saya dan kamu untuk meninggalkan hal-hal baik ketika waktu masih dibolehkan menjadi milik kita. Termasuk juga tulisan yang baik dan bermakna positif. Tidak pernah rugi untuk menjadi orang baik dan bersikap baik pula pada orang-orang yang tidak mengganggu dan tidak menyinggung kita.

Tidak pernah rugi juga meninggalkan hal-hal baik, pemikiran positif sebagai bagian dari jejak-jejak kita saat usia masih ada bersama kita. Karena sesuatu yang baik dan mendorong orang lain untuk melakukan hal-hal baik juga maka akan baik bagi kita di mata Allah, sementara hal-hal kurang baik pun sama juga efeknya akan menambah buruk nilai kita di mata Allah.

Lagi-lagi, mengapa nilai dari Allah yang paling penting?
Karena dari Allah kita tercipta, karena izinnya kita hidup hingga saat ini dan kepada Allah pula tempat kita kembali dan bertanggungjawab atas apapun yangkita lakukan pada kesempatan hidup yang Allah beri. Karena Allahlah muara segalanya maka Allah-lah yang terpenting.

Dan lagi-lagi kesempatan hidup kita tak selamanya. Bahkan saya dan kamu juga tak pernah tahu jika tahun depan blog ini sudah tidak bisa lagi diakses melalui alamat yang sama karena saya sudah tidak mampu lagi mengisi dan memperpanjang alamatnya.
Who knows?

Hari ini kita mungkin dapat merasa lega karena merasa sehat, tidak sedang sakit apapun, dalam kondisi fisik dan mental terbaik apalagi menderita penyakit kronis. Tidak terpikir sama sekali. Yang kita tidak tahu, tidak menderita penyakit apapun tidak menjadi jaminan kita akan mampu melewati tahun ini bahkan hari esok. Saya yakin, kita memiliki banyak kenalan yang ketika tiba-tiba kabar meninggalnya disampaikan karena sesuatu hal lantas kita menjadi kaget luar biasa. Dia tidak sakit, bagaimana bisa? Dia tampak penuh impian masa depan, bagaimana bisa?

Bisa, karena sudah kehendak Allah.
Karena itu, besok-besok mungkin itulah juga yang menimpa kita.
Orang-orang heran menerima kabar kematian kita karena kita tidak tampak sakit, lesu atau pucat atau apalah? Kenapa tiba-tiba tiada.
Dan apa yang bisa kita andalkan ketika saat itu tiba?

Bukan pada komunitas apapun yang kita ikuti, bukan pada fansclub apapun dimana kita menjadi member. Bukan pada teman-teman dan orang-orang terdekat sebaik apapun mereka.
Kita hanya bergantung pada apapun yang telah kita lakukan.

Dan mari berdo'a bahwa hal-hal baik yang kita lakukan jauh lebih berat daripada kesalahan dan dosa-dosa.

--
another heavy thought before going bed, but I just can't help myself but wrote everything here :(

10 comments:

  1. sering sekali melihat dan mendengar orang - orang yang bangga dengan perilaku buruk terus kemudian membandingkannya dengan sosok - sosok baik yang mereka anggap bisa berubah jadi munafik,,, seolah dibabad habis disamaratakan,, misalnya, memang ada orang yang ngaku ustad tapi kadang perilakunya tidak baik,,, tapi kan gak semua ustad seperti itu,, dan gak baik dan gak pas kalau dibanding - bandingkan dengan ustad... seolah ingin mengatakan bahwa "nih gue ini lebih bik dari pda ustad yang muanfik", ah ga pas...

    ReplyDelete
  2. Dan tidak pernah merugi orang-orang yang menyeru pada kebaikan, termasuk berbagi tulisan yang positif dan menginspirasi ini :)

    Terimkasih untuk postingan yang bermanfaat ini ya Mbak Ninda. Salam :)

    ReplyDelete
  3. Setuju mb, akhir2 ini juga sering kepikiran hal semacam ini.. Lumayanlah bikin instropeksi diri..

    ReplyDelete
  4. Hal yg jg sedang saya pikirkan belakangan ini, Nin.

    Ingat mati. Kematian bs dtang kapan pun tanpa mempertimbangakn siapa orangnya. Tak ada jaminan umur kita hingga tua. Bhkn bagi saya pribadi, tak ada jaminan di dunia bertmeu jodoh dlu, bisa jadi kematian dulu yg mnjemput. Jd, tak ada jaminan kita hdup smpe kapan. Dengan mngingat mati, kta akan snntsa berhati hati bhwa stiap gerka kita akan dimntai pertanggung jawaban. Setiap gerka kita amanah dr Nya.

    Smg Allah mnganugerahi kita usia yng berkah. Aamiin.

    ReplyDelete
  5. hiks, gini amat mbak. Jadi catatan buat diri sendiri. Jaman sekarang emang kudu juga menjaga jari-jari dan jempol mbak. Berkata bukan hanya melalui mulut saja.

    ReplyDelete
  6. noted nin ;)
    aku sendiri belum termasuk orang yang benar2 taat aturan Allah, tapi masih berusaha untuk terus taa :)

    ReplyDelete
  7. cuma bisa menghela nafas panjang mbak...

    ReplyDelete
  8. Semua memang tidak ada yang abadi dan semua akan berakhir. Mari kita berusaha untuk berakhir dengan indah. Diatas agama ada nilai kemanusiaan, Beda kenyakinan memang harus bertoleransi, ah tapi kadang aku bertoleransi dengan dosa-dosa, Ah aneh kalau dipikir.
    Jika ada pimpinan kita yang salahm ya alangkah baiknya ditegur, bukan membenci atau membela mati-matian.
    Pimpinan juga tempat salah.

    ReplyDelete
  9. Jafi kringet deretan selebgram yg kontroversi itu nyin

    ReplyDelete
  10. Noted! Inget jaman masih alay hadeuh negrasa konyol banget :( astaghfirullah.

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home