Friday, April 28, 2017

STRIKING BACK THE LONELINESS


Setiap kali salah seorang sahabat saya cerita bagaimana dia merasa sendirian dalam kondisi single, keluarga yang kurang hangat dan dia sedang ada dalam kondisi emosional yang mana butuh sandaran, saya nggak bisa berhenti mikir... apa semua orang pernah berada dalam kesepian yang sama?
Mengapa kita bisa merasa kesepian sementara meskipun kita hidup bermasyarakat, kita memang terlahir sendirian, datang ke dunia ini sendirian dan pergi juga dalam keadaan sendirian nantinya.
Mengapa seseorang bisa merasa demikian kesepian?

Saya nggak pernah benar-benar tahu jawabannya apa.

Cukup sulit menemukan penjelasan yang tepat, mengingat sebagian besar bagian hidup saya adalah perjuangan yang sendiri. Saya nggak bisa dibilang dekat dengan kedua orang tua meskipun kalau boleh bilang ibu saya adalah orang yang hangat dan nggak pernah absen nanya-nanya keseharian anak-anaknya. Tapi saya memang bukan tipe pencerita yang bisa curhat apa saja meskipun ke orang tua sendiri, sometimes kehangatan sikap ibu saya bikin saya merasa awkward. Saya pikir itu karena saya dulu masih anak-anak yang pengin dipandang sudah bisa mandiri sebagaimana anak-anak usia tanggung lain, but no.
Ternyata saya memang orangnya seperti itu.

Meskipun tidak memiliki masalah dalam interaksi sosial, tapi saya juga sangat nyaman melakukan aktivitas sendirian, mungkin agak terlalu nyaman bagi sebagian orang. Hangout dengan diri sendiri, antara fisik dengan diri yang ada di kepala, menontoni semua film baru, masuk toko buku dan bisa menghabiskan sekian puluh menit membalik-balik buku dan art supplies, menyusuri jalan teduh untuk pejalan kaki atau angkutan umum yang nyaman hanya untuk bisa ngobrol lebih banyak dengan diri sendiri adalah sesuatu yang sangat biasa saya lakukan. Sepanjang hidup sendiri terpisah dari keluarga, saya nggak pernah merasa sendiri sangat merepotkan karena saya menikmati waktu-waktu dimana cuma ada saya sendirian. Yah memang lumayan repot kalau harus sakit dalam kondisi itu. Tapi diopname sendirian juga ternyata nggak membuat saya sakit hati. Setidaknya itu jauh lebih baik ketimbang sakit sendirian di dalam kamar sewaan.

Pembicaraan kami yang terlalu sering mengenai perasaan sendiri juga mengantarkan saya pada pertanyaan lainnya:
Apakah keluarga yang hangat dan adanya pasangan bisa menjamin kita berhenti merasa kesepian?

Saya jadi inget pas masih kuliah, pertama kali baca tulisan soal jangan merasa harus bersama seseorang hanya karena kita takut akan sepi.

Dan saya rasa saya setuju dengan itu, bahkan sampai hari ini.

Kita seharusnya nggak menikahi seseorang karena takut sendiri, pun kita juga tidak berpisah dengan seseorang karena rasa kesepian.

Anggapan bahwa begitu menikah maka kita nggak akan pernah merasa kesepian lagi adalah angan yang bisa jadi mungkin, bisa jadi juga tidak seperti itu.

Entahlah, sudut pandang saya juga berubah banyak sejak jadi IRT. Dulunya momentum sendirian bareng diri sendiri adalah sesuatu yang precious, begitu jadi ibu rumah tangga justru kemungkinan untuk sendiri malah dari jadi lebih besar, ya terutama buat yang suaminya kerja di luar rumah dan belum diamanahi anak atau malah sudah tapi anaknya sudah sibuk sekolah dan main bareng teman-temannya. We don't really have a friend to talk face to face, ya paling sama suami kita aja dan dalam sehari dipotong waktu kerja, waktu istirahat dan waktu lain-lainnya palingan bersihnya hanya sekian jam aja. Selebihnya ya lebih banyak sendiri.

Salah satu yang saya takutkan ketika jadi stay at home wife alias IRT yang di rumah aja adalah berubah jadi ibu-ibu rumpik bareng tetangga seperti yang sering diangkat jadi adegan di sinetron atau film-film khas Indonesia. Saya paham sih kalau kemungkinan fenomena ibu-ibu rumpik bareng tetangga ini dilatari oleh kebutuhan komunikasi yang nggak tercukupi, kebutuhan cerita yang nggak tersalurkan dengan baik entah dari pasangan, dari anak-anak atau anggota keluarga yang lainnya.

Eh bukan berarti ngobrol bareng tetangga itu nggak baik, baik dong kalau menjaga keakraban, tapi kalau rumpik bareng kayaknya nggak sehat juga deh :)

Dan saya meskipun hingga saat ini juga masih tetap nyaman punya waktu bareng diri sendiri, tapi nggak bohong juga kalau kadang ya ya gitu lah bisa tetep cranky dan badmood sendiri terus ngerasa gimana ya... nggak terjelaskan, pokoknya jadi sumpek aja. Secara ya kalau ditarik garis mundur, dulu saya selalu ketemu, berinteraksi dan berkomunikasi sama orang banyak setiap hari. Selalu terbiasa sama keramaian dan diskusi, ngomong yang didengerin banyak orang dan sebagainya dan sebagainya.

Pada kenyataannya bersama orang lain atau tidak, berpasangan atau belum tidak menentukan bahwa diri kita akan lepas dari perasaan kesepian.

Everytime I feel like that, saya berusaha nambahin load kerjaan biar terus-terusan sibuk dan nggak punya waktu buat mikir atau ngerasa nggak enak. Being busy was always could bring the positivity in me.

Or when I feel so bad that I don't know how to describe what I feel, saya berhenti ngerjain apapun yang saya kerjain dan bikin makanan apapun yang saya pengin atau delivery order makanan yang lagi saya pengin. Berhenti beraktivitas, chewing comfort food or a big glass of ice coffee and watch mainstream dramas makes me feel better. I strike back my bad mood and loneliness as simple as that.

Ketika udah jadi makin nggak enak dan berasa sumpek, merasa uninspired buat ngapa-ngapain, baru saya pengin kabur ke coffee shop biasanya sih.

How about you?
Pernahkah kamu merasa sendiri? Kapan? Dan bagaimana cara kamu mengatasi itu? :)

1 comment:

  1. Sebagai tipe introvert, aku sering merasa yg namanya kesepian. Dn kadng kesendirian adalh hal yg lbih baik bg sy drpada dlm keramaian.

    Aku bs ngerti maksd dr tulisanmu di atas. Bs merasakannya.

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home