Tuesday, June 27, 2017

KETIKA HATI KEHILANGAN RUMAH

Buat sebagian orang, mudik selalu menyenangkan.
Demikian juga berlebaran bersama keluarga.
Tapi saya sudah hampir lupa kapan terakhir kali saya menyambut hari pulang ke kampung halaman sebagai sesuatu yang menyenangkan. Kapan saya bisa melaluinya dengan tenang tanpa konflik internal keluarga.

It takes so long long time.

Mudik selalu jadi momentum yang tidak lagi menyenangkan sejak bertahun-tahun lalu. I losses all the joy. Meskipun saya adalah orang yang lebih cenderung untuk mengemukakan apa saja yang ada dipikiran. Apalagi pada orang-orang yang menurut saya attitude-nya kelewat batas, tapi saya bukan orang yang suka berkonflik dengan orang tua, sebenarnya. Mestkipun saya juga nggak bisa menjelaskan bagaimana tiap obrolan biasa pun bisa menyeret saya dari satu konflik ke konflik lainnya.

I'm so tired with all of this. Saya lelah karena seberapa besarpun usaha saya untuk tidak merepotkan orang tua, membuat beliau merasa diyakinkan bahwa saya bisa melakukan semuanya sendiri dan saya tetap anak yang tumbuh dengan wajar, jauh dari hal-hal negatif meskipun sudah merantau sejak usia 16 tahun lebih sekian bulan.

Saya jadi tidak menyukai kata pulang. Rumah sudah lama berhenti menjadi tempat yang paling nyaman yang bisa saya tinggali, konsep rumah sudah bermutasi menjadi kamar sewaan di perantauan.

I try so hard for being an ideal daughter, didn't start any conflict and whatsoever. Tapi kalimat-kalimat beliau kelewat sering membuat saya menangis sampai tertidur. Salah satunya adalah ketika menelepon untuk mempersoalkan sesuatu yang saya sama sekali nggak tahu apa-apa pada saat saya baru saja pulang opname di rumah sakit kota perantauan. Didn't even bother to ask my condition, apa saya baik-baik saja? Apa saya mengalami masalah dengan harus sakit seperti itu di kota orang dalam keadaan sendirian?

Sementara berbagi cerita dengan teman yang tidak pernah berada dalam situasi buruk dengan keluarga, sama saja melukai hati sendiri lebih dalam lagi. Gimana bisa seseorang yang nggak pernah diabaikan bahkan disakiti orang tuanya sendiri tahu bagaimana posisi kita? Saya nggak pernah mencobanya sih, tapi beberapa orang yang saya kenal dan memiliki masalah nggak beda jauh - sudah. Mendengar cerita mereka saja sudah bikin saya gemas, jadi saya memilih untuk nggak berada diposisi yang sama... bercerita pada orang-orang yang bahkan nggak tau rasanya.

Orang tua terkadang lupa bahwa dulu mereka juga anak dari orang tuanya. Mereka selalu ingat bahwa mereka adalah orang tua yang tidak pernah salah tapi tidak pernah mau ingat bahwa mereka dulu juga pernah berada di posisi seorang anak.

Orang tua selalu tahu posisi mereka yang merupakan tempat bakti seorang anak dan harus diutamakan dalam ajaran agama tetapi mereka tidak mau tahu bahwa itu dalam syarat jika apa yang mereka inginkan dan perintahkan tetap berada dalam koridor syariat. Orang tua ingat bahwa ridhonya sangat penting tetapi tidak ingin belajar cara mendidik dan memperlakukan anak yang benar secara syariat bahkan tidak ingat untuk berhenti menyakiti hati dan fisik anak. Orang tua tahu bahwa ridho Allah tergantung pada kerelaan hati mereka, tapi juga memberlakukan do'a-do'a buruk dan tidak ridhonya sebagai ancaman jika anak berbeda pendapat.

It's true that we can't choose our family. Kita dilahirkan dari keluarga yang seperti apa adalah diluar kuasa kita. Meskipun dibesarkan dalam keluarga yang serba tidak sempurna, bukan menjadi alasan untuk kita jauh dari agama dan prinsip-prinsip hidup yang benar.

Nggak cuma sekali dua kali saya memiliki keinginan agar Allah memberikan saya tempat yang jauh dari rumah, agar saya tidak perlu terlalu sering pulang. Dalam jarak, konflik terasa lebih minimalis meskipun tetap ada dan sama menyakitkannya. Tapi tidak sebesar jika saya pulang.

Tapi ketika akhirnya saya menikah dibawah usia yang saya inginkan untuk memulai berumah tangga, saya akhirnya tinggal di kota yang jaraknya hanya sekitar 3 jam dari kampung halaman dengan perjalanan darat. Entah mungkin Allah menginginkan ada perbaikan dalam hubungan anak-orang tua ini.

Meskipun sedikit lebih baik dari dulu, tapi tetap saja pertalian ini berfluktuasi. Bisa naik turun dalam waktu yang singkat dan diluar perkiraan saya. All I can do is being a nice daughter. Setidaknya saya sudah berusaha meskipun jauh di dalam hati saya masih tidak menemukan rindu yang sama ketika menjejak rumah, dan hati yang masih sama lukanya seperti dulu.

9 comments:

  1. I dunno what must i tell after reading it.. but, i can feel you..

    ReplyDelete
  2. Aku nggak bisa ngomong banyak karena nggak pernah berdiri di posisimu, Nin. yang bisa aku bilang cuma: SEmangat!!!! Segala usaha dan perbuatan baik pasti berbuah baik. Jia you!

    ReplyDelete
  3. Tapi setidaknya, curhat kepada teman karib, meskipun dia belum pernah mengalami, terkadang bisa lebih melegakan hati

    ReplyDelete
  4. Mbaaa, maaf lahir batin yaa mbaa :)

    ReplyDelete
  5. emang serba salah sama orang tua yang seperti itu. Semoga saat jadi orang tua nanti, kita tidak seperti itu.. aamiin

    ReplyDelete
  6. Sabar ya nin. Dulu akupun selalu berharap bisa tinggal jauh dari orang tua yg selalu benar, namun setelah jauh malah membuat kami saling merindukan.

    ReplyDelete
  7. Anyiin meski ga tau jenis konflik batinnya, diriku baca ini sebenernya paham gmn rasanya

    ReplyDelete
  8. pengan nangis bacanya NIn, aku berada sebagai anak yg berlimpah kasih sayang keluarga. pun dg rumah yang selalu menyambut dg kehangatan. heuheu...harus sering pulang

    ReplyDelete
  9. Pukpuk.
    Satu hal yg kita jg lupa, makin tua ortu kembali berevolusi jd anak2, mau dimengerti dengan caranya sendiri.
    I feel you

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home