Thursday, July 27, 2017

WAKTU YANG MENGUBAH


Sehabis dengerin curhatan salah seorang sahabat saya yang belum menikah dan merasa belum menemukan jodohnya. Well, pembicaraan itu bikin saya mikir banyak hal.

Dari yang terganggu berbagai macam omongan orang dan serangan ketakutan-ketakutan sendiri yang terlalu mengerikan. We're women, somehow we can't just stop overthinking about what's happen in our life.

Ketakutan akan masa depan, ketakutan akan kemungkinan-kemungkinan. Ketakutan yang justru sebenarnya jauh lebih menakutkan ketimbang kenyataan yang sebenarnya terjadi.

Saya tahu bahwa acara ketemu keluarga dan ketemu teman-teman akan mendadak jadi tidak menyenangkan ketika mereka sudah mulai pengin tahu apa yang terjadi dalam hidup kita. Bahwa kasus hidup kita spesial, nggak seperti kebanyakan orang.

Mungkin kita sudah berusia kepala 3 tapi belum menikah.
Atau mungkin seperti saya yang belum dikaruniai anak setelah 2 tahun lebih menikah.

Padahal kebanyakan orang akan menikah pada usia dua puluhan dan setahun setelahnya sudah punya anak yang foto dan tingkahnya memenuhi timeline dan galeri orang tuanya.

Kita punya masing-masing jalan hidup yang bagaimanapun juga ada untuk kita jalani dengan sebaik mungkin. Dan karena semuanya yang ada dalam hidup kita ini anggaplah tidak mudah, maka kita jadi memiliki empati yang lebih besar pada orang-orang lain. Bisa jadi itulah hikmah dari cobaan yang sedang kita hadapi ya.

Selalu tidak mudah untuk menjawab pertanyaan kapan menikah? Anggapan kalau terlalu pilih-pilih dan dorongan untuk menerima siapa pun orang yang pertama datang melamar bagi sahabat saya.

Begitupun juga tidak pernah mudah menjawab pertanyaan sudah punya anak? Punya anak berapa? Dan pertanyaan senada lainnya bagi saya.
Biasanya kalau sudah kenyang dengan pertanyaan seperti ini saya jadi marah, jawabin judes dan badmood sendiri.

I know I was being so mean, but I just can't help it.

Tapi segala hal memang selalu membutuhkan waktu.

Butuh waktu untuk saya mengerti bahwa emosional tidak akan membuat orang lain punya empati kepada kita untuk setidaknya nggak mengusik-usik apa yang bikin hati kita sedih. Bahwa nggak banyak orang di dunia ini yang akan mengerti tanpa mengasihani kondisi kita yang mungkin nggak selancar mereka dalam menempuh step by step sebagaimana umumnya orang-orang di dunia ini.

Butuh waktu juga bagi diri saya sendiri untuk sampai pada pemahaman: sudah berusaha terus gimana lagi? Allah lah yang memegang hidup saya, mungkin do'a saya belum membuatnya ridha.

Mungkin saatnya belum tepat, mungkin sebenarnya saya belum siap entah fisik saya ataupun emosi saya. Mungkin Dia sudah menyimpan saat yang paling tepat itu, dan bukan saat ini.

Iya, kalau Allah belum berkenan memberi lantas kita bisa apa?
Saya bisa apa?

Jadi, kalau ditanya bagaimana perasaan saya sekarang setelah dapat pertanyaan seperti itu dan menjawab santai dengan: belum, do'akan saja ya...
I mean it.

Saya sudah nggak ngerasa harus badmood dan jutek sendiri karena ya semuanya nggak ada artinya karena nggak merubah apapun juga. Kalau dibilang saya lebih cuek sama pertanyaan kepo semacam itu, iya.

Butuh waktu buat diri saya sendiri untuk benar-benar tahu kalau pokok permasalahan emosional terbesar justru ada pada diri sendiri, bukan pertanyaan kepo orang lain. After all, kita yang tentukan kita mau membiarkan orang lain membuat kita marah atau tidak hanya karena kita berbeda dengan mereka.

I don't let them to do that.
Nggak membiarkan pertanyaan mereka bikin saya sedih, marah atau badmood.
Kitalah yang seharusnya memegang kendali atas emosi kita ya kan? Bukannya orang lain.
Mereka bahkan belum pernah ada di sepatu kita ataupun mencoba masuk ke dalamnya jadi mengapa harus repot-repot emosional karena mereka-mereka ini yang sebenarnya cuma nanya basa-basi yang diikuti saran-saran ngawur.

Karena perjuangan kita tentunya masih panjang dan Allahlah bagian terpenting dari semuanya.
Yang memutuskan jawaban untuk semua do'a-do'a kita.

13 comments:

  1. "I don't let them to do that.
    Nggak membiarkan pertanyaan mereka bikin saya sedih, marah atau badmood.
    Kitalah yang seharusnya memegang kendali atas emosi kita ya kan?"

    I agree with you, Nin.

    Easy going.

    Insya Allah ada rencana terbaik dari-Nya untuk kita.

    Be positive thinking.

    Setiap orang punya ujian yg berbeda.

    Terkadang mereka yg bertanya krn gak nemu topik lain untuk memulai pembicaraan. Atau bhkn, mereka belm merasakan bhw pertnyaan2 trsb tak selamanya biasa dan mnyenangkan untuk seseorang.

    Butuh pehamaman diri yg besar dan jiwa yg besar untuk mnyikapinya dg seringan mgkin.

    Aku jg mengalami masalah yg sama sperti curhatan temanmu itu

    ReplyDelete
  2. Seperti saya yg sudah ada di angka 35 rasanya semakin horror kl ketemu keluarga besar. Lelah babang ditanyain kapan nikah. Ditambah kl ketemu temen2 SMA yg anaknya udah pada bujang dah pada gadis. Kali ini bukan babang sajah yg sedih tapi juga hayati

    ReplyDelete
  3. Jangan jutek lagi ya mbak kalau suatu saat banyak yang nanya udah punya anak, dan anaknya udah berapa? :D Mungkin pertanyaan sepele itu terlihat tak mengkasihani, pertanyaan yang tak bisa peka terhadap apa saja yang mbak sudah lalui, tapi mungkin dibalik itu semua mereka diam-diam mendoakan dan berharap jika bertemu dilain waktu mbak sudah menggendong momongan, amin :)

    ReplyDelete
  4. *hugs

    Apapun yang terjadi, tetaplah menjaga prasangka baik dan ketaatan pada Allah.. *real note to myself T_T

    ReplyDelete
  5. :') ini sama sekali dengan isi pikirankuu huhuhu..
    tp InsyaAllah selalu yakin, Allah memberikan semua diwaktu yang tepat ^^

    ReplyDelete
  6. Pertanyaan yang nggak akan ada habisnya... dibawa santai... gampang ngomongnya tapi ada fase sulit untuk masing-masing orang... ya semua sudah jalan dari Allah, kita berdoa, berusaha selanjutnya ya kuasa Allah...

    ReplyDelete
  7. nice-post! Biarlah waktu yang merubah segalanya.

    ReplyDelete
  8. Kuncinya emang di diri sendiri sayy, asal kitanya happy, insyaalloh segala overthingking yang menghambat itu sirna...caiyooo nyinnn

    ReplyDelete
  9. like I feel right now sih, kadang orang ga sadar ya pertanyaan-pertanyaan simpel begitu tapi signifikan bagi orang lain.

    btw itu merubah salah vocab nin, mengubah lebih tepat dalam padanan kata KBBI *tsah

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha iya ya, duh makasih loh udah dibenerin :D

      Delete
  10. Hai Mbak.. same with you.. aku baru 3 bulan nikah tapi yang jejelin pertanyaan anak blablabla udah like everyday huhuhu.. sehabis baca postingan Mbak langsung adem dikit..

    ReplyDelete
  11. Yup kita yg memegang kendali. Kadang mood yg bikin baper, atau laper jg bikin baper. Makanya sebelum ketemuan keluarga atau lainnua, makan dulu yg kenyang dan hepi supaya kitanya tetep cool

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home