Friday, August 11, 2017

KETIKA BERSINGGUNGAN


Di postingan saya sebelumnya: Berani berbicara, sebenarnya saya pengin cerita lebih lanjut cuma khawatir tulisan saya jadi kepanjangan dan yang baca sudah malas duluan :)

Kalau ditanya pernah nggak saya negur seseorang secara langsung, jawaban saya: pernah... dan sudah sering saya lakukan. Saya lebih milih negur dan bilang baik-baik ke seseorang kalau apa yang mereka lakukan mengganggu saya dan banyak orang ketimbang nyetatus marah-marah di media sosial atau lebih buruk lagi, merekam kejadiannya dan menyebarkan di internet hingga jadi viral.

Sebenarnya saya tipe orang yang malas ribut dan bersinggungan sama orang-orang yang tidak menyenangkan kecuali memang kondisi yang mengharuskan saya untuk berinteraksi dengan mereka. Meskipun dilain sisi saya bukan orang yang nyaman gerundel dalam hati, mendingan disampaikan meskipun timbal baliknya nggak selalu menyenangkan daripada gondok dan merusak mood sendiri tanpa sebab - yang mungkin malah bakalan lebih menelan korban emosi yakni orang-orang yang berinteraksi sama saya tapi nggak ada kaitannya sama kekeselan saya.

Misalnya kejadian ini nih...

Saya pernah merasa heran pada kebiasaan orang-orang yang suka melontarkan kemarahan di media sosial dan hujatan karena orang-orang yang merokok dalam kendaraan umum atau tempat umum tertutup. Maksud saya ya kalau tempatnya nggak dekat sih wajar ya bisa gerundel doang nggak bisa negur, apalagi kalau orang-orang disekitarnya nampak nggak keganggu.

Tapi kalau deket kita dan kita merasa terganggu, ya kenapa enggak sampaikan ke dia kalau setidaknya kita minta tolong dia agar dia bersedia sementara berhenti merokok sampai ditempat tujuan atau kalau berada di tempat umum tertutup mungkin bisa pindah keluar sebentar kalau tetap ingin merokok?

Saya sering banget minta tolong, (dengan ekspresi meminta maaf dan nggak enak biar nggak dianggep nyolot) sama orang di dalam kendaraan umum bahwa jika mereka merokok tolong agar asapnya nggak kena ke saya. Karena kan tahu sendiri gimana nggak enaknya bau rokok itu diluar alasan kesehatan. Biasanya... biasanya lho, orang yang bersangkutan jadi merasa nggak enak dan langsung mematikan rokoknya dengan ekspresi merasa bersalah. Padahal saya nggak minta dia berhenti ngerokok, cuma minta tolong biar nggak kena ke saya aja.

Setiap saat itu terjadi, saya ngerasa bersyukur bahwa masih banyak orang yang punya etika dan rasa nggak enak ketika sadar apa yang dia lakukan mengganggu orang lain.

Tapi itu nggak selalu terjadi, pada beberapa kejadian lain... saya juga ketemu sama orang yang nyebelin juga.

Di Jakarta, ada perda yang mengatur bahwa orang-orang dilarang merokok di public area tertutup atau kendaraan umum baik AC maupun non AC.

Dari tempat tinggal saya di Jakarta, kalau mau jalan-jalan sebenarnya saya prefer naik taxi atau busway. Tapi kalau dekat saya biasanya lebih memilih taxi atau angkutan umum kalau nggak males. Hari sabtu itu, entah moodnya cukup oke untuk naik angkutan umum.

Kalau naik angkot, saya paling males duduk di samping sopir atau dekat pintu keluar karena di dua tempat itu sering jadi spot orang untuk merokok. Saya nggak komentar sama sopir yang merokok atau orang yang merokok dekat pintu selama mereka tetap mengerti cara membuang asap rokok yang benar: keluar mobil bukannya sembarang dihembus di dalam angkot. Ya kalau mereka tahu cara menghargai hak orang lain untuk menghirup udara bebas rokok kan nggak masalah juga hak merokok mereka tetep jalan. Bagi saya sih batas hak masing-masing orang itu selama nggak menyinggung dan mendzolimi hak orang lain aja.

Pernah sih ada sopir yang seenak jidat aja ngerokok dihembus ke angkot, saya yang kesel karena mau protes juga kejauhan langsung minta turun dan lanjut nyetop terus naik taxi. Memang naik angkot itu sering menguras emosi banget, tapi kalau pas sopirnya beretika dan penumpangnya behave tuh saya jadi dapet banyak bahan tulisan karena ngamatin mereka atau denger obrolan mereka - iya itu penting buat saya.

Hari itu, isi angkot yang saya naiki isinya cewek semua kecuali pak sopirnya. Di tengah jalan ada cowok yang tahu-tahu masuk dan dengan cuek serta nggak sopannya dia duduk di angkot bagian dalam, bukannya dekat pintu keluar. Lantas dia nyalain rokok dan mulai merokok dengan super santai. Saya tentu aja langsung keganggu dengan ulah si cowok. Tapi saya tunggu dulu jangan-jangan dia mau ngerokok sehisap dua hisap aja karena ngantuk atau apa.

Satu hisap, dua hisap.

Penumpang cewek seisi angkot langsung pada gelisah, mereka ngipas-ngipasin udara yang penuh asap rokok dengan ekspresi sebel dan nggak nyaman. Tapi si cowok ini entah apa segitu cuek atau segitu nggak punya etikanya tetep aja lanjut menuhin angkot sama asap rokoknya dengan nyaman, nggak peduli ada balita juga dalam angkot yang ikut ngehirup udara tercemar asap rokoknya.

Saya udah nggak tahan.

"Mas bisa tolong pindah ke kursi samping deket pintu nggak kalau mau ngerokok?"

Dia diem, cengengesan.
"Mbak ngapain sih naik angkot kayak gini? Kalau mau udara yang adem kan naik taxi aja gitu. Enak tau naik taxi adem ber AC nggak panas-panasan, nggak sempit-sempitan. Nggak ada juga yang ngerokok..."

Masnya beneran deh minta dikepret sama bakiak, orang minta tolong baik-baik jawabnya nyebelin.

"Maksudnya apa ya? Kan saya minta tolong kalau mas ngerokok dalem angkot ya boleh aja tapi tolong pindah kesitu biar kamu ngerokoknya tetep jalan dan kita nggak keganggu sama bau rokoknya,"

Dia senyum-senyum nyebelin kemudian manggil sopir angkotnya, "Masa pak, saya nggak boleh ngerokok di angkot katanya,"

Susah deh ngomong sama daun kelor emang, diajak ngomong baik-baik nggak nyampek otak dia.

Pak sopirnya diem aja cuma senyum.

"Saya mau berhenti disitu aja deh, lagian juga nggak boleh ngerokok," kata dia satu kilometer berikutnya.

Halah, palingan emang disitu tujuan dia kali! batin saya karena dia langsung lompat turun aja enggak bayar lho! Ada berapa banyak ya manusia kayak begini yang tengil dan kalau naik kendaraan umum nggak mau bayar?

Begitu dia keluar, suasana langsung enakan. Pak sopirnya nanya ke saya, "Kenapa sih mbak tadi itu?"
"Ini satu angkot keganggu sama asap rokoknya pak tapi nggak ada yang negur, jadi saya minta tolong dia ngerokoknya deket pintu keluar aja biar sama-sama nyaman naik angkotnya eh dianya kagak paham." saya ngejawab.

Pak sopirnya ketawa, "Oh gitu, bagus dong mbak kalau gitu. Saya juga nggak suka sih sebenernya kalau ada penumpang ngerokok dalam angkot. Saya juga nggak ngerokok." kata si bapak sopir.

I do appreciate sopir kendaraan umum apapun yang nggak merokok atau merokok tapi tahu banget untuk tetap bikin nyaman penumpangnya dengan misal keluar dan ngetem sebentar kalau mau ngerokok. Menurut saya itu jauh lebih baik dan adalah contoh etika yang bisa menghargai penumpang ketimbang yang suka-suka dia ngerokok dalam mobil. Ya emang angkot yang bawa dia sih, tapi sini juga bayar kali ah.

Dan biasanya kalau sopirnya punya etika gitu saya ngehargain mereka dengan cara bayar lebih yang saya nggak minta kembaliannya.

Well I don't mind sih, meskipun jadi sekian kali lipat tariff yang seharusnya. Tapi attitude baik di kota yang kaya akan orang-orang selfish ini, menurut saya patut dihargai. Apalagi bagaimanapun angkot cukup berjasa bagi saya untuk melihat sisi lain dari hidup, berpikir lebih dalam dan menghasilkan topik-topik tulisan. Salah satunya ya postingan ini :)

Jadi inget kalau sudah lama nggak naik kendaraan umum. Sebagai orang yang sudah belasan tahun merantau dan terbiasa naik berbagai macam moda transportasi untuk berpindah tempat, naik kendaraan umum juga bikin saya rindu.
Yah saya berharap agar transportasi umum di Surabaya semakin aman dan nyaman

Kamu pernah mengalami kejadian nggak nyaman juga karena harus bersinggungan dengan orang yang nggak menyenangkan?

5 comments:

  1. Zaman sekolah mlai smp hingga sma, sering naik angkot. Ada suka dan dukanya. Paling seneng kalo pak sopir dan kernetnya baik hati, ramah, dan gak beringasan pas nyopir. Ada satu angkot yg jadi kenangan dan favorit aku. Aku menyebutnya, Kol Ungu. Kol itu sebutan angkot. Ungu karena kol-nya warna unggu, musik yg distel selalu musik Band Ungu hehe. Sopirnya ramah banget. Kernetnya masih mudah dan sopan. Hehe

    ReplyDelete
  2. Weh baca ttg orang yang ngerokok diangkot dan turun gak bayar kok jadi ikut emosi ya hahaha... Ngangkot ituuuu banyak ceritanya... dr yg nyeleneh sampe bikin haru juga ada... Seperti pas kelupaan bawa dompet plus HP... Eh taunya malah dikasih uang sama sopirnya buat ongkos balik ambil dompet dan HP.

    ReplyDelete
  3. Ngomong sama daun kelor, wkwkwk

    Itu yang ngerokok dalam angkot gak suamiable banget, kayaknya kalau punya anak, gak ngurus anaknya kehirup asep rokoknya yang penting tenggorokannya gak kecut *judgemental banget deh eyke*

    ReplyDelete
  4. Paling nggak suka sama orang yang nggak tahu etika. Apalagi diajak bicara baik-baik malah jawabannya bikin emosi aja.

    Di tempat kerjaku, ada tuh salah satu atasan yang suka merokok padahal di ruang yang ada ACnya. Meskipun dengan nada guyon tapi nggak langsung juga negur dia, masih tetep ndableg tuh si bos. Bikin bete >·<

    ReplyDelete
  5. Nyin, saya masih ngrokok. Jangan dilabrak ya :(

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home