Thursday, October 19, 2017

LANGIT TIDAK PERLU MENJELASKAN DIRINYA TINGGI


Suatu hari sepulang dari bandara, adek saya cerita soal feeds media social seorang temannya yang isinya tempat-tempat bagus semua. Kayaknya setiap libur panjangan dikit pasti jalan-jalan yang cukup jauh sampai selalu mengharuskan naik pesawat, banyak banget juga fotonya di bandara, dekat pesawat kayak yang udah jiwa traveler banget. Dan si adek ini iri karena buat ngeluarin duit beli tiket aja dia harus bikin rencana dari jauh-jauh hari dan nabung jauh-jauh hari, bahkan meskipun naik pesawatnya ke Jakarta doang which is pastinya yang bayar tiket juga saya.

Sambil nyetir, suami saya komentar, "Gimana ya, biasanya orang yang dikit-dikit update itu justru sebenernya bagi dia itu istimewa dan hal yang jarang dilakuin lho,"
Saya ngeliatin dia heran.
"Kamu sendiri, coba itung berapa kali deh kamu update soal naik pesawat dan di bandara." kata dia, pada saat itu memang dalam jarak waktu 3 minggu sekali, hampir selalu saya melakukan perjalanan dengan pesawat.

Kenapa saya nggak update di media social? Ya karena saya nggak ngerasa itu penting. Pulang kantor capek banget, bawa koper ke bandara, nunggu jadwal terbang sampek ngantuk-ngantuk di lounge dan balik Jakarta lagi 3-4 hari ke depan dalam kondisi capek berat dan mood yang berantakan buat kerja lagi. Itu sudah cukup bikin saya ngerasa saya lebih perlu ponsel untuk scroll timeline demi membunuh waktu dan komunikasi sama keluarga ketimbang update lagi dimana dan mau apa.

Nggak pernah kepikiran turun dari pesawat di pagi buta sebelum jam masuk kantor merasa pengin foto seperti sebagian penumpang lain karena yang ada di pikiran cuma gimana cepet ngadem lagi di bandara, gimana cepet ambil koper di baggage claim dan sudah sampek kamar buat catch sleep sebentar dan bebersih badan udah. Ada sih momen-momen saya foto-foto di bandara karena lagi bareng teman-teman dan kena delay. Gitu juga kalau janjian sama teman dan meeting point kita di airport.

Tapi obrolan ini bikin saya mikir sih.

Kita memang mengenal social media sebagai alat atau perantara untuk pamer, yah fungsi utamanya. Pamer gaya hidup, pamer hasil foto yang cakep-cakep, pamer muka fotogenik dan barang bagus-bagus, pamer tulisan dari blog kita, pamer kebersamaan bareng teman-teman dan keluarga, pamer jualan sambil nyari rezeki, macam-macam lah.

Tapi yang saya rasa lebih dominan saat ini pada pengguna akun-akun media sosial adalah pamer gaya hidup dan kepemilikan. Punya baju merknya ini, punya tas merknya itu, setiap bulan punya jadwal jalan-jalan keluar kota atau keluar negeri, setiap minggu nongkrong di resto dan cafe mahal.

Pernah nggak sih nemu orang dalam lingkup pertemanan kita yang apa-apa maunya di share? Atau mungkin diri kita sendiri juga punya kebiasaan yang sama.

Sering kita lupa bahwa menunjukkan kita memiliki kemana-mana, heboh menunjukkan pencapaian kita mungkin bagi orang lain yang lebih hebat dari kita - biasa saja.

Kita lupa, bahwa semakin heboh kita pamer di media sosial dan menunjukkan kemana-mana apa yang kita punya, pada saat yang sama kita juga mengakui bahwa itu sesuatu yang wah bagi kita karena jarang kita alami dan tidak selalu kita miliki. Bahkan mungkin sebelumnya tidak pernah kita jumpai.

Sementara orang yang tidak pernah heboh share apa-apa, adem ayem saja seperlunya di media sosial. Mungkin untuk share berita, apa saja dan berinteraksi dengan orang-orang yang dia kenal mungkin justru jauh diatas kita. Mungkin dia memiliki jam terbang traveling yang sudah tinggi dan lama ketimbang kita yang baru pergi ke sekian tempat aja sudah heboh declare kalau jiwa kita anak traveling banget. Mungkin tidak banyak dishare karena dia tipe orang yang menikmati proses perjalanannya, bukan judulnya aja traveling tapi lebih heboh share socmed ketimbang menikmati perjalanan itu sendiri. Mungkin dia sudah terbiasa sarapan di Jakarta, makan siang di Singapore, makan malam di pesawat dan setelah sekian jam berikutnya sarapan lagi di Paris. Alih-alih seperti sebagian dari kita yang jarang bepergian dengan pesawat sehingga merasa perlu untuk foto-foto dan upload saat sedang berdiri di dekat pesawat.

Ketika kita udah punya beberapa biji barang branded authentic, langsung deh upload foto ootd dan tag official account brand yang kita pakai. Padahal bisa aja ada teman kita di medsos yang range koleksi barang branded authenticnya udah yang kategori luxury, banyak dan semuanya dia beli murni dengan hasil kerja dia sendiri tapi dia nggak pernah foto heboh sambil tag ini-ono official account-nya high brand.

Jenis teman yang kedua ini saya punya, malu hati banget sih saya sama dia - yang ternyata koleksinya banyak, special customer di counter-counter barang branded di mall tapi nggak pernah ngerasa perlu untuk setiap saat pamer ootd sambil ngetag brand. Kalau saya tanya dia cuma jawab enteng, "Beli ya karena suka aja, cakep, awet pula... nggak niat gimana-gimana, toh kalau mukanya kek aku gini pakai barang harga berapapun pasti orang kira kw 100 kok, jadi gak ngaruh juga di penampilan."

Dan lucunya saya juga punya kenalan yang hobi banget beli tas kw-kw an gitu, yang dari bentuk dan logo aja beda jauh apalagi harga tapi tiap dia pakai selalu fefotoan ootd dan ngetag official brand-nya. Saya cuma bisa ngebatin, gile nggak takut dituntut sama brand aslinya? Saya aja yang nggak pernah pake brand itu sekali lihat udah tahu kalau kw gak tau berapa.

Ketika kita share prestasi yang bagi kita gede banget, kita jadi lebay di media sosial. Seolah-olah kitalah yang terbaik di bidang itu karena prestasi yang barusan kita capai, orang lain cuma nasi gosong di dasar panci pokoknya. Sementara mungkin ada diantara teman-teman kita yang jauh lebih cemerlang dan lebih banyak prestasinya di bidang yang sama hanya saja cukup humble untuk nggak memuji dirinya sendiri di timeline secara berkala.
Malu ah.

Kita lupa kalau sekalinya makan pizza kerasanya enak banget, langka, istimewa. Kita juga ingin mengabadikannya sebagai bagian dari memori hal yang pernah kita lakukan. Tapi bagaimana kalau pizza adalah menu kita sehari-hari? Pasti jatuhnya biasa aja, kita akan ngerasa pizza ini nggak enak-enak banget juga, mungkin masih kalah tasty sama bebek goreng yang diberi tetangga sebelah.
Kita juga nggak bakal ngerasa perlu foto dan share setiap kali kita makan pizza, karena pizza ya makanan kita sehari-hari.

Orang yang pergi ke luar negeri, dalam satu waktu akan mengabadikan apapun yang dia temui disana. Apa saja terlihat menarik, karena besok-besok siapa tahu mungkin tidak akan pernah sampai dan menjumpai pemandangan yang sama lagi. Dalam setiap meter, dalam setiap jam. Tapi orang yang hampir selalu harus kesana secara rutin mengunjungi negara itu tidak akan merasa perlu foto-foto setiap meter dan jam, karena menganggapnya sudah biasa.

Apa itu berarti lantas jangan sama sekali pamer ke media social?
Nggak kok maksudnya bukan itu, karena ya itu tadi media social memang diciptakan sebagai tempat pamer  - kita tidak bisa menampik bahwa social media memang tercipta sebagai wadah untuk ajang pamer ya kan? Cuma pamerlah dengan sewajarnya dan tetap bersikap sepantasnya. Batas antara sewajarnya dan sudah nggak wajar itu ketika kita sudah ngerasa apa-apa yang kita lakuin - apa aja, perlu direkam dan disebar, perlu dikasihtauin semuanya ke orang-orang. Disaat kita sudah punya sindrom ngerasa seleb gini, itulah batesnya.

Banyak momentum-momentum dalam hidup yang ingin kita unggah di media sosial dengan maksud entah ingin eksis atau sedikit banyak pamer. Kadang share secukupnya, kadang share berlebihan sampai tanpa sadar bikin teman-teman kita eneg sendiri karena isi timeline penuh dengan posting kita. Curhat sana-sini di media sosial. Spamming setiap hari ngomongin lagi apa dan shoot-shoot foto / video, sudah beda tipis dengan para public figure. Semua-semua perlu disiarin dan masyarakat harus tahu.

Padahal tahu nggak, apa yang kamu lihat dan yang terjadi dalam hidup kamu nggak sepenting dan semenarik itu buat orang lain lho. Bahkan mungkin boring.

Galau soal jodoh bisa spamming postingan puluhan dalam sehari, becanda sama teman dan ngakak nggak kontrol bisa sampek belasan vlog ala-ala. Kitanya mungkin ngerasa sok asik, orang yang lihat updatean kita berasa sumpek mata sama telinganya karena habis buang kuota buat menyaksikan sekelompok orang yang ketawa ngakak dan ngobrol tanpa topik dan sebab yang jelas. Apa banget.

Kadang-kadang... atau malah selalu, mungkin kita pengin kasih tahuin kalau hidup kita seru, kalau kita orangnya asik, gaya hidupnya keren dan perekonomiannya mapan.

Seringkali kita justru tidak sadar, kita tidak melakukannya dengan elegan.
Karena langit tidak perlu menjelaskan dirinya tinggi, dia memang sudah tinggi
dan semua orang tahu itu.


7 comments:

  1. Klo perkara naek pesawat or mau pergi2 justru aku ngehindarin bgt update real time, dikarenakan aku phobia ketinggian n sesuatu yg ngawang di awan, aku maunya tu uda terbang slamet sampe tujuan, mlh takut klo nulis mnuju otw terbang kemana hahaha..,takut statusnya jd status terakhir kali (naudjubillahimindzalik) hadeuh ...bahkan suka ngedoa doa, ya Alloh uda deh sat set sat set cepetan aja sampe #kebanyakan nonton film yagini...trus reportase jln2nya ya dibikin beberapa bulan kmudian buat isi isi blog, ga yang ngejembrengin on the spot pas di tempat wisatanya real time #takut dibuntutin orang jahat ato dikepoin orang trus ditanya2, disuruh ketemuan ma temen or sodara yg sebenernya ga akreb2 bgt karena tau kita sering update status (aku jujur worry bgt, soale anaknya introvert bgt huh)..ditodong oleh2 dsb dsb hahaaa

    Itulah knapa aku tu selektif bgt ngapprove pertemanan di medsos menstrim spt fb ama ig, karena mungkin updatean kita ga sepenting itu untuk diketahui orang (trutama orang yg ga kenal2 bgt), yang kenal aja kdg ga aku approve karena ya itu takutnya hidupku ini dikepoin dan dianalisa hahaa....

    Klo blog, ini medsos juga sih cuma aku masih fun nulis2 di blog ...dilema kdg2....di blog aja sering parno mw nulis apa, suka maju mundur cantik pilih2 tema...tapi pd akhirnya klo untuk blog aku mw nulis yg bahagia2 aja...biar buat kenang2an..

    ReplyDelete
  2. betul betul, aku akhir-akhir ini jarang update medsos karena itu juga, ga begitu penting untuk dishare di medsos.. dan paling males sama orang yg medsos-nya apa-apa di update, dan udah banyak korban block/unfollow aku kak hahahha..

    kalo aku niatnya bikin instagram buat portfolio, ya pamer hasil kerjaan biar orang yg pengen kerjasama dengan kita tau produk kita seperti apa

    wuwuwuuwu pertamakks

    ReplyDelete
  3. haha, nice post mbak. aku pernah ada di fase apa-apa maunya diposting. Tapi lama-lama capek ih. kayak merasa makin jauh sama diri sendiri. sampe sekarang masih posting sih, tapi gak kayak dulu yang semua-mua harus di share lah.

    ReplyDelete
  4. ngenaaa banget lah mbak tulisannya :) Love it!

    ReplyDelete
  5. temen2ku eneg sama medsosku yang endorsan, fiuh
    padahal temen2 blogger lain lebih banyak endorsannya :D

    aku juga sebenarnya biasa aja sih sama medsos. aku nggenjotin medsos untuk promo blog sih, haha

    btw, aku sepakat

    ReplyDelete
  6. dalam..suka..setuju...jadi,rindu nulis kayak kamu..

    tp, belum semangat, belum ada ide..

    ReplyDelete
  7. Wkwkwkwk saya juga pernah punya pemikiran seperti itu.
    Tapi mikir2 lagi, husnudzon saja, mungkin itu cara mereka mengabadikan momen2 dalam hidup mereka.

    Trus2 nih, kalau misalnya kaya blogger dan influencer, kan ladang bisnisnya/proft disitu wkwkw. Kayak kalo ada2 apa2 tuh kudu followers/likes banyak. Yang mana ya brrti feedsnya kudu wah dll. Wkwkwkww.

    Yah namanya juga setiap orang pasti punya niat sendiri.....dan juga opini sendiri. Yang penting kitanya keep positive, iya gak kak? :)

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home