Friday, February 2, 2018

STANDAR GANDA SIH KATANYA

Beberapa kali saya sempat tahu keluhan beberapa teman yang saya kenal mengenai standar ganda, ad hominem. Yang menjustifikasi tidak berdasarkan kesamaan hal yang dilakukan, tapi siapa yang melakukan.

Kalau si Bunga berbuat begini, berarti salah dan dia akan disalahkan oleh orang-orang disekitarnya. Tapi kalau si Mawar berbuat hal yang sama, malah dipandang wajar. Padahal faktor lainnya sama, antara hal yang dilakukan, lingkungan tersebut, dan komentatornya juga atau orang-orang yang berada dalam lingkup yang sama. Heran kan?

Mengapa penilaiannya jadi berbeda kalau pelakunya si Bunga, bukannya si Mawar.

Padahal harusnya kan, semisal perbuatan yang dilakukan adalah buang sampah sembarangan. Jika Bunga disalahkan karena sikapnya yang membuang sampah sembarangan dinilai kurang baik, maka dengan kejadian yang persis sama kudunya Mawar juga disalahkan dong ya.

Apa bedanya Mawar dan Bunga? Kenapa orang-orang disekeliling mereka terkesan lebih reaktif dan sensitif terhadap Bunga ketimbang Mawar atau jika dari sudut pandang lain terkesan terlalu toleran atau terlalu mewajarkan?

Salah satu contoh realnya baru saja saya saksikan beberapa hari terakhir ini.
Agak bingung memulai awal ceritanya seperti apa, karena saya tahu segala hal terjadi runtut dan mungkin saya malahan bakal cerita jauh kembali ke masa-masa lampau belasan tahun lalu. Tapi saya akan berusaha meringkas cerita ini dengan sederhana.

Seorang teman saya di masa sekolah baru saja menjadi sasaran bully di media sosial. Pelakunya? Orang-orang yang sebenarnya saya kenal juga di masa sekolah. Beberapa pernah sekelas juga, seumuran tentu saja. Yang melatari peristiwa ini bisa jadi banyak hal, salah satu sebab karena si teman korban bully sebutlah namanya Mimi, adalah orang yang demen banget menulis status media sosial yang 'too much'. Too much dalam hal mengekspos perasaan dan pandangan dia, yang saking ceplas ceplos dan jujurnya bisa bikin yang baca ilfil atau tersinggung.

Kalau ditanya apa saya pernah gondok sama status yang dia tulis, jujur pernah. Yaitu ketika dia sering banget ngetik status yang bau SARA-nya terlalu kuat sampai bikin meradang, sebel, pengin unfollow. Karena memaknai agamanya sendiri dengan sangat rendah hingga dititik yang bikin banyak orang jengkel, sekenanya alias seenak jidat kalau ngomong tanpa ilmu, landasan dalil apalagi... nggak ada sama sekali. Dan ini menyoal sesuatu yang prinsip. Beberapa teman termasuk saya sering ngingetin dia, bahkan menegur terang-terangan juga. Beberapa yang lain memilih malas ribut dan lanjut unfriend atau unfollow. Bahkan sampai mereport status-status dia hingga dihapus langsung oleh media sosial tersebut.

Mimi marah-marah karena menilai orang-orang yang unfriend dan unfollow dia itu jahat. Padahal yang dia lakukan itu menyinggung banget. Dan adalah wajar serta hak seseorang untuk tetap memilih ketenangan dengan berhenti menyimak sesuatu yang bikin dia emosi, ya seperti statusnya si Mimi itu. Meskipun di dunia nyata sebenernya dia masih mau juga kok temenan sama si Mimi.

Dari circle Mimi yang kecil, saya adalah salah satunya. Karena itu saya tahu bagaimana personal seorang Mimi ini. Dia sebenarnya polos, dan orangnya baik banget, berasal dari keluarga yang bisa dibilang sangat berada untuk ukuran teman sekolah kami. Saking baiknya sampai gampang dimanfaatkan orang dan orang-orang disekitar dia pun menggunakan kesempatan itu untuk memanfaatkan Mimi. Mimi bisa cocok berteman dengan orang yang baik (cukup untuk menerima pola pikir dia yang masih childish dan komikal tanpa motif menjadikan dia ban serep), tapi juga cuek untuk nggak ngerasa jengah dengan tingkahnya yang seringkali absurd dan ajaib.

*mikir bagaimana menjelaskan situasi ini dengan gamblang beserta sejarah dan latar belakang tanpa saya bikin novel dalam satu postingan blog*

Di status dia yang terakhir kali mengenai keresahannya terhadap berat badan dan relationship issue yang menurut saya sebenarnya wajar. Tapi mungkin sama sekali nggak untuk mantan teman sekolah kami dulu yang sudah berkeluarga. Pola pikirnya beda sudah jelas. Mindset mereka yang sudah menikah dan sedang menapaki komitmen tertinggi dalam hubungan versus Mimi yang bolak-balik patah hati, diselingkuhin cowok atau ditolak cowok dan pola pikir dia yang cenderung childish itu ngomentarin relationship issue dan komitmen sesuai standar levelnya dia yang seorang lajang.

Yah nggak nyambung toh yha, piye? :/

Berlanjut dengan komentar-komentar yang saling nyautin antar mereka sampai jadi kayak bullying online. Tanpa sadar saling pamer pencapaian masing-masing, bahwa mereka ini sudah punya suami dan anak sehingga begini begitu. Mimi kudunya segera menikah, menemukan orang yang mau sama dia buat menikah dan ngerasain gimana kehidupan seorang perempuan kalau sudah menikah.

Bahwa seorang wanita itu nggak cuma kudu bisa masak tapi juga M lainnya, macak, manak juga alias dandan dan melahirkan. Seorang wanita juga harus cukup pintar untuk bisa memikirkan dulu matang-matang omongan atau tulisannya sebelum melemparkannya ke publik.
dan seterusnya dan seterusnya.

Yang tentu saja bikin saya ngerasa ini contoh dari standar ganda.
Nyuruh orang mikir dulu mateng-mateng sebelum lempar omongan/tulisan ke publik, tapi mereka sendiri nggak merasa perlu untuk mikir dengan matang sebelum bertindak.

Poin pertama
Mengenai standar ganda yang sudah saya sampaikan diatas

Poin kedua
Tentang hal-hal yang sudah digariskan Allah dan meskipun sudah berusaha, kita tidak bisa merubahnya.

Oke perihal masak dan dandan adalah sesuatu yang bisa dipelajari, ada kursusnya, banyak tutorialnya. Lantas bagaimana dengan melahirkan? Apakah para wanita yang belum pernah melahirkan adalah seorang wanita yang dapat saja dinilai cacat fungsi? Jika standar seperti itu diberlakukan, bukankah jadinya seseorang yang hamil, melahirkan dan membunuh bayinya seperti berita mengerikan di media kemarin malah justru lebih baik karena fungsinya sebagai wanita yang dapat melahirkan terlaksana daripada seseorang yang contohnya entah bagaimana belum bertemu jodoh hingga ajal menjemput tapi bersikeras berusaha untuk menjaga dirinya dari hal-hal yang tidak disukai Allah?

Nggak ada orang yang mau diburu-buru untuk menikah bahkan statusnya yang single dijadikan ejekan. Terlepas dari singlenya dia itu pilihan maupun memang sudah qadarallah.

Jangan mentang-mentang kalau jodoh kita mudah, lantas dengan entengnya bilang kalau si A atau si B nggak ada yang mau. Bagaimana kalau si A atau si B ini sebenarnya sudah pengin banget menikah tapi apa daya belum ada yang datang melamar hingga saat ini.

Poin ketiga
Indonesia menolak bullying, yakin?

Tentu kita masih ingat video-video viral lalu tentang anak sekolah yang membully temannya sendiri hingga parah. Dari yang bully becanda tapi ngeselin sampai ke yang benar-benar main fisik dengan memukuli, menjambak dan seterusnya. Padahal baik korban dan pelaku masih sangat muda, banyak yang secara undang-undang masih dibawah umur. Tapi kelakuan bikin penonton videonya mengurut dada.

Lantas para netizen menggaungkan gerakan indonesia bebas bully karena prihatin dengan kejadian-kejadian mengerikan terkait bullying dengan berbagai akibat. Mulai dari tekanan mental, terluka fisik bahkan meninggal.

Apakah mereka sadar bahwa mereka sedang melakukan bullying?
Entahlah antara sadar dan tidak sadar. Mungkin sadar tapi tidak membayangkan bagaimana perasaan keluarga dan orang tua si Mimi yang aktif di media sosial jika melihat semua tekanan mereka kepada Mimi. Dan apa yang sudah kita lakukan, kita katakan di internet bisa jadi akan tetap ada disana selamanya.

Sepengetahuan saya, mereka sudah sering melakukan itu saat masa sekolah pada Mimi juga. Sadar atau tidak sadar, ingat atau tidak ingat. Pelaku mungkin dengan gampang melupakan, tapi hal-hal buruk tidak pergi begitu saja bagi si korban dan mereka yang menyaksikan namun merasa itu tidak benar.

Masa depan masih panjang. Bagaimana perasaan kita jika anak-anak kita ternyata mendapat perilaku bully dari teman-temannya di sekolah? Bagaimana jika suatu hari mereka mogok ke sekolah karena hati mereka luka karena bullying yang mereka alami selama di sekolah?

Masa kecil hingga masa muda adalah masa-masa pembentukan karakter, setidaknya menurut saya pribadi. Jauh lebih banyak orang-orang yang mengalami masalah mental dan kepribadian karena kejadian-kejadian yang dia alami di usia-usia tersebut ketimbang saat sudah dewasa dimana mereka sudah bisa berpikir dengan lurus dan matang.

Masih ingat kan dengan video seorang artis pemeran utama sinetron Bidadari yang ngamuk-ngamuk divideo, menangis, marah dan dendam dengan masa lalunya saat sekolah dasar. Ketika dia tidak punya teman dan dibully teman-temannya disekolah. Padahal kalau kita melihat dia, yaampun kurangnya apa? Kaya iya, cantik iya, siapa sangka mendadak muncul online dengan penampakan seperti orang sedang kumat 'sakit jiwa' karena broken home dan bullying yang dia terima ketika kecil. Lukanya bisa sampai sedalam dan selama itu lho :(

It's okay kalau seseorang yang kita kenal melakukan kesalahan dan kita tidak suka lantas kita menegurnya. Tapi adalah tugas kita untuk menjaga teguran dan ketidaksetujuan kita pada kata-kata atau tingkah lakunya menjadi sebatas saran dan kritik, bukannya berubah jadi bullying.

Mari sama-sama belajar melawan bullying dari circle yang paling kecil: diri sendiri.

No comments:

Post a Comment

Previous Page Next Page Home