Monday, May 14, 2018

CATATAN DUKA DARI SURABAYA

Sesiangan tadi, hati saya mencelos karena berita yang dihantarkan dari layar-layar kaca televisi. Saya sedang berada ditengah acara kumpul keluarga. Menghadapi hidangan-hidangan yang menyenangkan mata dan lidah yang sedari pagi saya bantu siapkan. Tawa anak-anak tetangga yang tertawa dan berlarian bersama di gang sebelah melatari obrolan bermacam topik yang bergulir di keluarga dan berita duka yang digelontorkan media lantas membuat keceriaan yang utuh menjadi terasa samar secara perlahan.

Sisa hari itu terasa berjalan sangat lambat dan kabut duka merebak kuat dimana-mana.

Pertama kali menyimak beritanya saya sedih karena peristiwa itu menjatuhkan banyak korban. Dan korbannya adalah orang-orang yang hendak, sedang atau telah beribadah. Orang-orang yang tentu saja memiliki niat baik, karena mendekatkan diri kepada Tuhan dengan lebih baik lebih sering berkorelasi dengan pribadi-pribadi yang lebih baik juga ketimbang yang tidak.

2 tahun sejak menetap dan benar-benar menjadi warga Surabaya, didasari dari perkenalan dan pertemanan karena hobi yang sama, maka saya memiliki lebih banyak teman yang meskipun jarak atau bahkan tidak pernah bertemu tapi terasa sangat dekat. Dan banyak diantara teman-teman saya ini yang non muslim. Sementara kebaikan hati seseorang adalah bagian dari tulusnya pertemanan yang mampu menerabas batas perbedaan, termasuk berbedaan agama.

Sekian tahun sejak hidayah dari Allah merangkul banyak orang dan kata hijrah perlahan tapi pasti sudah menjadi bagian yang tidak lagi asing dari masyarakat. Seseorang yang entah pelan atau drastis menarik diri dari cara hidup dia yang biasa dan memutuskan untuk memulai yang baru didasarkan dari kesadaran akan pentingnya ridha Allah pada apapun hal yang bersangkut paut dengan diri kita, terlebih cara hidup.

Banyak perjalanan hijrah yang sulit dan terasing dibagikan dari orang-orang yang menjalaninya namun mereka kemudian menemukan keindahan dari situ. Keindahan yang tidak semu, ketenangan batin yang ternyata jauh lebih membahagiakan dari hidup yang gemerlap namun hati terasa kosong tanpa alasan yang jelas.

Dari jilbab yang semula diartikan sebagai bagian dari trademark anak pesantren atau guru agama, berubah status menjadi pakaian kewajiban seorang muslimah. Bukan hukumnya yang berubah, karena sedari dulu pun sama wajibnya. Persepsi masyarakat yang berubah. Tidak lagi asing melihat kepala-kepala dengan balutan kerudung mampu merambah bidang apapun. Jilbab tidak membatasi gerak dan langkah seorang muslimah, apalagi memberi pagar pada prestasinya.

Masyarakat di negara kita lebih paham, bahwa ada kebutuhan batin yang harus tercukupi juga. Tidak cuma badaniah, namun juga hati dan jiwa yang bisa kita capai dengan perbaikan hubungan dengan Allah melalui cara lebih banyak menjalankan apa yang Allah ridha dan menghindari sebisa mungkin hal-hal yang Allah tidak sukai. Seorang muslim, untuk mencapai ini, maka akan mengusahakan dengan banyak cara. Dari perbaikan cara berpakaian, akhlak pada sekitar dan kualitas serta kuantitas dalam beribadah. Munculnya kesadaran untuk berhijab, memakai pakaian longgar, bercadar dan menghindari isbal, memelihara jenggot juga merupakan pengaruh dari perbaikan kualitas hidup yang diusahakan melalui sunnah yang dijalankan.

Saya bisa bilang bahwa muslim yang dihatinya tumbuh keinginan untuk menjadi lebih taat terus bertambah jumlahnya dari berbagai kalangan, tidak terkecuali bagi para public figure dimana para fans menjadikan mereka sebagai standar ideal atau panutan.

Pakaian hitam-hitam dan bercadar perlahan sudah bukan sesuatu yang asing seiring dengan penerimaan masyarakat yang melonggar dan pemahaman mereka yang lebih luas. Muslim semakin menyadari ketentuan dalam agamanya kemudian mereka berusaha untuk menjadi manusia yang lebih baik, baik di hadapan Allah maupun bagi orang disekitarnya. Mereka juga berusaha menjadi, 'agen muslim yang baik' seperti yang diceritakan dalam sebuah buku karya Hannum Rais tentang sahabatnya Fatma dari Turki. Dengan para agen muslim yang baik ini maka teman-teman, tetangga mereka yang non muslim kemudian menyadari bahwa isu-isu negatif tentang cadar dan abaya yang akan berkaitan dengan radikalisme dan terror adalah isapan jempol belaka.

Bahwa muslim dengan pakaian seperti itu justru sangat cinta damai dan memiliki banyak nilai kebaikan yang tidak memandang perbedaan, meskipun mereka juga tetap mempertahankan prinsip sesuai dengan apa yang telah diatur agama mereka.

Dari sudut pandang saya, itulah yang terjadi sehingga selama 5 tahun terakhir saya merasakan hijrah movement yang terus bertambah dan berkelanjutan dari berbagai usia dan kalangan serta penerimaan orang-orang diluar itu yang jauh lebih baik dan lebih menyenangkan sehingga menghadirkan banyak perubahan yang bisa langsung kita rasakan. Terutama jika kita adalah muslim yang sejak lama mencoba untuk menjadi lebih kaffah ditengah maraknya berbagai isu dan stigma negatif tentang langkah-langkah yang sudah kita tempuh itu. Bisa kita bilang bahwa tahun-tahun ini adalah kemajuan pesat. Ya mungkin masih saja banyak pandangan orang yang perlu kita luruskan. Tapi anggaplah, jumlahnya berkurang drastis daripada 5-10 tahun yang lalu.

Sekonyong-konyong peristiwa hari ini muncul.
Dan karena itu, saya tidak tahu mana yang lebih dominan saya rasakan.
Apakah marah ataukah geram. Entah.

Namun saya tidak sampai harus berpikir dua kali untuk berada dalam prasangka bahwa peristiwa kejam hari ini adalah ulah oknum yang ingin menjatuhkan roda fitnah dan mengadu domba antar umat beragama. Terutama ummat muslim dan kristiani.

Karena menurut saya orang jahat adalah orang jahat dan setahu saya pada agama-agama yang diakui negara kita tidak ada yang mengajarkan bahwa membunuh orang secara acak akan mengantarkanmu pada kehidupan akhirat yang baik. Tidak ada.

Sebagai seorang muslim, bisa saya katakan bahwa agama kami tidak mengajarkan tentang itu. Dan majlis-majlis yang menjadi tempat kami menimba ilmu agama justru lebih banyak berpusat pada perbaikan akhlak dan hubungan antar manusia serta perbaikan hubungan dengan Allah dengan mempelajari hukum-hukum agama. Betapa lidah dan jari kita yang tajam bisa menyakiti hati seseorang dan itu bukan perbuatan yang Allah sukai, betapa seorang isteri memang diwajibkan menaati suaminya namun seorang suami baru bisa dibilang seorang muslim yang baik jika dia memuliakan isterinya. Bahwa seorang anak hendaknya menuruti apa yang orang tuanya katakan tanpa mengeluh dengan catatan bahwa apa yang diperintahkan tidak bertentangan dengan nilai-nilai syariat. Bahwa meskipun kami dilarang untuk mengucapkan selamat pada hari raya pemeluk agama lain, namun kami juga dilarang untuk mengganggu apalagi mencegah mereka untuk beribadah.

Saya marah kenapa mereka berkeliaran melakukan perbuatan keji sebagaimana orang yang tidak berakal dan tidak memiliki iman dengan memakai atribut Islam? Apa sih maksudnya selain untuk menimbulkan chaos dan adu domba antar agama? Kenapa harus banget berbuat jahat sambil memakai pakaian kehormatan seorang muslimah, pakaian yang sebenarnya adalah pakaian istri-istri Rasul: cadar, dengan warna hitam sebagaimana warna sunnah dalam tata cara berpakaian seorang muslimah.

Pakaian yang sebenarnya bisa saya bilang dalam standar Islam yang sebenarnya adalah pakaian puncak ketaatan seorang muslimah dengan kesederhanaan dan rasa malu untuk mengumbarkan kecantikan fisik yang dia punya. Atribut agama untuk berbuat diluar jalur yang imbasnya bisa jadi sangat panjang. Tidak cuma adu domba dan dimaksudkan untuk memunculkan konflik antar agama, namun juga untuk mengembalikan persepsi cadar dan gamis hitam muslimah bukan lagi pada nilai kemuliaan sejatinya sebagai pakaian ketaatan seorang muslimah yang beberapa tahun terakhir ini diakui masyarakat menjadi jatuh ke titik rendah seperti belasan tahun lalu yaitu sebagai pakaian yang memancing paranoid dari masyarakat dan stigma teroris.

Lagi-lagi, jika teman-teman bertanya pandangan saya...
Bahwa saya juga memiliki teman-teman yang mengenakan cadar. Memiliki tetangga yang bercadar dan tidak jarang bertemu dengan mereka dimana saja. Tidak hanya di tempat kajian, berpapasan di jalan, berbelanja di pasar dan tempat-tempat lainnya. Coba bertemulah tatap dengan mereka dan dengan tidak segan mereka biasanya akan dengan senang hati tersenyum dan menyapa duluan dengan senyum maupun salam.

Teman-teman bercadar yang saya kenal, mereka biasanya lebih banyak disibukkan oleh hal-hal yang positif karena tujuannya sudah mempersiapkan amal ibadah untuk kehidupan di akhirat. Sibuk memperbaiki diri, menambah ilmu, mencari rezeki sehalal mungkin dan sejauh mungkin dari riba dan hal-hal yang dilarang Allah, sebisa mungkin memiliki hubungan yang baik dengan orang-orang disekitar mereka meskipun tidak sampai dekat namun setidaknya baik dan tidak menyakiti apalagi mengganggu terlepas dari tingkatan kemampuan orang tersebut untuk menjalankan kewajiban dan sunnah sebagai seorang muslim dan terlepas dari perbedaan agama mereka dengan orang tersebut.

Intinya, demi tidak menyakiti hati orang dengan lisan dan kata-kata saja mereka terus menerus menimba ilmu dan memperbaiki diri agar ini tidak sampai terjadi dalam keseharian mereka dan tidak sampai mereka lakukan. Apalagi untuk menyakiti langsung secara fisik?

Jika kita muslimah yang belum kaffah saja tidak memiliki keinginan sedikitpun untuk menyakiti dan mengganggu pemeluk agama lain, apalagi mereka muslimah yang sudah melampaui nafsu kodrat mereka sebagai wanita untuk terlihat cantik dan mendapatkan pujian dari kecantikan fisik itu. Jika kita muslimah yang belum kaffah dan masih senang pakai make up keluar rumah belum sampai ke tahap berbaik hati pada orang lain tanpa melihat agamanya apalagi mereka yang dengan rela menanggalkan kodrat wanita yang menyukai segala yang indah-indah terutama baju-baju bagus dan perhiasan cantik ketika keluar rumah. I mean, menanggalkan keinginan untuk terlihat cantik yang sangat susah ditinggalkan umumnya wanita saja mereka sanggup, apa hati yang sudah dalam tahap iman sebegitu akan dengan tega mencederai hak orang lain untuk hidup?
Tentu saja tidak, teman-temanku sayang...

Kecuali mereka yang abal-abal, mengaku muslimah kaffah dan mengenakan atributnya padahal paham yang mereka ikuti sebenarnya hanya mengaku-ngaku Islam tapi dibungkus sedemikian rupa dengan ideologi yang menyesatkan.

Ada lagi contohnya seorang teman saya yang bercadar. Dia bahkan sengaja tidak mengupload fotonya, foto keluarga sama sekali. Paling hanya posting pemandangan sederhana atau quote dari Qur'an dan hadits.
Tahu kenapa?
Dia khawatir diantara teman-teman yang ada di media sosialnya, diantara beragam teman, teman-teman yang majemuk dari mulai teman di bangku sekolah, keluarga besar sampai tetangga itu... akan ada yang jadi sedih karena kehilangan atau tidak memiliki apa yang dia punya.
Contohnya keluarga yang lengkap, pasangan hidup yang baik dan anak-anak yang sehat.

Sebegitunya usaha dia untuk menjaga perasaan orang lain. Sementara sebagian besar pengguna media sosial termasuk saya, rajin posting foto tanpa pertimbangan hingga sedalam itu.
Pokoknya kita senang postingnya dan dapat banyak feedback positif. Belum sampai ditahap sedalam itu menjaga perasaan orang-orang yang melihat feeds kita di media sosial.

Semoga keberagaman dan kemajemukan ini tidak mendorong kita pada perpecahan.
Justru sebaliknya, mempersatukan tanpa mengorbankan prinsip-prinsip agama yang kita genggam erat.

1 comment:

  1. Sedih bgt pagi2 berita dah dihiasi berita duka
    Semoga temen2 di surabaya
    N kita dimanapun berada selalu dilindungi Alloh ya nyin

    ReplyDelete

Next Page Home