Thursday, June 7, 2018

BUDAYA PATRIARKI YANG JUSTRU DISUBURKAN OLEH KAUM PEREMPUAN

Beberapa minggu lalu saat sedang login di linimasa sebuah media sosial non kekinian, tanpa sengaja saya membaca update dari seorang teman saya sewaktu di sekolah dasar. Barangkali isinya sudah pernah teman-teman baca dari media sosial juga karena viralnya.

Berupa gambar sederhana dengan kalimat dari sudut pandang seorang suami yang kurang lebih seperti ini:

Kira-kira apa yang ada di pikiran teman-teman setelah membaca kalimat-kalimat diatas?
I'll let you know what inside my mind, menurut saya wajar banget. Ya kan memang seharusnya begitu dalam kehidupan rumah tangga. Baik suami maupun istri harusnya bekerja sama dalam mengurus rumah tangga. Karena kan yang tinggal di rumah itu juga bareng. Begitu pun juga ketika anak sudah mulai besar, harus diberi tanggung jawab pekerjaan rumah pelan-pelan. Karena orang tua bukan babu yang ngerjain semuanya sementara anaknya nggak ngapa-ngapain ya kan.

Dalam case cerita diatas, anak masih kecil, masih harus disuapin jadi tanggung jawab perumahtanggaan harusnya memang jatuh ke suami istri.

Oke, sampai disitu masih wajar lah ya. Yang bikin saya mengernyitkan dahi adalah komentar teman saya yang mengshare gambar diatas, dengan emoticon LOL dia menulis: masa sih kok menurutku ini hoax ya?

Membaca itu kok bikin saya mikir ya. Mikir kalau:
1) Nggak pernah ada adegan serupa dan berbagi pekerjaan rumah dalam rumahtangga-nya dan
2) Dia nggak pernah melihat kejadian itu nyata di kehidupan rumah tangga siapapun orang yang dia kenal.
Wah, that's so sad lho. Komenan orang-orang yang menanggapi share-an dia lebih bikin saya mikir lagi, karena yang komen juga teman SD saya yang lain, dengan isi yang kurang lebih menyetujui pernyataan teman SD yang share gambar diatas itu. Menyetujui bahwa isi dari cerita itu tidak lebih dari sekadar hoax atau bahwa suami yang digambarkan dalam kalimat itu cuma ada di awang-awang negeri dongeng mereka semata. Bahwa mereka pasti bakalan sangat bahagia kalau suami mereka seperti itu.

Just for your info, meskipun sudah menghabiskan hampir setengah umur saya hidup di kota besar, saya tetaplah orang yang dasarnya berasal dari desa. Desa banget dimana petani dan buruh pabrik serabutan masih menjadi pekerjaan mayoritas orang-orang di desa saya. Segitu desanya sampai buat berangkat sekolah aja saya kudu struggling dengan tanah becek seusai hujan yang bikin dilema. Licin dan basah. Ditempuh dengan jalan kaki udahlah lama, capek pula, sampai sekolah sepatu juga udah kotor banget nggak layak pakai. Nah kalau nekat naik sepeda resiko jatuh di jalan dan baju sama tas bakalan belepotan lumpur karena jalan yang licin.

Anyway, saya sih nggak tahu kerjaan suami teman-teman saya ini apa, tapi kedua teman saya ini sama-sama lulusan universitas swasta di kota saya. Satunya bekerja sebagai guru taman kanak-kanak, satunya lagi saya tidak tahu. Jadi kurang lebih suami mereka kemungkinan juga bertaraf pendidikan sama atau minimal lulusan SMA lah ya. Nah saya nggak tahu gimana ceritanya rumah tangga mereka bisa menjengahkan begitu dalam hal pekerjaan rumah, at least dari sudut pandang saya. Entah karena pilih suaminya nggak didasari kriteria ringan tangan dalam membantu pekerjaan istri atau memang karena semua lelaki yang mereka kenal punya kecenderungan perilaku yang sama.

Saya ngomong gini bukan karena suami saya satu-satunya jenis orang yang mau aja bantuin istrinya meskipun tanpa diminta. Karena jujur aja, saya tahu kalau banyak banget pria yang dengan tanpa ragu bantu-bantu istrinya dalam pekerjaan rumah tangga. Bahkan ada yang nggak cuma beberes, bersih-bersih, atau urus anak dan hal-hal lain yang sama-sama bisa dikerjain umumnya baik pria dan wanita.

Tapi ada juga pria yang mereka juga sering menggantikan istri mereka untuk memasak di dapur tanpa diminta untuk makan berdua atau sekeluarga bareng anak-anaknya. Dan bener-bener masak loh, memproses raw food jadi makanan siap makan, bukan sekedar masak nasi pake magicom or warmed up frozen food. Saya tahu ini karena banyak dari teman-teman saya yang bersuamikan pria tipe begini. Mereka memang nggak setiap hari bisa memasak buat istrinya, tapi ada kali dalam seminggu sekali dua kali bener-bener niat masak makanan yang rada ribet buat dimakan bareng.
Jadi intinya suami yang begitu nggak cuma ada di negeri dongeng, tapi ada di kehidupan nyata, dan jumlahnya banyak kok. Sama sekali bukan hoax semata. Kalau menurutmu nggak ada, itu berarti kamu aja yang belum pernah tahu.

Tidak ada hal hina dari seorang suami yang membantu pekerjaan rumah istrinya lho, justru dianjurkan dan bernilai pahala dari sudut pandang agama. Ya itu tadi karena istri bukan pembantu, sama halnya bahwa suami bukan sapi perah atau kerbau bajak yang disuruh kerja melulu dan ditarget penghasilannya demi nurutin kemauan istri yang ina inu sampek nggak peduli kalau dia bisa capek dan sakit juga.

Keduanya, baik suami maupun istri harus bisa saling menghormati peran masing-masing dalam rumah tangga dan bekerja sama menghidupkan pernikahan yang nyaman bagi keduanya bukan? Menikah adalah ibadah, dan sebagaimana ibadah seharusnya mampu membuat hati kita tenang, mantap dan nyaman dalam menjalaninya ya kan? Rulenya memang dalam Islam istri wajib taat kepada suaminya setelah menikah, namun seorang muslim yang baik dinilai paling baik imannya adalah jika dia seorang suami yang paling baik kepada istrinya. Meskipun dalam budaya patriarki yang cenderung berakar kuat pada masyarakat kita, ini kelihatan kurang lazim.

Pada kesempatan yang berbeda, saya melihat sebuah update dari toko online yang mengemukakan bahwa pria adalah sosok yang kuat. Mencari nafkah untuk menafkahi keluarganya, pulang dalam kondisi lelah dan masih menyempatkan untuk bermain dengan anak dan membantu beres-beres rumah, mendengarkan keluhan istri dan anak tentang apa saja hal kurang menyenangkan atau hal menarik baginya yang terjadi pada mereka seharian. Pria yang baik dan kuat adalah yang seperti itu.

Oke deh, postingannya mungkin kelihatan positif dan memotivasi begitu. Tapi yang bikin tepok jidat adalah komentar-komentarnya.

Seorang pria, bapak-bapak beristri anak berkomentar bahwa postingan dengan sudut pandang seperti seperti itu sangat negatif dan menginjak-injak telak harga diri kaum pria.

Dalam hati saya protes, lha berarti yang dicontohkan rasulullah dan para sahabat apa dong? Mereka orang-orang yang mulia dan mereka baik sekali pada istrinya. Alih-alih harga diri mereka jadi jatuh, justru sebaliknya, istri mereka sangat menghormati dan mencintai mereka. Tapi otak saya juga mikir bahwa budaya kitalah yang membuat gambaran seorang pria yang membantu urusan rumah tangga adalah sesuatu yang tidak layak dilakukan dan dipandang orang.

Sehingga seorang pria yang entah malas atau gengsi dalam melakukan pekerjaan rumah tangga, membangun bonding yang kuat dengan istri dan anaknya melalui curhat dan sharing sekaligus imam yang mengarahkan mereka untuk memberi solusi maupun mengingatkan sesuai landasan syari' itu langsung merasa tersinggung dengan postingan tersebut. Masih bisa saya pahami mengapa si bapak itu komentar kayak kebakaran kumisnya. Meskipun kenyataannya nggak akan berkurang barang sejengkal harga diri seorang pria dimata istri dan anaknya jika dia memiliki tangan yang ringan untuk membantu serta hati dan pundak yang lapang untuk mereka. Bukan hanya menjadi suami dan ayah yang baik, melalui perbuatan yang langsung dicontohkan pria yang seperti ini juga akan mencetak anak-anak yang ketika besar nanti menjadi seorang familyman/women berhati hangat.

Kemudian bikin saya nggak habis pikir adalah komen-komen berikutnya, yang justru datang dari kaum wanita. Mereka ini ngomong kalau:
- loh kok aneh beres-beres, main sama anak tugasnya suami, terus tugasnya istri ngapain dong? 
- Ya kalau kerja tugas suami, kalau beres-beres ya tugas istri dong
- Kan kasihan suami capek habis kerja seharian masa masih harus dengerin keluhan dan bersih-bersih rumah?
- kalau cuma beres-beres aja ya tugasnya istrilah, kalau yang butuh tenaga kayak benerin genteng baru itu tugas suami (agak mendingan dikit lah ya komenan ini)

Kalimatnya beragam tapi persamaan kesemuanya adalah sama-sama bikin saya pusing. Karena komentar sejenis kok malah keluarnya dari sesama kaum wanita sendiri, menunjukkan dengan ngomong begitu berarti pola pikir mereka sendirilah yang menyuburkan budaya patriarki yang timpang dan menjadikan kehidupan rumah tangga jadi nggak happy baik bagi mereka sendiri mungkin dan bagi anak-anak mereka kelak ketika mereka berkeluarga.

Eh mungkin 'nggak happy' itu kalau dari sudut pandang saya kali ya, karena bisa jadi ada juga orang yang malah happy dan bangga karena mengabdi pada keluarganya. Literally meng-abdi, sampai peran utamanya sebagai tiang keluarga dan pendidik generasi jadi kabur karena lebih fokus pada menjadi abdinya itu.

Jadi gini ya, kewajiban suami dalam rumah tangga memang menafkahi. Sampai sini sepakat kan?
Nah setelah diulas lebih lanjut, ternyata pandangan agama tentang 'nafkah' ini bukan dalam bentuk mentahnya alias uang. Namun makanan yang sudah siap makan, baju yang udah siap pakai... ya pokoknya pemenuhan kebutuhan pokok keluarganya semampu dia. Yang berarti, bahwa memasak bukan kewajiban istri, karena menyediakan makanan yang siap makan itu adalah bentuk nafkah sesuai kewajiban suami.

Jadi kudunya suami yang masak dong? Ya pokoknya entah beli entah masak, nafkah bukan sesuatu yang masih mentah seperti uang atau bahan makanan mentah tapi sesuatu yang sudah siap dipakai dan dikonsumsi. Tapi kalau istrinya pengertian, mau membantu suami mengolah yang mentah itu jadi makanan siap makan ya lebih bagus lagi dong karena jadinya apa yang dia lakukan berpahala. Bukan kewajiban, tapi dilakukan.

Kewajiban istri adalah mematuhi perintah suami, ketika suami tidak berada di rumah dia menjaga hartanya dan menjaga diri (sudah sering dengar dong ini landasan hukumnya), berdandan menyenangkan suami dan melayani kebutuhan suami. Baik dari yang kecil menyiapkan minuman dan makanan untuk suami (menyiapkan ya) maupun lain-lainnya.

Mengurus rumah adalah tanggung jawab berdua jika hanya tinggal berdua atau semua penghuni yang tinggal di rumah itu punya porsi peran yang sama. Mengurus dan mendidik anak juga adalah kewajiban berdua, karena anak juga membutuhkan bonding dari ayah dan ibunya untuk mematangkan nilai-nilai hidup mereka, tidak hanya dari ibu saja atau ayah saja. Lagipula kan anaknya berdua, nggak ada yang hermaphrodit dan punya anak sendiri kan?

Komentar-komentar para wanita diatas yang bikin saya udah nggak ngerti lagi ini karena berpeluang besar dalam pembentukan dan pembaharuan terus menerus akan persepsi massal bahwa urusan domestik selalu adalah urusan perempuan. Dan ini cukup meresahkan saya. Tidak berhenti sampai disitu juga, karena kebanyakan mereka adalah ibu-ibu yang juga punya anak baik lelaki atau perempuan, saya juga khawatir pandangan yang serupa ditanamkan ke pola pikir anak-anak mereka juga.

Bahwa misalnya contoh saja seorang anak perempuan dididik bahwa dia harus khatam semua tetek bengek urusan domestik untuk dikerjakan sendiri dan urusan lelaki hanyalah urusan di luar rumah, baik soal mencari rezeki dalam bentuk materi atau apa-apa yang berhubungan dengan itu. Bahwa anak perempuan nggak boleh membiarkan suaminya mencuci piring sendiri, harus full meladeni dan printilan lainnya yang harus banget memanjakan si suami biar nggak repot ngurusin kerjaan rumah satupun karena dengan berada di rumah berarti dia harus istirahat dan semua kerjaan tanggung jawab istri.

Jika ditanamkan pada anak lelaki memang jadinya jauh lebih meresahkan. Bahwa anak lelaki harusnya mengerjakan porsinya seperti berkompetisi dan partisipasi dalam kegiatan diluar sana, fasilitas akademik yang optimal demi perbekalan mereka untuk masa depannya bisa menghasilkan materi sebanyak mungkin namun tidak diajarkan atau malah tidak diperbolehkan mengerjakan pekerjaan domestik bahkan membantu ibunya sendiri. Even itu sebenarnya adalah basic skill seseorang, nggak peduli apapun gendernya agar mampu bertahan hidup apapun situasinya.

Meresahkannya kalau itu dijadikan patokan hidup si anak lelaki ketika dia dewasa dan berperan sebagai seorang suami. Ya entah  ya, saya ngeri aja ngebayangin laki-laki yang kalau di rumah kerjaannya unfaedah nggak ngapa-ngapain macam juragan besar yang tinggal perintah. Ogah ngerjain pekerjaan domestik dan ngebantuin istrinya baik untuk pekerjaan sehari-hari atau mendidik anak karena mikirnya itu urusan perempuan.

Horor banget kan? Meskipun misalnya materinya berlebih dan nggak perlu melakukan itu karena sanggup mempekerjakan asisten rumah tangga beberapa sekaligu,s tapi ya tetep aja bonding dan kedekatan sama anak juga perlu diusahakan dalam rumah tangga baik dari pihak si istri atau suami.

Hmm gimanapun saya adalah orang yang berpikiran bahwa mampu mengerjakan pekerjaan rumah tangga adalah basic skill yang semua orang harus bisa, nggak peduli apa gendernya. Sama seperti basic skill yang harus kita pelajari sebagai manusia yang hidup di masyarakat seperti basa-basi, salam dan pentingnya interaksi. Seperti itulah.

Bagi saya pribadi, yah ini pendapat personal saya. Ya saya juga maulah kalau gitu jadi pria aja atau dalam konteks yang lebih logis jadi breadwinner utama dalam keluarga kalau kewajibannya cuma kerja doang dan selain itu udah deh kudu diladeni istri dan istri yang harus gulung-gulung olah fisik untuk urusan domestik. Dengan dalih, capek dan stress habis kerja banting tulang seharian demi kesejahteraan keluarga maka dia merasa berhak dilayani untuk segala-galanya. Pandangan yang disetujui istri karena dikabulkan untuk terus menerus berlangsung, menilai bahwa tulang punggung keluarga sudah bekerja mati-matian untuk kondisi financial mereka yang layak. Meskipun saya rada ragu jika ini yang terjadi apa si istri pernah tahu seperti apa kondisi dunia kerja dan usaha mencari nafkah itu adanya.

Ini juga biasanya diaminkan oleh si ibu mertua, atau ibu dari si suami. Melarang anaknya melakukan printilan rumah tangga ketika si anak lelaki masih dalam asuhannya dan memberlakukan hal yang sama ketika si anak menikah. Bahkan untuk urusan rumah tangga yang kecil sekalipun seperti menata piring dan cangkir sebelum makan bersama, ibu mertua akan melarang si anak dan malah menegur menantunya yang membiarkan si suami mengerjakan hal seperti itu.
Seolah-olah hina banget gitu :(
Apa ada teman-teman yang begitu atau pernah melihat adegan serupa? Kalau saya yang ngalamin langsung kayaknya sih nggak bakalan kuat :(

Karena sorry, menurut saya mencari uang dengan kerja nggak sesusah itu kok. Malah jauh... jauh... banget lebih gampang kerja dan menghasilkan uang ketimbang mengurusi pekerjaan domestik yang bikin capek karena seolah nggak ada habisnya itu. Saya ngerasain sendiri semuanya, karena saya juga udah nyicipin bentuk kerja baik sebagai pekerja korporasi, maupun kerja mandiri seperti freelancer dan pedagang yang masih disambi juga ngurusin rumah. Untungnya suami mau-mau aja bantuin, itu aja saya masih sering ngerasa over-exhausted apalagi kalau semua-muanya kudu saya sendiri. Nggak kebayang deh...

Kembali ke soal mencari nafkah, saya justru happy dan semangat ngejalanin kerjaannya karena udah kebayang apa yang bisa saya dapat dengan usaha yang saya kerahkan. Sementara mengurus rumah kan nggak seperti itu ya. Pokoknya lebih ribet dan menguras energi sih menurut saya. Makanya kudu diapresiasi dong pasangan yang mau repot mengurus rumah, hai bapak-bapak yang istrinya stay at home atau sebaliknya, kudu dibikin hepi dan dibantu juga biar dia gak bete terus karena kecapekan. Jangan mentang-mentang breadwinner lantas pasangan diperlakukan kayak ART, disuruh ini itu diminta tolong ini itu padahal dia juga udah capek sendirian urus makanan di dapur dan kebersihan rumah. Tolong untuk dipahami yha! Pleaseee!

Hadeuh melelahkan emang meskipun baru ngebayangin doang, bagaimana kalau harus hidup dengan cara begitu. Untungnya dasar prinsip-prinsip hidup saya yakni agama, tidak sedangkal itu dalam tuntunan hidup berumah tangga beserta adab-adabnya.

Makanya menurut saya sangat penting sebelum atau ketika menjadi orang tua... penting bagi kita memahami dulu nilai-nilai yang penting untuk pola pikir dan adab anak kita nantinya. Karena apa yang kita pahami juga akan menjadi sesuatu yang kita tularkan dan tanamkan di benak anak-anak kita. Nggak sedikit anak yang karena dibesarkan oleh orang tua yang pola pikirnya berakar pada adat maka menjadi manusia yang tidak hanya memisahkan urusan rumah tangga berdasarkan gender, tapi juga orang yang memiliki kemampuan sangat minim untuk mengurus dirinya sendiri.

Contoh saja sewaktu dulu lulus SMA dan saya menempuh bimbingan pra ujian penerimaan universitas negeri. Banyak diantara teman-teman satu bimbingan saya yang juga satu SMA, ternyata nggak bisa mengerjakan urusan rumah tangga yang sangat sepele seperti mencuci dan menyetrika bajunya sendiri. I mean, kok bisa-bisanya hal sesederhana itu nggak bisa sama sekali padahal udah umuran segitu gede????

Jadi mereka kemudian memilih laundry atau pulang kampung seminggu sekali dan membawa pulang baju-baju kotor mereka agar dibersihkan di rumah. Kan ya errrr banget yak. Cowok nggak bisa masak okelah ya, at least bisa kan masak air dan bikin minuman instan atau minim mie instan sama telor goreng.

Percaya nggak percaya temen-temen saya itu nggak semua bisa ngerjain urusan dapur yang receh kayak gitu, bahkan bikin mie instan dan nyeduh energen aja bingung. Malah pada nanya sama saya atau ibu kos, saya pikir awalnya bercanda ternyata mereka serius nggak bisa. Kan ya bikin saya mikir banget orang tuanya ngedidiknya gimana sih sampek sesuatu yang sesimple itu mereka gabisa.

Sayang sama anak pastilah ya, siapa sih orang tua yang nggak sayang sama anaknya ya kan?
Tapi pas ngobrolin ini sama salah satu sahabat saya, pada intinya kami sepakat bahwa hadiah terbaik yang bisa diberikan orang tua kepada seorang anak adalah tantangan. Nggak selamanya kan kita ada untuk memanjakan mereka dan nggak selamanya jalan hidup mereka bakalan terus mulus kayak jalan tol di masa depan.

Gitu :)

9 comments:

  1. sip..nin..sarat makna. speechless aku. intinya, setuju sm kamu. dan aku ijin share ke facebook ya..

    ReplyDelete
  2. Eh iya, aku beberapa kali nemuin cowok gak bisa nyeduh minuman instant. Yah tapi nggak berani ngejudge, deh. I don't stand on his shoes walopun dalem ati bersyukur, untuuung swami gak gituh. Hihihihi

    ReplyDelete
  3. sebenernya bukan permepuan aja sih yang "mengaminkan" kalau pekerjaan domestik itu tugasnya perempuan. laki-laki juga kadang kesannya nggak suka kalau ada laki-laki lain yang mau membantu istrinya. pernah ada temen yang rajin bantuin istrinya. istrinya nyuci, dia bantuin njemur. langsung diledekin sama temen-temennya yang laki-laki. mungkin mereka takut kalau istri mereka lihat laki-laki lain mau bantu istrinya, para istri yang suaminya males bantuin itu akan menuntut suaminya untuk bantuin. mungkin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. karena namanya aja budaya patriarki, ya nggak heran kalau para lelaki begitu mil. Salah satunya untuk mengukuhkan posisinya kan. wkwk dasar insting mereka juga egonya tinggi.

      makanya balik lagi ke tuntunan agama Mil, udah paling cakep itu :)
      jadi itu mengapa paham agama menjadi kriteria yang penting dalam memilih suami

      kalau paham agama pastinya nggak memperlakukan istrinya seperti pembantu kan?

      meskipun dari teman2 aku yang suaminya begitu nggak semuanya jenis orang yang paham agama, biasanya alasannya simple karena memang lama jadi perantau jadi apa2 udah biasa mandiri gak perlu nunggu istri. tahu agama memang tidak menjamin, apalagi yang enggak tapi paham nilai2nya insyaAllah sudah menjadi jaminan.

      Delete
    2. anyway bapak aku bukan orang yang paham agama, bahkan sampai sekarangpun ngasih tahunya harus pelan2 karena dikasih tahu pelan2 aja masih susah dan sering gondok bisa marah berminggu-minggu sama anaknya.

      tapi sisi positifnya adalah beliau nggak pernah ngerasa keberatan untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, ataupun malu. malah bangga minta ampun. terutama skill masaknya sampek ikut lomba masak 17 an bapak2, pokoknya kalau urusan bangga sama skill masaknya gak ada yg boleh ngalahin.

      aneh sih tapi itu makanya aku dan adikku sama2 punya basic skill masak.

      waktu aku kecil sering juga beliau masak kok pas ibu aku lagi nggak di rumah karena urusan pekerjaan. even nyuciin baju anak istri juga beliau lakukan. sekarang juga kadang masih masak sendiri buat di rumah kalau nggak makan diluar, karena sampai sekarang masih ngotot belum bisa dibujuk, gamau pindah ke kota lain yg lbh deket anaknya.

      Delete
  4. Pernah saya punya murid yg bilang, "Makanan yg paling enak itu masakannya Papi." Yes, di rumah mereka, Papinya yg memasak sebelum kerja. Maminya? Seorang housewife. Tapi inilah kebahagiaan keluarga mereka. Ada pula seorang ayah yg lulus S2 dan dosen. Untuk makan malam anak2nya, ayahnya yg suapin. Ibunya? Sesama pegawai juga. Mereka semua juga punya ART, tapi inilah bentuk bounding ayah dengan anak2nya.

    Takkan habis harga diri suami dengan meringankan tugas istri. Malah akan jadi figur untuk anak2nya. Tentu ini diiringi dengan kecerdasan beragama si lelaki.

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan pastinya punya kesan spesial bagi anak2nya, sekaligus menjadi acuan anak-anaknya juga ya mbak :)
      pasti beda dengan papa papa yg sehari2nya cuma kerja aja dan melakukan pekerjaan rumah berdasarkan pemisahan gender :)

      Delete
  5. Tergantung budaya juga sih, kak nin.

    Di minang, terutama yang masih agak aderah/desa, suami itu di rumah tangganya dirajain banget. Karena suami kerja nyari uang, maka kewajiban wanita ya kerjaan di rumah. Nggak bakal dibiarin suami ngerjain kerjaan dapur semacam masak dan nyuci nyuci sama sekali.

    Sama sekali.

    Kecuali laki-laki single. Itu juga kalau masih ada ortunya bakal dikerjain semua sama ortunya. Kecuali dia merantau atau kos sendiri, baru deeh

    Dan emang iya, suami yang ketahuan nyuci piring atau masak sementara istri nya free, jadinya akan diomongin mertua. Hihihi

    Tapi yang udah di kota dan modern sih rata-rata nggak mempermasalahkan hal-hal keadatan kayak gitu lagi sih. Udah akulturasi. karna istri juga dibagi buat kerja nyari uang ya akhirnya kerjaan rumah juga bagi bagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah padahal minang matriarki ya kan?
      ah apa aku salah paham mengenai penerapan garis ibu di suku Minang ya, mohon maaf lho... memang bukan orang Minang.

      tapi hal itu juga nggak asing dengan kehidupan orang jawa kebanyakan, baik di masa lalu even sampai sekarang juga. makanya yg aku jadikan acuan dari sudut pandang agama, bukan soal adat. karena tipe masyarakat kita memang sudah seperti itu dan ini berjalan sudah ribuan tahun.

      nah kesian banget dong kalau istri kerja tapi juga harus urus rumah semuanya juga :(

      hahaha yang aku garis bawahi bukan adegan ini ya Aul
      suami yang ketahuan nyuci piring atau masak sementara istri nya free, jadinya akan diomongin mertua

      maksud aku mengurus rumah adalah task berdua, harus saling membantu. kalau suami sibuk istri free, nggak etis juga ya kan?

      maksud aku kalau istri udah ngerjain pekerjaan rumah seharian dan belum kelar, mbok ya dibantu. kalau istri udah capek ngurus rumah berjam-jam ya saatnya tangan suami menolong setelah pulang kerja. kalau udah tahu istri riweuh di dapur lagi masak misalnya, ya jangan direcokin minta ini itu, justru kalau bisa malah ditawarin bantu. istri lagi goreng lauk, suami kan bisa nyuci beras.
      ibaratnya gitu lah :)

      Karena kayak yg aku bilang, kerja itu gampang. disini posisi wanita dan pria setara. bahkan penghasilan istri bisa jadi malah lebih tinggi. kebanyakan wanita bs menggantikan posisi suami sbg breadwinner tp blm tentu suami mampu menjadi tiang keluarga sebaik istri. sbgian besar mereka tdk didesign untuk gape memasak dan beberes rumah oleh keluarganya.
      makanya saling menghargai dan membantu dlm rumah tangga. jangan mentang2 satu sama lain. baik merasa superior krn breadwinner atau jg merasa paling berhak menguasai harta dan belanjabelanja gakjelas tanpa bilang dan izin dulu.

      pada beberapa kasus kehidupan rumah tangga, kdg si suami ngerasa superior dan maunya dirajakan krn breadwinner, atau kebalikannya istri mentang2 uang suami dia yg bawa selalu nuntut biar suaminya kerja mulu karena pengen mobil baru, rumah baru, baju baru, belanjainnya juga gak kira-kira dan izin dulu.

      sama nggak pantesnya :)

      Delete

Previous Page Next Page Home