Friday, September 21, 2018

KISAH BANDARA

I don't really like traveling, tbh. But I love airport.
Bandara adalah satu diantara tempat yang saya bisa toleransi keramaiannya. Urutan kedua adalah mall. Sama-sama tempat yang ramai tapi tidak cukup ramai untuk membuat saya pusing dan enggan berurusan dengan desakan kerumunan manusia lain. Pergi ke mall sekadar untuk berdiam lama di cafe, memesan kopi favorit dan membaca buku. Hingga sesapan kopi yang sedikit-sedikit itu bertambah menjadi lebih dari satu gelas atau saya sudah ingin menyudahi sesi itu.

Rutinitas itu berulang setiap akhir minggu tanpa alasan jelas hanya karena saya merasa itulah jenis relaksasi yang menurut saya menyenangkan.

Namun itu masih tidak ada apa-apanya ketimbang bandara. Jika menyangkut tempat favorit untuk berdiam, dulunya bandara menempati urutan pertama. Barulah kemudian cafe yang menjual kopi enak dan tempat nyaman.

Memang sekarang tidak, karena urutan pertama sudah bergeser peringkat menjadi working space saya di rumah.

Tapi tulisan ini memang tentang bandara dari persepsi saya.

Bandara adalah dimana orang sudah terlalu sibuk dengan urusan sendiri-sendiri. Mempersiapkan diri untuk sebuah perjalanan yang mungkin akan mempertemukannya dengan orang-orang yang sudah lama dirindukan atau dengan relasi kerja yang telah menunggu dengan ekspektasi mereka. Memikirkan rencana dan apa yang akan terjadi sebelum, ketika dan sesudah penerbangan berlangsung.

Berbeda halnya mall yang semua orang sibuk dengan belanjaan dan aktivitasnya, bandara penuh dengan orang-orang yang sibuk dengan isi kepala masing-masing.
Di kedua tempat ini kamu bisa merasa sendiri meski kenyataannya kamu sedang berada jantung keramaian. Kamu bisa merasa sepi dan menggali heningnya isi pikiran sendiri.

Orang-orang tidak merasa harus bertindak diluar batas keperluan. Jauh lebih jarang orang yang ingin bersikap terlalu ramah ataupun terlalu ingin tahu akan diri kita. Bahkan sebatas bertanya hendak kemana kita pergi, jika tidak merasa perlu.

Apalagi jika pertanyaan itu kemudian berlanjut dengan... untuk kepentingan apa kita bepergian, pekerjaan apa yang sedang kita tekuni, alamat tempat kita tinggal, status sosial, pernikahan, kekerabatan dan seterusnya.

Orang-orang cenderung lebih pendiam dan enggan memulai percakapan meskipun duduk disisihan di restoran, di ruang tunggu bahkan di dalam kabin pesawat. Lebih tertarik untuk melihat pemandangan di balik jendela, berusaha keras melihat kerlip lampu mobil dan bangunan diantara selimut awan dan bertanya-tanya seperti apa wajah bulan dan tebaran bintang saat perjalanan malam. Atau memutuskan untuk memejamkan mata demi tubuh yang menagih istirahat.

Terkadang hidup terlalu riuh dan melelahkan. Seringkali kita harus berinteraksi meskipun sebenarnya tidak ingin, harus bersikap ramah meskipun sebenarnya jengah, harus berkumpul meskipun sebenarnya yang ingin kita lakukan hanyalah berdiam dan menikmati waktu sendiri.
Perjalanan menjadi jeda terbaik dimana keheningan adalah oase dalam jantung keramaian. Mengizinkan kita untuk berpikir lebih banyak dan mendalam, membolehkan kita untuk menghayati apa saja sesuatu yang harus kita pikirkan lebih lanjut dan bagaimana cara terbaik mengatasinya.

Diantara semua hiruk pikuk itu, ternyata senyap dalam kerumunan orang yang tidak saling mengenal adalah sesuatu yang sesederhana itu bisa saya hargai.
Mungkin bagi kamu juga.

No comments:

Post a Comment

Previous Page Next Page Home