Showing posts with label jobseeking. Show all posts
Showing posts with label jobseeking. Show all posts

Thursday, May 17, 2012

Finally My Job-seeking Journey Ended Up...

(pic taken from Blueberrypie's mim)
Setelah delapan bulan jobseeking yang penuh dengan kekuatan, kemelankolisan, keputusasaan juga kemarahan dan hal-hal pahit manis... akhirnya saya diterima bekerja juga di sebuah perusahaan-non bank bertaraf internasional yang berpusat di Jakarta. Jadi saya harus training beberapa bulan dulu di kantor pusat.

Delapan bulan yang panjang yang sekarang mesti saya tengok ulang lagi untuk banyak bersyukur pada segala ketetapan yang karena adanya keragu-raguan. Delapan bulan yang mestinya saya syukuri, karena saya diberi waktu untuk menganggur dan menghargai betapa menyenangkannya ada aktivitas yang perlu dilakukan. Delapan bulan yang membuat saya mengerti bahwa mencari kerja dengan mengandalkan diri sendiri dan izin Tuhan tidaklah mudah, maka saya tidak akan memandang rendah pencari kerja yang belum menemukan jodohnya. Delapan yang membuat saya mengerti bahwa pertanyaan: mengapa nggak bikin usaha sendiri saja? Menjadi pertanyaan yang bisa jadi menyakitkan.
Memangnya punya modal semudah yang kamu pikir?
Ya pinjem bank! begitu biasanya kilah mereka.
Kalau jaminannya rumah kau, boleh?
dan na na na na yang lain.

Delapan bulan yang membuat saya tahu betapa susah menghadapi pertanyaan-pertanyaan dan keterlukaan psikis dari orang-orang yang tidak pernah susah-susah mencari kerja dan mengikuti seleksi sepanjang kami atau orang-orang yang melamar langsung diterima. Capek menjelaskan. Contohnya ayah saya yang lulus sekolah langsung menjadi guru kemudian diangkat menjadi PNS. Waktu itu guru masih begitu mudah proses pengangkatannya jadi beliau tidak tahu bagaimana rumitnya proses orang mencari kerja jaman sekarang.

Bukan perjalanan yang mudah dan sebentar, saya akui. Barangkali yang Tuhan mau saya memperlancar bahasa inggris saya yang ala google translate, mikir dulu translate-annya baru ngomong. Barangkali yang Tuhan mau sekali-sekali nanti saya keluar dari Indonesia. Tidak dalam pelukan negeri sendiri terus menerus.Saya sempat berbincang dengan beberapa orang kawan yang diterima di perusahaan yang sama, mereka sungguh keren... pintar sekaligus mahir berbahasa selain Indonesia. Saya serasa tenggelam diantara mereka, tapi saya juga harus belajar banyak. Banyak sekali yang kepingin saya ceritakan disini, ulasan perusahaan-perusahaan yang saya ikuti tesnya tapi tidak sampai gol diterima tapi juga nggak yakin apakah boleh ya cerita-cerita disini gitu :p

Terima kasih pada semua pihak yang selama ini mendukung dan menyemangati saya yang sumpek karena lelah berharap. Orang-orang yang terus berada disisi saya dan yakin bahwa saya mampu. Orang-orang yang membantu saya dengan uluran bantuan dan do'a... yang kesemuanya tidak mungkin saya lupakan. Terima kasih banyak.
Do'akan semoga semuanya lancar dan saya krasan di dunia baru saya ya... :)

Tuesday, April 3, 2012

Kenapa Ya...?

Meskipun sudah terlepas
tapi mesti terlihat seolah-olah terekat

(image taken from Bahar135's mim)

Ada kawan Blogger yang meninggalkan komentar setengah bertanya, sekaligus memberi semangat. Saya merasa itu komentar yang manis sekali, penuh perhatian. 'Menegur' saya tapi tetap dengan menyenangkan.
Saya suka.
Sampai saya merasa harus menjawab asal muasal dari kekurangpercayaan saya terhadap kemampuan.
Kenapa saya pesimis dengan kemampuan diri saya sendiri ya...

Dulu pertama kali jobseeking saya punya kepercayaan diri yang begitu kuat bahwa saya bisa masuk perusahaan manapun yang saya inginkan. Tapi ya begitu. Berulang kali kepercayaan diri saya diempaskan ketanah. Saat beberapa posisi yang saya lamar sudah mencapai tahap akhir, cuma kurang selangkah saja. Saat itu saya mulai berpikir ini mungkin jalan saya. Namun saya sekali lagi dan sekali lagi kemudian datang kali-kali lainnya bahwa saya salah. Saya gugur lagi.

Saya merasa kadang betapa tidak adilnya kalau ini masalah keberuntungan, bukannya usaha atau kemampuan. Saya sempat merasa ngambek karena yang lolos sampai akhir adalah orang-orang yang entahlah... itu membuat saya kecewa. Dan bersedih.

Seseorang pernah berkata pada saya mengapa saya begitu sedih, biasanya saya bisa bersikap begitu bijaksana menghadapai kegagalan. Biasanya saya bisa begitu tenang-tenang saja.
Saya cuma bisa menjawab kebijaksanaan ada kalanya dipaksakan. Sebagai penghiburan agar bisa dengan matang menerima kenyataan. Penerimaan seutuhnya belum tentu benar-benar demikian. Gagal ditengah tes kerja itu bikin patah hati. Bisa jadi ketenangan itu kedok.
Kedok saya.

Perjalanan jatuh yang cukup lama membuat saya pesimistis. Entahlah... waktu juga yang menyiksa pandangan positif saya yang sebenarnya.
Saya ingat kemarin ketika saya bersama teman kuliah tes kerja bareng disuatu BUMN, saya ngomong ke dia, "Yah semoga kita lulus tahap ini bareng yaa,"
Dia senyum dan menjawab saya, "Entahlah... nggak ngarep Nin... Aku selalu tidak lolos."
Deg!
Saya ketawa bodoh, "Eheheheheeehhee yah aku juga sih... tapi ya biar deh yang penting ikutin aja dulu alirannya kemana."

Waktu berhasil menyiksa hati sedemikian banyak orang yang sedang dalam masa pencarian kerja. Termasuk saya. Namun entahlah... sampai saat ini saya masih terus mencoba.

Saturday, March 31, 2012

Umm.....

Nggak ada yang menyenangkan
dari menunggu lama-lama

pic taken from Blueberry pie's mim
Besok sudah April, saya serasa siap nggak siap.
Waktu begitu cepat berlalu, serasa berlari. Sudah bulan April, sudah lama juga saya jobseeking. Hemmm... entahlah, saya masih kepingin mencoba banyak kesempatan. Terutama karena akhir-akhir ini banyak tes kerja yang mulai baik hati meloloskan saya. Meskipun saya sering cuma modal ngitung jumlah kancing baju.

Mengambil keputusan di saat seperti ini susah ya...

Kemarin pengumuman seleksi hasil tes kerja yang kesekian, saya masih lolos. Tapi saya sedih. Karena teman baik saya yang selama ini bareng saya setiap waktu tes berhenti dititik lama. Tidak lolos. Saya sedih. Dia kepingin banget diterima disitu. Serasa kehilangan kawan seperjuangan.

Berita bagusnya, salah seorang teman kampus yang pintar, rajin, dulunya asisten dosen, lebih cepat lulus jauh dibanding saya dan menjadi partner jobseeking kemana-mana akhirnya mendapatkan jodoh pekerjaannya. Sebuah anak dari perusahaan besar yang tidak jauh dari rumahnya. Dia update socmed dengan senang hati bahwa dia jalan kaki ketika kerja.

Senang deh, senang melihat dia terlihat begitu senang karena penantiannya memang tidak bisa dibilang sebentar. Senang karena selama ini dia membuat saya merasa miris, kok bisa teman saya ini yang begitu super  dilangkahi dalam bidang lapangan kerja oleh teman-teman lain yang kemampuan akademis dan keniatan kuliahnya jauh dibawah dia.

Mungkin cuma Tuhan yang tahu kenapa.

Monday, March 26, 2012

Tumbuh Menua

TOGETHER
pic taken random by google
Kemarin sewaktu menghabiskan bareng Fi (sahabat saya sejak awal kuliah), dia nyeletuk, "Eh ya kangen si Mut deh..."
Saya tercenung, "Ah ya sih..." Mut adalah sahabat saya yang lain, biasanya kami bertiga kemana-mana meskipun Mut sejurusan dengan saya dan Fi berbeda. Kami bertemu di organisasi. Fi dan saya tipe hobi menghilang tapi kemudian kembali, Mut tipe selalu siap dalam segala hal yang terjadi di organisasi.

Fi dan saya sering sama pikiran dalam banyak hal, berbeda dengan Mut. Tapi lucunya kalau kami jalan berdua suka kangen sama Mut, karena pola pikir kami dan Mut sungguh jauh berbeda. Entah rasanya menyenangkan menggodai dia, membalikkan argumennya, mengkritisi dia setengah tega-nggak tega karena dia tipikal orang yang halus tidak meledak-ledak. Meskipun seringkali dia memutuskan sesuatu yang mengejutkan banyak orang. Dan kami tetap dekat.

"Aku kalau ingat-ingat serasa terharu deh kita yang dulu awal ketemu, awal-awal kuliah. Sepertinya begitu 'lucu'. Sekarang kita sama-sama menua dengan problem hidup masing-masing. Dan terutama sama-sama masih jobless,"

Saya ketawa.
Iya kamu tumbuh banyak dibanding waktu itu, pemikiran, usia dan cara pandang. Saya sudah setengah lupa tentang bagaimana cara saya memandang dunia ketika saya masih awal kuliah. Saya rasa saya sudah matang dalam banyak hal waktu itu, kecuali satu: percintaan. Saya adalah tipe orang yang tidak mengerti bagaimana seharusnya cinta ditumbuhkan atau ditujukan pada orang yang benar-benar tepat. Tidak hanya melihat dari usaha seseorang untuk mendapatkan perhatian kita.

"Aku dulu selalu pusing dengan masalah-masalah yang nggak terlalu penting, yang sekarang cuma punya tempat sepersekian di pikiranku. Kok bisa ya dulu aku cemas karena masalah-masalah itu, aku jadi paham kenapa kamu selalu pusing setiap aku curhat." Fi ketawa sendiri, memanggil kenangan lama.

"Yah syukur deh kamu paham, hehehe..." saya nyengir. Masa-masa itu cuma sekitar 4tahunan lalu tapi terasa sudah begitu jauh dan asing. Saya tidak bisa kembali pada saya yang dulu, demikian juga dengan dua sahabat saya yang lain.

Esok paginya, mendadak saya pengin nelepon Mut... setelah perjalanan ke stasiun yang gagal mendapatkan tiket. Cuma pengin ngobrol. Dia menutup obrolan tanpa juntrung itu dengan, "Terima kasih ya..."
Saya bingung.
Bagaimana orang yang habis ngobrol ditelepon bilang terima kasih setelah obrolan usai?
Mungkin Mut merasa kesepian seperti halnya saya. Kelulusan benar-benar mencerai-beraikan aliran hidup kami yang sebelumnya beriringan. Kesepian yang membuat kami begitu senang bertemu dalam jobfair, karena bertemu kembali dengan orang-orang yang sama dimasa kuliah. Serasa reuni ganjil dalam sumpeknya pikiran para pencari kerja.

Saya menyukai interaksi dengan orang-orang yang dekat dengan saya. Terutama disaat-saat saya sedang penuh rasa sumpek dan merasa lelah pada perjalanan. Saya menyukai kesendirian, saya menyukai pesona personalnya tapi saya juga pada saat-saat lain, saya butuh membenci sepi itu sendiri.