Saturday, February 6, 2016

While Stay at Home

I made 1 small box of snack for his night shift working, he smiled. Priceless.
I want to prevent him from hungry but too busy to leave his work for buy himself food.
He BBMed me on his working hours and say : thank you, I love the food. I'm full :)
Snack for night shift, simple breakfast for busy morning. I really made his day, he said.
Anyway I'm happy. Happy to see he loves my food, happy because I realized I do take care of him.


.

Friday, February 5, 2016

Single dan Menikah


"Jadi gimana, setelah nikah?"
"Gimana apanya?"
"Lebih seru nggak dunia setelah nikah? Seruan mana sama sebelum nikah?" tanya seorang teman.
"Bener nggak sih bikin nyesel kenapa nggak dari dulu aja nikahnya?" tanya teman yang lain.
Saya sering banget dapat pertanyaan serupa dari teman-teman yang masih single. 

Kalau ditanya seruan mana sebelum menikah dan sesudah, saya jadi bingung. Dua-duanya sama-sama seru kalau perbandingannya soal kehidupan keduanya. Single itu jelas menyenangkan, bisa nyobain apa saja yang kita mau : merantau, karir, travelling. Semua dilakukan dan diputuskan oleh satu orang : kita sendiri, cepat dan efisien. Ribetnya kalau buat perempuan, jelaslah kemana-mana harus aware kondisi sendiri dan bisa memperkirakan sejauh mana tingkat keamanan yang nyaman buat dia. Menikah juga jelas menyenangkan. Bisa merantau dan travelling tanpa repot mikirin sendiri dari masalah dana, keamanan atau apapun ditempat tujuan. Ada teman yang selalu bareng kita. Ada satu kepala tambahan yang ikutan mikir dan ngasih suggestion yang biasanya nggak terpikir oleh kita. Ada sumber pendapatan lain yang membuat kita merasa dapat sabuk pengaman tambahan. Ribetnya bagaimana menyatukan pendapat dan karakter masing-masing, saudara kandung aja bisa debat kok apalagi sama orang yang beda keluarga sama kita.

Kalau soal hubungan dan komitmen ini baru ada perbandingan jelas, belum nikah pastinya kita mikir-mikir dulu kalau mau travelling jauh berdua atau berkegiatan bareng. Ada norma-norma masyarakat maupun agama yang tidak bisa begitu saja kita abaikan. Misal aja travelling berdua doang, biar kata nggak sekamar tapi kalau masuk di hotel yang sama kan ya bisa bikin berita nggak enak. Atau misal orang sekitar oke aja dengan itu, tanya deh sama diri sendiri kita nyaman nggak dengan itu? Kalau sudah menikah ya bebas, mau jalan kemana aman ada yang jagain pulangnya juga bareng.

Sebelum menikah kita bingung kalau teman-teman punya agenda sendiri, bingung kalau teman-teman sibuk nggak bisa curhat. Setelah menikah all the time dia ada buat kita. Partner cerita sekaligus teman jalan kemanapun.

Ada omongan setengah bercanda setengah serius, "Nikah itu bikin nyesel, nyesel kenapa nggak dari dulu!"
Saya dengar banyak orang yang merasa demikian, tapi well... saya sih enggak. Saya nggak nyesel menikah dengan umur yang sudah bisa dibilang matang. Ketika saya sudah merasa, yah saya sudah pernah melalui banyak hal. Saya nggak penasaran dengan hal-hal ini itu karena sudah saya lalui, sudah terlewat. Ketika saya sudah mengerti bahwa menikah bukan semata soal perasaan, tapi adalah hubungan jangka panjang dan adanya keyakinan bahwa setelah perasaan masa muda berlalu dan usia semakin menua.. cinta berubah bentuk ke dalam bentuk baru yang lebih kuat : selalu saling membutuhkan dan tidak lengkap tanpa kehadiran yang lain. Dan menikah juga bukan cuma ketertarikan yang kuat tapi partner ibadah yang solid.

Saya tahu dalam proses usia saya juga bertumbuh, jangankan dari peralihan belasan ke dua puluhan, antara usia 20 tahun bulat dan dua puluh enam yang usianya baru sekian bulan ini saja saya merasakan banyak perubahan. Perubahan pola pikir dan pertimbangan, perubahan manajemen emosi juga terutama. Dan ah ya.. perubahan prioritas. Semuanya ada waktunya kok..


.

Thursday, February 4, 2016

Curhatan Karyawan Newbie

Setelah lama menjalani masa menjadi jobseeker dan jatuh bangunnya, akhirnya saya diterima kerja di sebuah perusahaan yang kantor pusatnya berada di bilangan Jakarta Barat. Akhirnya pekerjaan pertama setelah masa menganggur dan jatuh bangun mengatur uang di kantong yang serba mepet hasil freelance di beberapa tempat.

Hari pertama masuk kerja not bad lah ya... Berhubung saya sedang dalam masa optimis.
Gajian kapan?
Iya saya udah mikir begitu padahal juga barusan masuk, yah apa boleh buat, ibukota segitu kerasnya sampek sudah nagih biaya hidup duluan. Ngekos aja bayar dimuka kok.
"Gajiannya dibayar di menjelang akhir bulan ya sama seperti karyawan lain berdasarkan kebijakan perusahaan, karyawan kerja dulu baru digaji."
Begitu menerima kabar itu saya deg-degan, tapi bukan karena jatuh cinta. Lebih pada khawatir apa modal biaya hidup saya cukup sampai gajian?
Ah ya sudah... cukup lah cukup... *meyakinkan diri sambil bayangin deretan soto, empal gentong, kare ayam dalam bentuk mie instan*.
Saya menenangkan diri sendiri, yang penting kan sudah mengantongi tanggal gajiannya, yah apa yang lebih baik lagi dari itu? Cukup menghitung hari demi hari mendekati tanggal saja.

Sekitar seminggu lebih sebelum gajian, saya dapat pengumuman kalau semua payroll akan dibayarkan via BNI. Lah saya tabungan saja masih dalam bentuk celengan manual, apalagi rekening BNI? Belum status saya yang saat itu perantauan, belum tahu apa dokumen yang saya bawa sudah mencukupi untuk syarat membuka tabungan di BNI, belum lagi... uang setoran awalnya?
Mak, darimana bisa saya dapat wong biaya hidup sampai batas gajian saja sudah tipis... tapi ancaman untuk payroll yang molor karena belum ada nomor rekening juga lebih mengerikan lagi.
Bisa-bisa jual baju nih saya demi masukin setoran awal.
Sekian hari sebelum tanggal payroll mayoritas teman-teman saya sudah pada tenang karena punya rekening BNI, ada yang sudah lama punya dan ada yang barusan buka dengan setoran awal ke BNI.

Saya gimana dong ini?
"Ayo mulai gerak gih, Nin.." saya negur diri sendiri.
Berawal dari nanya kanan kiri yang menghasilkan fakta bahwa nggak cuma saya yang kebingungan kemudian kami bersepakat menanyakan ulang ke pihak bank BNI.
Beruntung kantor saya satu gedung dengan salah satu unit BNI46, kami kemudian mendatangi Mbak-mbak cantik di meja customer service. Satu antrian, satu yang nanya setelahnya yang lain nimbrung karena pertanyaannya sama. Ah maafkan kami ya mbak...
Saya : Mbak ini setoran awalnya 500,000 gini nggak bisa kurang?
Mbak CS : Tidak bisa, ibu *senyum*
Dalam hatinya mungkin dia bingung, ini saya niat ke bank mau nabung atau mau nawar harga sayuran?
Saya : Jadi kan gini mbak... (menjelaskan situasi sulit sambil memasang wajah memelas terbaik)
Mbak CS : Oh silakan dikomunikasikan dengan atasan terkait, mungkin bisa dengan surat keterangan atau semacamnya nanti akan kami bantu..
Saya : Baik terima kasih, Mbak..

Kami menyampaikan kesulitan itu kepada atasan, dan disambut baik dengan surat keterangan untuk kami yang isinya membolehkan membuka tabungan BNI46 terlebih dahulu dengan setoran awal 0 rupiah. Alhamdulillah, kami segera menyampaikan surat keterangan tersebut kepada Mbak-mbak customer service nan ramah yang sangat membantu dalam pemrosesan pembukaan rekening kami. Baik banget deh.. kami akhirnya bisa punya buku tabungan BNI meskipun keterangan saldonya masih 0. Untunglah kami nanya, jadi nggak jual-jual bekal dari kota asal kan demi setoran awal.. haha.
Payday, now I'm all set so come to mommaaa :)))

Waktu itu masih pake acara ngantri buat nanya-nanya ke customer service, mana nasabahnya juga nggak sedikit. Nyaman sih tempat nunggunya, empuk pula sofanya tapi nggak sabarnya itu loh... Untung pula unit terdekat tinggal masuk lift doang, coba kalau jaraknya itungan kilometer pake kendaraan. Capek kak...

Saya belum lama ini tahu ada fitur #askBNI di twitter buat nanya-nanya seputar BNI tanpa harus antri di unitnya dan tanpa motong pulsa buat on call. Cukup DM aja pake hashtag #askBNI.
Ah coba waktu itu sudah ada pasti adegan muka memelas saya bisa diwakili emoticon ya.. nggak perlu dapet lirikan dari antrian nasabah yang lain juga. Lirikan ringan penuh arti mendalam pada kami-kami kantong tipis yang mau buka rekening :D



Nanya 24 jam dijawab loh selama pakai hashtag ya... ini sih saya iseng banget nanyanya tengah malem buta. Kalau mau nanya-nanya spesifik tanpa hashtag, di jam kerja aja biar puas dapat jawabannya :) Pokoknya asal mau bertanya nggak sesat di jalan lah, tapi jangan nanya nomor ponsel mbak-mbak atau mas-mas customer servicenya yang rapih nan ramah aja yah :D
Kalau itu mah nyari cara lain yang lebih elegan dong ;p


.

Wednesday, February 3, 2016

Farewell Notes


It's always not that easy to say good bye and see you soon, eh?
I feel that way..

Bisa dibilang saya adalah jenis teman yang biasa-biasa saja, bukan yang baik banget bukan juga yang nyebelin banget. Saya merasa selama ini saya hanya berusaha give back apa yang orang lain lakukan atau berikan kepada saya.

Saya nggak punya banyak ekspektasi pada hubungan pertemanan, harus saya akui. Paling tidak hingga usia saya yang sekarang. Berusaha selalu give-back itu yang biasanya mempertemukan saya dengan orang-orang baik yang bertahan berada dalam hidup saya. Saya bertemu dengan Melva dan Kak Dian di kelas training ketika kami sama-sama masuk dalam management trainee sebuah perusahaan. Melva adalah orang batak yang lahir, tinggal dan sekolah di Jakarta (meskipun kuliah di Depok, yah masih jabodetabek lah) sementara Kak Dian adalah orang batak yang lahir, tinggal dan sekolah di Medan. Saya sendiri orang Jawa, Jawa Timur tepatnya. Mereka berdua sangat baik kepada saya, jalan bareng, makan bareng dan berbagi isu pekerjaan. Kami berbeda suku bahkan juga berbeda agama dan hubungan pertemanan kami sangat menyenangkan.

Sampai H-2 minggu sebelum saya meninggalkan Jakarta mereka bersikeras pengin bertemu. Karena satu dan lain hal kami bertemu nggak jauh dari kantor saya, ngobrol apapun sampai malam saking waktu nggak kerasa cepat banget berlalu. Terlalu banyak hal yang belum dibagi selama kami tidak sempat bertemu meskipun sama-sama dapat penempatan di Jakarta. Sebelum pulang, mereka memberikan sesuatu kepada saya, dalam bungkusan yang ketika dibuka tampak tempelan kartu sederhana yang tulisan yang bikin hati saya meleleh. Tahu isinya apa? satu set gamis dengan kerudungnya.

Sungguh saya harap saya punya cukup umur untuk membalas hadiah dan perhatian ini dihari terbaik mereka.

.