Saturday, January 21, 2017

KITA YANG BELUM TAHU

Jadi dengan huru-hara di dunia sosmed beberapa bulan terakhir ini, belum lama kemarin soal mata uang dan pahlawan.

Saya ingat ada orang-orang yang menyebarkan berita mengenai penampilan Cut Nyak Dien yang kabarnya sesungguhnya berhijab dan mereka memiliki keinginan agar foto-foto beliau yang tersebar di poster, buku dan sebagainya seharusnya menggunakan hijab.

Sebagian orang yang menentang itu berdasarkan fakta bahwa menurut narasumber keluarganya sendiri Cut Nyak Dien memang tidak berhijab seperti yang dibilang orang-orang pendukung gambar Cut Nyak Dien berhijab. Jenis sebagian yang kedua ini menganggap orang-orang dengan keinginan pertama terlalu berlebihan dan tidak relevan dengan fakta.

Sebagai orang yang masih terus berproses dan belajar dalam agama ini, karena memang ilmunya juga masih dangkal... Ada satu hal yang saya tahu, bahwa memasang hijab pada seseorang adalah melambangkan rasa sayang kita kepada seseorang itu sebagai saudara sesama muslim.

Kita tahu bahwa saat ini dan masa lalu sungguh tidak dapat dibandingkan, pemahaman orang terhadap agamanya meningkat dengan cepat karena dakwah-dakwah yang mengalirkan cinta dan ilmu.

Saya tidak memajang lagi foto lama saya sesudah baliq yang tidak mengenakan hijab, saya pun tidak memajang foto adik dan teman saya yang dulu belum mengenakan hijab kecuali mungkin karena butuh diupload di dunia maya, maka saya menambahkan sticker atau menambahkan kuas untuk menutupi bagian aurat yang tidak tertutup dari mereka. Karena apa semua itu? Saya yakin hal seperti ini adalah gerakan kecintaan. Bukan sesuatu yang sepele mengalokasikan waktu untuk mengedit foto seseorang agar auratnya tidak terlihat bukan?

Sebagai orang yang pernah menggemari pelajaran sejarah semasa sekolah sebelum memutuskan bahwa saya lebih menyukai bidang ilmu yang menjadi pilihan saya di universitas, yang saya tahu dengan latar belakang yang seperti itu dan ketangguhan pola pikir yang seperti itu tentu tidak mungkin jika Cut Nyak Dien hidup dimasa ssekarang ini lantas beliau tidak berhijab, bahkan mungkin berpakaian sunnah seperti halnya pakaian istri-istri nabi. Iya memang ini masih dalam pengandaian saya semata.

Namun orang-orang yang merasa bahwa foto Cut Nyak Dien harus berhijab karena mereka menilai beliau memang begitu, dikabulkan atau tidak oleh pemegang kekuasaan, sungguh merupakan sesuatu yang patut diapresiasi karena hal semacam ini tentulah lahir dari kecintaan kepada saudara sesama muslim, yakni dengan tidak membiarkan auratnya terlihat sekalipun dalam foto dan lukisan.

Apakah jenis orang yang kedua, jika mereka muslim dan mencibir orang tipe pertama adalah salah?
Susah untuk menyatakan sepenuhnya salah karena menurut saya sikap dan pendapat yang seperti ini adalah akibat dari kekurangtahuan jika bukan ketidaktahuan. Boleh jadi kita muslim namun banyak hal yang tidak kita ketahui, mungkin karena tidak mencari tahu atau hanya soal waktu.

Pernah dalam diskusi dengan seorang teman kuliah, saya menyampaikan bahwa negara ini terlalu majemuk sehingga keeratan budaya yang sudah mendarah daging tidak bisa diubah. Ingatkah para petani yang bekerja di sawah bahwa mereka hanya mengenakan kain yang di tekuk sehingga kain tidak banyak tercampur lumpur, apakah mungkin dengan merubah itu agar mereka hanya bekerja sesama wanita atau sesama pria dan wanitanya bergamis dan berjilbab rapat untuk bekerja di sawah? Karena bagaimanapun gamis dan jilbab rapat tidak terlihat seperti pakaian yang pas untuk bercocok tanam dan digunakan para petani. Demikian juga dengan orang-orang yang masih hidup dalam sukunya masing-masing yang memiliki kebudayaan unik dan berbeda, contohnya para perempuannya yang berpakaian jauh dari menutup apa yang seharusnya ditutupi apalagi sempurna menutup aurat. Sungguh sayang jika semua itu yang menjadi bagian keberagaman dan keeksotisan Indonesia akan hilang.

Kalau diingat lagi sekarang, saya pun tidak habis pikir dengan pemikiran saya saat itu. Saya malu jika mengingatnya ulang karena sungguh waktu itu saya tidak tahu apa yang benar, bahwa saya perlu diluruskan. Atau mungkinkah saya memiliki hati yang keras saat itu hingga Allah belum berkenan memberikan saya pemahaman?

Saya adalah bagian dari orang-orang yang waktu itu belum tahu, belum mengerti bahwa budaya memang sangat layak dipertahankan sebagai ciri khas kekayaan kita namun selama itu tidak bertentangan dengan hal-hal yang Allah wajibkan dan sukai. Tentu dalam hal ini yang saya bicarakan adalah dalam konteks Islam dan para muslim sendiri, saya tidak berbicara diluar itu karena memang bukan teritorial saya untuk membahasnya.

Misalnya batik, mungkin sebagian dari muslimah memilihnya sebagai kain gamis, sebagian yang lain karena mengurangi motif ramai dan mencolok mereka memakai batik untuk aksen pakaian, seperti misalnya aksen manset tangan atau kancing, sebagian lainnya yang sudah berkomitmen untuk menghindari pakaian bermotif untuk dikenakan memilih batik sebagai baju untuk di dalam rumah atau untuk aksesoris rumah seperti kelambu, taplak meja dan lain sebagainya. Membeli dan mengenakan batik adalah melestarikan budaya tapi bukan berarti kita harus memakainya sebagai kain ketat untuk bawahan karena muslimah memang seharusnya berpakaian dengan longgar jika keluar rumah.

Kebudayaan yang sudah populer contohnya saja sabung ayam dan makan hidangan yang terbuat dari darah, beberapa daerah memliki kekhasan seperti ini, menurut pengalaman saya tidak terlepas juga beberapa orang yang saya kenal saat masih tinggal bareng nenek kakek saya dulu. Dan wajar saja bagi mereka. Nah seperti ini layaknya ditinggalkan karena sabung ayam tidak dibenarkan dalam agama kita dengan beberapa landasan sementara darah adalah termasuk makanan yang diharamkan.

Mungkin saya tidak menyampaikan maksud saya dengan baik dalam tulisan ini.
Inti yang ingin saya sampaikan adalah jika kita memang muslim dan muslimah maka pelajarilah agama lebih dalam. Jangan asal melemparkan statement sebelum kita cari tahu, bertanya dan kaji mendalam. Budaya bawaan khas negeri ini adalah sesuatu yang mestinya memang kita pertahankan, dengan catatan selama tidak melanggar aturan Allah.

Everything pleased Allah should came first before others.

Gamis, jilbab dan cadar sendiri pun bukan budaya Arab, budaya Arab pada jaman sebelum Islam sangatlah jahil dan para wanitanya berpakaian terbuka. Karena itu jangan mengolok orang meniru orang arab karena berpakaian sunnah. Mereka menjalankan perintah Allah, dan kita sebagai seorang muslim jika belum bisa menjalankan maka jangan mencemooh karena hanya akan menunjukkan diri kita yang sebenarnya. Diri kita yang tidak pernah menjalankan agamanya sendiri dengan baik dan enggan mempelajari lebih dalam tiang hidup sendiri.

Masih blibet ya, hehe apa boleh buat... karena isi tulisan ini mewakili hal-hal yang saya pikirkan belum lama ini dan menyangkut beberapa topik sekaligus :)

Wednesday, January 18, 2017

DI MASA DEPAN


Mengapa hidup mendadak bisa berubah diluar apa yang kita duga selama ini?
Mengapa sekali dia berubah, perubahannya bisa sedemikian cepat dan mengejutkan?
Akhir-akhir ini saya sering memikirkan tentang itu, mungkin banyak orang selain saya yang mempertanyakan hal yang sama.

Contohnya saja ketika usia sekolah dasar, mungkin karena hidup di desa dimana penduduknya nggak padat, jarang menggunakan kendaraan bermotor dan sebagainya sehingga kebanyakan orang menurut saya relatif memiliki usia yang panjang dan kondisi kesehatan yang baik. Jarang orang meninggal secara tiba-tiba kecuali jika memang sudah lama sakit parah.

Itulah mengapa saya merasa tidak biasa dengan berita-berita teman yang tidak dapat masuk sekolah karena kecelakaan lalu lintas, mengalami pergeseran bahkan juga patah tulang saat saya SMP. Adalah hal yang baru bagi saya alasan tidak masuk yang seperti itu, meskipun benar terjadi.

Monday, January 16, 2017

MENJELANG 8 TAHUN LISTENINDA


Saya pernah baca tulisan seorang teman blogger tentang suka dukanya ngeblog. Dia menyukai sastra dan suka membuat tulisan indah di blognya. Sebagian dari curhatannya sendiri, sebagian lain diperoleh dari berbagai media seperti buku, film dan curhatan temannya. Ya nggak beda jauh sih dengan saya. Nggak beda jauh juga sama saya mengenai sering disalahpahami pembaca bahwa mereka mengira tulisan yang melankolis semuanya murni dihasilkan dari pengalaman yang melankolis. Padahal tidak melulu seperti itu.

Setelah ketemu dengan salah satu sahabat saya yang juga blogger, saya mendapat pertanyaan itu: mungkin sudah saatnya saya membranding blog ini?

Mengenal dunia blog dari remaja yang tidak tahu harus menulis keresahannya dimana untuk mendapatkan penyelesaian dan kenyamanan perasaan, saya paham bahwa perasaan saya berceceran dimana-mana, di friendster blog, blogbugs, multiply, wordpress dan beberapa akun blogger yang password dan alamatnya saja sudah lama saya lupakan.

Next Page Home