Friday, July 29, 2016

MELEPASKAN TELEVISI

pattern from internet

"Acara itu apaan sih?" Pak GM saya nanya setelah usai sebuah mini meeting beberapa rekan bersama beliau di ruangannya. Seorang rekan sempat mengomentari sebuah acara di televisi yang saat itu sedang sangat tinggi ratingnya.
"Itu loh Pak, yang acaranya dari awal sampai akhir isinya joget-joget." kata saya, menjelaskan.
"Wah nggak tau saya,"
"Memang bapak biasanya nonton acara apa sepulang kantor?" celetuk rekan yang ngomongin.
Kami menduga si bapak nonton acara-acara yang tentunya lebih berbobot seperti acara berita di televisi, national geographic atau film-film bermutu yang disediakan oleh tv kabel.
"Enggak, saya nggak nonton TV," kata si bapak, mengagetkan kami.

"Oh ya Pak? Serius? Kenapa?" saya bertanya pada saat kesempatan non formal di jam istirahat.
"Serius, udah nggak ada TV di rumah saya sejak beberapa bulan lalu. Mengubah kebiasaan menjadi lebih baik aja Nin. Acara televisi memang banyak disorot dari sisi pendidikan yang kurang bagus dikonsumsi masyarakat apalagi anak-anak. Tapi selain itu acara televisi juga banyak mudharatnya. Ya palingan isinya gitu-gitu aja kan," beliau menjelaskan.
"Harus banyak disortir, ini mata sama telinga. Jangan kebanyakan diisi yang seperti itu. Mendingan buat dengerin kajian, kan adem sampek hati."
Saya manggut-manggut. Si bapak memang berproses dalam hijrahnya. Sering saya lihat buku-buku agama, motivasi dan novel religi menyelip dibalik kursi mobil beliau saat ada urusan keluar kantor sementara tidak ada mobil kantor yang standby, beliau dengan senang hati meminjamkan mobilnya. Dan bukan sekadar punya, beliau memang benar-benar membaca buku-buku itu.

Tapi saya barusan tahu soal berkomitmen untuk tidak menonton televisi lagi. Kebanyakan orang yang menilai acara televisi gratis yang ditangkap siarannya oleh televisi-televisi rumahan termasuk televisi saya di kamar kurang bagus ditonton. Dari segi acara yang kurang bermutu bahkan juga pengaruh buruknya terhadap anak-anak yang menonton dan pendidikan mereka. Mereka yang komitmen dan tidak tahan dengan itu biasanya akan memutuskan untuk menjadi pelanggan tv kabel untuk memilih televisi dengan acara-acara yang bagus dan mereka nilai berkualitas saja seperti natgeo, cartoon network dan lain sebagainya.

Untuk benar-benar meninggalkan televisi mungkin adalah keputusan yang besar. Apalagi bagi saya, sungguh saya kagum dengan orang-orang yang memutuskan untuk berhenti nonton tv apalagi dengan alasan hijrah. Sementara saya sendiri hingga saat ini masih suka menyalakan televisi. Meskipun entah ditonton entah tidak. Bagi saya menonton televisi seusai pulang kerja adalah rutinitas. Masuk kamar, menyalakan lampu, AC dan televisi kemudian tiduran meluruskan punggung. Seringkali nggak ngeh banget acara tv nya tapi tetep saya nyalain biar rame dan nggak ngerasa sepi. Tv juga teman saya di pagi hari saat bersiap berangkat ke kantor.

Nggak penting acaranya sih, tapi ada tv kan jadi nggak terasa kalau sendiri di rumah. Karena itu saat ini setiap mampir ke toko elektronik saya dan Paksu sering sekali cek harga televisi, terutama harga tv led samsung yang presentasinya bikin tergoda melihat-lihat dan cek harga. Mungkin saya nggak apal acara televisi, tapi saya masih merasa tv adalah teman yang baik jika saya sedang sendiri di rumah dan Paksu bekerja.

Teman-teman juga ada yang seperti saya yang sering hidupin tv untuk ngeramein kamar atau rumah?
Atau adakah diantara teman-teman yang sudah meninggalkan televisi? :)




Tuesday, July 26, 2016

USAHA TIDAK PERNAH MEMBOHONGI HASIL


Saya menjadi anggota dari beberapa grup chat, diantaranya grup teman-teman satu angkatan kerja, teman-teman dekat dan beberapa grup lainnya. Sering banget saya terlambat membaca dan menanggapi chat mereka.
"Hai, baru baca chat." kata saya, nimbrung dalam grup chat teman-teman setelah memanjat sekian banyak notif chat grup yang banyak pada bulan puasa lalu.
"Baru bangun yaaa...?"
"Enak aje! Belum tidur malahan sejak pagi, baru mau," jawab saya, saat itu siang di jam ba'da dhuhur.
"Gile ngapain lu?"
"Nulis nulis curcol," kata saya.
"Oh yang kemarin di-share itu lomba lagi ya? Semoga yang kali ini menang yaa..." kata mereka.

Pada obrolan chat lain dengan seorang teman dekat, saya ngobrol sama dia sembari menggambar. Karena dia juga suka menulis dan blogging jadi dia lebih paham ama yang sedang saya lakukan.
"Jadi itu sebabnya draft kamu lama banget jadinya?" komentar dia, setelah melihat share posting yang saya ikutkan untuk suatu lomba.
"Iya," saya ketawa-ketawa aja. Dia tahu berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk mikirin mau nulis apa, terus sketch di buku gambar dan mewarnai via software. Bagi sebagian orang mungkin usaha ini secimit banget, tapi enggak bagi saya yang skill doodling dan desainnya masih taraf yang abal-abal.
"Yang kemaren bukannya juga pake drama tinta blobor di kertas tuh?"
"Itu lomba yang lain lagi," kata saya.
"Menang?"
"Kagak sih." saya ngakak.
"Buang waktu sama usaha dong,"
Saya mengedikkan bahu, "Ya gimana dong namanya juga bukan rezeki eyke."

Mantemans, terutama yang pernah ikutan lomba menulis seperti saya pastinya juga pernah kalah. Pernah... ya kalau saya sih kalahnya lebih sering dari menangnya haha :D Pokoknya kalau ikutan lomba terus sama sekali nggak dapat hadiah apa-apa, pas cerita ke Paksu udah dapat tatapan kesian aja, soalnya dia tahu gimana rempongnya saya demi sebuah lomba.

Sering banget teman nanya gimana kabar lomba yang saya ikutin itu karena melihat share saya di media sosial atau pas minta tolong mereka ikut vote kalau suka tulisan saya. Sering banget juga ada yang nanya setelah saya jawab nggak menang disuatu lomba, apa kabar perasaan dan usaha saya?

Ya sedih sih, siapa sih yang enggak? 
Halah baru juga kalah berapa kali lu, Nin? Banyak tau yang lebih sering kalah dari lu!
Gitu kali ya komentar mantemans, terutama yang sering jadi peserta lomba. 

Iya saya memang masih newbie soal perlombaan, baru juga berapa bulan mulai dan sering ikut lomba ya pasti itungan kalah dan menangnya lebih sedikit dibanding pemburu lomba lainnya ya.

Tapi kecewa kan ya manusiawi banget kan. Salah satu proses dari kehidupan. Kita tahu rasanya bangkit dan cara untuk bangkit kemudian melangkah kembali setelah tahu rasanya gagal dan kecewa. Am I right?

Ya kecewa sih pasti, tapi kan rezeki ada di tangan Allah. Tugas saya menjemputnya dengan usaha yang saya punya, entah apakah Allah memberikannya kepada saya atau tidak memberikan bentuk rezeki yang saya mau adalah sudah hak Allah. Tidak peduli seberapa keras saya berusaha, kalau sudah ditentukan tidak menjadi milik saya, pastinya akan terlepas juga. Saya cuma percaya, usaha tidak pernah membohongi hasil. Nggak pernah rugi kok kalau kita berusaha akan sesuatu hal dengan semua waktu dan kemampuan yang kita punya.

Kan gue sudah begadang beberapa hari demi lomba tapi kok kalah?

Tanpa kita tahu mungkin ada orang-orang lain selain kita yang berusaha lebih keras dari kita dalam kompetisi tersebut dan mereka menang. Grafis kita mungkin lebih keren, pakai video sendiri pula tapi mungkin ada orang lain yang berjuang untuk ke warnet malam-malam selama beberapa hari setelah sesiangan bekerja di lapangan untuk mengikuti lomba itu. Ibu-ibu yang bekerja keras menahan kantuk setiap malam, setelah anak-anak mereka tidur bergegas mengambil ponsel dan menahan dingin udara teras demi sinyal dan waktu menulis yang susah didapat. Ini ada diluar pengetahuan kita tentunya. Tapi tidak dengan Allah.

Selama masa kecewa, butuh waktu bagi saya untuk paham bahwa sebenarnya juri hanyalah perantara dari kemenangan seseorang. Penentu utama sebenarnya adalah Allah. Saya mungkin tidak diberikan rezeki dalam bentuk menang lomba, tapi Allah merupakan sebaik-baik pemberi rezeki dan tidak pernah salah perhitungannya. Selalu aja rezeki dalam bentuk lain yang menghampiri meskipun saya tidak selalu paham bahwa hal tersebut adalah bagian dari rezeki.

Pernah pada suatu waktu saya dan paksu sedang belanja dan kami mendapatkan harga yang murah untuk produk yang masuk ke dalam list belanja kami. "Diskon juga rezeki," komentarnya, saya terdiam karena kaget dan iya saya merasa setuju dengan pendapat Paksu.

Iya menang lomba memang sedih dan bikin semangat kita kadang lenyap, tapi kan menang lomba juga tidak semudah itu. Tidak semudah booking hotel lombok mister aladin yang tinggal mengandalkan koneksi internet, senam jari sebentar dan isi rekening. Percayalah jika kalah, ada rezeki lain yang telah menanti kita. Jangan risaukan, yang penting terus berusaha menjemput rezeki itu :) Semangat yuk!

Monday, July 25, 2016

MALANG SAAT INI



Weekend kemarin, saya liburan ke Malang bareng adek. Yah disusul Paksu sih pulangnya dan akhirnya juga jadi liburan berempat bareng adik-adik seharian. Menyenangkan dan cukup nggak bikin jebol dompet, salah satu alasannya adalah karena kami nggak menginap di hotel. Saya nginep di kosan si adek, dan liburan yang rame-ramenya cuma seharian dari siang sampek dini hari.

Kami sama-sama merasa kalau liburan memang penting. Malang selalu menyenangkan tapi tempat wisatanya sudah tamat kami kunjungi, errm nggak semua sih tapi yang banyak dimampirin orang dan turis sih sudah hampir semua. Yang belum-belum tempat wisata alam yang lebih naik di atas kota Batu aja palingan.

Si adek pernah bilang kalau bisnis kuliner di Malang itu sangat menjanjikan. Gimana enggak, perasaan tiap saya main ke Malang selalu ada saja cafe, restoran atau kedai pinggir jalan yang baru dibuka dan kesemuanya kayaknya kok ya selalu ada saja pengunjung. Terasa apa-apa yang dibangun di Malang utamanya bisnis jadi berprospek cerah. Bahkan sesederhana warung bubur dan mie instan dengan sambal khas yang buka 24 jam dan selalu ada saja yang makan disitu, sekarang kebanyakan juga dipasangin wifi. Jelas makin kerasan nongkrong disitu lah pengunjungnya. Tapi saya rasa ada beberapa bidang bisnis lain yang lahannya menanti untuk dikelola. Nggak cuma kuliner saja. Apa aja sih itu?

#1 Kuliner bertahan
Ditengah maraknya kuliner kekinian atau yang lagi hits atau yang lagi trend, saya rasa kita tetap butuh kuliner bertahan. Misalnya nih salah satu yang saya kangenin dari Malang adalah ciloknya yang enak. Nah kemarin susah banget saya nyari cilok deh padahal biasanya bertebaran di pinggir-pinggir jalan. Justru kemanapun saya selalu nemu penjual sempol, yang adalah olahan tepung dan daging ayam yang dililit lidi kemudian digoreng dan disantap dengan saus sambal dan kecap. Pas akhirnya nemu cilok pun ternyata nggak enak. Duh lah syedih saya. Saya berharap semua abang penjual cilok nggak latah jualan sempol semua.

#2 Taxi argo yang bener
Yang saya sebel banget dari Malang adalah taxinya. Mungkin karena belum tersentuh armada besar, jadi mereka suka seenak jidat ngasih harga. Taxi butut dengan jarak yang nggak jauh dipatok 50 ribu rupiah. Ya kan wajar segitu mbak komentar adek saya. Padahal di Jakarta tariff segitu ya setengah jalan dari Jakarta Utara ke Cengkareng Bandara Soetta. Tiap kita minta argo dinyalakan dan tariff berdasarkan argo mereka selalu menolak. Saya sih nggak keberatan bayar kalau memang argonya segitu, tapi kan kalau matok harga seenak jidat tuh gimana ya... Pokoknya kalau kita minta argo mereka selalu nolak, bilang nggak bisa dan ribet sendiri tanya-tanya rekannya yang lain, makan waktu banget gitu. Akhirnya ya nggak ada yang mau ngangkut penumpang cuma gara-gara gak mau pakai argo, kayak yang nggak butuh uang aja. Jadi armada-armada taxi besar seperti oren, burung biru atau taksi cepet ditunggu lah kehadirannya di Malang *gondok*.

#3 Kos-kosan
Malang makin ramai, kampus makin banyak, mahasiswa pendatang juga makin banyak. Lihat aja di jalan-jalan Malang, kebanyakan mahasiswa. Kos-kosan juga usaha yang berpotensi di Malang karena peminatnya juga makin banyak. Saat ini kos-kosan dengan fasilitas seadanya saja per bulan nggak ada yang harganya 300,000. Yang itungan juta juga banyak, saya sih heran aja... kok harganya saingan sama kos orang yang udah kerja. Bahkan yang lebih tinggi juga nggak sedikit lho.

#4 Guest house murah nyaman
Yang nyarinya supersusah di Malang adalah guest house yang nyaman dan harganya juga relatif murah. Nyaman murah maksudnya ya nggak harus fasilitas super lengkap, pokoknya bersih dan affordable price aja. Toh singgahnya juga cuma bentar. Tapi sejauh ini kami belum nemu juga guest house atau hotel yang seperti ini. Harganya cenderung nggak beda banyak dengan harga hotel di Surabaya maupun Jakarta. Ada yang murah juga tempatnya justru mirip barak.

Itu sih beberapa jenis usaha yang berpotensi di Malang, ya kali yang baca ini berniat investasi. Kalau saya sih belum, baru tahap mikirin dan ngusulin doang *LOL :D Menurut teman-teman bagaimana? Untuk teman-teman yang merasa bingung pengen investasi tapi masih nggak ngerti seluk beluknya bisa lho baca-baca di web badan penanaman modal di bpkm.go.id ya :)
Next Page Home