Sunday, October 22, 2017

JAKARTA, KETIKA RINDU BERKUNJUNG PADA MASA ITU


Saya inget banget deh... dulu ketika barusan lulusan kuliah. Ada seorang teman saya yang satu kos sekaligus satu jurusan, dia sudah duluan wisuda dan bersiap untuk balik ke tempat asalnya di Jakarta. Ketika saya lagi bantu-bantuin dia packing, dia ngomong gini sama saya: "Yuk dong kapan-kapan main ke Jakarta gitu liburan, nanti aku ajakin jalan-jalan."

Yang kemudian saya jawab dengan, "Nggak salah ke Jakarta buat liburan? Kan disana adanya cuma mall-mall aja, macet pula... aku rasa Jakarta bukan tempat liburan yang pas. Mending kalau mau ketemuan kita janjian di kota lain aja yang lebih adem, seger dan banyak pemandangan bagusnya."
Memang waktu itu saya menganggap Jakarta nggak pernah menarik bagi saya. Dalam sebuah kunjungan wisata yang saya ikuti ketika kelas 2 SMA dulu, rasa-rasanya yang banyak adalah tempat bersejarah sesuai dengan sejarah panjang Jakarta sebagai pelabuhan besar yang menjadi titik temu perdagangan serta sebagai ibu kota negara kita.

Kemudian taman-taman hiburan seperti Dunia Fantasi, Sea World, TMII. Sebagai megapolitan serta pusat-pusat perbelanjaan mulai murah meriah grosiran sampai ke brand-brand menengah keatas yang sepertinya ada di saban ruas jalan tapi kesemuanya selalu rame juga sama pengunjung.

Paling tidak kita kudu pernah berkunjung ke Jakarta minimal sekali dalam hidup, memang bener sih... Tapi kalau buat tempat liburan kayaknya saya nggak gitu tertarik sih, kecuali kalau memang butuh belanja-belanja karena memang semuanya ada dan lengkap.

Thursday, October 19, 2017

LANGIT TIDAK PERLU MENJELASKAN DIRINYA TINGGI


Suatu hari sepulang dari bandara, adek saya cerita soal feeds media social seorang temannya yang isinya tempat-tempat bagus semua. Kayaknya setiap libur panjangan dikit pasti jalan-jalan yang cukup jauh sampai selalu mengharuskan naik pesawat, banyak banget juga fotonya di bandara, dekat pesawat kayak yang udah jiwa traveler banget. Dan si adek ini iri karena buat ngeluarin duit beli tiket aja dia harus bikin rencana dari jauh-jauh hari dan nabung jauh-jauh hari, bahkan meskipun naik pesawatnya ke Jakarta doang which is pastinya yang bayar tiket juga saya.

Sambil nyetir, suami saya komentar, "Gimana ya, biasanya orang yang dikit-dikit update itu justru sebenernya bagi dia itu istimewa dan hal yang jarang dilakuin lho,"
Saya ngeliatin dia heran.
"Kamu sendiri, coba itung berapa kali deh kamu update soal naik pesawat dan di bandara." kata dia, pada saat itu memang dalam jarak waktu 3 minggu sekali, hampir selalu saya melakukan perjalanan dengan pesawat.

Kenapa saya nggak update di media social? Ya karena saya nggak ngerasa itu penting. Pulang kantor capek banget, bawa koper ke bandara, nunggu jadwal terbang sampek ngantuk-ngantuk di lounge dan balik Jakarta lagi 3-4 hari ke depan dalam kondisi capek berat dan mood yang berantakan buat kerja lagi. Itu sudah cukup bikin saya ngerasa saya lebih perlu ponsel untuk scroll timeline demi membunuh waktu dan komunikasi sama keluarga ketimbang update lagi dimana dan mau apa.

Nggak pernah kepikiran turun dari pesawat di pagi buta sebelum jam masuk kantor merasa pengin foto seperti sebagian penumpang lain karena yang ada di pikiran cuma gimana cepet ngadem lagi di bandara, gimana cepet ambil koper di baggage claim dan sudah sampek kamar buat catch sleep sebentar dan bebersih badan udah. Ada sih momen-momen saya foto-foto di bandara karena lagi bareng teman-teman dan kena delay. Gitu juga kalau janjian sama teman dan meeting point kita di airport.

Tapi obrolan ini bikin saya mikir sih.

Saturday, October 14, 2017

THE COMPLICATED CONVO


Pada suatu malam minggu yang nggak kemana-mana, saya terlibat obrolan dengan seorang sahabat. It was a very normal conversation sebelum kemudian pertanyaan ini dia lontarkan.

"Buat apa kita jatuh cinta kalau akhirnya nggak bisa memiliki dia?"

Saya ngerti ini masih ada hubungannya dengan kejadian beberapa hari lalu, ketika dia bertemu seseorang dalam sebuah acara tanpa direncanakan. Someone she has a big crush for a long time ago.
She believes he's all she wanted. Meskipun lelaki itu jelas-jelas mengecewakannya, dengan alasan sesederhana dia nggak merasa menganggap urusan perasaan sama pentingnya untuk dihargai jika sudah berkaitan dengan orang lain, bukan hanya tentang hatinya sendiri.

Sunday, October 8, 2017

KARENA CREATOR BERHAK UNTUK BERKEBERATAN


Karena beberapa kali ada yang membahas topik ini di snapgram, saya jadi tahu soal lagu Akad yang belakangan ini jadi huru-hara terkait cover mengcover lagu.

Jadi ada seleb youtube mengcover lagu Akad-nya Payung Teduh yang lagi booming-boomingnya itu tanpa izin, dan empunya lagu nggak berkenan.

Banyak yang bilang versi cover neng seleb ini lebih asik, nggak heran kalau banyak yang suka dan viewer youtubenya bisa jauh lebih banyak dari video official dari Payung Teduh sendiri.

Oke, sampai sini, ketika tahu empunya lagu nggak berkenan kudunya sih neng seleb kudu langsung minta maaf dan menarik video dan lagu coveran yang bermasalah ini dan berhenti memonetize. Ada beberapa orang yang komentar kalau si eneng sempat jual lagu coverannya di itunes/app ponsel gitu but I don't know is that for real or not? Soalnya pas saya cek itunes sih coveran lagu Akad dari si eneng nggak ada, jadi saya nggak bisa bilang ini orang-orang pada beneran atau asal ngomong.

Sunday, October 1, 2017

MELUPAKAN KEBAIKAN


"Kenapa ya dia bisa gampang banget tersinggung karena hal yang sesepele itu?" seorang sahabat saya baru saja kelar cerita tentang seseorang yang sudah dia dan suaminya anggap sebagai teman baik.

Jadi orang yang sudah mereka anggap teman baik itu tersinggung karena becandaannya sahabat saya yang menurut saya clearly nggak ada yang perlu ditersinggungin dari omongan itu. Karena kan mereka konteksnya lagi bercanda di grup chat rame-rame.

Oke, mungkin ini terkait suasana hati kali ya. Orang dengan suasana hati buruk gampang banget buat tersinggung sama ucapan apapun apalagi tulisan yang nadanya nggak bisa kebaca kalau si penulis kalimat itu pengin nyampein dengan nada sarkas atau yang sambil ketawa-ketiwi.

I know it, sometime saya juga gitu kok. Karena ya mood lagi nggak baik aja jadi gampang kesinggung. Masalahnya ada di diri kita sendiri, kalau lagi gini. Bukan salah orang lain.

Tapi kalau sampai diemin orang yang bikin kita kesinggung itu lama-lama, bersikap beda... itu kayaknya nggak banget ya. Selama becandaannya wajar banget, omongannya wajar banget nggak menyinggung prinsip, harga diri bahkan takdir yang kita jalani sebagai manusia... memaafkan itu nggak pernah salah.

Next Page Home