Thursday, February 11, 2016

Puding Roti Timtam

Saya merasa memasak itu adalah sebuah skill yang harus sering dilatih terus menerus. Jika tidak ya bakalan banyak yang lupa. Lupa sama takaran bumbu dan trik-trik dalam memasak tentunya. Yah akhirnya saya bisa posting lagi resep masakan setelah sekian lama, emmm... lebih dari 3 tahun kayaknya ya... Memasak bagi saya kala itu adalah cara untuk bertahan hidup dengan hemat tanpa terlalu nelangsa *lah :D Kalau sekarang memasak ya karena senang, senang memasaknya juga senang kalau hasil masakan habis dimakan.

Lama banget nggak bikin puding, akhirnya saya kangen juga puding bikinan sendiri yang semurah makan paket di counter fastfood tapiii dengan jumlah yang banyak bikin kenyang dan bisa diatur sesuai selera. FYI, puding adalah salah satu cemilan mudah cepat masak yang saya sukai.

Bahan-bahan:
1 bungkus bubuk puding rasa cokelat
1/2 bungkus bubuk puding warna merah
1 bungkus timtam biskuit rasa apa saja, potong-potong
Roti tawar, saya lebih suka yang tanpa kulit
Susu kental manis / creamer kental manis
Gula secukupnya
Air putih

Cara membuat :
1) Masukkan bubuk puding ke dalam panci, campur gula secukupnya dan air. Aduk aduk.
2) Rebus dengan api kecil
3) Campurkan susu kental manis atau creamer kental manis, aduk-aduk hingga mendidih
4) Siapkan loyang tahan panas, masukkan roti tawar dan timtam
5) Matikan api, biarkan sebentar, kemudian masukkan ke loyang yang telah ada roti tawar dan timtam. Tips tuang pelan-pelan saja dengan menggunakan centong sayur, kalau dituang banyak-banyak dari panci langsung naik keatas isiannya. Tips ini sudah saya ketahui lama sekali tapi ternyata lupaaaa... jadinya kayak begini deh :




Saya juga nggak menyisakan bubuk puding cokelat jadi ya harus bikin tutupannya sebagai improvisasi dengan puding warna merah. Haha. Iya jadi sebenarnya lapisan merah pada puding ini improvisasi.
6) Biarkan sampai puding mendingin dan masukkan ke lemari es sampai mengeras
7) Ulang langkah 1,2, dan 3 untuk puding merah.
8) Siramkan diatas puding cokelat yang mengeras hingga roti-roti tawar dan biskuit yang naik berada dibawah lapisan



9) Diamkan dan simpan di lemari es
10) Pindahkan dari loyang sesuai selera, beri topping saus cokelat dan meses
11) Siap dinikmati


Untungnya enak banget meskipun ditengah-tengah harus improvisasi karena ada failednya, adegan roti dan biskuit naik ke permukaan :D
Resep kue ini cepat dan gampang buat cemilan temennya kopi sama teh.

.


Tuesday, February 9, 2016

Nyinyir Bulan Februari



Nggak terasa sudah tanggal segini aja, bulan February. Makin dekat sama Valsday. Makin dekat dengan komentar pedes dimana-mana.
Belum lama ini saya baca komentar dari seorang teman blog di postingan saya yang ini, mengenai bagaimana dia dituduh teman-temannya merayakan Valsday karena beli cokelat pada saat diskon Valentine. I don't celebrate Vals day, but I'm an ordinary person who loves promo and discount. Sama seperti saya tidak merayakan tahun baru masehi maupun hijriah dengan perayaan khusus namun saya selalu suka diskon akhir tahun, promo akhir tahun, cuci gudang akhir tahun dan semacamnya. Yah saya masih wanita biasa yang suka berbinar matanya kalau lihat diskon :D

Seperti biasa, setiap event sering bertebaran debat.. paling banyak ya di media sosial.
Jreeengg ada yang posting seneng dapat kado valentine.
Beberapa jam kemudian menyusul komentar mengenai asal muasal hari Valentine dan bagaimana itu bukan sesuatu yang pantas kita rayakan, terutama bagi muslim.
Selisih beberapa waktu kemudian sudah mulai seliweran komentar nyinyir yang enggak enak dibaca. Ada yang komentar di postingan itu, ada yang kontra no mention via akun postingnya sendiri, ada pula yang nyindir pake maki-maki entah pake status atau pakai gambar.

Saya termasuk jenis orang yang bisa dibilang pasif di media sosial. Mungkin yah mungkin nambah tua jadi bikin orang males ribet, males sama yang namanya ribut-ribut :p
Saya nggak merayakan valsday, pun bukan termasuk orang yang menyetujuinya.
Ketika ada orang yang posting mengenai sebab kurang pantasnya ini dirayakan dari sudut pandang agama, saya setuju... asal memang diniatkan untuk dakwah dan ngasih info sama orang-orang yang belum tahu (eh jangan salah loh... ilmu agama itu luas, jadi sangat wajar kalau ada hal-hal yang kita belum tahu hukumnya dan jadi tahu setelah baca postingan akun-akun dakwah), nggak pakai caption nyinyir apalagi nyindir no mention. Maaf, tapi saya keseringan ketemu orang yang posting dakwah demi pembenaran tingkah lakunya yang kurang baik, atau hanya untuk menyindir orang-orang tertentu yang dia kenal. Enggak... saya nggak kesal sih, clear enough kan ya yang dia sampaikan tetap benar dan layak untuk dipikirkan terlepas dari siapa yang posting dan tujuan terselubungnya.

Saya paling suka sama orang yang posting secara halus soal hukum agama vals day ini, beneran deh... yang adem-ademan, yang ngasih tahu gitu sifatnya. Yang berbagi karena sedih dengan tradisi dan punya maksud untuk memperbaiki itu meskipun dengan langkah kecil seperti sebar posting dakwah di media sosial.

Nah yang paling saya keselin adalah kelompok nyinyir berikutnya, yang entah kenapa kok hobi banget komentar negatif sama orang yang nyebar peringatan agar para muslim nggak merayakan vals day, tahun baru, atau menghimbau bahwa ucapan hari raya untuk pemeluk agama lain itu nggak perlu asal kita sama-sama toleransi. Terlebih kalau yang komen negatif ini... dianya juga muslim... lah menurut ngana? :))

Saya percaya bahwa kalau toh kita belum dapat menjalankan semua hal-hal yang wajib ataupun sunnah, hal-hal yang dicintai Allah... ya sudahlah... jangan menghina, jangan nyindir, jangan ngajakin debat berantem orang yang memilih menjalankannya... entah berdakwah, entah berhijab, entah bercadar, entah berjenggot...

Jangan salah kaprah... orang mau nyari perhatian dan kecintaan Allah kok dinyinyirin, emangnya kita mau dijewer sama yang lagi mereka cari perhatiannya itu?
Nggak kan yah...


.

Sunday, February 7, 2016

{ Review } Cut The Crab


Beberapa minggu kemarin saya janjian ketemu Monik di Cut the Crab, resto seafood berkonsep makan di meja langsung seafood yang kamu pesan. Makan di meja tanpa piring dan instrumen makan lainnya. Sebelum banyak restoran sejenis saat ini, saya pikir Cut the Crab lah pioneer resto makan sea food dengan cara makan di meja.

Saat itu kami memesan kepiting soka yang bisa langsung makan tanpa rempong kupas-kupas karena saat itu saya lagi flu dan demam, kelaperan dan pengin makan cepat. Set menunya paket per porsi. Kami memesan paket kepiting soka dengan kerang, udang, sosis dan brokoli. 2 porsi nasi dan teh tawar.

Setelah kami memesan makanan, pelayan segera melapisi meja yang kami tempati dengan plastik dan kertas minyak juga memberikan celemek cut the crab untuk menghindarkan dari cipratan makanan ketika sedang menikmati hidangan. Ketika pesanan sudah siap dihidangkan, pelayan dengan berhati-hati membuka bungkusan-bungkusan plastik berisi makanan yang kami pesan diatas meja kami.
































Oalah ini toh makananya... terlihat banyak banget loh semua paket lauk ditambah jagung dan ubi yang baru ngelihat aja udah bikin berasa kenyang *padahal akhirnya habis juga haha*. Kalau nggak salah pakai bumbu saus padang. Enak sih, kepitingnya renyah, sosis enak, jagung dan ubinya manis mengenyangkan. Agak ribet makan kerangnya soalnya kudu dilepas dulu dari cangkang. Enak semuanya, tapi di lidah saya bumbunya masih kurang nendang. Apa mungkin ekspektasi saya yang ketinggian ya? Susah juga karena saya malah jadi kebayang rajungan kare pedas asal kampung halaman yang gurih dan spicy.

Restoran nyaman, pelayanan ramah dan bisa dibilang cepat. Makan bisa sambil ngobrol lama dan ada musholla juga, kalau mau sholat jadi nggak bingung.
Oh ya lupa motret menunya, tapi menu makanan paket berdua di resto ini kalau nggak salah inget mulai dari 100,000an per porsi.


.


Saturday, February 6, 2016

While Stay at Home

I made 1 small box of snack for his night shift working, he smiled. Priceless.
I want to prevent him from hungry but too busy to leave his work for buy himself food.
He BBMed me on his working hours and say : thank you, I love the food. I'm full :)
Snack for night shift, simple breakfast for busy morning. I really made his day, he said.
Anyway I'm happy. Happy to see he loves my food, happy because I realized I do take care of him.


.