"Padahal dia keras banget sampai anarkis mbak, 'ringan' tangan gitu..."
"He...? Terus kenapa temanmu masih mau?"
"Dia punya cita-cita punya suami kaya mbak..."
"Jangan ditiru ya...," komentar saya pada cerita si adik, setengah menegur.
"Masa muda kamu masih panjang. Ketika kita ada di usia seperti ini memang ada godaan-godaan memiliki rumah tangga cepat-cepat. Karena itu fase yang belum kita lewati. Tapi kamu ada didunia bukan semata-mata untuk senang-senang. Bukan dongeng yang putri menikah dengan pangeran lalu happy ever after. Nggak pernah merasa menderita lagi. Hidup terus berputar dari satu cobaan ke cobaan lain. Kalau mulus terus, bisa jadi dia belum berada dalam kehidupan.
Sekarang kamu dengar pesan ibu dulu, bagaimana kalau kamu cuma mengurus rumah tangga... kemudian suamimu yang tulang punggung keluarga mendadak meninggal? Anakmu masih kecil-kecil. Bagaimana kehidupan kamu setelah itu? Bagaimana jika lelaki yang jadi suamimu tidak setia kemudian meninggalkan kamu yang menjadi istrinya? Bahkan suami yang terlihat begitu mencintai istrinya pun punya potensi menjadi tidak setia. Ada keadaan-keadaan tertentu yang mendorong perilaku demikian, meskipun sebelum-sebelumnya tidak begitu."
Wanita harus punya pekerjaan. Harus. Pesan ibu saya sewaktu beliau masih hidup. Pesan yang bagi saya sangat masuk akal.Sementara menurut saya pencapaian bukan dalam hal semempesona apa pasangan kita, sekaya dan sebagus apa pekerjaan yang dia geluti.
Pencapaian adalah apa yang berhasil kita peroleh dalam hidup dengan usaha sendiri, entah pekerjaan entah sekolah entah kecerdasan atau malah kekayaan. Bukan diukur dari se'mengkilap' apa pasangan yang berhasil kita peroleh.
~

