Monday, September 26, 2016

A PLAN TO MOVE

pic taken random by Google
Saya percaya rumah bukan sekadar tempat tinggal, tempat tidur dan melakukan aktivitas harian lainnya. Rumah bukan juga hanya tempat berteduh dari panas maupun hujan. Tapi rumah seharusnya adalah pusat dunia kita, dimana didalamnya tinggal keluarga yang selalu kita rindukan ketika harus terpisah jarak. Rumah adalah tempat pulang terbaik dari hati, semestinya. Yang kenyamanan berada di dalamnya tidak tertandingi bahkan oleh hotel berbintang sekalipun. Tempat dimana kita merasa nyaman dan aman dari segala apa yang ada di luar sana.

Setelah sekian lama, rumah bagi saya adalah tempat tinggal temporer yang menjadi pusat kenyamanan karena kepentingan pekerjaan. Sekalipun tempat tinggal temporer tapi paling tidak dalam sepetak kamar yang saya sewa, saya selalu berhasil menemukan kenyamanan dan privasi saya sendiri. Bagi saya, yang paling utama dari kenyamanan sebuah rumah dan tempat tinggal adalah seperti itu. Dimana kenyamanan menjadi faktor penting yang tidak pernah tidak kita rasakan saat berada di dalamnya.

Well ketika menikah, sebagai pasangan muda, saya dan suami tentu juga pernah terlibat perbincangan mengenai rumah. Beberapa diantaranya juga melibatkan pembicaraan dengan orang tua. Si bokap pernah menganjurkan kami untuk membeli rumah di Perumnas karena program perumahan murah yang mereka jalankan sementara mertua menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada kami. Saat ini Perumnas juga menggawangi program sejuta rumah yang menyediakan rumah dengan tipe kecil untuk keluarga masyarakat berpenghasilan rendah dan non masyarakat berpenghasilan rendah sebagai langkah untuk mensejahterakan masyarakat. Lebih dari layak untuk memiliki rumah sendiri sekecil apapun selama rumah kita sendiri yang dibeli dengan hasil kerja keras ya kan?

Namun ada beberapa kebimbangan yang saya dan suami masih pikirkan, salah satu diantaranya adalah tempat kerja. Suami yang bekerja di tengah kota sementara kesediaan lahan pembangunan rumah yang biasanya terdapat di luar kota. Tentu saja dia bisa pulang pergi setiap hari, tapi dengan begitu ada resiko kelelahan dan waktu berkualitas yang jauh berkurang dibanding sebelumnya.

Kami banyak mengumpulkan brosur rumah setiap kali hadir di pameran-pameran properti, kami juga pernah mempertimbangkan apartemen sebagai tempat tinggal sebelumnya. Apartemen yang tidak terlalu besar akan lebih cocok untuk saya dan suami karena maintenance-nya mudah dan untuk keluarga kecil kami juga masih muat jika Allah mengizinkan kami memiliki 1-2 keturunan dalam waktu dekat. Apartemen yang minim interaksi dengan tetangga juga memiliki kelebihan, kami tidak perlu kerepotan untuk kegiatan pertetanggaan dan semacamnya, hanya fokus mengurus keluarga.

Saat ini keputusan kami adalah untuk pindah ke sebuah rumah yang tidak jauh letaknya dari rumah tinggal ayah ibu mertua, sekitar tahun depan. Meskipun keputusan ini belum sepenuhnya final yang berarti masih terbuka luas kesempatan bahwa kami mungkin akan pindah lagi ke rumah lain setelah menemukan lokasi dan rumah yang sesuai dengan budget namun harus saya akui tinggal dekat dengan orang tua akan lebih menyenangkan. Kami mungkin sudah bisa dibilang mandiri dan berkemampuan untuk mengurusi keluarga sendiri, namun tetap memiliki waktu untuk berkunjung dan menyenangkan orang tua. Dengan mengunjungi mereka atau memasakkan kue dan makanan kecil yang mereka suka, kalau ala saya.

Sounds perfect, isn't it?

Sunday, September 25, 2016

TENTANG SAYA DAN KESEHATAN GIGI


Mungkin teman-teman yang sejak dulu sering mampir ke blog saya ini tahu kalau dulunya saya adalah pemakai kawat gigi. Saya mulai memakai kawat gigi pada tahun ketiga kuliah hingga menjelang training awal kerja. Total pemakaian kawat gigi saya adalah selama 2 tahun. Karena posisi saya saat itu sedang tinggal di Malang, maka pemakaian dan perawatan kawat gigi tersebut saya lakukan di kota Malang. Saya ditangani oleh seorang dokter gigi spesialis orthodonti yang prakteknya tidak jauh dari gereja besar di bilangan jalan ijen.

Teman-teman mungkin bertanya-tanya apa alasannya saya mendadak pasang kawat gigi saat itu, padahal sebenarnya keputusan untuk memakai kawat gigi adalah hasil dari pertimbangan bertahun-tahun, tidak cuma keinginan insidental semata karena kawat gigi sedang beken pada masa itu. Well, nggak juga sih masih lebih beken sekarang mungkin ya.

Keinginan pakai kawat gigi pertama tercetus ketika saya masih SMA, waktu itu masih sekadar pengin merapikan gigi saya yang bertumpuk pada bagian taring setelah untuk kesekian kalinya kontrol gigi di tempat praktek kakak sepupu saya untuk cek gigi saya yang pernah berlubang dan pembersihan karang gigi. Orang jawa bilang bentuk gigi seperti yang saya miliki namanya gingsul.

Bentuk gigi yang bertumpuk atau pun tidak beraturan, perlu diketahui bahwa akan berdampak terhadap kesehatan gigi. Gigi yang tidak rapi harus rajin dibersihkan sebersih mungkin, tapi tetap saja tindakan yang kita lakukan sering tidak bisa optimal karena ada area yang tidak terjangkau alat kebersihan gigi yang kita pakai sehari-hari seperti misalnya sikat gigi atau benang gigi.

Mungkin sebagian orang menganggapnya sepele tapi saya sering mengalami sakit gigi hingga gigi berlubang pada periode waktu SMP hingga SMA karena efek dari gigi bertumpuk saya. Dan sesakit-sakitnya hati, kalau capek menangis masih bisa tidur dan kalau laper masih bisa makan. Tapi nggak demikian halnya dengan sakit gigi, ngantuk tapi nggak bisa tidur, laper tapi nggak bisa makan. Bawaannya galau melulu karena masukin makanan buat dikunyah juga sakit, ngomong banyak juga jatuhnya sakit, syukur-syukur kalau pipi nggak bengkak sebelah. Tapi karena saat itu belum di setujui orang tua maka saya melupakan keinginan tersebut.

Nah ketika kuliahlah mulai berasa perawatan gigi saya ini cukup lumayan untuk ukuran saya yang masih mahasiswa dan baru bisa mengumpulkan penghasilan sendiri melalui tulisan fiksi di beberapa majalah. Ada fasilitas pembersihan karang gigi di kampus dengan harga yang terjangkau, tapi masalahnya gigi saya nggak cukup hanya dibersihkan 6 bulan sekali. Kurang dari itu karang giginya sudah banyak, lagi-lagi pengaruh gigi bertumpuk dan ada satu gigi yang dulunya berlubang cukup parah sehingga mengunyah makanan juga sudah beda lagi.

Ketika sudah beneran capek, maka saya minta izin kepada tante saya yang merupakan tempat saya bertanya terhadap pertimbangan apapun karena tidak adanya si mami. Tante saya setuju, beliau juga mengemukakan ada titipan uang dari mami saya rahimahullah kepada tante untuk itu.

Masuk tahap ini, saya sudah beneran mantap dan sudah mencari tahu pandangan Islam mengenai kawat gigi ini. Jadi kalau ada yang bilang ini tandanya merubah ciptaan, sebenarnya nggak. Tergantung keperluannya itu sendiri. Kalau memang tujuannya untuk gegayaan, giginya sudah rapi tapi kurang puas di rapiin lagi untuk gaya atau apa maka sebaiknya jangan. Kecuali memang ada alasan-alasan kesehatan juga beserta itu. Sama seperti kalau gigi kita diganti gigi palsu emas atau perak, jika memang harus begitu ya tentu saja dibolehkan jika dengan pemasangan gigi palsu maka dapat membuat kita makan dan berbicara dengan lebih baik, tapi kalau gigi sengaja dicopot untuk pamer kalau gigi kita terbuat dari logam mulia atau berlian nah itu yang jangan.

Awalnya saya datang ke sebuah klinik gigi tidak jauh dari kos yang juga menyediakan fasilitas untuk pemasangan dan perawatan kawat gigi, saya disarankan untuk langsung ke spesialis orthodonti karena gigi saya memiliki beberapa masalah. Salah satunya ada letak gigi yang terbalik antara gigi taring dan gigi sebelahnya selain letak gigi yang bertumpuk. Gigi yang tidak rapi mempengaruhi kemampuan mengunyah, berbicara dengan jelas dan seperti masalah yang saya miliki pembersihan gigi yang sukar dilakukan menyebabkan karang cepat menumpuk atau gigi berlubang. Padahal saya rajin sikat gigi dan berkumur dengan mouthwash setelahnya.

Jadi itulah alasan saya untuk memasang kawat gigi waktu itu, berikut dengan alasan mengapa saya melakukan semua perawatan di dokter gigi spesialis orthodonti ini, bukan karena gegayaan atau apa tapi memang karena keperluan.

Mungkin sebagian dari kita berpikir untuk memasang kawat gigi juga tapi tidak siap dengan konsekuensi lamanya perawatan, komitmen kontrol dan juga tidak siap untuk memiliki gigi yang tidak utuh pada awal perawatan karena pencabutan gigi. Veneer gigi dapat dilakukan untuk mengatasi hal ini, waktunya relatif lebih singkat dibanding kawat gigi dan tidak harus bolak-balik kontrol dalam jangka waktu lama.

Seorang teman baik saya - beda kepercayaan dengan saya - meminta saran untuk memperbaiki giginya karena tahu saya pernah menjadi 'behelita' dulunya karena dia orang yang malas kontrol sementara harus macet-macetan dulu sepulang kerja di ibukota. Saya bertanya kepada teman baik saya tersebut apa dalam agamanya ada larangan untuk mengikir gigi atau hal-hal yang berhubungan dengan kecantikan gigi? Dia menjawab tidak, maka saya bilang kalau mungkin dia bisa mempertimbangkan veneer gigi, untuk cek harga veneer dan klinik gigi yang nggak jauh dari tempat tinggalnya maka dia bisa browsing di Konsula.com. Situs yang di dalamnya memuat informasi klinik dan pelayanan kesehatan lengkap dengan dokternya, salah satunya dokter gigi. Kita bisa melihat harga untuk jenis pelayanan seperti pembersihan karang gigi, kawat gigi dan sebagainya . Untuk veneer gigi ini, biayanya mulai dari 500,000.

Veneer tidak saya rekomendasikan untuk teman-teman yang muslim, karena mungkin dalam prosesnya juga ada pengikiran gigi. Sementara kita tidak diperkenankan mengikir gigi. Untuk lebih lengkapnya mengenai veneer gigi ini bisa ditanya-tanya ke klinik gigi terdekat atau via Konsula.com. Karena bagaimanapun saya bukan pakar di bidang ini :)

Teman-teman punya pengalaman atau saran dalam perawatan kesehatan gigi? Sharing yuk :D

Thursday, September 22, 2016

BERJILBAB JUGA PENGIN CANTIK, KOK!


"Mbak kok perawatan rambut segala? Mbaknya kan berjilbab?" sering deh saya dapat pertanyaan seperti itu dari mbak-mbak yang menangani saya di salon ketika saya sedang pengin perawatan rambut sekalian dipijet kepala biar nggak terlalu pusing menghadapi realita hidup rutinitas gitu di sebuah salon khusus wanita. Mbak-mbaknya nggak berjilbab dengan rambut panjang yang dicat semi blonde. Mungkin teman-teman yang berjilbab juga sering dapat pertanyaan serupa kalau lagi ke salon ya? Dulunya sih memang saya belum pernah ketemu salon muslimah, jadi asal salon khusus wanita yang tertutup untuk cowok mah hayuk aja.

"Masa berjilbab nggak boleh terawat mbak? Namanya juga cewek semua pengin cakep, ya nggak?" saya senyum-senyum, membenarkan posisi handuk panas di kepala. Mbaknya membalas senyum saya, mungkin juga dia bingung mau jawab apa.

Benar kan? Nggak ada cewek yang nggak pengin cantik kok, dasarnya wanita itu seneng yang cantik-cantik, yang indah-indah, yang imut-imut atau yang mereka sering gantikan menjadi 'iiihhhh lucuuuu bangeeettt' untuk menggambarkan betapa cantik, indah atau imut suatu hal. Saya juga sih haha, watercolor warna pastel aja saya bilang 'lucu'. Kebiasaan ini bikin para pria heran dan nanya, "Bagian mananya yang lucu? Eh kok kamu nggak ngakak?"

Apalagi ketika sudah menikah, dari yang awalnya kegiatan merawat diri lebih ke acara suka-suka kita, menjadi sesuatu yang harus kita usahakan. Wanita muslimah meskipun dilarang dandan berlebihan memancing pandangan mata khalayak kalau keluar rumah, justru harus dandan dan terawat kalau ada di rumah. Cantik di depan suami untuk menyenangkan pandangannya justru adalah anjuran, berpahala jika dilakukan. Mungkin ada yang ngerasa nggak perlu usaha-usaha amat karena sudah ngerasa cakep memang, sementara saya... yah saya mah apah kak masih perlu usaha :D Saya sih sebenernya masih perlu inget-ingetin diri sendiri juga tentang jadwal merawat diri ini. Karena kan di rumah pake baju tidur doang, muka kucel dan rambut awut-awutan sambil maraton drama itu nyamannya nggak tertandingi, ya nggak sih? Padahal mesti dikurang-kurangin yang begini ini.

Kadang kalau capek banget-banget saya juga suka body treatment sekalian massage. Seger deh badan pas abisan massage, memang nggak sering-sering sih cuma pas kalau lagi capek banget aja... itu juga saya sudah nggak lagi-lagi body treatment, paling cuma massage ala kadarnya sekadar capek ilang aja. Kenapa? Soalnya saya mayan kesel kalau di tempat body treatment dan di hadapan mbak yang bertugas suka disuruh lepas-lepas pakaian gitu. Padahal ada batasan aurat antar perempuan juga yaitu sebatas lutut dan baju lengan pendek. Sering merasa keganggu dan sebel karena mbak-mbak manapun di tempat manapun yang saya datangi kok suka ngomporin dengan kalimat bernada maksa dengan alasan: "Kan susah mbak di treatment-ya kalau masih pake baju lengkap gini, setengah-setengah jadi nanggung," atau "Kemarin saya dapat customer orang arab lho mbak tapi dia langsung buka baju semuanya aja cuek tuh,"

Hadeuh. Help!

Mbaknya mungkin belum ngerti kalau batasan aurat itu bukan soal orang arab atau non arab, dan gimana ya jelasinnya ke mereka itu suka susah gitu huhuhu. Apalagi kalau dianya ngeyel padahal udah dijelasin. Lha bukannya dia mesti nurut aja kata saya ya nggak? Kan saya customernya. Kalau saya sudah bilang 'enggak' sama anjuran dia, apa ya bayarnya jadi beda? Toh saya bayarnya juga sama. Suka gitu deh ah.

Karena itu makanya saya sudah malas body treatment di luar kalau nggak butuh-butuh banget, lebih suka perawatan sendiri di rumah. Lagipula sekarang ini, butuh beli skincare apapun lebih gampang via e-commerce cuma modal ongkir doang. Masih lebih mahal biaya bensin, parkir dan makan minum kalau kehabisan tenaga ngiderin mall kalau niat cari dan beli langsung. Saya suka browsing di Lazada untuk beberapa produk biar langsung sekali kirim jadi hemat di ongkir.


Selama ini saya sudah sering belanja di Lazada untuk aneka produk diskon seperti setrikaan, seprei, produk skincare dan overall memuaskan. Biar totalan belanjaan semakin murah, sebelum mampir ke Lazada saya mampir dulu ke Paylesser Indonesia untuk cek voucher promo. Paylesser Indonesia adalah sebuah perusahaan yang bervisi untuk memberikan kepuasan pada pelanggan melalui belanja online dengan harga yang lebih murah dari biasa. Dengan jargon 'Why Pay More', Paylesser cucok banget untuk kita para wanita yang doyan belanja online tapi nggak cuma sekadar mau mudah tapi juga murah. Lha belanja online kan nggak bisa ditawar-tawar kayak di pasar malam, jadi manfaatkan voucher diskon yang ada semaksimal mungkin.


Untuk pilihan belanja, salah satu brand body and hair care favorit saya adalah TBS atau The Body Shop. Well sebenarnya nggak cuma The Body Shop, tapi saat ini lagi seneng banget dengan shampoo-nya yang wangi natural dan bikin rambut saya bagus. Jadi habis keramas, keringnya cakep gitu kalau dikibas jatuhnya bagus, nggak lengket terlalu lembab tapi juga nggak kering. Pas banget. Sabun mandinya TBS juga super wangi. Kalau untuk body scrub saya suka produknya Wardah soft scrub variant Strawberry karena wanginya enak dan lembutnya tahan lama. Enak deh kalau udah capek seharian, sebelum mandi pakai body scrub ini wanginya ngikutin terus bikin tidur pules. Harga di Lazadanya sih sudah bagus ya, sering promo juga kok tapi bakalan lebih murah kalau kita cek dulu voucher Lazada untuk produk kecantikan melalui Paylesser.

Belanja banyak produk berkualitas dengan harga yang lebih murah daripada aslinya itu kepuasan tersendiri lho bagi perempuan, setidaknya bagi saya. Manteman juga sama? Atau prinsipnya justru lebih mahal lebih keren, kualitasnya belakangan? Hehe yuk ah ngobrol di kotak komentar :D


Next Page Home
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...