Friday, December 11, 2009

KEPADA BINTANG

Kepadamu Bintang...
Hari ini akan kujabarkan, segalanya yang tidak tampak namun melingkupi. Sudah berjam-jam aku berusaha membongkar pasang kata, agar semuanya tampak layak dan menjelaskan. Tapi ketika berhadapan dengan sebingkai layar ini, dengan kertas virtual kosong yang kuhadapi, semuanya mendadak hangus dan menguap. Jadi aku hanya membiarkan jari-jari dan hatiku berkolaborasi membimbingku membongkar gumpal resah yang kurasai disini.

Kepadamu Bintang,
Iya, kamu Bintang. Dan kamu satu-satunya bintang. Pernah sekali aku menyangka lampu pesawat terbang di langitku itu bintang. Tapi tidak, aku salah mengira.. kedatangannya dilangitku yang sekelebat lenyap bukannya ajeg sepertimu, meskipun kadang kamu diculik awan. Hanya sebentar, aku yakin hanya sebentar.

Kamu juga tentu tau, aku bukan jenis yang ekspresif. Aku tidak bisa mengungkap rasaku sendiri dengan begitu gamblang, dengan begitu meyakinkan. Terutama jika soal kamu, terutama jika sudah kepadamu. Siapapun (termasuk kamu mungkin) yang mendengarnya biasanya hanya akan mengulang tanya dengan ragu. Yakinkah? Apa aku hanya sekedar bermimpi dan mengigau diwaktu yang tidak tepat?

Untukmu Bintang,
Berjuta rangkaian kata telah kusiapkan.. tapi seperti yang kubilang tadi semuanya memupus dan aku merasa kosong ini tidak membantu. Mungkin kamu akan tetap tidak mengerti, dan tetap melontar tanya. Maaf, entah bagaimana caranya aku bisa benar-benar jujur pada hatiku, pada rasaku, pada kamu.

Aku pernah mendengar tentang beda orang yang kita cintai dan orang yang sudah menjadi bagian tidak terganti. Sementara aku tidak tahu, apa kamu cinta yang wujudnya bisa berubah dan berpindah, bisa berkurang atau bertambah atau malah kamu jantung atau bahkan nafas yang tanpamu sepenuhnya.. aku tidak bisa tidak merasa punah.

Kepadamu Bintang,
Kali ini rinduku mengkristal. Mungkin sama mengkristalnya dengan kejujuran kita akan perasaan. Ya... perasaan, entah sudah berapa lama tepatnya kita berhenti menyentuh topik itu. Dalam jarak ini aku dan mungkin juga kamu merasa aman. Segalanya terkendali seperti halnya dulu, nyaris begitu setara asal kita tak sama-sama berusaha menjajaki hati masing-masing.

Kepadamu Bintang,
Aku ingin bilang bahwa aku peduli. Pada tiap cercamu, pada tiap resah dan rasa sakitmu. Aku peduli, dan kepedulian ini membawaku untuk tidak pernah sanggup membiarkan kamu sendiri. Aku tidak peduli, meskipun karenanya kamu mampu mengubah aku serta merta jadi norak dan menuliskan bermacam analogi yang tak begitu cantik. Toh nyatanya aku juga tidak keberatan kamu buat jadi norak.

Kepadamu Bintang,
Kemudian aku merasa diingatkan, untuk tidak mengira ini dapat berjalan selamanya. Karena ada sesuatu yang suatu saat akan berakhir ditengah, ada juga yang mestinya terus sampai ketika waktu jadi buntu. Mungkin nanti kamu juga akan menemukan bintang untukmu sendiri. Yang bisa membuat tiap torehan apapun yang kamu ciptakan untuknya beroleh jiwa.

Bintang,
Sampai pada perjalanan ini aku tidak bisa melihat jelas antara mayor dan minor. Segalanya nampak begitu absurd dan kehilangan batas, aku juga kehilangan kemampuan menangkap beda. Maka aku jadi membenci, tentang segala persepsi soal posisi. Dan sampai batas ini, aku hendak berhenti. Bukan berhenti atasmu, bukan berhenti atas ini.

Dan Bintang,
Mungkin kamu akan mencercaku jika berhasil tahu kemana kukirim serpihan ini. Jika berhasil membaca apa yang tersirat. Tentang aku yang membiarkan semuanya selalu mengalir demikian adanya. Membiarkan tangan takdir selalu membawa aku seperti seharusnya, akhirnya.. mungkin kamu gemas akan bosan.

Tapi bukankah, Tuhan selalu memberikan apa yang kita butuhkan dan bukannya apa yang kita inginkan?
Sementara bagiku keduanya demikian hablur dan menjurus pada gelap kabut. Saat ini aku sedang tidak tahu beda ingin dan butuh.

Bintang,
Aku mau menulis ini di larik paling akhir, aku juga tidak mendapat alasan yang logis untuk pertanyaan kenapa. Mungkin karena ini yang paling akhir, jadi aku bisa berspekulasi kamu akan lupa membacanya jika entah kapan berhasil menemukan ini menghampar di penglihatanmu.

Bahwa ternyata, perasaanku ke kamu tidak secepat pergi embun di pagi hari, yang lenyap didesak surya.

61 comments:

Unknown said...

bintangpun mengangguk2 saja membaca suratmu, Nin. hehehe

Ninda Rahadi said...

nyolong pertama aaahhhhh....... *minum susu

Ninda Rahadi said...

haaaaah ternyata kalah ngetik pertama di postingan sendiri hikshiks.. T^T kalah sama mbak Fanny


@Nchi yang selalu ngapelin nyuruh update, kapan-kapan kamu aja ya Nchi yang aku UPDATE*ketawa setan

FATAMORGANA said...

he...he.... yang punya tulisan kalah ceper ngetik nih..

Diksinya mantap banget.

jha said...

Hari ini aku kembali ke tempat ini. Tak seperti biasanya, aku datang ke tempat itu dengan membawa semua bebanku. Aku mencurahkan semua penatku, melepaskannya dari pundakku. Aku ingin semua bebanku hilang terbawa angin senja dan kubiarkan diriku ini dibelai oleh bunga-bunga ilalang yang berdansa dengan anggun.
Aku tertidur oleh bisikan angin yang bercerita tentang dewi ilalang yang selalu menari-nari diiringi melodi dari sang angin. Terdiam, aku hanya bisa terdiam mendengarkan angin bercerita. Aku tersenyum saat angin bercerita tentang pesona ayu sang dewi ilalang. Perlahan-lahan aku tertarik untuk bertemu sang dewi, namun angin melarangku lalu berhembus kencang. Aku tak tahu apa yang terjadi, saat mataku terbuka, aku tergeletak di atas tempat yang lembut. Entah apa itu. Bunga-bunga ilalang berterbangan tertiup angin. Putih tipis terbang bersama angin senja.
Kulangkahkan kakiku memasuki rimbunan ilalang yang terasa seperti menarikku. Bunga-bunga ilalang berterbang dan berjatuhan seperti musim salju. Membuatku semakin masuk dalam dunia mimpi.

Blogger Admin said...

siapa sih si bintang itu?sinarnya kok bukane memberi terangnya malam tp justru membuat resah,ruwet penuh konflik....aq rasa 'dia' bukan bintang!

Clara Canceriana said...

Bintangnya siapa sih nyin?
hihihiih....

btw, so sweet banget ^^

Yolizz said...

waahh... ni perasaan rindu buat seseorang yah?! siapakah bintang itu?!

Pelakon Takdir said...

salam sejahtera...
saya sudah mendapatkan jawabannya.berkat do'a dan semangat dari semua
terima kasih
salam sejahtera..

Kang Sugeng said...

Wow... luar biasa... saya tuh paling suka mbaca model karya tulis kayak gini, benar2 luar biasa,
Kata2nya sangat pas dng makna yg ingin disampaikan, ijin saya bookmark, suatu saat saya baca ulang.

Jadi ingat sama Mbak dwina Si Bintang Air.

Kang Sugeng said...

Itu komen saya serius lho Nin, saya suka banget sama rangkaian kata ini.

Sangat menginspirasi saya untuk menulis puisi lagi.

Adi said...

Hahaha, maw dngar crita grandpa?
Bgini critany: dluny bumi ini tdk ada apa2 lalu ada orng yg sling mencintai kmudian hati mereka brubh mnjdi bintang, membwa jutaan chya d luar angkasa. Jdi kurasa ada bgtu bnyk cinta d dunia ini, baik yg trlihat ataupun yg sdang tidak trlihat. Mreka smua brjalan menurut orbit yg sudah dtentukan. Mreka tidak hlang, itu cahayanya...

didiet said...

sek bentar aku menghayatin dulu maknanya

Dees said...

Dan bintangku pun tak akan pernah mengerti apa yang ku inginkan untuk dipahami. yang akhirnya mengharuskanku untuk berhenti.

Dinoe said...

Wow..keren rangkaian kata-katanya...jika bintang itu tahu..mgkn dia kan menjawab semuanya...

-Gek- said...

Komennya Adi manis banget..

"bahwa ternyata perasaanku ke kamu, tidak secepat pergi embun pagi didesak oleh sang surya..."

Mantabs Nin!!!!!!!!!!!!!!!
*thumbs up
*nyembah2....

;)

Ferfau said...

"Kepadamu Bintang,
Iya, kamu Bintang."

ehemm.. baru ke sini eh udh disambut sama panggilan bintang.. bukan, mbak.. aku ferdi, bukan bintang, halah.... :))

salam kenal, mbak...

nice post,,,

aku follow ya blog mbak...
kapan2 kalau ada waktu, follow balik ya... amin... mudah2an... ^_^

RanggaGoBloG said...

mungkin Tuhan masih menyimpan bintang terbaik untukmu... bukan seperti pesawat yang nampak seperti bintang.. hehehehe

Sohra Rusdi said...

ternyata bisa merangkai kata yang bisa membuat orang terpana betul-betul indah

Aulawi Ahmad said...

untung bintang cuma bisa berkedip, coba kalau nggak dah dicerca dirimu he22, btw bener sekali kalau Tuhan paling tahu apa yg kita butuhkan, sedangkan kita mau tahu apa yang kita inginkan :)

Es Tebu Jogja said...

malam ne bintang mau ke kontrakan neh... katanya mau curhat...
mau titip salam g?
hahaha

SeNjA said...

mengalir seperti air,ungkapan kalimat mu tentang bintang dan rasa yg tak secepat hilangnya seperti embun.

mengalir dan membuatku enggan berhenti membaca nya hingga akhir....terus dan terus.

albertus goentoer tjahjadi said...

hemmm bintang.... kayaknya ini pribadi yang sangat spesial ya???

Unknown said...

Sebentar, aku mau ketawa dulu ah...huaauhahahahha...
mau nyolong komen pertama keduluan mbak Fanny
hahahahaahhahah...*guling-guling*

1. Bintang itu kalo di tempatku nama supermarket mbak..jadi wajar kalo banyak yang kirim surat, surat lamaran, surat utang dsb..
he..he becanda
2. Rindu itu gak pernah hilang dalam sekejap seperti menyapu embun atau debu, walaupun berusaha menghilangkan akan tetap bercokol dengan nikmatnya dalam benak kita
3. Kalo cinta kepada seseorang seperti lagu Ran " Tunjukkan Rasa Cintamu, buat dunia tahu"
jangan menulis surat pada bintang (kecuali yang disukai namanya bintang) he..he

Piss Out mbak!! Toss dulu!

Agung Aritanto said...

oh bintang tetaplah kau terangi malam ku dengan cahaya berkelap walaupun tak seterang matahari dan bulan

Unknown said...

kata bintang ; andai bintang bisa ngomong....^_^
pasti dia bakal bantu kamu..hohho

Anonymous said...

Fiuh...
Penasaranku trlampiaskan. Namun trgantikan akan keharuan saat ku telah butir-butir jejak hatimu nin?

Maaf, sblumny, apakah sang pujangga sedang rindu se rindu2ny hati kepada sang bunda?

Entah mengapa saat membca jejak hatimu, pikiranku menerawang k bundaku... Apakah kau merasakan yg sama?
Sekali lg maaf...
^^v


Cukup nangis bombaynya...
Oe...
Ntar ngurus prpanjangan smsterny bareng...
Lek kate ngomen komenku, nang fb ae yo...

Gandhi super duper cuakep...

Edo Belva said...

ahh..berat mbak..aku jadi grogi mbacanya..

Ngomong2, blognya udah aku follow balik nih,,
makasih..

SunDhe said...

suratnya kepada bintang yah?? kepada matahari ada ga?? kan matahari bintang yang besar :">, hehehe

mocca_chi said...

apdet, aku belum koment tapi kok uda dijawab??? ga seruuuuu

mocca_chi said...

klo ak nyin, sedang menunggu bintang yg selanjutnya, kr bintang yg kemarin sudah sangat sangat sangat tidak terjangkau.

mocca_chi said...

nyin, masi nulis novel?

Rizkyzone said...

hebat bisa bikin kata sepanjang itu, penulis ya sob ?

edi said...

Jangan Bintang, cintanya hanya dimalam hari!? qi qi qi qi qi qi qi!

^pakSapi^ said...

*ambil gitar trus nyanyi*

bintang dilangit, kerlip engkau disana ...

Dinoe said...

Nice puisi...met weekend..

Yanuar Catur said...

nin, jangan skeptis yah?? tau kan maksutku
hehehee

wisata gunungkidul said...

"Bahwa ternyata, perasaanku ke kamu tidak secepat pergi embun embun di pagi hari, yang lenyap didesak surya"

Dan seperti bintang yang menghilang ditelan mentari, sang embun pun kan sumringah menghampiri setelah becanda gurau dengan sang malam....

* PRof pindah rumah, rumah lama baru kena gempa, ambruk ketika baru kebuka 1 page, otak -atik dulu..:D

TS Frima said...

kali ini cuma berkunjung,
salam :)

Yanuar Catur said...

iyah, ntar aku jenguk kok
tapi bawa sesajen apa aku??
hehehehe

Blogger Admin said...

Ndi dek komen yg ngatain km playgirl?tok hapus ta?

Blogger Admin said...

oh komen nya fais ta?

annie said...

subhanallah, bagus banget, Nyin ...
pilihan katanya indah dan diksi yang apik.
Salut

Rezky Pratama said...

no komen dah,,cuma bisa liat saja

Slamet Riyadi said...

[Bahwa ternyata, perasaanku ke kamu tidak secepat pergi embun di pagi hari, yang lenyap didesak surya.]

wah masih tersisa perasaaannyha ya

Slamet Riyadi said...

:k:

oiya met weekend ya nien

:o:

badak jawa said...

met weekend juga ya nien

didiet said...

keyen..keyen....dua jempol untuk yg punya blog ini

fanny said...

ran sama kenichi tuh siapa ya? he hehe

genial said...

wuihhh... di mana mana bertebar cinta :(

Blogger Admin said...

anin,adek q syg,cpet di update yah,hehe

phonank said...

Jika aku jadi bintang,, maka kesetiaanku pada malam. akan aku korbankan hanya untuk menemanimu di dalam sepi,,

Khihiii... phonank si pujangga lapuk...

Minggu2 ini sudah jarang bisa ditemui bintang2 bertaburan indah di angkasa,, karena awan gelap menutupnya dengan lembut hingga kita tak bisa lagi melihatnya bersembunyi menemani bulan

phonank said...

Ketok pintu di malam hari...

^tok.. TOk.. Tok...

Bu Joko.. bu joko...

Andie said...

keren niinnn!!!!!!

*copy-paste-print-kasih gebetan*

ntar mau bikin puisi juga ah di blog. *wish*

Anonymous said...

*nyanyi
padamuu bintaanngg.. padamuu bulaann.. kasih yang abadii..
:c:

mizwar iwan said...

Yap, Tuhan selalu memberikan apa yang kita butuhkan..
termasuk rasa sedih dan air mata..

Fanda said...

Semoga sang Bintang membaca posting ini juga ya...

Jhoni20 said...

wow kalimat yg dipakai bagus......iya ni ngingetin sama si bintang air (seperti kata kang sugeng).......eh penulis juga kayak si chi??? bukan cerita horror kan heheheheh....

eh tuker link ya nin?!?!?!?

Jhoni20 said...

wkwkwkwkwkwk..........yg benar dunk masa kalah ngetik koment diposting sendiri qiqiqiqiqiqiq

Kang Sugeng said...

Pagi Nin... Kang Sugeng datang lagi nih pengin baca prosa kamu yg kwereeen...

Unknown said...

:l:

Previous Page Next Page Home