Dari film, dari drama, dari cerita-cerita yang pernah saya dengar secara langsung dan tidak langsung. Kemudian saya menarjemahkannya menjadi cerita lain yang berbeda. Jujur hanya sebagian kecil saja yang memuat kisah saya sendiri. Itupun dengan adaptasi dan ubahan disana-sini.
Karena berbeda dengan hasil tulisan, saya justru adalah seseorang yang jauh dari kata romantis, bahkan sebenarnya nggak punya cerita romantis. Pada kisah fiksi, saya sering cerita tentang perasaan dari banyak sudut pandang orang pertama, meskipun kisahnya hadir tanpa melalui dunia nyata.
Untuk membuat satu tulisan saya harus membaca banyak kisah lain, menonton film dan drama, memerlukan waktu dan keheningan sendiri, bahkan jeda yang panjang diperjalanan untuk berpikir dan merasa.
Tentu bagian paling mudah adalah menulis cerita tentang rasa sedih dan patah hati karena saya paling sering mengalami ini, baik jatuh cinta sendirian maupun patah hati sendirian. Tanpa melibatkan pihak lain. Bagian baiknya dari itu adalah: saya menemukan alasan mengapa jalan ceritanya memang lebih baik tidak berlanjut, meskipun harus melalui masa yang panjang setelah puluhan tahun berlalu. Waktu itu saya hanyalah gadis biasa jauh dari popularitas yang menemukan kenyamanan dalam ketidakpopuleran. Syukurlah sampai sekarang juga nggak populer.
Cukup hasil kerja positif saja yang saya harapkan selalu populer, orangnya nggak perlu. Seperti halnya keputusan menutup media sosial pribadi dari tawaran pekerjaan dan iklan, keputusan besar saya di akhir usia 20-an yang hingga sekarang belum saya sesali. Semoga seterusnya tidak.
Tulisan berlabel endapan awalnya adalah cerita fiksi tentang dua orang yang bertemu di waktu yang tidak tepat, namun saya berubah pikiran untuk menulis lebih banyak tentang mereka disini. Mungkin nanti dalam bentuk yang lebih baik di tempat lain.
Sekarang label ini malah jadi tempat saya cerita tentang masa lalu, baik pertemanan maupun perjalanan romansa yang benar-benar pernah terjadi di masa lalu. Anehnya ada kelegaan setiap kali saya selesai menulis tentang romansa masa lalu. Karena bagian dari diri saya dibangun dengan kisah itu selama ini, saya yang sekarang ada karena telah melalui banyak patah hati, perasaan tidak bersambut dan sekilas romansa tanpa closure.
Kesemuanya itu tentu sudah pernah saya ceritakan kepada suami, toh sebelum semuanya ini dia adalah salah satu teman yang bahkan tau bagaimana problematiknya cerita yang dulu-dulu itu. Kepada dia saya juga ceritakan putus sambung di usia muda dan keraguan melanjutkan percintaan yang putusnya sefrekuensi dengan sakit flu. Kecuali perihal crush-crush an yang dia baru tahu ceritanya setelah menikah.
Tidak untuk ditiru siapapun, hanya sebagai refleksi pribadi. Karena toh suka ataupun tidak semua kisah itu yang membangun saya menjadi saya yang sekarang. Mengingat semua cerita lama adalah mengingat apa yang membentuk diri saya sekaligus menjadi alasan untuk figuring-out bahwa apa yang terjadi sudah benar, segala yang terjadi adalah yang terbaik.
Tentu bagian paling mudah adalah menulis cerita tentang rasa sedih dan patah hati karena saya paling sering mengalami ini, baik jatuh cinta sendirian maupun patah hati sendirian. Tanpa melibatkan pihak lain. Bagian baiknya dari itu adalah: saya menemukan alasan mengapa jalan ceritanya memang lebih baik tidak berlanjut, meskipun harus melalui masa yang panjang setelah puluhan tahun berlalu. Waktu itu saya hanyalah gadis biasa jauh dari popularitas yang menemukan kenyamanan dalam ketidakpopuleran. Syukurlah sampai sekarang juga nggak populer.
Cukup hasil kerja positif saja yang saya harapkan selalu populer, orangnya nggak perlu. Seperti halnya keputusan menutup media sosial pribadi dari tawaran pekerjaan dan iklan, keputusan besar saya di akhir usia 20-an yang hingga sekarang belum saya sesali. Semoga seterusnya tidak.
Tulisan berlabel endapan awalnya adalah cerita fiksi tentang dua orang yang bertemu di waktu yang tidak tepat, namun saya berubah pikiran untuk menulis lebih banyak tentang mereka disini. Mungkin nanti dalam bentuk yang lebih baik di tempat lain.
Sekarang label ini malah jadi tempat saya cerita tentang masa lalu, baik pertemanan maupun perjalanan romansa yang benar-benar pernah terjadi di masa lalu. Anehnya ada kelegaan setiap kali saya selesai menulis tentang romansa masa lalu. Karena bagian dari diri saya dibangun dengan kisah itu selama ini, saya yang sekarang ada karena telah melalui banyak patah hati, perasaan tidak bersambut dan sekilas romansa tanpa closure.
Kesemuanya itu tentu sudah pernah saya ceritakan kepada suami, toh sebelum semuanya ini dia adalah salah satu teman yang bahkan tau bagaimana problematiknya cerita yang dulu-dulu itu. Kepada dia saya juga ceritakan putus sambung di usia muda dan keraguan melanjutkan percintaan yang putusnya sefrekuensi dengan sakit flu. Kecuali perihal crush-crush an yang dia baru tahu ceritanya setelah menikah.
Tidak untuk ditiru siapapun, hanya sebagai refleksi pribadi. Karena toh suka ataupun tidak semua kisah itu yang membangun saya menjadi saya yang sekarang. Mengingat semua cerita lama adalah mengingat apa yang membentuk diri saya sekaligus menjadi alasan untuk figuring-out bahwa apa yang terjadi sudah benar, segala yang terjadi adalah yang terbaik.






No comments:
Post a Comment
Tinggalkan komentar tanpa link hidup ya... Komentar dengan link hidup akan dihapus :)