Monday, March 3, 2014

Usai Kisah Pesawat

I've met a mother. About 50years. I almost cried when she told her stories. She bought expensive airplane ticket to came home because her husband passed away. Ticket. I thought I almost cried because I know travel can made us meet someone precious. And I'm here sitting by myself. Taking any risk to meet people I love. (february, 2014 - mobile notes)


Beberapa orang nanya mengenai cerita ibu di pesawat yang sebelum weekend kemarin saya post. Mengenai ibu-ibu yang saya temui di pesawat yah... kami landing di Surabaya dengan selamat. Sudah nyaris tengah malam pada saat itu, hujan baru saja berhenti mengguyur Surabaya. Saya masih bantuin si ibu membawa tasnya yang super berat entah apa isinya, mungkin buah kurma. Beliau bahkan nggak tahu tempat dia harus pergi, jadi saya mengantarnya ke baggage claim di jalur yang seharusnya dan menunggu semua barang bagasi ibu itu lengkap. Sepanjang jalan dia mengajak saya makan dan saya bilang saya bisa makan nanti, bu...
Alasan saya adalah enggan berada terlalu lama di bandara sementara alasan si ibu, dia ingin mentraktir saya yang telah membantunya.

Setelah barang bagasinya lengkap, dia menyuruh saya menunggu. Ingin memberi kartu nama, katanya. Saya pikir beliau mau mengambil alamatnya, mungkin suatu saat saya mau berkunjung atau apa. Tapi saya lihat dia mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya. Sebenarnya saya sedih juga melihat itu. Saya bersikeras tidak mau menerima tangan ibu itu yang memaksakan sesuatu kepada saya karena saya paham itu uang. Bukan kartu nama seperti yang dia pikirkan. Saya tumbuh dengan cukup baik untuk mengerti, bahwa saya hidup berkecukupan atas hasil menjual waktu dan pikiran. Jadi saya bukan orang yang menjual tenaga untuk mmbawakan tas siapapun di pesawat. Saya juga paham kalau beliau cuma mau menghargai saya karena saya tidak mau ditraktir makan. Cuma saya jadinya sedih aja sih. Hehe... sedih lelah seharian ngantor kemudian bawa-bawa koper ke bandara, menunggu delay dan segala macamnya memang bikin lelah dan perasaan yang sentimentil. Saya rasa demikian.

Jadi saya menolak.. dan bilang kalau saya buru-buru pulang karena bagasi beliau sudah lengkap dan saya sudah memandunya pada petugas cek bagasi. Fiuh... akhirnya... Semoga si ibu segera sampai ke rumahnya untuk memandang sang suami untuk terakhir kali. Yah... bandara baru satu bagian, masih ada jarak yang mesti ditempuh lagi :)


~

4 comments:

  1. Aku sangat suka dengan kata- kata Mba bagian ini "Saya tumbuh dengan cukup baik untuk mengerti, bahwa saya hidup berkecukupan atas hasil menjual waktu dan pikiran.". Semoga ibu tersebut dalam keadaan selalu kuat, mba juga.

    ReplyDelete
  2. Sudah mulai menjadi hal biasa di masyarakat kita untuk memberi upah atas bantuan yang diberikan oleh orang lain. Lama-lama malah orang baru akan membantu kalo jelas2 ada upahnya.

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...