Tuesday, November 29, 2016

BAYI-BAYI MELEK MEDIA SOSIAL


"Aku bakal ngapain ya nanti setelah menikah terus suami dipindah tempat kerja?" tanya seorang teman dekat saya, matanya menyapu kerumunan orang tidak jauh dari kami, "tinggal sebentar lagi waktunya dia sudah harus pindah kerja."
"Hah? Ya gimana lagi, ngikut...," kata saya, menjawab dengan jawaban yang mungkin bagi dia bukan sebuah solusi yang melegakan.
"Lagian kan cuma sementara ya kan pindah-pindahnya? Eh tapi, tinggal berapa tahun lagi sih dipindah terus gitu?" tanya saya, mengira calon suaminya memiliki sistem kerja seperti saya atau beberapa orang teman yang dipindah-pindah sekian tahun dan selanjutnya tergantung rekomendasi serta persetujuan diri sendiri.

"Dipindah-pindahnya selamanya sih dan selalu x tahun sekali," kata dia, bikin saya bengong.
"Bahkan kalau kalian punya anak yang sudah gede gitu? Nggak ada pilihan buat menolak kepindahan sementara atau apa?" 
"Enggak, sudah include dalam perjanjian kantornya dia sih." teman saya menjelaskan seperti bergumam. Dia saat ini adalah seorang karyawati sebuah perusahaan yang well-known di mata kebanyakan orang.

"Ya ngajuin pindah mungkin ke atasan kamu? Atau resign dan lamar kerja yang lain di tempat pindahnya suamimu atau... jualan mungkin?" tanya saya, memberi pilihan kalau toh nanti dia juga ikut pindah tempat tinggal bareng suaminya.

"Oh iya... jualan dan..." matanya berbinar senang karena menemukan ide bagus, "nikah hamil menyusui punya anak-anak lucu terus gitu anaknya rada gede fotonya diposting di media sosial biar dapat tawaran endorsement!"
"......................................................................" 
Hening, karena saya bengong akibat terlalu takjub dengan ide dia.
"Heh, serius ngana mau eksploitasi anak kecil?!" saya menowel si teman dengan gemas. Habis ide dia tengil berat, punya anak lucu mau di upload media sosial dengan plot yang sengaja agar banyak yang nawarin endorsement means anaknya mau dijadiin asset buat mendatangkan uang, means eksploitasi anak kecil dengan sengaja banget. Yah setidaknya itu menurut saya.

Saya ngerti sih dengan lebih besarnya minat masyarakat terutama menengah ke atas pada media sosial dibanding televisi juga membuat perombakan gaya hidup besar-besaran. Bahkan jaman dulu ketika masih ada sms ketik reg spasi selebriti dengan iming-iming mendapatkan sms langsung dari ponsel milik artis banyak para fans yang rela pulsanya ludes cuma gara-gara itu. Beda banget sekarang ketika kita langsung bisa berinteraksi dengan si artis melalui media sosialnya, mengomentari apa yang dia bagi di dunia maya meskipun nggak dibales tapi bisa tahu per detail kegiatannya langsung. Ngikutin apa aja yang mereka pakai, mereka makan dan gaya mereka dalam keseharian.

Dulu pun artis atau seleb hanya sebutan bagi orang-orang yang tenar karena sinetron, film dan penyanyi atau beberapa pekerjaan di bidang seni lainnya sekarang semua orang bisa jadi seleb dengan mendapatkan fans dari dunia maya dan mendapatkan penghasilan dari situ. Wajar sih, di jaman yang serba digital, menjadikan dunia digital sebagai bagian dari mata pencaharian kan nggak ada salahnya juga ya kan.
Tapi bukan berarti lantas mengeksploitasi anak kita sendiri dong.

Saya tahu kok banyak orang tua yang nggak berencana agar anaknya menjadi pusat perhatian, mereka share tentang momentum dan tumbuh kembang anak seringkali karena dokumentasi semata kemudian kok tanpa sadar karena lucunya si anak dia menjadi everyone's favorite di dunia maya dan datanglah rejeki dari situ, salah satunya karena endorsement. 
Salah? Enggak juga kalau menurut saya. Balik lagi ke niat sih.

Lha terus maksud kamu apa, Nin? Yang nggak sreg yang gimananya?

Saya cuma nggak ngerti kalau orang tua sampek segitunya bikin akun media sosial khusus atas nama anak mereka. Ya saya nggak habis pikir aja gitu, buat apaan bayi sampek harus punya media sosial sendiri? Mereka mencet nomor orang tuanya buat telepon aja masih belum bisa? Terus apa fungsinya? Rata-rata memang diniatkan untuk memonetize akun si anak yang dikelola oleh orang tua itu. Bukannya media sosial punya kebijakan juga ya untuk batas minimal umur? Tapi kok bisa gitu tuh bayi-bayi punya akun media sosial sendiri? Heran saya karena orang tuanya sampek seniat itu.

Ada seorang kenalan yang anaknya belum lama ceprot lahir udah dibikinin akun media sosial sendiri, bahkan meskipun dengan follower belum sampek 100, dia sudah nulis bio di akun media sosial si anak untuk nawarin endorsement bayi. Tolong deh! Tolong! 

Beberapa bulan terakhir ini saya juga sering menerima permintaan follow dari bayi-bayi yang beberapa diantaranya saya kenal orang tuanya. Mengapa follow saya, biasanya karena pengin difollback. Tapi bagi saya sudah cukup dengan follow akun orang tuanya yang pasti juga penuh dengan update tingkah laku si bayi daripada follow akun si bayi. Karena mungkin saya nggak ngerti manfaat dari akun bayi yang terpisah dari orang tuanya kecuali untuk serius memonetize kelucuan dari si bayi tersebut. Itu, yang saya kurang sreg dan nggak setuju. Mending dijadiin satu aja lah sama akun orang tuanya kalau si anak masih belum cukup umur begitu.

Jadi mohon maaf kalau teman-teman punya akun bayi terpisah yang pengin saya follow, saya nggak bisa follow balik ya. Saya memang suka bayi-bayi lucu tapi saya lebih pengin ngobrol di medsos sama orang tuanya aja, karena si bayi juga nggak bisa selfie dan upload fotonya sendiri apalagi jawab komentar saya dengan memakai bahasa gaul masa kini.

Biar nggak berat di pendapat saya aja, mungkin bisa dijawab jadi saya bisa ngerti juga... manteman yang bikinin anak bayinya akun media sosial sendiri... maksudnya biar apa ya? :)

7 comments:

  1. Buat nyatet milestone anaknya, biar feed di IG lebih rapi. Kayak di blog gitu ada blog khusus niche parenting, ada yang khusus niche beauty, wkwk

    Aku yang gak setuju kalau terlalu "menjual" anak pingin banget diendorse gitu.

    ReplyDelete
  2. haha, aku sukaa sih mbak lihat foto2 anak kecil di Instagram. kalo punya anak yg gemesin dan photogenic kayaknya emang godaan bgt buat ortunya ya buat upload di IG, dll. hihi

    ReplyDelete
  3. Ga ngerti juga ya kenapa mereka secara tidak langsung mengeksploitasi anak sendiri... Padahal kan privasi anak harus nya dijaga bukan nya di umbar di medsos... Heran kadang sama orang tua yang suka posting kegiatan anak nya di medsos juga hahaha kasian aja gitu privasi anak nya jadi kaya engga ada artinya...

    ReplyDelete
  4. aku bakal gitu ngga ya nanti? hihii

    ReplyDelete
  5. Blom bisa nyumbang jawaban nih, blom ngalamin

    ReplyDelete
  6. Hm punya akun ig sendiri ya? Hm hm hm belom kepikiran sih, meski anakku ganteng dan cantik. Hahahaha

    ReplyDelete
  7. Duluuuuu awal ziandra lahir aku biatin fb sendiri, tp sekarang yaaaaa melompong... Hahahaha entah dulu kenapa kok sampe buat itu...

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home