Thursday, December 1, 2016

APA YANG MEREKA KATAKAN TENTANG KAMU?


Dalam hidup, kadangkala kita bukan seperti yang orang lain pikirkan. Kita bisa jadi orang yang sangat berbeda di media sosial dan kehidupan nyata, nggak cuma fotogenic saja... terlihat menarik melalui foto-foto yang tersebar di media sosial tapi orang bisa terlihat sangat cerdas dan menyenangkan bahkan keren melalui apa yang ditulisnya.

Kita bisa jadi apa saja di internet, kita bisa jadi apapun yang kita ingin orang lain pikirkan tentang kita melalui internet bahkan dengan cara menjadi sesuatu yang bukan diri kita sendiri. Kayaknya nggak cuma satu dua kali saya memiliki teman yang jatuh cinta di dunia maya kemudian berlanjut ketemuan dan entah kenapa hubungannya nggak jadi berlanjut setelah itu.

Jaringan internet yang demikian maju, kita bisa saling berkomunikasi dengan siapapun bahkan juga binatang (em yah dengan catatan si binatang bisa ngetik di keyboard). Ketika kita berkomunikasi dengan seseorang dan merasa cocok, merasa nyaman dan entah kenapa jadi awkward ketika pertemuan itu karena ada sisi yang berbeda dari kita yang tidak bisa dilihat orang lewat batas layar. Lewat batasan layar itu kita bisa menjadi orang lain, yang jauh lebih menarik, atraktif dan cerdas luar biasa jauh daripada diri kita yang biasa secara langsung.

Orang seperti apa saya untuk kamu ketika kamu membaca tulisan saya disini?

Beberapa teman dunia maya lebih sering menilai saya orang yang kalem dan wise meskipun nggak seperti itu juga.

"Ih lu tuh tega amat sih jadi orang?" kata seorang sahabat saya setelah saya cerita kejadian pas saya menegur seseorang karena saya merasa sikap dia keterlaluan dan nggak behave.
"Masa sih?" tanya saya, mengerutkan alis.
"Iya jehonggg," kata dia menoyor saya.
"What can I do? I just can't handle it," saya mengedikkan bahu.
Iya, jahat dan sering tega adalah dua kata yang disematkan beberapa sahabat terdekat saya kepada saya.

Yang bisa saya katakan adalah, saya pun manusia biasa yang sikapnya tergantung pada perlakuan orang sekitar. Saya menghargai orang-orang yang berbaik hati, saya harap dengan balasan yang sama besarnya. Saya juga menyukai orang-orang baik yang menjadi teman-teman saya karena ya susah kan untuk memiliki teman-teman yang baik. Dengan latar belakang sifat temperamental yang seiring waktu belajar ditekan dan dikendalikan, kadangkala saya masih eksplosif... terutama pada orang yang sudah disabar-sabarin tapi sikap nggak behave-nya masih diterusin.

Pernah, beberapa teman-teman saya adalah penyuka hiburan karaoke. Kami datang, semuanya cewek-cewek dan pakai hijab datang ke sebuah tempat karaoke nggak jauh dari kantor. Cuma buat teriak-teriak doang sih karena yah kadang, rutinitas bikin stress dan bikin kita pengin teriak. Tempat teriak yang aman tanpa didatengin tetangga salah satunya adalah ruang kedap suara di tempat karaoke. Memang ada menu minuman keras yang dijual disitu dan saya rasa cewek yang minum alkohol bukan cuma satu dua saja, tapi kami enggak sih.

Karena haus, seorang teman saya memesan air mineral kepada mas waiter, "Sudah itu doang mbak? Bir-nya nggak sekalian?" si teman saya merengut karena sebal dengan pertanyaannya, saya sih nggak dengar waktu mas itu ngomong begitu. Pas teman saya cerita saya mikir mungkin dia bercanda.

Kali datang kedua, mas itu lagi yang menyiapkan kami ruangan. Ceritanya acara traktiran salah seorang teman wanita saya yang sedang ultah dan dia sedang pengin nyanyi lagu-lagu jawa sepanjang jam sewa, "Mbak nggak mau disiapin rokok atau apa gitu?" tanya si mas itu pada saya.
"Enggak," kata saya, mulai sebel karena inget mukanya.

Satu jam kemudian, seorang teman saya memutuskan untuk memanggil waiter karena kehausan kebanyakan teriak-teriak, mas itu lagi.
"Es teh ya mas dua gelas," kata teman saya itu, agak serak habis nyanyi lagu rock.
"Es teh aja mbak?"
"Iya kenyang..." kata teman saya positif thinking, mikir si mas mau nawarin makanan.
"Serius es teh? Nggak bir?" tanya dia nyebelin. Gondok dan merasa sedang dilecehin lewat kata-kata, saya langsung berdiri sejajar dengan dia, dengan muka kaku nyebelin saya mengacungkan tangan ke wajahnya, "Awas ya mulut lo mas! Emangnya kita apaan?"

Iya saya marah beneran, saking dia sudah bertanya hal yang senada hingga beberapa kali. Dua kali di depan saya dan entah berapa kali ke teman saya yang saya nggak denger. Berasa dilecehin lah, secara baju kita juga sopan-sopan aja, teman-teman saya pun pakai hijab dan celana panjang, bajunya gombor. Dari CCTV pun kalau dia lihat pastilah dia tahu kalau kami cewek-cewek biasa, nggak minum aneh-aneh, nggak ngerokok pun. Lagipula tempat yang kami datangi juga tempat karaoke keluarga, bukan karaoke remang-remang dan sejenisnya.

Dia langsung minta maaf memang sih, yah untunglah... kalau enggak saya udah berniat bikin pengaduan ke atasannya. Kami bayar, sopan ke para karyawannya juga dan datang baik-baik tapi diperlakukan seperti itu? Etis kah?

Kadang-kadang ledakan juga diperlukan untuk melindungi diri sendiri, kenapa? Biar orang lain nggak seenaknya sendiri sama diri kita. Mentang-mentang kita tenang-tenang saja pada sekali dua kali sikap orang yang seenaknya pada kita jangan dipikir bisa terus-terusan seperti itu. Ya setidaknya gitu menurut saya sih :)

Menghargai dan melindungi diri sendiri itu perlu, karena ya terus siapa yang kita harapkan untuk berdiri dan melindungi kita terus-terusan dong? Bersabar kan bukan berarti nggak berusaha ya kan? Mungkin kedengarannya ini ngelesnya saya aja ya, tapi bener kok.

"Lu kayak rinso," kata sahabat saya.
"Enak aja, maksudnya?"
"Deterjen ramah lingkungan hahaha. Sama lingkungan si ramah-ramah aja tapi kalau udah bikin perih habis tuh air tiga ember,"
"Lah tuh, sendirinya juga jahat ngatain orang deterjen bikin perih. Patah hati kali ah perih,"

Seperti apa orang-orang sekitar menilai kamu? Apapun itu, just be you. Tentu juga tanpa berhenti menjadi versi terbaik dari diri kita hari ke hari :)

9 comments:

  1. Orang bisa pura-pura disocmed, tapi kalau kita lihat pola statusnya akan terlihat aslinya. Di dunia nyata atau pun socmed, ga perlu jadi orang lain. Yang penting tetap jaga perkataan karena ada pertanggung jawaban pada Yang Di Atas nantinya. Bukan sekedar "socmed punya gua, terserah gua mau nulis apa." :p ..

    ReplyDelete
  2. Menjadi diri sendiri lebih penting. Apapun yang dikatakan orang tentang kita, whatever aja, asal ndak kebangetan ya, Mbak :)

    Yang penting kita tetap berusaha berbuat baik dan tidak merugikan orang lain.

    Postingannya menginspirasi :)

    ReplyDelete
  3. Wahh kita sama kak ninda 😆 saya juga termasuk orang yang lumayan sensitif dan agak temperamental... Kadang kalau udah marah saya engga bisa nahan, meledak beneran deh. Tapi sesudah nya malah jadi sedih sendiri kenapa tadi semarah itu :'(
    Tapi saya biasanya kalau sampai benar2 marah pasti ada sebab nya...kebanyakan sih kalau orang2 udah bener2 keterlaluan perilaku nya. Padahal udah sabar awal nya.. eh mereka nya malah makin menjadi. Marah memang bisa jadi self defence dari orang2 yang memperlakukan kita secara tidak baik. Sampai saat ini saya juga masih berjuang mengendalikan emosi yang kadang masih susah untuk dikendalikan.. :(
    Kalau menurut saya sih kak Nindaa orang nya baik banget dan bijak 😄
    Itu pelayan karoke nya keterlaluan sih nanya kaya gitu...

    ReplyDelete
  4. Soalnya tempat karaoke identik dengan tempat 'enggak-enggak' sih ya. padahl kita suka ke karaoke emang mau nyanyi beneran. Aku juga pernah tuh, niatan ke tempat karaoke bareng pacar. Serius cuma buat nyanyi-nyanyi sekalian latian karena kita mau ikut lomba. Eh lha kok sama waiternya dianter ke ruang yang nggak ada tv sama alat karaokenya. Edan! Akhirnya kita ngacir dan nggak pernah dateng ke tempat karaoke lagi. Hahahahahahaha....

    Kalo daku sering dianggap rame dan ramah di kehidupan online. Padahal in real life daku termasuk pendiam, kecuali sama orang yang emang sudah kenal deket.

    ReplyDelete
  5. Kalo menurutku ninda dari tiap kali baca tulisan orangnya prinsipil, kadang cukup frontal juga ketia menyuarakan suatu opini haha, selain itu straigth banget, agamis..
    Klo hubungan yg dijalin karena dunia maya, aku en paksu dulu awal kenalan lewat fb haha, tapi ketemu satu kali langsung goal nikah

    ReplyDelete
  6. Aduh bener. Ku merasa kadang2 kita perlu galak *eh

    ReplyDelete
  7. Huahahahaha. Bisa aja quotenya, kaya rinso. Xixixixi

    ReplyDelete
  8. Marah mah wajar.. Asal nggak berlebihan dan emang di situasi yang tepat. Dari pada mendem taunya meledak ditempat yang salah kan...

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home