Saturday, March 11, 2017

WANITA, KELEMAHAN DAN CANGKANG TERBALIK


Kembali lagi bertemu jendela ini setelah berhari-hari tidak berkesempatan menatap dan menulisinya langsung dari versi bingkai layar yang lebih luas benar-benar menjadi seperti hal baru bagi saya.

Saya merindukan situasi mengunjungi jendela ini bersama layar laptop dengan memegang ice coffee di tangan kanan dan menikmatinya sembari menulis. Rasanya sudah lama sekali nggak begitu. Padahal nggak jga sih.

Dan dalam kurun waktu ketika saya tidak bisa menulis disini, ada banyak hal yang terlewat yang saya tidak tahu harus darimana mulai cerita. Ada banyak cerita yang masih tersimpan di kepala dan belum saya pindah di notebook, kata-kata dan intinya yang masih tumpang tindih sementara saya tidak tahu cara terbaik untuk memulai menuliskannya darimana.

Namun sembari menunggu kepala saya cukup jernih untuk menyusun apa saja yang saat ini masih berada dalam kepala dan ingin saya sampaikan, saya memilih untuk membuka notebook harian, memilih salah satu tulisan yang belum pernah saya publish di jendela ini.

Beberapa bulan lalu saya menemukan email yang dikirim dari sebuah situs yang erat kaitannya dengan kemasyarakatan, yang bikin kaget bahwa email ini dikirim dengan nama pengirim yang bagi saya familiar, seorang beautygram yang instagramnya penuh dengan review-review lipstick. Saya dulu pernah follow akun instagramnya. Dalam email itu sang beautygram bercerita bahwa alasan dia untuk memakai lipstick dengan gaya seperti saat ini adalah karena dia seorang penyintas kekerasan. Siapa yang melakukan kekerasan kepada dia? Pacar dia sendiri. Bahkan pukulan yang menghantam rahangnya membuat rahang itu menjadi terganggu dan senyumnya tidak lagi simetris.

Sebagai seorang perempuan dan sebagai manusia, entah ya saya miris banget dengan cerita ini. Saya nggak ngerti manusia macam apa yang bisa melakukan kekerasan pada perempuan apalagi orang yang diklaim pacar. KDRT aja salah, nah ini nafkahin aja enggak main mukul aja. Sedang... entah ya saya nggak ngerti juga kenapa perempuannya bisa bertahan punya hubungan dengan lelaki tukang pukul? I mean nggak ada ikatan apapun secara hukum kok, kapanpun ninggalin kan bisa. Ya kan? Kalau emang berat karena atas nama cinta, paling tidak kasihanlah pada orang yang selama ini merawat dan membesarkan kita, mereka nggak membesarkan seorang anak sampai jadi wanita dewasa untuk jadi samsak hidup. Iya?

Jujur, campur aduk deh perasaan saya habis baca email itu. Terlepas dari pesan utama email untuk menggalang dana bagi para perempuan korban kekerasan.

Ada beberapa kenalan yang saya kenal melalui jendela ini yang menghubungi saya berkaitan dengan tema pernikahan, obrolan mengenai menentukan pilihan dan sebagainya. Beberapa diantaranya berusia nggak jauh dari saya. Yah pembicaraan mengenai pernikahan memang wajar banget saat wanita mencapai usia-usia ini, nggak terkecuali juga sahabat-sahabat saya yang belum menikah. Dari beberapa obrolan yang sampai kepada saya itu, ada yang membahas mengenai perkenalan singkat yang langsung menuju ke pernikahan.

Beberapa teman yang saya kenal ada yang melalui proses seperti ini, melalui perkenalan singkat kemudian langsung menyiapkan acara pernikahan, menikah dan menjalani kehidupan pernikahannya dengan baik pula. Selain itu tata cara pernikahan yang seperti ini juga lebih baik dari sudut pandang agama.

Dari sudut pandang saya pribadi sendiri, dan terutama sebagai perempuan. Mengambil keputusan untuk menikah dengan seseorang yang sebelumnya sama sekali tidak kita kenal itu butuh riset yang mendalam dan istikharah yang kenceng. Karena sejauh yang saya tahu dalam pernikahan, perempuan biasanya adalah pihak yang lemah. Contohnya saja korban KDRT kebanyakan perempuan. Nggak jarang lelaki yang kelihatannya baik, mapan dan familyman ternyata punya sisi lain seperti itu atau memang sudah jadi watak kesehariannya yang kita nggak tahu.

Seorang kolega kerja yang saya kenal... orangnya baik, kalem sekaligus energik dan nggak peritungan sama temen - baik deh pokoknya. Ketika sudah mencapai usia pantas menikah kenal dengan seorang lelaki yang langsung nggak pakai basa-basi menyatakan keseriusan untuk menikah. Melihat keseriusan lelaki itu, sikapnya juga baik ke keluarganya dengan kerjaan mapan pula, pinter mengambil hati... maka nggak butuh waktu lama buat dia mengiyakan ajakan menikah. Meskipun pernikahan yang diharapkan nggak berjalan sesuai dengan ekspektasi. Suaminya sering banget ngomong kasar dan sering diikuti dengan tindakan 'main tangan'. Hancurlah hati dia. Tapi seusai kejadian itu nggak lama si suami meluk-meluk, cium kaki istrinya untuk memohon maaf dan nggak mengulangi lagi hingga si istri luluh dan memaafkan.

Berhenti? Enggak, kejadian yang sama terus berulang dan setiap kali dia merasa lelah dan nggak tahan pastilah suaminya mengerahkan semua usaha terbaik agar dia memaafkan. Apa si suami juga begitu di luar dengan teman dan keluarganya? Enggak, si suami dikenal orang yang baik oleh lingkungannya.

Mungkin kita jadi mikir, ah mungkin karena sebelumnya nggak kenal baik kali itu makanya bisa kejadian kayak gitu... Padahal, hmm nggak juga.

Kayaknya terasa masih belum lama perkenalan saya dengan seorang teman dekat yang sebut saja Amy. Amy orang yang baik, baik hati ke semua teman yang dia miliki dan family women banget. Karena masih muda secara usia dan penampilan sejak awal saya kenal dia, hanya selisih sekian tahun dengan saya - nggak sampai sepuluh tahun... maka awalnya saya pikir dia belum menikah.

Hingga dia sering menunjukkan foto anaknya yang lucu banget ke saya, saya baru tahu kalau dia sudah menikah, punya anak dan divorce. Suaminya adalah anak dari teman dekat mamanya, secara status sosial dan ekonomi bisa dibilang mereka setara, dari sisi wajah karena anaknya lucu dan ganteng banget saya mengira dia cukup good looking dan memiliki profesi yang dianggap tinggi dan terhormat dimata masyarakat. Pernikahannya adalah perjodohan antar orang tua yang berteman dekat yang secara pandangan orang awam seperti saya pastilah mereka sudah kenal satu sama lain dengan baik. Nggak mungkin orang tua Amy memilihkan calon yang 'kurang' dari sisi bibit, bobot, bebet berhubung orang tuanya pasti ingin yang terbaik untuk Amy.

Namun siapa duga akhirnya mereka bercerai karena kasus kekerasan dalam rumah tangga. Saat sedang hamil, Amy malah menerima pukulan-pukulan dari suaminya dan entah apalagi yang terjadi. Padahal seorang wanita hamil entah anak perempuan atau anak laki-laki seperti yang ada artikel ciri-ciri hamil dari lactamil pastinya justru membutuhkan perhatian yang besar, utamanya dari suaminya. Wanita hamil yang sensitif kalau dicuekin sekian jam sama suami saja mungkin bisa mellow berhari-hari, apalagi yang sampai dipukuli seperti ini? :( My heart hurts.

Saya memutuskan untuk tidak bertanya selama Amy memilih untuk tidak bercerita karena saya ngerti akan sangat menyakitkan menceritakan ulang kejadian buruk dimasa lalu. Sejauh yang saya tahu seusai perceraian lelaki itu tidak peduli sama sekali pada anaknya dan meninggalkan sejumlah hutang yang harus Amy lunasi tanpa peduli setidaknya untuk melunasi sendiri hutang yang dia buat atas nama Amy tanpa sepengetahuan Amy ketika mereka dulu masih menikah. Dan saya nggak bisa ngomong apa-apa meskipun kadang Amy melengkapi puzzle ceritanya dilain waktu, hanya sepenggal tapi dengan tawa kecil yang saya nggak tahu apa emosi di dalam tawa kecil itu. Yang jelas saya berharap segala yang terbaik buat dia.

Cerita seorang kolega yang ceria dan teman dekat saya Amy membuat saya paham betapa penting mencari tahu tentang kepribadian seorang lelaki - bukan hanya kemungkinannya untuk tidak setia tetapi juga kemungkinannya untuk melakukan tindak kekerasan. Menerima kata-kata yang tidak ingin kita dengar meskipun tidak ada konten makian atau kekasaran saja mampu bikin hati kita para perempuan sakit karena diucapkan oleh orang yang menjadi teman hidup kita, apalagi pukulan dan kekerasan fisik lainnya? Selain fisik yang terluka, hati sudah lebih babak belur lagi.

Pernikahan bukan hanya halalkan atau lepaskan namun juga proses panjang untuk yakin bahwa dia yang kita pilih memang seseorang yang akan sama-sama berusaha untuk terus bersama kita sampai akhir, mampu meyakinkan kita bahwa berusaha bersama-sama itu dengan memperlakukan kita dengan baik terutama.

Karena meskipun kita perempuan, memiliki kekuatan besar yang mungkin tidak laki-laki miliki, misalnya kemampuan menahan sakit. Coba bayangkan, sakitnya haid setiap bulan, ibu hamil dan melahirkan dengan susah payah dan taruhan nyawa, wanita yang mendedikasikan waktu dan tenaga untuk mengurus rumah dan keluarga, belum yang masih bekerja juga. Namun bagaimanapun fisik perempuan masihlah kalah kuat dengan lelaki.

Bahkan tidak hanya dari segi fisik saja, posisi kita di masyarakat juga cenderung lebih lemah dari laki-laki. Apapun konflik yang terjadi dalam pernikahan bahkan perceraian, khalayak lebih sering menilai bahwa itu semua salah si wanita.

"Si itu dipukulin sama suaminya, kayaknya karena kelakuannya kayak setan emang tuh. Pantes aja digituin!"
"Si onoh cere sama suaminya, pasti deh si onoh yang jadi istri gak bener gak bisa layanin suaminya dengan baik,"

Bahkan meskipun sudah lepas dari pernikahannya yang penuh KDRT, perempuan tidak bisa lepas dari predikat kurang baik dari masyarakat sebagai janda, dan posisi ini sangat rapuh serta rentan fitnah.

Seperti kerang bercangkang terbalik, meskipun apa yang ada di dalam kita sangat kuat, namun tetap saja luarnya lemah.

Jadi gimana dong? Selain berusaha untuk mengenali sebaik mungkin calon suami atau kandidat calon suami dari lingkungan dan orang-orang yang lebih mengenal dia, juga jangan bosan meminta petunjuk pada Allah, ditambahkan do'anya agar Dia memberikan jodoh dengan yang tidak sekadar sholeh dan baik tapi juga akan memperlakukan kita dengan baik.

Nah buat para laki-laki juga dong ya, jangan merasa kuat dan hebat karena bisa mukul perempuan, apalagi istri sendiri!
Bukankah sebaik-baiknya lelaki adalah yang paling baik kepada istrinya?

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap istriku” (HR At-Thirmidzi no 3895 dari hadits Aisyah dan Ibnu Majah no 1977 dari hadits Ibnu Abbas dan dishahihakan oleh Syaikh Al-Albani (lihat As-Shahihah no 285))

6 comments:

  1. Subhanallah, mbak Ninda. Postingannya bagus banget. Seperti bertutur, story telling tapi tidak menggurui. Mengajak untuk bermuhasabah. Tulisan ini harusnya dibaca para pria juga.

    Semoga kita dihindarkan dari perbuatan yang tidak baik. Aamiin

    ReplyDelete
  2. Wah... Lama sekali tidak mampir di blog ini.

    Udah yah kangen2annya. Balik ke postingan, pernikahan itu memang tak melulu soal janji setia semata, ada proses yang harus dijalani bersama janji tadi. Itulah mengapa butuh riset yang mendalam terkait calon yang nantinya akan mendampingi, utamanya dalam memilih suami yang notabenenya sebagai kepala keluarga yang harus memimpin namun rentang terpleset dalam keegoisan. Lagipula yang terbaik kadang harus menunggu dan berproses.

    Ehhh yang punya blog udah nikah gak? Belum sempat kepoin blognya

    ReplyDelete
  3. Kasian ya nind, kalau kayak gitu. Meski maksudnya utk lepas dari siksaan tapi pasti ada hinaan. Moga diberi kesabaran

    ReplyDelete
  4. Si itu dipukulin sama suaminya, kayaknya karena kelakuannya kayak setan emang tuh. Pantes aja digituin!"
    "Si onoh cere sama suaminya, pasti deh si onoh yang jadi istri gak bener gak bisa layanin suaminya dengan baik,"

    Masya Alloh... ada aja ya yang masih bisa komen begitu? Mereka kan belum tentu tahu yang sebenarnya terjadi :(

    ReplyDelete
  5. Atuh kalau gitumah neng amy teh jadi janda dong sekarang,,,, heheh
    Hidup memang sulit untuk di prediksi,,, tapi tenang neng amy,, gak semua lelaki kek gitu juga, mudah - mudahanmah ini ada hikmahnya buat neng amy,, mungkin itu jalan terbaik, karena katanya orang baik akan berjodoh dengan baik, nah mungkin sekarang teh neng amy mau allah jodohkan sama yang baik,,,dan jalannya kudu seperti itu hehehe,,,,

    ReplyDelete
  6. berdoa, dan pasrah. ini seringnya terlewat, sebba kita pengen begini begitu

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home