Thursday, August 17, 2017

DALAM PERANG YANG LEBIH HEBAT

Ada beberapa pesan yang saya terima terkait postingan saya beberapa waktu lalu. Mungkin kamu juga seperti beberapa sahabat saya yang belum menemukan jodohnya hingga saat ini, atau seperti saya yang belum diamanahkan buah hati setelah sekian tahun pernikahan.

Saya menerima pesan dan curahan hati dari teman pembaca yang mayoritas perempuan. Well yah, terima kasih karena sudah mempercayakan kepada saya cerita-cerita kegundahan yang sebenarnya sangat personal :) Saya berharap tulisan lalu bisa memberikan kontribusi bagi kita yang sedang berada dalam penantian - akan apapun.

Meskipun saya juga tahu penantian akan sesuatu, apapun itu selalu akan tidak mudah. Kita bertanya-tanya kapan penantian kita akan berhenti, atau apakah sekian bulan dan sekian tahun lagi kita masih harus menanti. Bahkan untuk ukuran orang yang bisa nyaman menunggu seperti saya.

Menunggu jika dengan ditemani buku bagus dan ponsel akan tidak terasa lama, dalam jeda itu saya tidak akan merasa kesepian. Namun itu jika menunggu dalam waktu singkat, beda dengan menunggu hal-hal lain seperti menunggu diterima kerja, pasangan hidup yang tepat dan amanah buah hati adalah stage of life yang kita tidak akan pernah merasa nyaman dalam proses penantiannya. Meskipun sebagian bisa dengan sabar dan ikhlas menanti, tapi tidak banyak yang seperti itu.

Saya mencoba dan berusaha untuk seperti itu meskipun nggak cukup berhasil juga, ada saat-saat dimana saya bisa cranky dan penuh pertanyaan karena proses menunggu yang sepertinya masih terus berjalan.

Saya nggak bilang akan mudah melewati masa-masa ini, meskipun kita nggak memperoleh tekanan dari sekitar... kita pasti sudah cukup tertekan akan pikiran sendiri dan pertanyaan-pertanyaan sendiri yang entah kapan bakalan terjawab.

Tepis rasa tidak nyaman itu dengan kesibukan karena itulah satu-satunya cara. Sibuklah untuk apa saja, bekerja, mengurus rumah, beribadah, berkarya... apapun. Sibuk membuat pikiran buruk kita terdistraksi dan menyingkir, kepala kita jadi lebih banyak terisi dengan pikiran positif. Kesibukan membantu mengalihkan energi kita pada kekecewaan, pertanyaan, emosional ke arah yang lebih baik dan positif. Karena itu selama ini yang saya alami.

Allah give the hardest battle to the strongest soldier.

Saya lupa tepat kalimatnya seperti apa, tapi salah seorang sahabat saya lah yang menyampaikan ini kepada saya. Sesuatu yang kita pasti semua tahu, tapi sering lupa maknanya. Terutama saat sedang menjalani peperangan sendiri yang sungguh terasa berat. Kita lupa bahwa ada milyaran orang yang mengalami peperangan yang lebih berat dalam diri kita. Apa mereka mengeluh dan terjerumus ke hal-hal negatif? Sebagian ya, sebagian lagi justru memiliki kualitas diri yang berlipat-lipat dari sebelum cobaan itu datang. Mungkin justru dalam bentuk kesuksesan yang menyilaukan.

Kita iri melihat mereka yang hasil akhir, padahal tidak tahu proses apa yang sudah mereka lalui.

Maka penting untuk tahu dan mengenal orang-orang lain yang lebih kuat itu, dengan peperangan yang jauh lebih hebat dan sulit dibandingkan diri kita.

Beberapa bulan lalu saya pulang ke kampung halaman karena salah seorang tante saya lahiran. Saya punya sepupu baru yang masih bayi, laki-laki. Tante saya cerita bahwa saat lahir, adik sepupu saya itu sempat susah bernafas karena ada kelainan, tubuhnya biru dan langsung harus melalui perawatan intensif. Baru sekian hari dia bisa dibawa pulang ke rumah. Namun itu bukan kabar yang paling mengejutkan.

Dokter yang merawat sepuput saya bertanya apakah selama hamil tante saya tidak pernah USG kandungan? Tante saya berkata bahwa dia rajin melakukan pemeriksaan kehamilan selama hamil. Tentu saja beliau heran mengapa dokter bertanya seperti itu?
Sepupu saya diduga mengalami down syndrome, tidak ada masalah dengan fisiknya yang sehat.

Perbedaan dia dengan bayi pada umumnya itu yang menyebabkan tumbuh kembang bayi dan cara mendidik yang tentulah berbeda dengan kedua kakaknya yang lain.

Dalam obrolan berdua, tante saya berkata bahwa dia selalu rajin memeriksakan kandungan selama ini. Namun jika misalpun dalam pemeriksaan itu sudah diketahui lebih dini, masa akan digugurkan? Kan ya tidak, karena anak tetap adalah amanah.

Tante dan oom saya, keduanya adalah orang yang baik dan sangat ringan untuk bersedekah. Pun juga termasuk tante dan oom yang care pada para ponakan termasuk pada saya dan adik saya yang sejak lama piatu.

Karena itu, melihat adik sepupu saya yang istimewa ini, hati saya nggak bisa nggak patah. Dia begitu kecil dan terlihat rapuh. Belum kekhawatiran karena anak-anak down syndrome di negara tercinta kita ini belum mendapatkan perhatian khusus baik tentang fasilitas pendidikan dan masa depannya nanti.

Dengan tanggung jawab sebesar itu, tante saya juga masih harus dealing dengan komentar miring orang tentang si adek sepupu saya ini. Baik dari badannya yang kurus dan nggak bisa gemuk atau kemampuan lain-lain yang seharusnya sudah dimiliki anak bayi di usianya. Dengan sabar tante saya jawabin bahwa anak yang ini spesial, beda dengan umumnya anak-anak lain jadi perkembangannya berbeda.

Saya cuma nggak habis pikir aja sih. Orang yang sedang berada dalam situasi seperti si tante saya ini kan butuh banget ya support dari semua orang disekitarnya karena kondisi beliau jelas-jelas nggak mudah, nggak semua orang juga berada di posisi yang sama dengan beliau. Bukan karena salahnya si tante saya, tapi karena nggak semua orang mampu mendapatkan amanah yang spesial seperti yang tante saya dapatkan. Kita mungkin nggak akan mampu jika harus mengalami itu.

It's always important to shown empathy and huge support, not to commenting this and that which is just too rude - ditelinga saya aja nggak enak didenger lho apalagi yang mengalaminya langsung. Jika kita merasa nggak akan mampu memikul tanggung jawab sebesar itu, please be kind... pada orang yang sedang menjalaninya.
Karena itu sama sekali enggak mudah.

Kadang sesuatu yang kata orang pelajaran SD di buku PPKn, yang jawabannya terlalu gampang itu memang nggak pernah gagal memberikan kita nilai bagus karena kita cuma butuh menjawab pertanyaan itu seperti seseorang yang super baik. Padahal nilai yang sebenarnya adalah di kehidupan sosial. Sementara dalam kehidupan yang sesungguhnya, lagi dan lagi... banyak orang yang terus-terusan lupa jawaban ujian PPKn sekolah dasarnya sendiri.

Dalam perjalanan pulang dari kampung halaman saya teringat lagi tulisan yang dikirim sahabat saya itu kepada saya.

Allah memberikan ujian berat bagi hambanya yang kuat, apakah saya... kita... sekuat itu? Kita memang kuat untuk beberapa hal tapi banyak orang lain yang lebih kuat.
Yang sedang berada dalam perang mereka yang lebih besar dan lebih hebat, dalam hujan yang lebih deras dan petir yang lebih bergemuruh.

Mungkin kita bukan apa-apa, apa yang kita alami bukan apa-apa dibandingkan mereka.

11 comments:

  1. Kadang suka penasaran kebiasaan orang Indonesia yg suka kepo atau komen gak liat sikon juga dilakuin orang luar negeri gak ya? :D

    Orang kena musibah setelah kepo2 sebab musababnya lanjut komentar.. kurang sedekahlah, kudu diruqyah lah, ckckck ngeselin banget

    ReplyDelete
  2. Satu dari ribuan sel sperma yang berhasil terseleksi melahirkan seorang insan manusia. Jadi sebelum menatap dunia dengan suara tangisan untuk yang pertama kalinya, sebenarnya kita tanpa sadar sudah melalui perang hebat. Hanya saja perang yang lebih besar sudah menanti, dan misi kita dihadirkan di dunia adalah untuk melewatinya. Melewati tak harus memenangkan perang, tapi menangkap hikmah-hikmahnya.

    ReplyDelete
  3. bener sih itu, ya walaupun kadang kita merasa ga kuat.... pada akhirnya bisa terlewati juga kan? kalo saya mikirnya, pas lagi ga kuat gitu, "ah paling juga nanti selesai"..


    *terus tidur*

    *dilempar bantal*

    ReplyDelete
  4. Orang-orang emang kadang suka gak empati yaa. Pdhal belum tentu juga dia bisa kuat kl dia yg ngalamin

    ReplyDelete
  5. Kadang aku juga suka dapet beberapa pertanyaan dan pernyataan yang agak ganggu dari orang-orang yang ada di sekitar. Mulai dari tentang kuliah sampai berat badan, mungkin mereka hanya sekedar basa-basi untuk membuka pembicaraan ya.... tapi kadang bosen dan kesel juga dengernya tiap ketemu itu aja yang dibahas :( Makanya ada kalanya aku lebih suka menghindar dari beberapa orang yang agak "annoying" tentang masalah pribadi... :')

    ReplyDelete
  6. dulu dulu yah saya gak gitu peduli dengan pernikahan, sekarang setelah usia ada di angka 3puluh sekian, bener bener kepikiran. hahahah

    ReplyDelete
  7. Aku selalu percaya bahwa setiap orang sudah membawa takdirnya masing - masing,, tinggal mau menjalaninya atau berputus asa karenanya,,,
    Jangkan menaruh empati pada orang lain,, sama diri sendiri saja kadang tak pernah bersyukur,,, jadi bagaimana bisa be kind sama orang lain...

    ReplyDelete
  8. Hidup, pasti berhadapan dg masalah. Setiap orang pasti menghadapi masalahnya masing-masing, dg kadarnya masing-masing pula. Tak pernah lepas masalah silih berganti menerjang.

    Krn itu, tak ada cr lain selain kita always be optimis dan bahagia dg keadaan kita apa pun itu. Dsyukuri. Berprasangka baik kpd Allah.. insya Allah biarpun masalah menerjang, hidup tetap terasa ringan dan bahagia.

    #dibuatHappyAja!

    ReplyDelete
  9. Menunggu itu sesuatu yang paling gak aku suka. Keselnya bisa bikin nangis kejer.

    Padahal temen pernah bilang, justru menunggu itu cobaan dari Allah. Bikin kita produktif atau malah maksiat huwe :(

    ReplyDelete
  10. Iya everyone has its own battle and own rainbow after it

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home