Sunday, October 1, 2017

MELUPAKAN KEBAIKAN


"Kenapa ya dia bisa gampang banget tersinggung karena hal yang sesepele itu?" seorang sahabat saya baru saja kelar cerita tentang seseorang yang sudah dia dan suaminya anggap sebagai teman baik.

Jadi orang yang sudah mereka anggap teman baik itu tersinggung karena becandaannya sahabat saya yang menurut saya clearly nggak ada yang perlu ditersinggungin dari omongan itu. Karena kan mereka konteksnya lagi bercanda di grup chat rame-rame.

Oke, mungkin ini terkait suasana hati kali ya. Orang dengan suasana hati buruk gampang banget buat tersinggung sama ucapan apapun apalagi tulisan yang nadanya nggak bisa kebaca kalau si penulis kalimat itu pengin nyampein dengan nada sarkas atau yang sambil ketawa-ketiwi.

I know it, sometime saya juga gitu kok. Karena ya mood lagi nggak baik aja jadi gampang kesinggung. Masalahnya ada di diri kita sendiri, kalau lagi gini. Bukan salah orang lain.

Tapi kalau sampai diemin orang yang bikin kita kesinggung itu lama-lama, bersikap beda... itu kayaknya nggak banget ya. Selama becandaannya wajar banget, omongannya wajar banget nggak menyinggung prinsip, harga diri bahkan takdir yang kita jalani sebagai manusia... memaafkan itu nggak pernah salah.

Teman sahabat saya ini sebut saya si Bro. Sahabat saya sampai chat ke istrinya - yang juga teman baik dia juga - untuk nanyain kenapa si Bro marah sama dia. Eh istrinya bukannya menjadi pihak penengah yang baik, setelah didesek akhirnya dia ngasih tahu sahabat saya kalau si Bro tersinggung dengan omongan sahabat saya dan si istri sebut saya si Sist ini nyuruh sahabat saya ngomong langsung sama si Bro.

Diceritain gitu aja alis saya langsung mengkerut. Menurut saya sahabat saya udah bener-bener menjalankan adab hubungan pertemanan dengan orang yang sudah menikah dengan baik, memilih komunikasi lewat si Sist karena sama ceweknya. Tapi Sistnya nggak bisa jadi penghubung yang baik, malah nyuruh langsung ke suaminya.

Jadilah sahabat saya hubungi si Bro dan minta maaf jika ada kata-kata yang salah, because she didn't mean it. Saya sempat baca screencapt chatnya dan menurut saya nothing wrong sih disitu. Meskipun memang kita nggak bisa nebak isi hati orang.

"Apa emang ada yang salah sama cara ngomong dan becandaanku ya?" dia nanya ke saya.
"Apa kamu pernah mengalami hal-hal kayak begini sebelumnya?" saya balik tanya, "di kota-kota lain yang pernah kamu tinggali. Karena kan kamu nggak cuma pernah tinggal di satu tempat aja," ada alasan saya nanya gitu, karena konfliknya cukup sering. Dan menurut dia sering banget orang di tempat kerja dia marah-marah menyumpah-nyumpah ke dia karena merasa tersinggung, padahal pas tahu apa masalahnya... it's so lame. Penyebabnya kelewat sepele.

"Selama ini sih nggak pernah, baru pas tinggal di kota ini dan kawasan sekitarnya aja sih," dia menjawab setelah mikir lama.
"Jadi, kalau menurutku. Kamu ada dilingkungan yang salah. Bukan karena kamunya atau cara kamu ngomong, memang lingkungan yang nggak cocok aja." dia diam.

Kemudian ketika dia minta maaf dan ngobrol sama si Bro, malah si Bro ngasih tahu kalau sahabat saya dan beberapa teman lain punya salah sama si Sist.
"Sist itu teman yang baik loh buat kalian sampai ada masalah itu aja aku yang marah dia bilang, sudahlah yank biarin aja. Kalian tuh harus minta maaf sama Sist"
Sahabat saya bingung, "Ini masalah apa ya Bro? Aku nggak ngerti,"
Dan masalahnya ternyata sangat-sangat remeh, soal baju kantor yang teman-temannya jahitin sendiri-sendiri dan si Sist nggak diajak.
Lame nggak sih? Saya aja dengerin curhatannya geleng-geleng.

Yang bikin sahabat saya kesel karena selama dalam pertemanan mereka, suami istri ini juga juga berkali-kali bikin dia tersinggung but she always letting go, karena pertemanan lebih penting dari ketersinggungan sesaat yang nggak penting.

Apalagi yang paling nggak habis pikir, suaminya sahabat saya ini bantuin usahanya si Bro mulai dari buka, cari koneksi, promosi semuanya yang bantuin sampai jadi rame itu suaminya sahabat saya ini. Bahkan setiap kali ada masalah apapun si Bro selalu menghubungi suaminya untuk minta bantuan atau saran, padahal itu murni usaha Bro sendiri bukan usaha bareng.

"Kok dia bisa lupa ya masa-masa kita bantuin, kita bela-belain padahal itu buat kepentingan mereka nggak ada untungnya juga buat kita. Malah marah-marah tersinggung nggak jelas dan ngediemin karena masalah yang sepele. Kalau lagi marah, lagi tersinggung kok nggak bilang baik-baik langsung, paling nggak ya bisa dibicarain. Ingat-ingat kebaikan apa yang udah kita jalanin sebagai teman, bukan yang sebelnya aja yang diinget dan dipupuk," kata sahabat saya sedih.

"Karena manusia sering punya sifat dasar begitu, kayak peribahasa panas setahun dihapus hujan sehari. Nila setitik rusak susu sebelanga. Ya kayak gitulah. Kenapa kok sampai ada kejadian begitu yang dibikin peribahasa? Karena banyak dong yang ngalamin, bahkan pencetus peribahasa itu kayaknya juga lagi curhat," komentar saya.

Iya manusia punya sifat kumatan yang begitu, nggak peduli orang udah baik sekian lama kalau dia melakukan kesalahan langsung deh nganggep orang itu jahat, menyebalkan dan layak untuk dapat perlakuan nggak enak dari kita.

Manusia punya kecenderungan untuk melupakan kebaikan, terutama ketika marah.
Karena itu sebelum merenggangkan pertemanan, sebelum memutuskan silaturahmi dengan seseorang, kita pikir dan inget lagi dulu deh kebaikan seperti apa saja yang pernah seseorang itu kasih ke kita. Marah itu wajar, tapi nggak berarti langsung bertindak seolah mau mutus hubungan pertemanan gitu kan?

Marah juga nggak boleh lama-lama, nggak bertegur sapa lebih dari 3 hari saja kudu dihindarin apalagi mutusin pertemanan.

Dari semua curhatan-curhatan dia sejak pindah kerja ke kota itu, jujur saya sudah mulai ngerasa kalau lingkungannya bukan lingkungan yang cocok buat dia. Ini bukan masalah good or bad, hanya karakter yang beda dan tidak cocok bersinggungan. Sebenernya bisa kelar dengan komunikasi yang baik, meskipun banyak masalah-masalah kecil yang menjadi latar konflik. Masalahnya, lingkungan disekitar sahabat saya ini bukan lingkungan yang suka ngomong terus terang kalau marah, kalau, "kamu jangan gitu lagi lah, aku tersinggung banget sama omonganmu!" tapi ngomong kasar, marah nggak jelas dan mendiamkan.

Dan karakter lingkungan seperti itu tidak cocok dengan sahabat saya yang besar dan lama tinggal di kota-kota yang lingkungannya lebih berpola terus terang dan apa adanya. Selama ini dia juga yang bilang pada saya, mungkin dia yang salah dan kurang menyesuaikan diri and she's trying her best. Tapi tetep aja kayak begini juga.

Beberapa hari setelah itu dia kirim chat ke saya, dia bilang habis mikir banyak.
Dia ngerasa setelah obrolan kami yang lalu akhirnya dia paham bahwa sepertinya dia dan suaminya terlalu baik untuk teman-teman seperti ini. She decided to letting go dan mengikhlaskan. Bahwa ternyata pertemanan itu tidak sebaik dan sedekat yang dia kira. Bahwa tempat ini memang bukan lingkungan yang cocok untuk dia, bahwa akhirnya kepindahan yang harus dia jalani ternyata memiliki hikmah yang jauh lebih besar.

Karena dalam pertemanan selalu ada dua pihak atau lebih, yang harusnya 'saling'. Saling memahami, memaafkan, bicara jujur dan hal-hal seperti itu. Bukan untuk memanfaatkan kebaikan teman demi keperluan pribadi dan langsung melupakan semua kerja kerasnya ketika teman kita melakukan satu kesalahan kecil yang sebenarnya memang benar-benar kecil.

Padahal bukan semata salah teman kita ini. Karena kesalahannya memang demikian kecil. Cuma hati kita yang mungkin kelewat sempit sehingga tidak mampu menampung kesalahan itu dengan tanggapan yang wajar serta maaf yang cukup.

7 comments:

  1. sebagai orang luar, yes. Menurutku itu agak remeh dan enggak seharusnya itu dipermasalahkan sampe bikin renggang

    But yeah, gak bisa dipungkiri juga ada banyak tipe orang di dunia ini. Misalnya yang suka drama, yang suka membesar-besarkan hal sepele dan jadi berbuntut panjang.

    Baru ngeh juga akhir-akhir ini
    I've told ya, hahahaha

    ReplyDelete
  2. kalo lagi badmood aku seringnya milih meminimalkan interaksi sama teman mbak... karena ya itu, takut gampang tersinggung sama hal2 yang seharusnya gak perlu dibikin tersinggung. Kasihan orang lain sih, kitanya yg lagi semrawut, eh orang lain kena getahnya

    ReplyDelete
  3. Hmm....ya.....
    saya pun juga pernah beberapa kali menemui orang yang, saya pikir, tingkat tersinggungnya tinggi banget. Senggol dikit lansgung meledak, menurut saya.

    Tapi gini sih, tingkat bercanda 'wajar' menurut kita, atau teman kita, kan beda dengna orang lain kak. Ya begitu deh. Mungkin emang timing nya sangat gak pas, wallahua'lam deh.

    Tapi spt yg kak Nida ceritakan, si teman sdh minta maaf......sudah itikad baik itu. Lanjutnya, tawakkal alallah deh :)

    ReplyDelete
  4. Marah emang tempat masuknya setan mbak. Emosi yang berlebihan sering mengarahkan kita pada keputusan yang salah. Dan memang juga sifat alami manusia yang lebih suka memperhatikan sebuah titik hitam di atas selembar kertas putih.

    Semoga kita semua terhindar dari terputusnya silaturahim. Aamiin ya Allah o:)

    ReplyDelete
  5. Tentang lingkungan, ini penting banget tau gimana orang-orang yang akan kita hadapi di lingkungan baru. Dan tentang melupakan kebaikan... entah ya, aku juga pernah menemui seperti ini... Sikap yang kadang membuat kita ingin mengungkit apa yang sudah kita beri... Itu rasanya nggak enak banget. Kita nolong ikhlas, tapi kadang jadi dibuat ngungkit seakan gak ikhlas.... Susah ya...

    ReplyDelete
  6. emang kadang kalo udah ga enak hati, terus datang kesel minor dari orang lain, yabegitulah resep bad day versi paripurna T.T

    ReplyDelete
  7. wuah kalau kayak gini... hmm aku berusaha untuk mencoba positif thinking, lebih baik gitu, supaya hal sepele nggak jadi ruwet
    makanya tenang-tenang aja sih sampe sekarang

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home