Thursday, March 15, 2018

REDEFINING A PLACE CALLED HOME

Sedih sebenarnya melihat jeda waktu update blog ini yang cukup lama.
But what can I say? Saya baru saja pindah rumah dan segalanya masih berantakan. Butuh banyak tenaga serta waktu untuk merapikan dan membersihkan itu semua agar tampak lebih layak ditinggali dengan nyaman.

Banyak barang-barang yang masih belum dipindah dan untuk itu harus ada alokasi waktu bolak-balik untuk angkut-angkut lagi. Banyak barang-barang kebutuhan sehari-hari dari yang kecil hingga yang besar yang semula nggak dirasa tapi ternyata perlu, dan itu belum semuanya dapat terlengkapi. Working room saya malah lebih mirip gudang ketimbang ruang kerja karena semuanya ditaruh disitu dengan belum adanya lemari besar yang masih ada di kamar lama karena belum sempat dipindah.

Dimensinya yang gede bikin memindahkan lemari jadi susah.
Dan dengan pindahnya saya ke rumah baru, sedikit banyak ada hal-hal yang mengalami perubahan. Kayaknya saya udah sering cerita gimana saya pengin punya working space sendiri, karena segala printilan tumplek blek di kamar bareng sama catatan-catatan yang saya buat untuk draft tulisan blog itu nggak enak.

Belum lagi aneka barang-barang pribadi saya dan suami yang juga berada di dalam kamar. Nggak nyaman sih jadinya. Meja satu-satunya di dalam kamar adanya meja kecil dari kayu yang buat naruh laptop. Pada akhirnya mejanya memang buat naruh laptop terus karena hampir tiap hari kan saya butuh buka laptop.

Sementara disisi lain saya juga butuh crafting hampir setiap hari, kadang sambil lihat laptop juga. Jadinya saya crafting tanpa meja, pake gelosor-gelosor sambil ngeberantakin barang di lantai kamar. Padahal itu nggak enak sama sekali. Mungkin ada beberapa orang yang suka tapi saya nggak.

Saya justru lebih suka mengerjakan kegiatan analog di meja yang memadai seperti meja kerja. Jadi semua alat crafting berada pada tempatnya dan bisa dibeber-beber tanpa takut berantakan terus harus buru-buru dibenahin lagi. Berantakannya printilan crafting kan tetep bisa manjain mata.

Begitu juga dengan nulis jurnal, saya lebih suka melakukannya di meja ketimbang nulis seadanya dipangkuan. Ya kayak nggak pada tempatnya aja gitu, pegel juga nulis sambil nunduk-nunduk, malah sering kram.

I'm happy enough knowing that room has a pretty big window and good lighting. I can easily do something and taking picture there without too much effort like before.
My happiness is cheap.
Found a perfect new home is more than enough.
I felt I could stay in a long long time.

4 comments:

  1. Sama, nih. Saya juga lagi riweuh beberes pindahan. Masih mondar-mandir. Smeoga semakin berhak dengan rumah barunya, ya :)

    ReplyDelete
  2. Sama nin aku jg pengen bgt punya ruang kerja pribadi eh tp masih numpang sama mertua, dapet kamar tidur aja udah Alhamdulillah hehehe

    ReplyDelete
  3. Saya juga lebih suka menulis di meja. Kalau di kamar, lebih suka tidur-tiduran sambil nonton tv

    ReplyDelete
  4. Ho iyah tuh. jaman busy book laris manis kapanan, aku ngalamin gimana sumpeknya kerja dan beberes peralatan dan bahan crafting. Soalnya crafting pritilan dan aksesorisnya khan banyak, ya to. Jadi emosiong jiwong kalo gak punya space dan storage yang khusus dan cukup. belum lagi kalo ada bocils yang suka nimbrung eker-eker. hadeh

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home