Tuesday, October 16, 2018

MUTE THE NEGATIVE VIBES

Sebagai pengguna instagram yang jarang-jarang update aplikasi instagramnya, belum lama banget saya tahu kalau instagram sudah membekali aplikasinya dengan fitur mute. Seriusan itu fitur yang sudah lama banget saya tunggu-tunggu bakalan ada hehe.

Yang duluan meluncurkan fitur ini adalah twitter, beberapa tahun kemudian seingat saya facebook baru mengejar dengan fitur yang mirip, yaitu unfollow. Fungsinya saya rasa sih sama aja ya, untuk tetap berteman dengan seseorang di media sosial tapi kita tidak ingin lagi mengikuti aktivitas dan update-nya di media sosial tersebut karena berbagai sebab. Kebanyakan sebabnya sih karena merasa risih dan kesal dengan apa yang mereka bagikan di media sosial.

Contohnya hal-hal yang sangat sensitif dengan SARA, hate speech atau bahkan hobi nyinyir. Diantara friend list media sosial saya pasti ada aja orang yang update media sosialnya bikin gemes dan geregetan gitu, cuma lihat dan baca saja rasanya bisa bikin auto mood jelek dan emosi.

Ditanggepin jadinya debat kusir nggak penting, nggak ditanggepin juga gemes-gemes gimana gitu. Pokoknya bikin dilema lah...

Saya pernah sih ikut nanggepin,  itu juga karena yang bersangkutan teman saya. Karena ngerasa teman saya dan sayang kalau dia terjerumus pemikiran menyesatkan, makanya saya tanggepin. Banyak juga teman-teman lain yang ikut nasehatin. Disahutin sih enggak, malah bikin status baru yang nggak kalah kontroversialnya. Sekali dua kali saya ingetin, tapi kayaknya nggak pernah masuk ke pikiran apalagi nyampek ke hati dia.

Padahal habis itu juga saya beberapa kali ketemuan sama dia tapi dia tetep bersikap seperti biasa. Nggak ngebahas ujaran kontroversial dia yang bikin orang-orang pada turun gunung nanggepin, nggak ngebahas gimana secara personal saya negur dia untuk hati-hati dalam bermedia sosial. Ya kayak biasa aja gitu.

Berprasangka baik, yaudah saya nggak bahas.

Besok-besoknya, ternyata terulang lagi unggahan-unggahan kontroversial dari teman saya ini. Di titik itu, saya ngerasa capek. Capek ngasih tahu si teman saya ini untuk berhenti menyakiti hati khalayak melalui apa yang dia sebar di media sosial, karena nggak pernah didenger juga. Capek kesel dan emosi ngebaca statusnya yang pedes dan nyakitin hati serta pokok prinsip hidup saya.

Saya juga ngerasa buang-buang waktu selama ini berkali-kali berusaha mendekati ngajak dia ngomong dan curhat tapi ternyata nggak berarti apa-apa karena attitude-nya itu tampaknya sudah bawaan. Hanya saja saya baru tahu sisi lain dia yang itu sejak beberapa waktu lalu.

Memang kita bisa tahu bagaimana sebenarnya karakter seseorang dari media sosialnya, pandangan hidup bahkan juga fanatisme-nya.

Saya ngerasa rugi waktu dan emosi, padahal mood dan waktu sangat penting bagi pekerja kreatif seperti saya. Mood yang kurang baik menghambat ide-ide dan waktu yang seharusnya digunakan untuk mengerjakan hal-hal yang produktif dan bermanfaat.

Ya... memang paling tidak saya sudah mencoba.

Saya jadi ingat omongan seorang rekan kerja saya dahulu, bahwa sangat penting untuk menjaga panca indera kita dari hal-hal yang negatif karena itu bisa mempengaruhi kita baik langsung maupun tidak. Negative vibes itu menular, dan yang dimaksud disini bukan soal penularan persepsi semata tapi juga pengaruh negatif lainnya. Dalam kasus saya pengaruhnya adalah mood yang memburuk, marah, geregetan, kesal sendiri yang menguras waktu dan emosi.

Nggak ada satu pun yang oke, ya kan?

Saya nggak berhenti berteman dengan dia, tapi membersihkan dia dari timeline saya memang sepatutnya adalah hal yang perlu saya lakukan. Setelah dari jauh-jauh hari saya sudah unfollow akun-akun yang menyerukan hate speech, beberapa lama saya bimbang untuk tetap bertahan tidak mengunfollow teman-teman saya yang melakukan hal yang sama. Hanya karena entah kenapa ada suatu persepsi yang pasti sebagian besar dari kita amini bahwa unfollow di media sosial seperti mengindikasikan kita berhenti untuk berteman dengan orang tersebut.

Padahal sebenarnya saya masih senang-senang saja berteman dengan dia, hanya saja tidak nyaman untuk mengikuti unggahan-unggahannya di dunia maya yang sepertinya sengaja banget mencari keributan.

Makanya saya adalah salah satu orang yang menyambut gembira adanya fitur mute di instagram, dengan begitu kita bisa tetap mengikuti teman kita, orang-orang yang ada di circle dan lingkungan kita. Tapi terbebas dari postingan-postingan mereka yang membuat kita merasa terganggu dalam hal apapun.

Terganggu atau tidaknya memang tergantung pandangan masing-masing sih. Yang menurut saya semuanya terhubung dalam satu hal: tergantung apa sih efek dari unggahan-unggahan media sosial tersebut kepada kita?

Hmm ini terlepas dari positif dan negatifnya apapun yang diunggah oleh seseorang itu di dunia maya, baik positif, biasa aja atau negatif ya. Pokoknya sih apapun itu kalau berimbas negatif pada diri kita, ya sudah stop. Bersihkanlah dengan me-mute seseorang itu secepatnya. Demi diri kita sendiri agar terlepas dari pengaruh energi negatif. Energi negatif berupa sebel, julid dan sebangsanya itu juga merupakan akibat negatif yang timbul dalam diri kita karena berbagai sebab.

Ada seorang teman yang suka sebel dengan unggahan kenalan dia karena tiap membagikan posting di dunia maya selalu selfie berbagai pose. Dalam satu tempat dan baju yang sama bisa posting banyak foto selfie dari berbagai angle. Timeline dia isinya jadi penuh muka si kenalan dari ekspresi senyum biasa, senyum nyengir sampai duckface. Dia ngerasa risih, ngerasa jadi julid. Ya berarti itu imbasnya udah negatif ke si teman saya ini terlepas dari apa isi postingan si kenalan.

Posting si kenalan sebenernya kan biasa aja, suka-suka dia mau berpuluh kali foto selfie dengan baju yang sama dan kesemuanya diunggah di media sosial, toh foto-foto dia dan akun-akun dia pribadi ini. Tapi jatuhnya negatif ke diri kita karena reaksi kita jadi nggak berkenan dengan aksi dia itu.

Ya sudah mute saja.

Terganggu dengan story yang dibagikan teman kita karena isinya keluhan, curhatan nggak faedah dan marah-marah terus, lantas kita jadi kesel sendiri karena bacanya bikin kuota kita terbuang percuma?

Ya sudah toh, mute saja daripada ngehabisin tenaga dengan kesel sendiri hehe :)

Terus apa sih pentingnya ngebersihin circle kita dari hal-hal yang menurut kita imbasnya bakalan negatif ke diri kita secara personal?

Penting dong! Karena hal sesepele ini setidaknya menurut saya dapat meningkatkan kualitas hidup kita, meningkatkan kestabilan emosi, kemungkinan mood swing lebih rendah, bikin lebih bahagia dan seterusnya. Habisnya kan waktu yang ada itu bisa digunakan hanya untuk hal-hal yang bermanfaat atau at least hanya untuk hal-hal yang bikin kita terhibur aja.
Bukan untuk digerundelin, dijulidin apalagi disirikin.

Dengan menghilangkan penyebab negatif, positive vibes juga bakalan lebih terekspos. Misalnya nih akun-akun inspiratif yang selama ini luput dari feeds karena kita udah gerundel duluan jadi nggak fokus merhatiin sejenis akun dakwah dan kajian, akun-akun inspirasi interior rumah, akun resep masakan dan sejenisnya.

Kita kan nggak bisa mengendalikan perasaan kita dari rasa nggak enak melihat isi unggahan orang lain dear. Bukan salah dia juga sih, karena mau upload apa juga gak dia selama nggak abbusive dan menyalahi norma yang berlaku. Jadi faktor penentunya ya diri kita sendiri, kalau ngerasa nggak bisa mengendalikan maka bersihkanlah dan hindarilah. Akan jauh lebih baik deh daripada curhat julid dimana-mana tentang postingan orang itu yang kita nggak suka atas nama no mention. Demi diri kita sendiri, demi keberlangsungan kualitas kenyamanan dan ketentraman diri kita secara personal.

Beres-beres, bersih-bersihin feeds dia yang membuat hati kita nggak enak dari timeline kita adalah mutlak hak kita kok. Jangan ngerasa nggak enak sama yang bersangkutan gara-gara itu.

Seriusan sih ini, sudah saya rasakan banget dampaknya. Membersihkan apa-apa yang terasa kurang baik efeknya bagi kita dan menyisakan hal-hal yang berimbas positif, bakalan bikin kita fokus pada hal-hal yang lebih bermanfaat dan produktif.

Nggak percaya? Coba deh! ;)

1 comment:

  1. Berkaitan banget nih. Akhir-akhir ini saya suka lupa login, bahkan logout Instagram saking malesnya buka timeline. Untuk stories, saya masih sering buka, tapi ya gitu.

    Kadang suka down aja ngeliat stories yang terlihat sempurna. But actually it's not.

    Semenjak ketemu situs-situs positif dan bikin nambah wawasan, kayaknya Instagram (even medsos lain) cuma buat jadi pajangan portofolio aja. Lumayan kan buat perbaiki jejak digital, mbak?

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home