Friday, November 28, 2025

SUDAHKAH HABIS MASA?

Pernah nggak sih mimpi seorang teman secara konsisten?

Saking seringnya sampai saya heran sendiri, ada kali minimal sekali dalam sebulan teman saya ini ada di mimpi saya. Setiap kali mimpi dia, saya selalu lupa kalau aslinya saya manusia dewasa. Dalam mimpi itu saya selalu sebagai anak sekolah, dia juga. Kami memang dekat banget waktu masih sekolah, bahkan saat awal masa kuliah juga masih.

Entah ya karena alam bawah sadar merasa rindu atau bagaimana, saya rasanya tidak mengerti juga. Mungkin rindu saking lamanya nggak ngobrol lagi dan susah untuk memulai kembali. Ini teman cewek ya...

Saya kenal dia sejak masih SD melalui lomba-lomba antar sekolah. Jujur saya bukan tipe anak yang ramah karena dasarnya bawaan muka poker-face minim ekspresi, meskipun nggak kelihatan songong juga. Tapi yang saya ingat dia adalah teman yang selalu ramah dan ceria ke saya. Kami satu sekolah di SMP dan SMA, di SMP kami sempat duduk satu bangku. Teman saya ini adalah paket cewek populer di sekolah; pintar, cantik iya manis iya, tinggi, aktif di kegiatan sekolah, punya geng cewek-cewek populer di sekolah juga. Teman saya ini suka baca buku dan disitulah kesamaan kami yang bikin dekat, cuma bedanya aja dia tipe cewek populer sementara saya full pack nerd-nya. 

Mungkin karena dia secakep dan sepintar itu, banyak banget cowok-cowok yang naksir dan mengundang jealousy dari banyak cewek-cewek. Dulu saya nggak tahu alasan cewek-cewek bisa jealous ke dia, saya kira bisa jadi karena crush mereka malah naksir dia sih... saya baru ngeh setelah dewasa kalau ternyata rasa jealous-nya sesama cewek itu masalah fenomena sosial. Padahal - menurut saya - dia baik kok, nggak layak menerima kebencian dari cewek-cewek. Nggak munafik, saya juga pernah punya perasaan nggak suka pada cewek cantik, tapi jujur perasaan nggak suka itu bukan karena iri dia cantik, lebih karena attitude-nya yang menurut saya 'meh'. Teman saya ini nggak gitu, entah mungkin subjektif ya karena dia baik ke saya, tapi itu yang saya rasakan. Mungkin saya bisa objektif dan nggak merasa jealous yang gimana banget sama dia karena nggak mengalami part dimana cowok yang saya crush-in malah naksir dia. Ketertarikan saya pada lawan jenis belum sedewasa itu, saya lebih tertarik pada cowok fiksi seperti Irie Naoki di dorama Itazura Na Kiss, Kanata di UFO Baby atau Kenshin di Samurai X ketimbang manusia asli di dunia nyata.

Satu hal yang saya ingat iri dari dia adalah kecerdasan eksaktanya, bahkan fisika juga oke lho. Sementara saya kayaknya nggak dapat nilai merah aja udah pengin syukuran. Pas dia gosipnya juara kelas paralel pun saya ngerasa dia layak banget karena saya tahu selain pintar dia juga rajin banget banget. Karena influence dia saya jadi rajin mencatat pelajaran, padahal udahlah jangan nanya style belajar saya yang cenderung cuma belajar kalau mau ujian aja, gampang lost focus kayak cuma stay di sekian menit pertama guru mengajar, setelah itu pikiran entah mengawang kemana - tenggelam dalam isi kepala. Mungkin dia nggak sadar tapi gara-gara dia sering nanya dan penglihatannya buruk saya jadi sering mencatat dan nggak banyak lost focus di tengah pelajaran.

Pernah ada seorang teman lain satu sekolah yang komenin teman saya ini, saya lupa ngobrolin soal apa dan siapa teman yang ngomongin gini ke saya,

"Tapi dia juga aslinya nakal sih...," kata si teman lain ini menggantung.

"Hah nakal gimana?"

Dia senyum-senyum doang nggak jawab pertanyaan saya.

saya akhirnya nimpalin, "kalau nakal nggak lah... ya masih taraf normal aja lah untuk ukuran seumuran kita,"

Teman saya ini sering ganti-ganti cowok dan pernah juga cowok-cowok yang pendekatan sama dia di waktu bersamaan sampai berantem, tapi itu kan waktu SMP. Bagi saya itu karena kami masih terlalu kecil untuk mengerti hubungan percintaan. Namanya juga anak SMP, tahu apa anak SMP soal pacar-pacaran? Paling tukeran gift valentine dan makan bareng aja gegara masih ingusan.

Waktu kuliah kami beda kota, tapi ada suatu masa dia punya cowok yang sekampus dengan saya jadi dia pernah nginep di kos saya juga untuk main dan ketemuan sama cowoknya. Kami selalu ngobrol panjang curhat-curhatan pas lagi tiduran bareng di kamar. Terakhir kami ngobrol di masa Path itu juga nggak panjang dan setelah itu beneran deh cuma follow-an di media sosial. Saya tahu kabarnya sebatas itu, nggak pernah ngobrol panjang lagi. Saya tahu dia sudah menikah dan punya 3 anak. Kayaknya pernah saya chat sekali dua kali, tapi obrolannya nggak berlanjut lebih panjang. Entah ya apa alasannya karena kayaknya kami nggak punya masalah apa-apa.

Mungkin karena setiap orang yang dekat dengan kita ada masanya, dijauhkan karena masing-masing sudah berubah karena waktu dan bukan lagi orang yang sama. Mungkin jadi menjauh karena tanpa sadar sudah nggak relatable lagi. Dunia yang berbeda, lingkungan yang berbeda dan pribadi yang sudah jauh berubah dari terakhir kali kami ngobrol dekat. Mau coba dekat lagi pun nggak tahu bagaimana memulai.

Mungkinkah pertemanan kami sudah habis masanya?

Saya mengerti mengapa kami jadi jauh dan berubah dari teman dekat yang berbagi rahasia perasaan menjadi dua orang yang saling jadi penonton postingan masing-masing. Namun saya masih tidak mengerti kenapa sampai sekarang saya mimpiin dia secara berkala, setiap kali mimpi selalu kembali ke masa-masa awal remaja kami dulu. 

Semoga dia baik-baik saja, bahagia dengan hidupnya yang sekarang.

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan komentar tanpa link hidup ya... Komentar dengan link hidup akan dihapus :)

Next Page Home