Friday, May 1, 2026

CLOSURE

Belum lama ini karena ngobrol dengan seorang teman, bikin saya inget percakapan lain beberapa tahun yang lalu, di sebuah kamar kos. Larut malam, saya dan teman saya tidur bersisihan deep talk sampai lupa tidur.

Dia cerita tentang si calon suami (saat itu) yang menghadiri acara ulang tahun crush-nya di kantor dan bahkan turut andil untuk keberlangsungan surprise party. Mengetahui fakta itu cukup menghancurkan hatinya, padahal mereka sedang bersiap-siap menikah.

Saya masih ingat apa yang saya katakan kepada teman saya di malam itu.

"mungkin ini subjektif dan terlalu personal, tapi menurut aku calon suami kamu butuh closure dari orang itu. Butuh meyakinkan perasaan sebelum menutup hati selamanya. Dan itu nggak apa-apa. Setidaknya menurut aku... daripada melanjutkan hidup masih dengan rasa penasaran akan akhir ceritanya dengan si cewek itu, daripada menjalin hubungan baru namun ingatannya masih tertambat masa lalu karena perasaan yang belum selesai. Bisa jadi malah membiarkan retakan-retakan masa lalu terbuka, retakannya selalu ada karena ceritanya dianggap belum usai. Bagaimana kalau bisa jadi muncul rasa penasaran yang sama ketika ketemu lagi di masa depan saat sekarang tidak diakhiri dengan baik? Retakan-retakan itu selalu ada karena menunggu tambalan akhir..."

Teman saya terdiam, saya melanjutkan, "maka lebih baik diselesaikan dan diakhiri, demi masa depan yang akan kalian jalani,"

"benarkah?" saya ingat dia bertanya sangsi, saya bisa merasakan keraguan yang kuat menggelayuti hatinya.

"setidaknya menurut aku begitu," usai kalimat ini saya yang terdiam, mencoba menyusun puzzle ingatan dan kata-kata di kepala.

Memang subjektif, karena saya pernah berada dalam situasi yang sama. 

Dia adalah orang yang saya kagumi pada awal masa remaja saya. Mungkin juga sejak puber? Umur kami beda jauh, agama juga, barangkali itu yang bikin anak remaja seperti saya jadi kagum akan kestabilan dan kedewasaan dia. Jujur saya merasa agak seperti fan-girling, rasanya sama dengan mengagumi aktor dari posternya, ya seperti itu. Dia punya pacar kurang lebih seumuran dia yang cantik dan baik. Saya nggak pernah merasa cemburu atau menganggap pacarnya saingan, karena saya cuma remaja yang mengagumi kakak ini. He's out of my league, tidak masuk akal kalau saya serius naksir, fan-girling lebih pantas. Dia dan pacarnya looks good together, seiman juga. Segalanya cocok. 

Sampai hari dimana saya bertemu kakak ini saat liburan kuliah dan dia sedang mempersiapkan pernikahan yang tinggal hitungan bulan saja. Entah bagaimana awalnya, dia mendadak berubah seperti buku harian terbuka dan saya jujur tidak tahu harus bagaimana saking tidak mengantisipasi apapun. Terasa seperti tergulung air bah perasaan, kenyataan bahwa dia punya perasaan ke saya sungguh terlalu mengagetkan, tidak tahu kapan mulainya. Keterkejutan saya membuat saya tidak banyak berbicara dan menjelaskan, mendeskripsi bahwa perasaan itu juga ada pada saya. 

Butuh waktu lama bagi saya untuk mencerna semuanya, perasaan itu nyata sejelas tiap detik waktu yang berlalu. Namun satu hal yang akhirnya saya pahami, mengembalikan diri saya ke akal sehat dengan susah payah. Saya masih terlalu muda dan perasaan itu bagaimanapun bentuknya terasa terlalu berat untuk hati saya yang masih polos dan egois. Jika bersikeras dilanjutkan entah berapa banyak hati yang patah dan hubungan yang jadi hancur. 

Saya merasa sedang ada di film 'My Best Friend's Wedding'-nya Julia Roberts, meskipun situasinya tidak persis sama. Saya pikir selama ini mengungkapkan perasaan sebelum menikah itu tindakan heroik yang romantis, namun kenyataannya hati saya malah terasa sakit tanpa alasan.

Perasaan itu tidak bisa kemana-mana untuk saya yang masih terlalu muda, tidak bisa menimbang resiko dan masa depan dengan dewasa. Meskipun belum berhijab waktu itu, namun keyakinan saya teguh dalam agama yang saya peluk, saya yakin dia juga. Tidak akan ada yang bisa berlanjut kemana-mana. Pun saya juga bukan orang yang punya keinginan untuk memiliki milik orang lain. Moral saya selalu dominan mengambil alih mayoritas pertimbangan dalam kepala.

Jadi demikianlah akhirnya... dengan isi kepala yang terasa berantakan dan hati yang tidak keruan, saya mengatur apa yang berantakan dalam diri saya satu demi satu bertahap hingga saya siap tutup buku dari perasaan saya sendiri sebelum mengakhirinya sendirian saja.

Mengakui perasaan masing-masing saat itu sudah lebih dari cukup untuk memulai dan mengakhiri. Benar bahwa perasaan tidak bisa dikendalikan, tapi kepala bagaimanapun kusutnya harus tetap mengambil langkah benar. Setidaknya, bagi saya ini hal benar.

Closure itu jelas, semuanya harus berakhir sampai disitu demi segala hal bisa berjalan sebagaimana mestinya.

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan komentar tanpa link hidup ya... Komentar dengan link hidup akan dihapus :)

Next Page Home