Sunday, May 19, 2019

HOW TO SURVIVE AS A CHILDLESS WOMEN BUT NOT BY CHOICE

Dulu, di tahun kesekian pernikahan saya... seorang teman yang masih gadis seringkali merasa bahwa saya tidak pengertian terkait masalah jodohnya, bahwa saya tidak mengerti posisi dia ketika menasehatinya untuk bersabar. Karena saya toh sudah menikah jadi mana saya tahu rasanya jadi dia?

Dalam hati saya ngerasa, "ya terus harus gimana kan kamu ngeluh mulunya ke saya?"
Dan teman yang lain lagi merasa, bahwa setidaknya saya sudah melewati 'another stage of life' dengan menikah. Sementara mereka masih stress dengan jodoh dan usia yang bertambah sehingga tuntutan keluarga untuk berkeluarga juga semakin memojokkan.

Ketika hingga tahun pernikahan saya yang kesekian, saat teman-teman yang umur pernikahannya sama atau bahkan lebih muda dengan saya memiliki anak-anak, sementara Allah belum memberikan amanah yang sama kepada saya.... entah bagaimana mereka perlahan mengerti dengan sendirinya dan kembali memercayakan curhatannya pada saya. Yah tidak semua, beberapa teman saja sudah lebih dari cukup. Mereka mengerti bahwa saya paham apa yang mereka keluhkan, dan jika saya masih menasehati mereka untuk bersabar... saya tidak melakukannya dengan hanya beromong manis tanpa praktek. Karena itu juga yang saya lakukan.

"Si ini selalu curhat di media sosial setiap habis acara keluarga, ketika ngerasa tersinggung terus-terusan soal anak oleh keluarga sendiri,"
"si itu juga... sering banget gue lihat statusnya soal kegagalan promil. Iya sedih sih, tapi ya gue juga punya masalah. Nggak cuma lo yang paling menderita, lagian kan lo udah nggak dijulukin perawan tua lagi. Paling tidak lo bersyukur dong harusnya untuk itu..." begitu cerita seorang teman, yang sering tidak nyaman membaca status media sosial teman lain yang belum diamanahi anak.

Lantas kemudian dia bertutur, apa memang topik terkait anak sebegitu membuat kacau perasaan atau hanya mereka saja yang berlebihan?
Jika memang sesedih itu, kenapa saya nggak nampak melakukan hal yang sama?

Yah, saya nggak pernah bilang itu nggak sedih, tapi nggak berarti juga membuat saya jadi manusia paling menderita kan?

"So you should share about it," my friend said.
"Banyak ibu-ibu yang sudah punya banyak anak cerita soal usahanya punya anak dan menyemangati orang-orang 'ayo kamu bisa! Terus usaha!' padahal orang yang disemangati itu sudah menempuh usaha dan jalan yang lebih lama serta lebih menyakitkan dibanding mereka. Kalau dari sudut pandang gue... itu kayak junior di kantor yang nyemangatin cari jodoh padahal dia udah menikah dan usianya 3 tahun di bawah gue. Jarang yang menyampaikan, Ah I can relate your sadness. You're not alone. Everything about your condition is not your fault and that's okay."

Eh iya juga ya, batin saya menyetujui. Saya punya beberapa teman yang menikah dengan usia yang sama dengan saya dan belum diamanahi keturunan. Kebanyakan dari mereka sering memasang status yang bikin sedih di media sosial atau melakukan kebalikannya, berhenti dari media sosial sama sekali karena merasa apapun yang ada disana menyakitkan hati mereka.

Hati mereka tersakiti karena teman-teman yang baru saja menikah tapi sudah dalam masa kehamilan, dikaruniai anak kembar atau yang memiliki anak dalam jarak dekat... itu semua membuat mereka bersedih hati. Melihat orang-orang dengan mudah dan tanpa banyak usaha memiliki keturunan, padahal mereka sudah susah payah berusaha tapi belum Allah kasih kepercayaan. Bukan berarti tidak ikut senang dengan kebahagiaan orang lain, tapi anggaplah susah untuk turut bahagia saat tetangga kita dapat undian berhadiah mobil sementara kita nggak tahu apa besok masih ada rezeki untuk makan atau tidak... ya kan?

Saya nggak akan bilang bahwa saya nggak pernah begitu. Saya juga pernah kok. Tapi inilah kenyataannya: kami turut senang melihat kebahagiaan teman dan orang yang kami kenal, tapi hati kami juga bersedih karena perasaan yang tercampur baur. Kenapa Allah belum mempercayai kapasitas kami, tapi justru ridho pada teman yang sehari-harinya bertingkah menyebalkan, tidak pernah rajin ibadah. Saya merasakan perasaan itu sekitar tahun kedua pernikahan. Ya memang sudah berlalu untuk saat ini, syukurlah. Saya tidak ingin kembali pada persepsi saya yang lama. Sekarang alhamdulillah sudah tidak lagi.

Apa yang berubah dari diri saya sekian tahun yang lalu dengan diri saya saat ini, yang bagi teman saya tadi cenderung no drama sehubungan dengan ini?
Pada kenyataannya saya yang sekarang bukan sifat alamiah bawaan.
I've been there, saat-saat ngerasa sesedih itu.

Hal terpenting yang saya ubah adalah pola pikir saya sendiri, penilaian tentang diri saya secara personal dan berusaha mengupgrade diri dalam hal belajar agama.

#1 Ingat bahwa anak bukan penentu berkah tidaknya sebuah pernikahan
Dear, sebagai muslimah tentu kita tidak asing lagi dengan kisah-kisah para nabi dan rasul. Bisa kita gali dari ingatan kita berapa lama dalam pernikahannya Nabi Ibrahim dan istrinya belum juga dikaruniai anak. Saat mereka mendapatkan amanah anak di usia tua, apakah itu berarti sepanjang usia pernikahan mereka sebelum itu tidak berkah? Apakah Allah tidak ridho pada rumah tangga keduanya? Tentu saja bukan karena itu.

Tentu kita sering mendengar riwayat Aisyah r.a., tapi tahukah bahwa beliau tidak berketurunan? Sebagian besar istri-istri Rasulullah juga tidak memiliki keturunan. Padahal kurang apakah mereka? Sholeha? Tidak diragukan lagi. Dan rumah tangganya masya Allah penuh keberkahan dan ridho Allah.

Lantas bagaimana dengan lingkungan sekitar kita? Orang yang dikaruniai anak padahal belum menikah dan bukan karena tindak kekerasan seksual. Bagaimana dengan berita-berita yang sampai kepada kita melalui televisi bayi-bayi ditemukan menjadi mayat di tempat-tempat yang tidak lazim karena orang tuanya menganggapnya sebagai aib?

Jangan pernah berpikir sekalipun bahwa mereka lebih baik dari kita. Jika ada orang-orang yang pengetahuan agamanya kurang, mengomentari kita bahwa lebih baik hamil di luar nikah tapi punya anak daripada kita yang sudah menikah lama namun belum Allah karuniakan anak. Jawablah dengan bangga bahwa kita yang lebih baik dari sisi manapun.

Dan katakanlah pada diri kita sendiri, pernikahan tidak layak untuk ditanggapi dengan negatif seperti itu. Pernikahan adalah sarana kita untuk beribadah dan lebih dekat pada Allah bersama pasangan kita, tidak hanya untuk berketurunan.

#2 Kita sempurna sebagai wanita karena kodrat yang Allah beri, bukan karena kemampuan berketurunan
Kesempurnaan kita sebagai wanita tidak diukur dari apakah kita mampu berketurunan atau tidak. Keduanya tidak berhubungan. Ketika kita dilahirkan sebagai seorang wanita, kita sudah sempurna sebagai seorang wanita. Yang mencintai keindahan serta lembut dan perasa. Jika boleh merasa tidak sempurna, merasalah tidak sempurna atas kelemahan kita sebagai wanita yang seringkali seperti halnya tulang yang bengkok ketika dinasehati terkait kewajiban kita dalam agama dan rumah tangga.

#3 Ingat bahwa menikah adalah untuk beribadah, tinjau dan luruskan ulang niat kita itu
Banyak orang yang menyatakan bahwa pernikahan mereka lakukan untuk menggenapkan separuh agama, untuk beribadah. Bisa jadi benar. Namun dengan berjalannya waktu, tuntutan sosial dan iman kita yang naik turun... bisa jadi persepsi itu banyak mengalami perubahan.

Jika kita merasa sedih dalam pernikahan kita, cobalah untuk mengkomunikasikan dengan pasangan apa yang membuat kita merasa sedih itu. Dan tentunya bermuhasabah serta meluruskan ulang lagi niat kita, bahwa kita menikah untuk beribadah, untuk semakin dekat kepada Allah dan untuk saling membahagiakan. Urusan rezeki dan keturunan adalah sepenuhnya hak Allah. Batas kita hanya berdo'a, berusaha dan bersabar dalam penantian.

#4 Tanggalkan perasaan 'ingin membuktikan' kepada orang lain
Kadang jika dianggap tidak bisa dalam suatu hal oleh sebagian orang, naluri kita secara alamiah ingin membuktikan bahwa kita bisa. Bahwa kita tidak begitu. Bahwa kita mungkin dan mampu.
Saya tahu kita pasti pernah berada dalam pressure sejenis, meskipun dengan pokok masalah yang berbeda-beda. Ingin membuktikan kepada mereka dan ketika kita berhasil, maka kita akan melihat mereka dengan...,"Hai, tahu nggak... kamu salah! Karena aku bisa lebih dari yang kamu kira aku tidak bisa,"

Ya, saya juga berulang kali merasakan perasaan yang sama.

Hingga sampai ke suatu titik ketika saya menyadari bahwa itu tidak perlu. Bahwa kompetensi kita biarlah saja menjadi milik kita, tidak perlu repot-repot menyuguhkan bukti atas kemampuan kita pada orang-orang yang sebenarnya ya... tidak memiliki kontribusi apapun dalam hidup kita. Atau ada tapi tidak bisa dibilang penting. Apapun yang terjadi, anggapan mereka tentang kita tidak akan membantu kita melalui semua kesulitan. Orang yang benar-benar membantu tidak akan membuat kita kesulitan bukan?

Dan apapun anggapan mereka itu tidak menentukan siapa diri kita. Kitalah yang mampu mengenali diri kita sendiri. Jadi anggapan kita lah kepada diri sendiri yang paling penting, yang berhak diatas itu hanyalah anggapan Allah yang semestinya menjadi parameter kita.
Contohnya... membahagiakan pasangan bukan hanya baik dimata Allah, tapi juga bernilai pahala. Maka lakukan, karena itu yang penting.

Kembalikan rasa ingin membuktikan itu hanya kepada Allah. Ingin membuktikan bahwa kita istri yang baik, bahwa kita muslimah yang tidak segan mengulurkan tangan pada orang-orang yang membutuhkan, bahwa kita berkeinginan untuk terus memperbaiki akhlak sekaligus melindungi hati kita dari pikiran negatif, bahwa kita cinta akan sedekah dan terus berusaha memperbaiki kualitas ibadah.
Bukankah, seharusnya kita hidup dengan standar-standar tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah bukan atas pandangan dan pendapat orang lain?
#5 Tinggalkan 'negative circle' atau hindari sebisa mungkin meskipun ada keluarga kita di dalamnya
Sebagian teman ada yang merasa tertekan dengan mertua yang terus-terusan baik sadar maupun tidak menyinggung mengenai keturunan dan menyakiti hati mereka. Seolah-olah dialah satu-satunya sebab mengapa rumah tangganya belum dikaruniai anak. Kebanyakan masyarakat kita masih melihat bahwa pihak perempuan adalah pihak yang bersalah ketika sebuah rumah tangga belum ada tanda-tanda kehadiran anak.

Padahal ya... it takes two to tango. Dari faktor kesehatan, bisa jadi salah satunya atau kedua-duanya yang memiliki permasalahan itu. Dari faktor lain, keduanya tidak ada masalah terkait kesehatan namun Allah saja yang masih belum mengkaruniakannya pada mereka saat itu karena alasan yang tidak kita ketahui, Allahu a'lam.
Sebagian yang lain mungkin merasa terganggu dengan komentar anggota keluarga lain atau tetangga, atau malah lingkup pertemanan mereka sendiri.

Well yang saya alami justru biasanya dengan keluarga jauh yang tidak memiliki kedekatan emosional dengan saya atau teman yang tidak dekat tapi sok tau :D

Pembicaraan tidak menyenangkan itu biasanya dimulai dengan pertanyaan apa saya sudah punya anak atau saya sudah punya anak berapa?

Merasa pertanyaan sejenis sudah jadi semacam pembicaraan wajib yang basa-basi, saya biasanya hanya menjawab belum ada dan mohon do'anya. Sampai sini saya masih menjawab dengan biasa-biasa aja, saking sering mendapatkan pertanyaan yang serupa.

"Oh ya sudah berapa tahun menikah?" biasanya masih saya jawab, ketika suasana hati lagi penuh positive vibes.
"Coba deh mbak minum susu x, minum madu khusus, konsumsi bla-bla-bla. Coba deh ke pengobatan alternatif Z," ditahap ini biasanya saya senyum-senyum doang nggak jawab ketika perasaan sedang penuh hal positif, pura-pura nggak dengar ketika sedang malas dan ngeles lantas ninggalin ketika mode mood jelek + tameng perlindungan diri sedang ON.

Jujur sih, saya suka heran sama orang-orang yang sok peduli begitu. Don't you know? Kita tidak dalam konteks curhat dan diskusi apapun disini. Kamu hanya basa-basi nanya kemudian bleber kemana-mana. Nggak sopan lho ngasih saran orang ketika mereka sedang tidak meminta kepada kita. Saya nggak butuh solusi dari kamu sejak awal pembicaraan dan nggak ngerasa butuh mendengar itu. Kalau kamu merasa feel bad dengan jawaban saya ketika saya belum ada anak padahal anak kamu sudah banyak (padahal ya nggak usah ngerasa feel bad juga, karena saya aware sekali dengan kondisi diri saya dan saya tetep sayang sama diri saya kok) ya cukup nggak usah repot kepo dengan detail kehidupan pribadi saya dan nggak sotoy ngasih saran meskipun nggak diminta. Begitu sudah sangat cukup kok.

Dalam empat tahun pernikahan kami, saya menyadari bahwa yang terpenting dari semua hal bahkan lebih penting dari segala tata kesopanan yang ada, adalah perlindungan saya terhadap diri sendiri. Kondisi mental saya adalah paling penting, menjaga agar psikis saya tidak drop adalah yang terpenting.

Tidak perlu menomorsatukan kesopanan kita, sementara orang lain merasa mereka sedang berlaku sopan saat mencampuri ranah privasi kehidupan rumah tangga kita.
Stop, tinggalkan.
Sebelum pembicaraan itu mengalir kearah yang kita tidak bisa tangani dan menyakiti kita.
Stop. Tinggalkan.
Pura-pura tidak dengar atau apa saja. Pokoknya hindari. Meskipun mereka adalah keluarga kita. Tapi kitalah yang harus menanggung semua beban itu ketika omongan basa-basi mulai menyakiti kita. Kitalah yang harus dealing dengan rasa drop dan sedih, bahkan benci diri sendiri akibat apa yang mereka sampaikan. Bukan mereka. Karena mereka merasa itu wajar, itu karena mereka peduli.

Oh mari katakan bahwa kita juga sedang peduli ketika kita sedang mengkritisi bahwa mereka juga harus kursus kepribadian karena tidak memiliki empati pada orang lain. Pasti langsung dianggap tidak sopan, padahal mengutak-atik privasi rumah tangga orang lain itu jauh lebih tidak sopan lagi. People nowadays.... *rolling eyes*.

Jadi dengan kapasitas perlindungan diri serta ketidakinginan berkonflik, lebih baik hindari atau tinggalkan meskipun mereka adalah orang-orang terdekat kita, termasuk keluarga. Ini berlaku juga untuk kehidupan media sosial. Saya pernah me-mute seorang teman, dia baik sih sebagai teman... tapi sayangnya saya tanpa sengaja pernah melihat dia mengkomentari seorang public figure yang belum berketurunan dengan komentar negatif. Sehingga saya merasa bahwa itulah yang sebenarnya dia pikirkan tentang rumah tangga-rumah tangga orang yang belum dikaruniai keturunan, barangkali termasuk saya. Karena tidak ingin pikiran tidak menyenangkan ini berlanjut setiap kali saya melihat update dari dia maka saya mute semua update-nya.

Saya juga terus mensortir sosial media saya, saya hanya memfollow akun-akun yang menurut saya bermanfaat dan menghibur. Saya tidak suka memfollow public figure yang menurut saya tidak memiliki imbas positif bagi diri saya, terutama perihal akhirat.
Menjaga circle kita tetap positif dan jauh dari negatif vibes ini sangat penting, dan berpengaruh paling banyak untuk kesehatan pikiran dan perasaan kita.

Ini juga yang selalu berusaha saya lakukan, agar tidak ada pikiran yang terfokus pada apa yang belum saya miliki tetapi apa yang sudah saya punya dan Allah beri dengan amat berlimpah. Saya melatih diri untuk selalu memblock hal-hal negatif dan fokus pada rasa syukur. Jangan sampai merasa paling sengsara di dunia padahal kita hanya tidak memiliki satu dua hal, tapi mengabaikan fakta bahwa kita kaya di ratusan hal yang lain.

Jangan sampai kita melupakan betapa Allah sangat baik memberikan kita banyak kebahagiaan, tapi hanya kekurangan yang kita pikirkan. Karena terfokus pada apa yang kita tidak punya, kita gagal menyukuri hal lain.
Maksud saya.... mengapa bersedih hanya punya satu tas ketika kita punya baju 100 buah dan lemari besar untuk menyimpannya?
Pada intinya jangan sampai sesuatu yang belum kita punya menghalangi rasa syukur atas betapa banyak cinta Allah kepada kita.

#6 Sibukkan diri dengan hal-hal yang positif
Kadang pikiran negatif menghampiri kita di waktu-waktu luang. Seperti pencuri yang menyelinap ketika kita sedang lengah. Sebentar, tapi efek racunnya menjalar dan tidak bisa dianggap enteng. Baiklah, sebenarnya apapun situasi dan permasalahan kita... akan selalu ada celah untuk pikiran negatif yang meliputi apa saja terkait segala aspek hidup kita. Mungkin terkait saat ini atau masa depan. Apapun.
Memang sulit untuk menepis 100 persen pikiran negatif kita dalam keseharian, namun setidaknya dengan kesibukkan kita bisa menghalau sebagian besar dari pikiran negatif yang berkemungkinan menghampiri kita.

Sibukkan diri dengan hal-hal yang positif, jika blogger bisa menyibukkan diri dengan menulis draft postingan baik analog maupun langsung digital. Jika ibu rumah tangga sibukkan diri dengan semua amanah domestik, ketika waktunya istirahat dan pikiran mengawang, gunakan untuk muhasabah diri. Audit diri kita sendiri dan apa Allah ridho dengan apa yang sudah kita lakukan hari ini? Alih-alih memikirkan omongan negatif orang terhadap kita atau memikirkan hal-hal yang membuat kita bersedih. Sebisa mungkin sibukkan badan dan pikiran kita dengan kesibukkan positif dan ibadah untuk menghalau pikiran negatif yang menghampiri kita dan tidak ada waktu untuk meratapi apa yang kita belum punya, merasa sengsara atau merasa betapa Allah tidak adil pada kita.

Saya rasa enam hal diatas sudah cukup untuk membuat kita stay survive dengan apa yang kita jalani saat ini sebagai wanita yang Allah belum karuniakan keturunan di dalam masyarakat yang memperlakukan orang yang belum menikah atau berketurunan adalah masyarakat kelas dua.  Orang-orang yang dianggap kebal pada aneka perlakuan tidak menyenangkan dan sasaran empuk kekepoan maupun saran yang terlalu mencampuri privasi.

Jika kamu salah satunya... Chill, ladies! You're not alone! :D
Keep the positive vibes only around you!
And of course I am here to hear your story ;)

10 comments:

  1. Semangat Mbak Ninda!
    Aku mungkin jadi salah satu orang yang seolah dituntut utk segera menikah, tapi berusaha tetap positif, enggak ngedumel di sosmed setelah semedi beberapa waktu. Kalau habis disuruh nikah, udah nikah disuruh punya anak, hadeuh! Cape banget nuruti kata orang ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. menikah itu merepotkan lho, karena itu bernilai ibadah dan banyak pahala didalamnya
      begitu juga punya anak, kalau dipandang dalam kacamata iman amanah-nya lebih besar untuk dibentuk dalam agama yg baik
      kadang orang komentar gitu biar mereka ngerasa ada temen repot dan susahnya :D
      atau mungkin biar ada topik obrolan sama kita
      ini sudut pandang positifnya
      hehee tapi diri kita adalah diri kita, kalau kita lebih nyaman nggak ngomong ketimbang berinteraksi tapi jadi toxic di hati kita ya why not :D abaikan mungkin jalan terbaik

      Delete
    2. Semangat juga yaa buat Jiah! :D

      Delete
  2. Thank you for sharing, Kak.
    Really.

    To be honest aku punya rasa ketakutan nggak mampu memiliki keturunan juga, karena satu dan lain hal. Dan you know lah buibu di padang mulutnya se-lemes apa.

    Aku sampe pernah kepikiran nggak usah menikah aja, jadi nggak akan pernah dipermasalahin punya anak atau enggak. jadi nggak akan terluka.

    dan aku nggak akan melukai perasaan calon istriku nanti juga

    But belakangan kok ya jadi kepikiran juga mau nikah dua-tahun lagi.
    Walau masih ada bayang-bayang kemungkinan nggak bisa punya anak yang menghantui.

    Tapi baca ini jadi lega gitu
    :')

    Kalo aku merit dalam tahun ini berarti gara-gara baca ini nih wkwkkw

    Ternyata it's okay not to be the same kayak orang lain ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. sepertinya Aul sudah ada calon :') uhuk uhuk
      anak adalah hak Allah
      jadi tidak perlu bikin kita takut melangkah, dulu aku juga punya ketakutan yang sama dengan Aul, semua orang juga sama sepertinya
      film wajib tonton sebelum menikah: 'Test pack' hehe :D agar punya persiapan mental untuk itu

      Delete
  3. Semangat kak Ninda... kadang pertanyaan basa-basi itu yang sering kali membuat aku sering malas bertemu dengan beberapa orang padahal beberapa diantaranya lumayan dekat.. Kadang suka heran kenapa beberapa orang dengan seenaknya bertanya hal-hal yang bersifat pribadi tampa memperhatikan perasaan orang yang ditanya.. :(
    Dan aku sekarang lagi galau banget dengan beberapa hal..

    Semangat terus kak ninda.. Kapan-kapan kitaa meet up yuk main jurnal lagi :D Aku sudah lama banget engga main jurnal apalagi semenjak awal semester ini... :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Fizi juga yaaa! :D kapankapan playdate bareng PAI Surabaya yuk!

      Delete
  4. Aku pernah ngerasain pas usia udah sekian tapi blm menikah. Yang kesel klo jumpa ibu2 teman pensiun ortu ,tetangga jaman kecil yang tahu tumbuh kembang ku. Selalu ditanya "kapan nikah" itu ngeselin bgt. Pernah ada yg tanya begitu aku pura2 ngga denger, tahu ngga, sampai rmh aku diomeli habis2an sama ortu. Kata ortu kelakuanku sangat tidak sopan, lantas aku tanya balik ke ortu "memang budhe tsb sopan ya bertanya begitu?". Dijawab ortu, "orang bertanya nggak ada salah nya dijawab. Siapa tahu budhe punya kenalan atau saudara yang belum menikah juga bisa dikenalkan ke kamu". emang ada betulnya nasehat ortu, tapi kadang krn kita di posisi mood tertentu itu kadang membuat pertanyaan begitu itu tidak mengenakkan.

    Kek jaman awal aku pindah. Ada tetangga yg main ke rmh. Trus komentar, "rumahnya banyak barang kecil bertebaran ya" disitu aku gondok banget. Trus diskusi sama suami gimana supaya barang2 nggK bertebaran. Akhirnya kami belajar meng organize barang. Alhamdulillah skr rmh sudah tidak terlalu bertebaran barang2 kecil, justru kebalikan dengan rmh tetangga 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. aduh rumahku belum terorganize dgn baik mba, apalagi ruang kerja sampek kayak gudang garagara gapernah sempet beresih seluruhnya
      tenaga udah habis duluan, baru beberes sebentar udah cape :(

      Delete
  5. Aku punya kaka yang sudah 8 th menikah dan belum punya anak, somehow kalo ada yang nanya kakakku kok belum punya anak.. itu aku ikutan sedih karena tauuu dia udah usaha sebegitu kerasnya.

    Makanya sekarang, berusaha supaya tidak menyakiti orang dengan pertanyaan pertanyaan basa basi seperti itu juga.

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home