Saturday, March 14, 2020

PERTEMANAN TIDAK SUPORTIF

Beberapa waktu lalu sahabat saya pernah mengeluhkan bahwa pada sebuah perlombaan yang dimenangkan justru berujung tidak nyaman. Si pemenang jadi punya haters yang bilang bahwa karya yang menang itu nggak bagus. Dan hatersnya itu freelancer. Dia bertanya-tanya apa freelancer memang banyak dramanya.
Mungkin dia tidak mengalami itu sebagai seorang pekerja bergaji tetap.

Saya membenarkan bahwa memang dunia freelancer ini banyak drama. Err memang sih apapun pekerjaannya ya pasti ada aja dramanya, cuma beda judul aja hehe.
Freelancer atau mungkin yang saya jalani saat ini sebagai self-employer yang juggling diantara beberapa pekerjaan, full-time blogger, creativepreneur yang masih newbie serta freelance side-job lain tidak memiliki penghasilan yang tetap setiap bulannya. Karena itu waktu sangat berharga bagi kami. Benar-benar pekerjaan ini bikin saya paham makna waktu adalah uang.

Ya, ini adalah satu diantara banyak alasan mengapa saya tidak lagi suka mengikuti aneka perlombaan. Karena waktu yang tidak banyak itu sangat berharga, maka harus dijalani dengan seproduktif dan seefisien mungkin. Terlepas dari seorang pekerja mandiri, saya juga tetap seorang istri yang harus mengurus suami dan tentunya saya juga harus mengurus diri saya sendiri.

Saya habiskan sebagian besar waktu saya untuk bekerja dengan koneksi internet dan analog, menulis draft blog, mempersiapkan timeline postingan yang informatif dan posting yang menguras isi hati, merancang budget, menyiapkan materi pemasaran dan lain sebagainya. Jika ada sisa waktu, saya prefer pakai itu untuk belajar ilmu marketing lebih banyak.

Ketika saya mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba, waktu saya akan sangat sangat banyak habis untuk urusan riset dan draft lomba, belum lagi mempersiapkan foto atau ilustrasi sebagai pemanis. Kadang sampai harus begadang mumpung otak rasanya lagi lancar. Sudah gitu belum tentu menang. Mungkin nggak masalah kalau menang, tapi saya yang cenderung pesimis dan selalu bersiap pada kemungkinan terburuk ini selalu tahu bahwa akan sangat banyak yang saya sesali saat saya kalah.

Saya juga bukan jenis orang yang kompetitif karena lebih mempercayai kerja keras insyaAllah akan sebanding dengan hasil yang diterima.

Sahabat saya juga kaget ketika saya bercerita bahwa saya sering menolak job untuk workshop dan lebih memilih untuk merekomendasikan teman yang saya kenal untuk mengisinya. Pekerja mandiri memang bekerja sendiri, namun dalam hemat saya, pekerja mandiri tetap butuh supporting team yang bagus juga. Dan supporting team yang saya maksud adalah lingkaran pertemanan yang suportif.

Suportif disini berarti tahu peran masing-masing dan saling mendukung. Saya memiliki sebuah blog bersama seorang teman blogger senior dan kami mengurus blog tersebut bersama, monetisasi juga bersama. Segala biaya dan keuntungan kami bagi berdasarkan kapasitas masing-masing. Teman yang namanya sering saya rekomendasikan untuk menjadi fasilitator workshop-pun paham peran saya sebagai seorang entrepreneur. Sehingga tanpa saya minta dia sering menyebutkan rekomendasi belanja di webshop saya dan menjadi customer tetap.

Iya pekerja mandiri juga butuh kerja tim, meskipun bentuk kerja timnya tentu saja berbeda dengan dunia korporasi. Tim disini adalah teman yang saling support satu sama lain.
Kita butuh circle yang tepat dan suportif agar dapat saling dukung dan sama-sama maju. Paling tidak menurut saya seperti itu, terlebih dunia pekerja mandiri biasanya jauh lebih sensitif terhadap materi.

Kadang saya temui aneka drama beragam mulai dari drama-drama baper maupun yang beneran mengusik. Ada yang tega banting-banting harga untuk memperluas cakupan kerja atau merebut loyal customer. Saya nggak habis pikir sih ketika menemui case-case yang begini. Banting harga hingga tidak relevan baik itu berupa fee atau harga barang jualan, mungkin akan baik efeknya dalam jangka waktu dekat, namun tidak jangka panjang.

Merusak pasar tidak hanya merusak penghasilan orang lain, namun juga dirimu sendiri di waktu mendatang. Membuat pesaing kesal menurut saya malah nggak ada gunanya, justru akan merusak kemungkinan support system yang seharusnya mampu menguatkan kita juga.

Dalam perjalanan saya mengelola bisnis kecil ini, tidak jarang saya mendapatkan pertanyaan tentang apa yang saya lakukan di awal pembukaan bisnis. Menurut saya tidak ada yang istimewa sih. Namun sejak dulu sekali, sewaktu saya sudah mulai punya penghasilan sendiri baik dari freelance maupun ketika sudah menjadi pekerja korporasi... saya selalu mengusahakan untuk support bisnis teman-teman yang saya kenal. Ketika ada yang mulai berjualan kecil-kecilan saya selalu berusaha untuk mampu beli selama harganya sesuai range budget. Baik yang jualan kue, kerudung, pasta gigi atau apapun.

Ketika saya mulai membangun bisnis jual beli... sebagian dari mereka juga ada yang meramaikan lapak hanya sebagai bentuk support meskipun nggak begitu tahu barang apa yang saya jual. Mungkin nggak semua yang pernah saya support saat jualan juga balik support saya dalam bentuk beli dagangan saya. Mungkin nggak semua punya pikiran untuk balik support juga atau mungkin memang sedang on budget atau beneran ngerasa tidak butuh barangnya namun tetap support dalam bentuk do'a atau like dan reshare di media sosial. Banyak cara support, tidak harus dengan membeli. Tapi semuanya punya peran dan tentu saja tetap saya hargai usaha mereka dalam memberi dukungan dalam bentuk catatan personal yang saya harap mampu saya balas kembali nanti dalam bentuk support yang sama.

Yang jelas dengan itu semua setidaknya menurut saya, awal berjualan bisa dibilang relatif mulus untuk ukuran orang yang sebenarnya tidak bakat jualan seperti saya. Tentu saja ini karena kemudahan dari Allah, dan kemudahan ini menurut saya juga imbas dari support saya dimasa lalu terhadap jualan semua teman-teman yang saya kenal amanah.

Jadi, menurut saya pribadi sih... langkah suportif yang kita lakukan hari ini terhadap bisnis orang lain layaknya tabungan yang akan kita petik di kemudian hari, ketika kita sedang membangun bisnis kita sendiri. 

Hayo siapa yang suka remove/block teman hanya karena dia jualan di timeline? :)

Mungkin karena kebiasaan sejak masih remaja selalu berusaha support teman yang jualan asalkan saya tahu dia orang yang amanah (kalau sekarang sih beda, udah pilih-pilih banget dan banyak kriteria personalnya :p kehidupan sosial dan hubungan pertemanan memang bisa bikin cara pandang ikutan berubah), saya tidak habis pikir ketika ada teman lain yang cerita 'drama' yang dia alami seputar jualan kerudung.

Teman saya ini, sebut saja L jualan kerudung cerutti dua lapis ketika waktu itu khimar cerutti belum se-banyak pilihan seperti sekarang dan facebook masih hits-hits-nya. Khimar itu dia bikin polanya sendiri, milih bahannya juga yang bagus, nggak ngasal. Melihat khimar L yang 'beda' dan bagus, teman satu circle-nya pada nanyain beli dimana dan berapa harganya. L jawab dong ya kalau itu khimar jualannya dia sambil menyebutkan harga.

Coba tebak apa yang dilakukan teman yang nanya itu?
Teman 1, ketika ketemu lagi dia pakai khimar cerutti lapis tapi nggak beli dari teman saya. Rupanya dia beli online dari facebook.
Teman 2, ikutan jualan khimar double cerutti seperti si L.

Keduanya bikin saya geleng-geleng kepala. Mungkin karena nggak mau kalah, mungkin sirik lihat teman berjualan. Namun jelas sama-sama bukan langkah yang layak untuk ditiru dalam hubungan pertemanan satu circle. Ketika itu saya cuma sebel aja karena nggak tahu sebutan yang tepat untuk teman yang kelakuannya ajaib begini.

Sekarang kita sudah punya sebutan yang layak untuk teman macam begini: toxic friends.

No comments:

Post a Comment

Previous Page Next Page Home