Friday, April 27, 2012

Cerita Stasiun

perjalanan dengan kereta, yang akhir-akhir ini menjadi pilihan pertama saya
(pic taken random by google)
Tarif bis dari Malang ke Surabaya naik 5.000 rupiah, karena berasa banget mengeluarkan uang tambahan 5.000, jadi saya lebih memilih naik kereta kelas ekonomi yang berkali-kali lipat lebih murah. Turut bangga dengan semakin berkembangnya sistem perkereta-apian Indonesia. Penumpang bisa mendapat tempat duduk masing-masing sesuai tiket tanpa perlu rebutan tempat seperti dulu. Tidak juga ada asap rokok berkeliaran. Walaupun udara panas di dalam kereta namun yah masih bisa tertahankan kok...

Meskipun sayangnya ruang tunggu stasiun masih tetap ada saja yang nekat merokok, walau didepannya berserakan tulisan dilarang merokok. Nggak bisa baca atau pura-pura nggak tahu ya...?
Saya sampai di stasiun jam setengah satu meskipun kereta saya berangkatnya masih nanti jam 3 sore. Saya menyodorkan tiket kepada penjaga pintu, maunya masuk ruang tunggu dalam. Toh jarak berangkat kereta api yang berjauhan masih menyisakan tempat duduk di ruang tunggu dalam. Pikir saya, karena saya ini jenis orang yang suka minum dan harus sering ke toilet biar nggak repot kalau dekat-dekat kereta berangkat baru panik ke toilet sementara kereta kan nggak mungkin mau nungguin saya ke toilet dulu baru berangkat. Ke toilet yang di dalam kereta api juga entah tidak sampai hati saja sih rasanya...

"Nanti jam 2 mbak baru boleh masuk..." kata mas penjaga, oke deh saya tetap duduk di ruang tunggu luar dulu. Ketika waktu sudah menunjukkan jam 2, ada penumpang-penumpang lain yang mau masuk tapi dengan nggak konsekuen ternyata masih dilarang. Saya terkantuk-kantuk baca buku di kursi. Saya melihat penjaga pintu yang pakai baju hitam-hitam dengan atasan dikeluarkan. Mukanya nggak enak. Sepintas saya jadi ingat kakak tingkat saya semasa SMA dulu yang pacarnya banyak dan gonta-ganti, terlihat sombong tapi sebenarnya lucu. Penjaga itu muka-mukanya mirip si kakak kelas tapi dengan kesotoyan dan kesengakan jauh diatasnya. Saya mbatin. Mas ini mukanya kayak senang nyari masalah dan sok-sokan gitu deh.

Tante disamping saya yang barusan saja datang beberapa menit tanya, "Mbak kalau mau sholat dimana ya?"

"Umm.... dimasjid dalam bu."
"Boleh masuk nggak ya?"
"Ya bilang aja mau sholat kayaknya boleh kok, Bu..." jawab saya, berdasarkan pengalaman di stasiun malang yang meskipun kereta belum datang saya bisa masuk dan sholat di masjid.
"Soalnya saya belum sholat nih tadi... ya sudah deh saya tanya," tante itu berdiri ke petugasnya.
"Belum boleh masuk bu..." kata si mas-mas sok.
"Loh saya kan mau sholat sebentar,"
"Memang peraturannya begitu kok... ibu muter saja kearah sana deh."
"Ya kan jauh mas saya nggak tahu jalannya kemana, memang kenapa sih masuk musholla di dalam aja?"
"bla...blabbblaaa...." (saya nggak dengar dia ngomong apa), tante yang nanya saya marah, "Saya mau sholat dhuhur, waktunya sudah mepet ini. Gimana sih mau sholat aja dipersulit. Coba sih mas siapa sih namanya?" tante itu merebut name tag mas-mas sok dengan sebal, dengan ekspresi seperti mau melaporkan mas-mas sengak itu keatasannya langsung, tante itu kemudian masuk begitu saja dengan jengkel dan tidak ambil peduli pada mas-mas sengak.
Saya senyum, saya suka bagaimana tante itu bereaksi. Keren deh.


Beberapa saat kemudian entah ada masalah apa gitu digerbang pintu masuk ribut-ribut, sepertinya ada penumpang maksa masuk. Mas-mas yang nggak bisa masuk itu ngomel bolak-balik dan mas-mas muka sok marah, "Masnya ngancem ya?" ngeluarin sesuatu dari kantong celananya (oh saya pikir pistol sih), sejenis alat setrum gitu dan menghidupkannya sembari menghampiri mas-mas ngomel. Suaranya keras, jadi satu ruang tunggu luar langsung bengong menontoni aksi hiperbolik itu. Mas-mas petugas keamanan segera turun tangan dan mendinginkan suasana, merangkul mas-mas ngomel dan mengajaknya ngobrol baik-baik.

Dua orang mbak-mbak yang baru duduk dibelakang saya menggerundel, "Ih emang berlagak deh mas-mas baju hitam itu,"
"Iya tuh idih sok-sok an banget. Lebay..."
Penasaran, saya nengok dan bertanya, "Ada apa sih mbak?"
"Ini nih tadi kita mau masuk nggak boleh padahal sudah bilang kalau kita loh mau sholat, belum sholat dhuhur ..."
"Iya?" saya shock.
"Iya ngeyel dia kalau nggak boleh masuk, malah ditanyain macam-macam gimana sih dia itu dasar deh... kita kan punya tiket dan nggak mungkin main naik kereta yang bukan jam kita seenaknya..."
"Kalau dia nggak percaya kan dia bisa nungguin mbak berdua ya..." saya ikut nimbrung.
"Nah makanya... yasudah deh biar dia menanggung semua dosa-dosanya masa orang mau sholat aja nggak boleh. Emangnya dia nggak pernah sholat? Padahal yang non-muslim saja bisa lebih toleran... bisa-bisanya dia nyebelin begitu."

Saya diam.
Mas-mas baju hitam-hitam bermuka sengak di stasiun Gubeng yang entah siapa namanya. Saya tahu dia petugas yang menjalankan perintah tapi saya miris dengan cara dia yang menjalankan wewenangnya dengan sok-sokan. Mentang-mentang dia punya wewenang. Apalagi soal ibadah, sesuatu yang mestinya dimengerti oleh siapapun yang ngakunya penduduk Indonesia yang menganut Bhineka Tunggal Ika nan toleran.
Lagipula dia kan juga seharusnya sedikit saja mikir, masa orang mau beribadah dipersulit.
Memangnya dia mau hidupnya dibalas persulit oleh Tuhan?
Kalau nggak percaya alasan mereka masuk mau beribadah ya... pasang saja orang ditempat ibadah untuk mengecek mereka beneran beribadah atau nggak terus dikonfirmasi.

Banyak jalan menuju peraturan yang lebih baik tanpa mengkonfrontasi hak manusia untuk beribadah ataupun ke toilet secara bebas jadi mohon penetap peraturannya juga meninjau ulang. Lebih buruk lagi, hal ini bisa menimbulkan efek berantai sih ya... Orang yang marah karena dilarang beribadah mungkin cuma satu, tapi ingat mulutnya kemana-mana... dia bisa saja berkeliaran membicarakan image sesuatu dari sudut pandangnya sendiri. Akhirnya dari salah oknum-oknum sengak bisa jadi merembet ke salah seisi perusahaan deh...
Sayang, kan?

16 comments:

  1. ya.... hal itu emang sering terjadi.. susah juga ya kalo begitu.... ckckckck.....
    emang rule nya harus di benahi sih.... betuk ga??^^

    ReplyDelete
  2. yahhh heran juga, padahl masih banyak yang di luar sana gak mau masuk.
    lhahh ini ada yang mau sholat gak boleh masuk karena belum waktunya.
    Protokoler banget ya Nin.

    Nin, oleh2 om mau di taruh dimana Nin?

    ReplyDelete
  3. mungkin itu gubeng lewat selatan ya?.. kalo turun di gubeng utara, ada mushala di luar stasiun juga sebenernya koq.

    ReplyDelete
  4. sistem perkeretaan mungkin membaik, tapi layanan tetep aja tidak ada perubahan haha
    aku juga suka naek kereta nin, soalnya kalau naik bis mabuk hahaha

    ReplyDelete
  5. itu mungkin pegawai baru yang menuhankan peraturan diatas segalanya..
    semacam idealis gitu sih.. :D

    padahal kayaknya susah ya hidup seperti itu..
    apa-apa musti manut dan eksak. "jam 15:00 ya 15:00". gak bisa sefleksibel "boleh jam 14:45 asal..."

    eeh.. ngerti kan maksud saya... :D

    ReplyDelete
  6. stasiun mana tuh Nyin, ada peraturan spt itu skrg ya, dulu seh yg penting ada tiket bisa masuk kedalam :D

    ReplyDelete
  7. wah jadi penasaran, ko bisa segitunya ya mas mas itu. pengen ta hajar aja denger ceritannya, ud ketemu lagi laporin aja mba.. ok. emang ga punya toleransi apa? ko ga bisa mendain peraturan dan kemanusiaan.

    btw ni kalau mau buat foolol seperti punya saya
    http://carikost.blogspot.com/2012/04/membuat-widget-follow-tersembunyi.html

    ReplyDelete
  8. yah mungkin ada alasan tersendiri kali nin.. jangan langsung menjudge kayak gitu... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. yah pengin tahu rasanya jadi hakim sih XD

      Delete
  9. kereta sekarang dah mendingan kok
    sempat kaget waktu mau ke jakarta pake kereta ekonomi
    biasanya bisa beli tiket ndadak
    ternyata udah habis dan ga bisa maksa
    hehe

    ReplyDelete
  10. ketika kita membicarakan tentang masalah agama,seharusnya sudah tidak pandang lagi dari agama mana & kenapa tapi seharusnya memberikan hak yg sama tanpa mempersulit
    karena niat kita baik :)

    ReplyDelete
  11. ihihi serasa nunton pilem INDOSI*R deeeeh. tunggu bentar lagi... itu bakal ada elang muncul wokokoko

    ReplyDelete
  12. Eh, Mbak Ninda ini domainnya di Jatim juga ya? Malang- Surabaya rute rutinnya?

    Kalau utk ritme saya, msh lbh murah naik bis Mbak. Karena jalur KA yg ekonomi utk Banyuwnagi- Sby siang hari. Yg malam tarif bisnis dan ekeskutif dan 2x lipat kalau w'end, peak season gtu. Utk tarif bisnis saja sama dgn tarif naik travel tuh...#curhat

    ReplyDelete
  13. benar benar :D
    mungkin tu penjaga karyawan baru jadi belum berpengalaman

    ReplyDelete
  14. aku kalau ke malang naik keretanya siy dari stasiun semut, paling deket emang. jadi belum pernah kejadian kayak yg diatas, tapi mas-mas belagu kayak gitu itu mendingan ditendang aja.... merusak pemandangan, jadi ikut emosi niy aku.

    ReplyDelete
  15. sebaiknya di sebelah stasiun dibikin masjid jadi penumpang yg mau sholat mudah untuk kembali ke stasiun

    intinya penumpang ga perlu masuk ke stasiun untuk sholat

    ReplyDelete