Showing posts with label obrolan. Show all posts
Showing posts with label obrolan. Show all posts

Thursday, November 16, 2017

RELASI DEKAT BERTAHUN-TAHUN ANTARA SAYA DENGAN KOPI


Saya memiliki hubungan istimewa dengan kopi. Istimewa karena berjalan selama puluhan tahun. Mungkin lebih dari 20 tahun, iya relasi istimewa ini berjalan mulai dari saya kecil.

Bukan soal kafein yang lebih dominan, karena teh juga bisa jadi memiliki kandungan kafein yang sama besarnya dengan kopi terutama teh kental yang kalau kita seduh warnanya cenderung cokelat kehitaman. Tapi lebih karena rasanya yang selalu mampu bikin saya rindu.

Bukan juga karena efek ketagihan, sebenarnya saya nggak setiap hari minum kopi juga dan kalau memang lagi masa nggak minum kopi saya bisa aja melewatkan hari-hari tanpa merasa terganggu. Nah kalau ngerasa ada yang kurang sih iya :)

Tentang awal saya mengenal kopi adalah ketika sewaktu saya kecil dimana nenek saya biasa mengolah kopi sendiri. Nenek saya memanggang biji kopi sendiri dan ditumbuk manual lantas diracik dengan gula dan seduhan air panas sebelum siap dinikmati. Saya suka banget rasa biji kopi yang baru dipanggang/disangrai. Wanginya kemana-mana dan enak kalau dikunyah *LOL :)

Saturday, October 14, 2017

THE COMPLICATED CONVO


Pada suatu malam minggu yang nggak kemana-mana, saya terlibat obrolan dengan seorang sahabat. It was a very normal conversation sebelum kemudian pertanyaan ini dia lontarkan.

"Buat apa kita jatuh cinta kalau akhirnya nggak bisa memiliki dia?"

Saya ngerti ini masih ada hubungannya dengan kejadian beberapa hari lalu, ketika dia bertemu seseorang dalam sebuah acara tanpa direncanakan. Someone she has a big crush for a long time ago.
She believes he's all she wanted. Meskipun lelaki itu jelas-jelas mengecewakannya, dengan alasan sesederhana dia nggak merasa menganggap urusan perasaan sama pentingnya untuk dihargai jika sudah berkaitan dengan orang lain, bukan hanya tentang hatinya sendiri.

Sunday, October 8, 2017

KARENA CREATOR BERHAK UNTUK BERKEBERATAN


Karena beberapa kali ada yang membahas topik ini di snapgram, saya jadi tahu soal lagu Akad yang belakangan ini jadi huru-hara terkait cover mengcover lagu.

Jadi ada seleb youtube mengcover lagu Akad-nya Payung Teduh yang lagi booming-boomingnya itu tanpa izin, dan empunya lagu nggak berkenan.

Banyak yang bilang versi cover neng seleb ini lebih asik, nggak heran kalau banyak yang suka dan viewer youtubenya bisa jauh lebih banyak dari video official dari Payung Teduh sendiri.

Oke, sampai sini, ketika tahu empunya lagu nggak berkenan kudunya sih neng seleb kudu langsung minta maaf dan menarik video dan lagu coveran yang bermasalah ini dan berhenti memonetize. Ada beberapa orang yang komentar kalau si eneng sempat jual lagu coverannya di itunes/app ponsel gitu but I don't know is that for real or not? Soalnya pas saya cek itunes sih coveran lagu Akad dari si eneng nggak ada, jadi saya nggak bisa bilang ini orang-orang pada beneran atau asal ngomong.

Monday, July 17, 2017

AGAR INSTAGRAM NGGAK MISKIN LIKES

"Kok banyak blogger yang instagramnya followers ribuan tapi likes-nya dikit ya?" tanya si adek, blogger kontes lama yang tiap ikut lomba blognya sering beda-beda karena lupa password dan akhirnya insaf jadi blogger betulan sejak tahun lalu. Setelah mulai rutin nulisin blognya dan konsisten di satu blog, dia mulai kenal beberapa blogger yang kebetulan kerja bareng project yang sama atau ketemu disebuah event.

"Ya nggak semuanya yang follow ngelike in kali, apalagi kan kalau yang follow olshop-olshop," komentar saya.

Nah si adek ini meskipun followers instagramnya dibawah saya tapi tiap dia ngepost, engagement-nya pasti deh tinggi. Banyak yang ngelike, banyak yang komen... ya gitu lah...

Karena kuatnya engagement akun media sosial dia, sampek saya sering nebeng jualan + minta bantuin sebar link ke temennya biar pada banyak yang ngelike postingan saya *LOL - fakir likes garis keras.

Saturday, April 22, 2017

'MENJAGA' SUAMI

Belakangan ini netizen sedang gemes-gemes geram ketika ada share tentang skandal suami yang selingkuh ketika istrinya sedang hamil. Selingkuhnya sama rekan kerja sendiri. Padahal mukanya si cewek selingkuhan well kalau mau judging by cover menurut saya mukanya bukan muka-muka yang gimana sih ya wild, bitchy or whatsoever lah ya.

Mukanya kalem-kalem aja kayak cewek pada umumnya yang kita temui di tempat-tempat umum biasa kayak mall, restoran dan sebagainya. Tapi attitude dia lah yang akhirnya membuat kita sampai pada kesimpulan - atau malah kesangsian - dia beneran manusia nggak sih? Atau mutan yang kebetulan mirip manusia? Atau apa? Kok bisa-bisanya jalan sama suami orang pas si istri lagi hamil, kondisi yang kata orang adalah selemah-lemahnya fisik seorang wanita yang pastinya juga lagi butuh-butuhnya sama kasih sayang dan perhatian suami. Udah jalan bareng, berdua doang, gelendotan pula. Serius, saya nggak habis pikir aja sih.

Sering orang bertindak seperti nggak punya hati, padahal kita tahu bahwa pembeda kita dengan ciptaan lain adalah akal dan hati. Jadi ketika seseorang bertindak dengan mengabaikan akal dan hati, mengabaikan norma sosial maupun aturan agama, lantas apakah dia masih manusia?

Terkait kejadian ini, saya ingat pas lagi ngobrol 'just another random girl talk' bareng sahabat saya yang masih single lantas dia nanya ke saya, "Gimana rasanya menjaga suami?"
Ditanya gitu sebenernya saya bingung sih, menjaga gimana maksudnya?
"Yah you know lah ya kan ditempat kerja dia nggak cuma ketemu sama sesama pria aja cewek juga banyak apalagi kan suami kamu profesinya punya nilai tinggi di mata masyarakat?"
"Oh itu maksudnya," saya langsung paham.
Girl talk kami rupanya jadi langsung pindah dari zone single ke zona menikah.

Tuesday, March 14, 2017

TEMPORARY UNABLE TO REPLY AND BLOGWALKING


Blogging sebenarnya adalah aktivitas suka-suka yang bisa bikin happy, buat saya. Makanya ngurangin stress banget blogging malem-malem kelar ngerjain tugas di masa kuliah, sepulang perjalanan tes kerja keluar kota waktu jobseeker dan sambil ngantuk-ngantuk setelah kerjaan kantor udah bikin kepala buntu kalau malem dan harus lembur waktu kerja.

Blogging menjadi bagian dari melepaskan stress yang saya suka, sesuatu  yang mempertahankan akal sehat saya tetep ditempatnya ketika melalui banyak hal, entah berat, sedih atau menyakitkan. Blogging adalah paket lengkap yang menyembuhkan banyak bagian - terutama bagian pahit dan buruk - dari apa yang saya rasa dan pikirkan.

Tidak hanya dalam masa-masa sulit saja, namun juga meliputi apapun bahkan yang saya rasakan disuatu hari yang membosankan dan banyak hari yang lebih dari layak untuk disyukuri. Penginnya selalu saya tulis setiap harinya, agar saya bisa melihat kebelakang dengan banyak refleksi untuk hari ini dan nanti.

Dalam perjalanannya, saya mulai mengerti bahwa sekadar memotret kenangan dan mengabadikannya secara harian dalam versi digital memang penting, tapi tidak selalu apa yang saya pikir dan rasakan dalam keseharian layak diangkat dan ditempel dalam jendela ini.

Monday, February 20, 2017

PERUMPAMAAN RACIKAN KOPI


Melalui obrolan pesan pendek di ponsel, seorang teman dekat saya cerita mengenai kondisi perasaannya.
"I just can't believe that, am I fallin'  in love with him or what?"
"...masalahnya sekantor gitu,"

Lelaki yang dimaksud teman dekat ini adalah teman satu kantornya, sementara kantor teman saya memiliki peraturan dimana pegawainya tidak boleh menikah dengan sesama pegawai dalam satu naungan kantor dan cabang yang sama. Jika menikah maka salah satu harus berhenti.

"Ya emang gitu kan... gimana lagi, makin dewasa kita makin jarang punya waktu untuk kemana-mana. Palingan dunianya kantor-rumah-mall melulu. Sementara nggak mungkin kan kita bakalan kenalan sama cowok di mall ala cabe-cabean," 
Dia ketawa, "Ngasal ah..."

Wednesday, February 15, 2017

MEMILIH JODOH

Panduan cari jodoh setelah agamanya:
"NGGAK PENTING TAMPAN, YANG PENTING NYAMAN"

Ih emangnya sweater gitu, nyaman? Nggak sih, tapi sweater adalah salah satu benda yang mampu membuat kita nyaman disaat musim seperti ini. Dan paling tidak itu yang saya pikirkan ketika menulis itu.

Belakangan ini beberapa teman dekat saya, perempuan sering curhat mengenai kegalauan mereka karena belum bertemu jodohnya masing-masing. Seorang sahabat saya malah dapet celetukan dari beberapa orang di lingkungannya kalau dia mestinya nggak terlalu milih karena ya kan no body perfect. Beberapa yang lain karena lingkungannya bukan yang menjunjung tinggi nikah usia muda maka nyaman-nyaman saja, cuma mereka jadi bingung kalau pulang kampung atau ketemu orang tua dan orangtua mereka mulai bertanya soal masalah pasangan hidup atau para orang tuanya nggak bilang apa-apa cuma menunjukkan gelagat-gelagat pengen banget punya cucu.

"Emangnya harus kayak gitu ya? Terima aja yang dateng gitu yang penting cepet nikah?" tanya salah seorang sahabat saya. Setelah untuk kesekian kali mendapat komentar dari sekitar yang bikin kuping dia merah.

Tuesday, February 7, 2017

PREDIKSI


Dalam sebuah kesempatan bertemu seorang teman dan mengobrol, dia cerita tentang seseorang yang sama-sama kami kenal. Kabar terbaru dari seseorang ini, dia sedang sakit dan sakit yang dideritanya termasuk sakit parah. Jenis sakit yang kelewat sering muncul di drama, sinetron dan film. Biasanya penderitanya divonis dengan sisa usia yang tidak lagi lama.

"Duh kasihan ya," kata dia, sambil scroll timeline social media, "she's really sick,"

"maksudnya?"

"Aduh nggak kebayang kan punya sakit kayak gitu. Pastinya berasa tinggal menghitung hari menuju the day," dia menatap layar ponselnya kemudian menghempaskan diri ke sandaran kursi, "pasti bingung banget gue kalau kayak dia. Bingung milih apa yang gue lakukan duluan buat menghabiskan sisa umur yang ada. Terlalu banyak impian dan keinginan, terus bakalan ibadah kayak apaan tau deh... mungkin gue bakal jalanin semua sholat sunnah dan banyakin sunnah juga,"

"Iya sih...," saya mengangguk-angguk, saya memang nggak kenal dekat orangnya, tapi sejauh yang saya tahu dia baik dan nggak macem-macem. "Tapi kalau dia bisa bersabar, sakitnya justru akan jadi penggugur dosa. Dan belum tentu lho umurnya tinggal sebentar, prediksi umur kan yang bikin manusia, jadi bisa banget salah. Hidup mati kita kan di tangan Allah,"

Tuesday, January 3, 2017

THAT NEVERENDING SAD STORY

Obrolan yang dulu itu.
"Ketika gue tertarik, dia nggak tertarik. Ketika orang lain tertarik sama gue maka gue nggak memiliki perasaan apapun."
"It's neverending story,"
Seperti dejavu ketika obrolan seperti ini berlangsung, saking banyaknya plot cerita yang tersusun tapi memiliki ujung maksud yang sama.
"It's never ending sad story," ucap saya, nggak tahu harus bilang apa lagi.

Obrolan yang kemarin itu.
"That's my problem. Kalau perasaan suka kebales kayaknya udah dari kapan dulu aku nikahnya deh hahaha," kata seorang sahabat saya.
"Nggak, that's every girl problem sebenarnya," saya menimpali, menambahkan dalam hati
...atau mungkin masalah yang sama yang dihadapi kebanyakan kepala di dunia ini.


Saturday, December 31, 2016

ABCD HOBBY


Mengapa kita menyatakan bahwa sesuatu adalah hobi kita sementara sesuatu yang lain bukan?
Mengapa kita menyenangi sesuatu dan mendapatkan banyak kebahagiaan ketika sedang melakukannya?

Mungkin itu pertanyaan yang sekaligus juga menjawab definisi yang tepat untuk hobi.

Bagi saya hobi bukan sekadar karena kita senang melakukannya, hobi juga adalah pendongkrak mood yang bikin kita merasa feel alive atau justru waktu terasa kelewat cepat berjalan kalau kita sedang melakukannya.

In my entire life, I have so many 'hobbies'. Beberapa bertahan hingga saat ini, beberapa lainnya mencoba-coba hanya karena marak digemari, ikut-ikutan dan nggak bertahan lama. Beberapa diantara hobi sementara itu adalah koleksi penghapus lucu yang mana berakhir karena selalu nggak tega pakainya dan berakhir dengan hilang atau dipakai adek saya yang masih kecil. Koleksi boneka tapi failed karena nggak ada spasi yang cukup luas untuk tempat boneka di rumah.

Koleksi merchandise karakter kartun tertentu yang kemudian failed juga karena pastilah orang tua saya nggak mau beliin permintaan aneh itu, sementara uang tabungan sudah habis duluan untuk beli wishlist buku dan alat tulis lucu. Saya mendapati bahwa saya lebih memandang hobi adalah sesuatu yang saya suka untuk lakukan dengan sepenuh hati dan antusias, bukan sebagai 'hobi'. Kata hobi dimata saya, kesannya seperti kita melakukan hal tersebut terus-terusan padahal nggak juga ya kan.

Thursday, September 15, 2016

PAK SUPERTEGA DAN RENTANNYA HUBUNGAN ANTAR ORANG TUA - ANAK

Biasanya saya malas bahas yang berkaitan dengan isu kekinian gini, tapi karena menurut saya ini penting maka saya putuskan untuk menulis topik terkait. Salah satu alasan saya adalah sebenarnya masalah seperti ini sangat banyak terjadi di masyarakat, orang tua-orang tua tanpa hati yang begitu saja meninggalkan anak mereka tak perduli anak sah dalam pernikahan dan banyak diantara yang mengalami hal ini adalah teman-teman saya dan orang-orang dalam lingkungan pergaulan saya.

Iya belakangan ini yang heboh di berita seleb maupun sosial media adalah soal Pak Supertega ini, seorang motivator yang kabarnya menelantarkan anaknya sekian lama. Beberapa hari lalu saya sempat nonton tayangan acara talkshow yang memuat keterangan Ario - anak yang dikabarkan tidak diakui dari pernikahan pertamanya Pak Supertega itu.

Harus saya akui ketika pertama kali berita itu naik ke permukaan, saya kaget banget meskipun Pak Supertega bukan tipe saya banget untuk jadi sosok panutan apalagi sosok idola. Karena saya bukan orang yang demen motivator-motivatoran, motivator terbaik ya diri sendiri dan atau orang yang kita sayangi - ini kalau menurut saya. Sedangkan boosternya ya iman, ibadah kepada Allah. Tapi sejak awal muncul dari dulu waktu masih jaman kuliah, si bapak ini punya banyak fans. Timeline sosial media saya dibanjiri oleh twit atau share posting dari si bapak yang dibagikan teman-teman yang saya kenal.

Awalnya saya juga sempat mengira dia non-muslim (ternyata muslim), bahkan banyak dari quote-nya yang menurut saya sih diambil dari Al Qur'an hanya dibahasakan sesuai bahasa dia. Si bapak punya istri yang cantiknya adem bersahaja ala Bu Ainun-nya Pak Habibie tapi kok ternyata ibu-ibu bersasak tinggi yang nggak kelihatan aura ngademin bersahajanya sama sekali. Ehem, sori yang ngefans tapi itu beneran yang muncul di pikiran saya sih.

Nah biarkan saya ceritain gimana awalnya permasalahan ini, istri pak supertega foto sama seorang artis dangdut yang banyak haters dengan caption puja-puji setinggi langit. Hatersnya yang banyak ini kesal dengan si ibu itu dan kemudian mengulik-ngulik tabir masa lalu atau kesalahan yang tidak terpublikasi. Ketemulah kalau Bapak Supertega ini dulu sebelum sama si Bu Lince pernah menikah dengan seorang wanita yaitu Bu AS dan punya seorang anak bernama Ario. Si Ario ini nggak pernah disebut-sebut sedari dulu dalam penampilan publik pak Supertega. Netizen sampai nyari akun media sosialnya dan gimana nasib Ario ini sekarang.

Pak Supertega membeberkan ke ranah publik sebagai klarifikasi bahwa dia nggak punya anak selain Odri dan Mark, disisi lain dia juga sering menjelek-jelekkan eks-nya secara terselubung dengan tuduhan memiliki anak dari laki-laki lain dalam pernikahan mereka, suka mabuk-mabukan dan sebagainya yang sebagian sudah dikonfirm di tayangan wawancara KomposTV (setelah talkshow si anak) oleh si bapak sendiri bahwa itu adalah kata-katanya bukan isi tanya jawab dengan orang lain.

Klarifikasi publik ala-ala yang dilontarkan si bapak ini diikuti dengan kemunculan Ario - yang diributkan oleh netizen. Dia mengkonfirmasi bahwa semua bukti hukum yang dia punya ada dan lengkap, permasalahan perceraian dan hubungan yang lama terputus. Tapi malangnya banyak tim bala-bala Pak Supertega yang menuduhnya ingin eksis dan cari ketenaran.

Padahal menurut saya itu benar-benar sangat wajar. Dia berhasil dan hidup dengan caranya sendiri kok, dia juga pernah muncul di talkshow-talkshow tv di tahun-tahun sebelumnya yang membahas soal usaha yang sedang dia geluti jadi motifnya bukan cari tenar saya rasa. Tapi come on, mau nggak kita dianggap anak hasil perselingkuhan? Mau nggak ibu kita dituduh mabuk-mabukan dan tukang selingkuh, dikata-katai laksana ibu kita pelacur?

Nggak ada anak yang mau seperti itu dan kalau dia marah itu sangat wajar. Menurut saya sih. Kalau saya jadi dia juga bakalan marah banget lah, gila aja kalau enggak.

Nggak dianggep dan dikontak sebagai keluarga mah ya bodo amat, bisa hidup dengan usaha sendiri kok tapi masa dikatain anak hasil hubungan gelap dan emak kita wanita murahan? :/

Setelah nonton talkshow si anak saya juga nonton konfirmasi di KomposTVnya dan saya yang nggak pernah jadi fans si bapak saja ilfil berat sama semua yang dia sampaikan. Dari mulai sekedar kata-kata bekas keluarga, bekas anak sampai pelecehan pekerjaan Ario, ngomong kakaknya bukan kandung tapi dari pernikahan sebelumnya (lha kan satu bapak means satu 'bin' 'binti' dong, ya saudara kandung namanya atuh pak), dan lain-lain ngejelekin sodaranya sendiri. Padahal banyak tuduhannya yang cuma isapan jempol belaka dan penggiringan opini. Beda dengan komentar dari keluarga besarnya sendiri maupun Pak RT setempat. Ulasan lengkap berikut bukti ala detektifnya bisa kita baca di forum detik all about MT *ketik nama populer lengkapnya*.

Dari sini sih saya mengambil kesimpulan bahwa kalau dalam kacamata saya, saya lebih percaya anaknya.

Omongan si anak dan keluarga sama kok, nggak ruwet, nggak blunder juga. Beda dengan keterangan Pak ST (Supertega) dan istrinya yang sering nggak sinkron, salah satunya tahun pernikahan yang terkesan typo dimana-mana, masa nulis tahun pernikahan salah melulu selama bertahun-tahun. Masa si Ario 'dituduh' sama sekali nggak mirip sama Pak ST padahal belionya ngaku mirip Odri dan Mark (padahal justru nggak ada mirip-miripnya). Jauh lebih mirip si Ario ini dengan Pak ST dan keluarganya dibanding dua anak dari pernikahan terakhir. Si bapak mah becanda mulu. Mungkin angka plus di kacamatanya nambah.

Memangnya ada orang tua yang meninggalkan keluarganya seperti Pak ST ini jika ceritanya benar?
Ada. Banyak.
Saat usia SD saya pernah punya teman sebut saya Lia. Ayahnya adalah teman dekat si bokap sebut saya Pak Al, dulu saya sering bareng bokap bertandang ke rumahnya. Sementara bokap ngobrol dengan teman dekatnya ini sampek lupa waktu, saya masih ingat sama dia, termasuk pertama kali bertemu Lia saat dia melintas dekat akuarium ikan hias di ruang tamu. Terjadi suatu hal dalam keluarga itu, Pak Al kepincut wanita lain dan begitu saja meninggalkan keluarganya. Iya begitu saja. Berkeluarga dan punya anak tanpa peduli keluarganya. Padahal keluarga sah secara hukum tapi bisa ditinggal dan diingkari segitu gampangnya. Untuk menempuh jalan hukum ya gimana? Proses peradilan juga perlu biaya bukannya ya? Sementara Lia punya beberapa orang adik dan ibunya tidak bekerja.

Di SMP saya bertemu lagi Lia versi remaja, dia teman satu sekolah dan satu kelas saya. Jika sudah waktunya bayar uang sekolah atau buku dia sering bingung karena tidak punya uang. Lia ini cukup pintar tapi sayang sekolahnya hanya sampai SMA saja.

Bahkan seorang ibu juga punya peluang yang sama lho untuk meninggalkan keluarganya begitu saja, nggak cuma ayah yang bisa meninggalkan anak-anaknya dan membiarkan mereka mengurusi serta menghidupi diri sendiri. Seperti ibu salah seorang sahabat saya.

Banyak permasalahan seperti itu, saya juga pernah tidak dianggap anak dan diusir dari rumah oleh orang tua karena masalah yang sangat sepele. Entah memang dari kemauan orang tua sendiri atau benar seperti yang diinformasikan seseorang bahwa orang tua saya kena sejenis guna-guna yang dipasang oleh salah seorang kerabat sendiri agar jauh dengan anak-anaknya. I don't know exactly. Susah untuk mengambil kesimpulan dari masalah yang seperti ini tapi ya, hubungan orang tua dan anak bisa seburuk itu kok. Yang membedakan mengapa masalah ini mencuat adalah karena Pak Supertega dan keluarganya ini publik figur dan masyarakat terutama kalangan netizen paling tidak suka dengan kejadian perusakan rumah tangga orang lain, apalagi sampek lupa anak dan keluarga besar. Sangsi sosialnya kenceng.

Hubungan orang tua dan anak itu sesungguhnya bisa sangat rentan, sekalipun katanya blood ticker than water dan kasih orang tua sepanjang jalan tapi disisi lain karena jatuh cinta pada orang lain, dikompori orang luar dan perbedaan pendapat bisa mengakibatkan hubungan keduanya retak atau hancur secara serius.

Gampang saja orang berpendapat kalau mungkin si anak ini cari tenar atau apa karena kok baru sekarang saat si Ario berumur 30 tahun? Nggak dari dulu?

Balik lagi ke penjelasan bahwa menurut saya dia sudah nggak masalah untuk gak urusan sama si Pak ST, karena tuduhan-tuduhan yang diklarifikasi Pak ST secara negatif itulah dia menampakkan diri untuk klarifikasi juga. Sangat manusiawi. Tuduhan yang diumumkan di publik juga harus ditangkal dengan klarifikasi via publik juga buka? Mengingat Pak ST mainnya di publik. Kuatirnya dengan Pak ST yang mendapat banyak dukungan, kedepannya makin banyak saja kasus seperti ini. Kasihan anak-anak itu.

Yah itu komentar saya tentang isu yang sedang populer banget ini.
Menurut teman-teman gimana?

Friday, June 24, 2016

WANITA DAN TEKANAN SOSIAL


Oke, topik ini sering sekali menjadi bahan obrolan antara saya dengan beberapa teman baik yang perempuan selama kurang lebih beberapa tahun terakhir. Dan sepertinya juga topik obrolan ini nggak ada habisnya, setiap kali tingkatan kehidupan kami naik maka ya semakin ada saja tekanan yang muncul. Malah kadangkala juga semakin kompleks.

Wanita dan pekerjaan 
Wanita dan pekerjaan ini memang sudah jadi pro dan kontra sejak lama ya. Mungkin sudah sejak sepuluh tahun lalu atau lebih para wanita semakin lama semakin mampu membuktikan bahwa dirinya juga mampu menduduki posisi-posisi strategis baik di perusahaan maupun dalam pemerintahan. Coba juga perhatikan bahwa semakin kesini wanita yang pintar semakin banyak kok, tapi sedihnya kecerdasan mereka di luar rumah seringkali tidak diimbangi dengan kemampuan yang sepadan dalam mengerjakan pekerjaan domestik.

Saya tahu sebagian orang sering mengunggah meme dalam media sosial mengenai bahwa tak apa dong nggak bisa mengerjakan pekerjaan domestik, kan mestinya seorang lelaki menikahi mereka karena mencari istri bukan mencari pembantu?

Benar sih. Tapi kan keuangan keluarga belum tentu selalu lancar, wallahualam ya... tapi saat harus berhemat tentunya kita sudah tidak bisa lagi memaksakan pekerjaan domestik di tangan ART. Jalan satu-satunya ya tentu suami istri harus bekerjasama dalam mengerjakan pekerjaan domestik, bagi-bagi tugas. Kasian kan dia kalau harus ngerjain semuanya sendiri karena kita nggak bisa menghandle bagian kita?

Selain itu wanita yang tinggal di rumah tanpa bekerja akan menuai banyak komentar miring pula dari masyarakat bahkan kadang - jahatnya - dari keluarga juga. Mulai dari tidak mandiri, nggak keren karena nggak menghargai emansipasi, demennya tergantung suami sampai jatuhnya serba salah. Sempat suatu waktu sepulang pelatihan sertifikasi untuk auditor, seorang ibu yang juga adalah teman satu kelas saya cerita bahwa kadang capek untuk tetap kerja di usianya yang sekarang namun kalau berhenti ya susah juga dan serba salah. Misalnya kalau pengin beli baju baru aja bisa repot, kudu nunggu kelebihan uang suami itu juga bakalan jadi objek nyinyiran orang, "bajunya baru ih bisanya morotin suami". Itulah enaknya punya penghasilan sendiri, kata beliau.

Jadi wanita yang bekerja juga dilema sih. Sudah banyak saya kira meme yang beredar di media sosial menyoal sindiran untuk para ibu yang sibuk berkarir di luar dan memutuskan untuk menitipkan asuhan buah hatinya. Padahal banyak lho diantara mereka yang kerja karena sebuah kondisi urgent yang kita mungkin tidak tahu cerita sebenarnya.

Wanita dan pernikahan
"Mengapa ya kok semua orang mendadak nikah?" ini pernah dipertanyakan seorang teman saya karena dia heran dan kebingungan setiap bulan ada saja layangan undangan pernikahan baru dari teman-teman kami.

Sederhananya ini karena memang usia sepantaran kami sudah ideal untuk menikah, tidak heran kalau undangan pernikahan nggak henti-hentinya datang. Beda pastinya dengan masa ketika kita masih duduk di sekolah menengah, bisa dipastikan nyaris nggak ada yang kirim undangan nikahnya sendiri saat umur sekian.

Tapi saya paham juga dengan kebingungan teman saya ini, ya gimana nggak bingung kalau baru juga sekian tahun kami masuk golden age yang maksudnya tahun-tahun bisa dibilang mapan dengan status ekonomi stabil gitu... eh mendadak saja undangan nikah yang banyak dikirimkan orang jadi bikin kita mikir kalau berarti kita seharusnya juga sudah kudu kirim undangan nikah dong?
Entah kenapa, sehelai undangan nikah bisa bikin kita jadi insecure atau mungkin galau. Ya nggak? Apalagi kalau calon pendamping juga belum ada pandangan. Ya makin bingunglah itu.

Belum lagi kena 'pressure' sosial, mulai dari pertanyaan kapan nikah yang bercanda atau serius sampai komentar jahat kalau kita 'nggak laku' dan 'nggak ada yang mau' karena belum nikah di umur ini. Serius ini jahat bangetlah. Seorang teman dekat pernah jadi sasaran komentar gini, begitu dia cerita saya jadi ikutan sebel. Lha kan kita semua juga usaha kok untuk menjemput jodoh, kalau yang mengatur jodoh kita belum ngasih saat ini masa mau marah-marah dan nyalahin yang ngatur?

Wanita dan keturunan
Teman dekat saya yang lain menikah selama tiga tahun tapi belum ada tanda-tanda hamil, padahal mereka berdua tinggal serumah nggak seperti saya dan paksu yang sempat lama menjalani long distance marriage. Nah teman saya ini ketakutan sampai periksa sana-sini, pakai banyak macam metode pemeriksaan, kadang pemeriksaannya bikin sakit gitu sampek dia nangis. Kasihan. Tanpa komentar memojokkan atau nanya-nanya kapan hamil pun saya rasa dia sudah kebingungan, apalagi kalau dapet pertanyaan dan statement nggak oke dari orang-orang yang niat awalnya basa-basi tapi jatuhnya komentar jahat?

Makin kesini sih makin sering orang yang komen jahat tanpa merasa bersalah, terus juga masih diterusin aja padahal kitanya sudah menunjukkan gejala-gejala nggak suka.

Yang satu ini sih saya juga sering ngalamin, entah pertanyaan ganggu atau 'tuduhan-tuduhan' yang nggak enak. Misalnya mungkin karena saya nggak suka anak kecil makanya belum dikasih hamil. Memang sih saya bukan orang yang heboh gitu kalau ketemu anak kecil apalagi yang lucu, tetep pasang tampang cool biasa aja maksudnya. Tapi yang nuduh gitu kan ya sotoy banget, sejak tahun kedua punya adek kira-kira umur 5 tahunan saya udah bisa nidurin adek saya yang bayi kalau rewel. SMP juga sudah bisa ngasuh adek sepupu saya yang umurnya baru hitungan bulan, belum bisa negakin leher. Mulai dari gendongin sampek tidur atau pas nangis atau ganti popoknya juga bisa. Ya seneng-seneng aja.

Kurang suka sama anak kecil atau bayi gimana lah sampek seumur gini juga masih suka pakai bedak bayi, nyuci baju pakai pelembut pakaian bayi karena wanginya yang enak banget dan tahan lama segernya. Jadi ya jangan suka nuduh orang yang nggak over reacted sama anak kecil lucu kalau dia nggak suka anak kecil.

Terus buat yang suka ngasih komentar atau pandangan miring untuk orang yang belum diberi kepercayaan untuk punya anak, ya harap distop dong :) Lah kita juga nggak tau kapan dikasihnya, sama aja sih bingung juga kan kalau ditanya kapan mampu beli jet pribadi atau umur kita sampek kapan dibolehin hidup di dunia? Ya itulah, tergantung yang ngasih umur dan rezeki :)



Tuesday, June 7, 2016

PERTEMANAN SEIMBANG



"Mbak, blogger favoritmu siapa sih? Lagi mau blogwalking nih, butuh referensi lain di luar yang biasa dikunjungi," tanya seorang teman blog, lewat obrolan kami via chat.
Pertanyaan simple sebenarnya tapi kok bikin saya lumayan bingung juga jawabnya.
Blogger favorit?
Ngomongin favorit, berarti kan jajaran blogger yang paling saya suka diantara yang lainnya. Bisa yang paling saya suka, bisa yang beberapa yang paling saya suka sampai-sampai saya selalu meluangkan waktu mampir ke blognya.
Masalahnya, saya nggak memiliki daftar wajib kunjungi tertentu.
Terus kalau ngomongin blogger favorit kayaknya bakalan lama karena yang menjadi favorit saya buanyak. Lebih dari satu, bahkan sepuluh juga kayaknya lebih deh.

Buat saya, semuanya yang mampir dan nimbrung di jendela saya adalah teman-teman favorit yang spesial dengan diri mereka masing-masing. Yah selama nggak doyan komen jehong sajah lah ya :)))
Iya, teman-teman yang membaca tulisan ini termasuk dalam daftar favorit saya. Ada orang-orang yang follow dan membaca tulisan saya tanpa menyapa, ada yang tidak lupa meninggalkan komentar sebagai sapaan. Saya anggap sapaan itu sebagai undangan, undangan untuk saling mengenal. Sebagai blogger jadul yang mungkin dibilang orang konvensional, saya menikmati bagaimana dalam blogwalking saya jadi mengenal seseorang. Bagaimana saya merasa akrab dengan mereka meskipun jarang atau bahkan tidak pernah berbincang dalam chat.

Saya menyukai interaksi antar blogger, atau bahkan dengan pembaca jendela saya karena saya lebih suka banyak teman daripada banyak fans. Heheh. Kesannya keGRan banget yaa... Tapi bener. Pun saya juga lebih suka interaksi yang seimbang antar blogger, saling sapa dan saling kenal dibanding terus-terusan mampir searah gitu. Karena itu saya berusaha mampir balik, meskipun waktunya nggak selalu ada. Tapi selagi bisa, ya saya lakukan.

Ada yang berbeda pandangan pastinya, karena kesibukan orang beda-beda. Wajar saja kok. Orang hidup sendiri-sendiri dengan caranya masing-masing.

Tapi kalau saya, lebih suka hubungan pertemanan yang berimbang. Disapa ya dibalas. Kalau ikut lomba terus dianya dukung kita, ya kita dukung balik kalau teman kita ikut lomba. Biarpun ikut lomba yang sama. Heheh.

Pola hidup sehat menurut saya bukan hanya soal menjaga kondisi agar tubuh tidak kelelahan, sakit atau menjaga makanan yang kita konsumsi tetap sehat dan gerak tubuh yang menimbulkan keringat tapi juga pola pertemanan yang sehat. Yang 'saling'. Yang tidak memperlakukan kita seolah kita fansnya, yang tidak pula kita perlakukan sebagai fans. Pun juga saling menghadiahi kebaikan berupa apapun. Karena pertemanan yang tidak seimbang cenderung kurang melekat. Setidaknya menurut saya.

Bahkan saling memberikan hadiah ada aturannya yang dianjurkan dalam agama, saling memberikan hadiah dapat membuat dua orang teman saling 'mencintai'. Hadiah bisa apa saja, anyway review blog teman juga bisa jadi hadiah yang touchy lho serius :) Jadi, nggak mesti yang punya label harga juga.

Pertemanan yang sehat juga sangat penting untuk menjaga mood kita agar jauh dari stress. Nggak bikin gerundel, dst dst. Pertemanan yang sehat juga bikin kita belajar banyak, belajar apapun. Nggak harus punya teman dengan pendidikan tinggi untuk bisa belajar banyak dari dia, teman yang ibadahnya rajin juga memberi kita pelajaran bahwa kita masih segitu kurang dalam beribadah. Teman yang nggak mikir buat banyak sedekah juga bisa memberikan kita pelajaran yang besar dan muhasabah, bahwa mungkin kita lebih sering berharap rezekinya banyak nambah tapi makin ditambah rezekinya sama Allah kok sedekahnya malah jadi makin perhitungan.

Yang terpenting, teman yang baik membuat kita menjadi lebih baik dengan mengenal dia. Ini sih menurut saya. Kalau menurut teman-teman bagaimana? :)


Saturday, June 4, 2016

TAK KENAL MAKA NGE-JUDGE

sesederhana mungkin kita mengira isi cangkir ini adalah kopi, padahal isinya cokelat panas. atau justru sebaliknya

Susahnya jadi manusia, sering blunder. Bukan soal bohong dan tidak sih, tapi kan kita bukan mesin yang bisa terprogram untuk mengingat memori jangka waktu sekian bulan misalnya. Ingatan kita cenderung acak - eh atau cuma saya? -  ingat dengan jelas apa yang terjadi belasan tahun lalu, tapi tidak ingat dengan yang kita bicarakan minggu lalu.

Maraknya media sosial membuat fenomena unggahan apapun bisa berbuntut panjang, tidak cuma sebagai kontrol sosial, kadang juga bertindak sebagai kedok kontrol sosial.

Saya masih ingat masa SMA yang membuat saya urung mendaftar sebuah sekolah berikatan dinas dengan pemerintah karena kasus penganiayaan dan bullyingnya. Saat itu, gencar seluruh media dan masyarakat menyatakan penolakan sikap terhadap bullying.

Eh sekarang malah musim banget. Peningkatan atau penurunan?

Arus informasi yang kencang dan internet yang makin lancar membuat siapapun bisa jadi objek bully, masalah sekecil apapun bisa memancing bully. Objek bully tidak lagi terbatas orang-orang tertentu, sekarang sudah tipis sekali dinding pembatas. Orang bisa membully orang lain bahkan yang dia tidak kenal sama sekali, sekadar tahu akunnya di internet.

Dan seringnya bully terjadi karena perbedaan pendapat, padahal disertai dengan embel-embel jangan nge-judge seenaknya dong?

Don't judge. Katanya.
Padahal yang ngomong gitu juga nge-judge, ngejudge orang yang dianggep ngejudge *ribet. Yah saat menulis ini saya juga lagi nge-judge sepertinya.
Begitulah, muter-muter saja.

Kita sering bilang jangan men-judge seseorang, karena itu bikin kita merasa layak mengadili seseorang dan membuat kita merasa paling benar. Memangnya Tuhan? Yang lain salah semua. Ibarat nilai ujian. Kita mungkin manusia yang mendapat nilai 90, orang lain cuma 50.
Gitu katanya.

Tapi, benar nggak sih pengkampaye jangan nge-judge ini nggak pernah nge-judge juga?

Setelah saya pikir-pikir, nggak menjudge seseorang itu susah lho. Mau nggak mau kita sering melakukannya, entah yang baru sekadar level dalam hati atau sudah terucapkan lewat lisan dan tersampaikan lewat tulisan.

Kita. juga. tidak. bisa. menolong. diri. kita. sendiri. dari. menjudge orang lain.

Kok?
Coba kita lagi sendiri di pinggir jalan, nunggu jemputan terus ada mas-mas gondrong berbaju belel dengan tato penuh sedang jalan menuju ke arah kita. Reaksi kita? Takut, serem, khawatir? Wajaaarrr.
Secara sadar atau tidak kita sedang menjudge mas-mas tersebut entah preman, entah kriminal, atau entah apa. Kalau beliau justru polisi bagian intel ya mana kita tahu?

Sebaliknya, masih ingat beberapa kasus orang biasa yang menyamar jadi aparat di Jakarta yang sempat di blowup media? Orang-orang membayarkan sejumlah uang pada mereka untuk menjamin keamanan lingkungan tersebut, orang-orang segan dan takut. Ternyata aparat palsu, menyamar untuk tipu-tipu agar dapat uang.

Judge-menjudge ini memang dekat sekali dengan keseharian, biasanya kita lakukan karena kita tidak kenal dengan orang tersebut. Ah jangankan tidak kenal, sudah saling kenal pun susah untuk terhindar dari judging, biarpun levelnya baru sampai pikiran atau omongan dalam hati saja. Padahal ya lagi-lagi, belum tentu itu benar.

Karena itu agama kita memerintahkan untuk menghindarkan dari prasangka buruk, namun juga menghimbau kita untuk menjaga diri, tetap waspada.

Jadi, judging itu wajar. Justru malah sifat alamiah manusia. Cuma memang kudu di filter aja ya, cara menyampaikannya jangan yang nyolot tanpa sebab ah. Lah kita juga nggak mau dinyolotin sembarangan sama orang kan? Jangankan tanpa sebab, yang jelas-jelas ada sebabnya aja juga enggan. Enggan dinyolotin maksudnya :))

Sunday, May 15, 2016

HOW TO HANDLE "ANNOYING"



Suatu hari saya mendapat pesan pribadi dari seorang teman blog, inbox di salah satu media sosial tepatnya. Karena notifikasi yang terlambat, saya juga terlambat membaca pesan tersebut.

"Mbak, menurut mbak gimana cara menghadapi orang yang annoying?"

Teman blog yang ini jarang meninggalkan jejak meskipun sering mampir dan membaca jendela saya disini. Saya membalas dan meminta maaf karena saya baru saja membuka pesannya, tidak cukup nyaman menulis jawaban di inbox media sosial karena itulah saya men-suggest dia untuk ngobrol sama saya via email atau gtalk saja. Tapi karena belum sempat terlaksana, maka saya menjawab pertanyaan itu melalui postingan ini.

Orang yang annoying, tidak bisa terlepas dari keseharian sebagian besar kita. Nggak tahu ya, selalu ada tipe orang yang begini nyelip di lingkungan kita. Mungkin anggota keluarga besar, mungkin teman kerja atau teman sekolah, mungkin tetangga, mungkin teman di dunia maya.

Namun tipe orang annoying ini juga beda-beda lho, ada yang jenis annoyingnya hobi nyinyir, kelewat sensitif, atau mungkin jenis orang yang seenak jidatnya sendiri sampai nyaris miskin etika.

Di dunia maya dan juga nyata, orang biasanya mengenal saya sebagai orang yang kalem dan lembut. Yang sebenarnya nggak gitu juga, tergantung orang yang dihadapi aja. Ya kalau orangnya baik sama saya, masa saya bakalan ngelabrak atau apa? Kan ya nggak, sekalipun ada perbedaan pemikiran kan wajarlah ya untuk saling menegur selama dalam ranah wajar. Attitude saya biasanya tergantung bagaimana seseorang memperlakukan saya.

Biasanya orang tidak mengenal saya dari sisi saya yang lain, bahwa bagaimanapun diri saya yang nampak dari luar. Se-kalem apapun yang nampak, saya tetap adalah orang yang lama merantau dan kerasnya perantauan membuat saya tidak memiliki banyak pilihan selain harus kuat dan harus bisa membela diri sendiri kalau nggak mau dijadiin keset orang. 

Nah untuk menghadapi spesies orang annoying ini, lihat dulu deh annoying-nya itu yang tipe apa? Yang sudah dalam taraf mengganggu kita nggak?

Tipe yang nggak mengganggu sih biasanya saya cuek-cuek aja, asal nggak nyenggol saya aja gitu :p

Tipe Annoying Satu
Kalau annoying-nya tanpa sadar, atau sudah menjadi sifat dia dari orok ya tegur saja dengan kata-kata yang enak dia dengar, karena bisa jadi dia nggak nyadar kalau tindakannya itu nggak enak bagi orang lain. Gimana bisa sadar kalau sudah jadi sifat bawaan yang orang lain nggak ada yang kasih tau sama dia? Kasihan juga lho, jangan-jangan dia selama ini jarang punya teman karena sifatnya yang kurang oke bagi teman-temannya. Tapi dia nggak nyadar apa yang salah dari dirinya sendiri.

Tipe Annoying Dua
Jenis orang annoying yang kedua adalah jenis orang yang sengaja banget melakukan suatu hal yang mengganggu kita, dan itu pun nggak berusaha untuk dia sampaikan lebih dulu dengan baik antar personal. Jenis yang ini mainnya kerap kali lewat sindir-sindiran atau nyinyir terselubung no mention. 

Kalau nemu orang yang kayak begini, nggak usah kita balas dengan sikap yang sama. Balas nyinyir, balas nyindirin dia? Buat apaan? Kelamaan jeung, langsung konfrontir sajalah. Biar clear. Biar dia sadar pula kita nggak bisa diperlakukan seenak jidat dia.

Hadapin antar personal kalau ngerasa perlu, tanyain maunya apa sih? Tapi kalau dia beraninya cuma karena banyak teman ya konfrontir saja di depan bala-bala genggesnya langsung.

Ada masa-masa dimana saya kesal, banyak masalah yang harus dipikirkan kemudian entah darimana nemu spesies orang yang ganggunya luar biasa. Secara pribadi kalau saya tidak tahu menahu dan salah akan sesuatu, lebih oke untuk ditegur atau ditanyai langsung ketimbang mendapatkan sikap yang nggak enak. Bahkan kalau saya salah, dimarahin itu memang menyakitkan tapi kalau disindir nggak enak dan dinyinyirin dibelakang, wah itu jahara banget. Biasanya setiap itu terjadi, saya lebih memilih untuk bertindak langsung tegur seperti dalam postingan saya dibawah ini:


Sudah begitu biasanya orang kaget menjumpai sisi saya yang seperti itu, yang langsung frontal. Seringnya mereka menilai saya orang yang tidak bisa marah, jadi bakalan kalem-kalem aja diperlakukan seenak mereka biar kata sebenarnya gerundel dalam hati. 

Kalau ditanya apa saya sering berlaku demikian? Ya nggak juga sih, saya bukannya tukang labrak, tapi saya malas banget kalau orang bersikap nggak menyenangkan ke saya. Anyway, cuma tindakan pembelaan diri kok ;P

.

Saturday, April 23, 2016

OBROLAN HARI KARTINI DAN KEPAHLAWANAN PEREMPUAN



Belakangan ini saya sedang berasa uninspired gitu, malas menulis. Ide sih banyak berjejalan, tapi gimana ya kalau sayanya mager banget gitu? Pengennya diketikin haha *apaan*. Keliling blognya teman-teman dan menemukan posting yang bertema kurang lebih sama. Soal hari Kartini. Aduh bukan berarti nggak appreciate ya, cuma saya rada bosan.

Saya inget survey setahun lalu di kantor untuk dijadikan essay mengenai Hari Kartini. Essaynya ditujukan untuk seluruh karyawan wanita - kalau nggak salah level assistant manager ke atas. Dan saya inget banget gimana essaynya nggak mencantumkan hasil survey dari saya sama sekali. Nggak kecewa sih soalnya sudah sempat menyelamatkan cerita dan pemikiran saya di posting blog :D 

Ya gimana ngarep dipilih kalau essaynya soal Hari Kartini terus jawaban saya malah kontra banget? *ah mimpi lu, Nin* 
Yang penasaran bisa di baca di link berikut


Kebosanan saya bikin mendadak iseng melihat kontak BBM. Eh kebeneran salah satu teman saya nulis status baru yang minta banget diajakin ngobrol : kenapa sih harus Kartini?

Membaca itu bikin saya nge-chat dia: "Soalnya beliau kan banyak nulisnya, ya samalah kayak wartawan, berjuang dengan pena. Pena lebih tajam daripada tombak, kadang. Eh katanya sik..."
not to mention, cuma istilah sih... nggak mungkin juga pasukan kemerdekaan kita melawan penjajah dengan modal pulpen tajem buat nyolok lawan.

"Tapi kan ada lho pahlawan wanita lain yang benar-benar keras berjuangnya lewat tulisan, Nin. Tulisan-tulisannya bagus dan dimuat di surat kabar-surat kabar. The real pejuang via pena lah..." Begitu ketikan balasan dari teman baik saya itu.

Saya ngikik, ngikik demen pengin terusin obrolan bareng teman saya ini. Mendadak saya jadi nggak bosan lagi, ngobrol sama teman saya yang satu ini memang seru apalagi dia berasa yang ngetiknya sambil gemes gitu. Hihi.

"Hmm mungkin nih ya mungkin... karena kiprahnya dalam hal pendidikan, perjuangan perempuan dalam pendidikan dan supaya perempuan nggak cuma berhenti tumbuh dan jadi istri tanpa sekolah yang memadai bahkan juga mendapat hak yang berbeda jauh pula," saya membalas obrolan chatting kami lagi. 

"Soal yang itu juga ada kok tokoh yang keras banget perjuangannya melalui pendidikan. Nggak main-main bahkan juga mengajar dan bikin sekolah dengan jerih payahnya lho," jawab si teman.

"Ya karena emansipasi baru didengung-dengungkan saat masa beliau kali? Jadi kan kelihatan banget perannya, mungkin beliau yang pertama nampak dalam masalah kesetaraan perempuan... Ya kan?" saya nanya sama dia.

"Ah emansipasi gimana? Emansipasi sudah aja sejak lama kok, lihat aja deh di Atlas jadul kalau masih punya... perempuan-perempuan yang gagah perkasa melawan penjajah di medan perang banyak amat gitu. Mereka bahkan lebih dulu ada sebelum masa Kartini," teman saya ngasih tahu sambil gemes gitu, dugaan saya yang sering ngobrol langsung juga sama dia, "Dan mereka melawan penjajah lho bukan malah 'dekat' dengan orang-orang Belanda hingga namanya lebih istimewa, aksesnya pun juga,"

Saya manggut-manggut di depan layar ponsel, padahal si teman juga nggak bisa melihat anggukan saya, pun dia juga mungkin nggak sadar kalau sebenarnya saya sepikiran dengan dia. Tapi memang menarik untuk menggali pendapatnya dan kami jadi ngobrol gemes-gemes-seru begitu.

Sekali lagi, negeri kita memiliki banyak pahlawan perempuan. Dari yang benar-benar bertarung gagah, beresiko terluka dan meninggal dalam perang maupun di daerah hukuman buang. Sayang saja kalau kita memiliki satu hari khusus untuk menghargai hanya satu nama, padahal layaknya jargon iklan di televisi - yang sama bagusnya banyak lho... dan mereka ini jarang diekspos media pun juga namanya tidak dijadikan hari istimewa. Mereka memang berjuang dengan kemampuan masing-masing dan dengan cara yang berbeda-beda pula, bukan berarti harus diperbandingkan besar kecil kontribusinya untuk bangsa.

Jadi bukannya saya berharap untuk diadakan Hari Cut Nyak Dien dalam kalender selain Hari Kartini, dimana para perempuan mendadak pakai baju adat Aceh dan berkerudung ala beliau, namun saya adalah salah satu orang yang merasa bahwa pahlawan-pahlawan perempuan layak mendapatkan penghargaan yang sama besarnya. Mungkin lewat hari peringatan kepahlawanan perempuan? Agar mereka mendapatkan tempat yang sama besarnya di hati kita semua, jadi bukan menjadi bunga bangsa daerah asalnya saja. Namun besar semangatnya yang menginspirasi dan menjadi milik kita.

Ditulis dengan sepenuh hati, untuk para pahlawan-pahlawan perempuan yang luar biasa.

.

Seperti biasa, setuju silakan tidak setuju pun boleh... beda kepala beda pula persepsinya kok ;)


Sunday, February 21, 2016

Jarimu Doyan Memaki? Jarimu Enggak Keren...

Saya lagi main di salah satu akun media sosial yang jarang saya tengokin ketika melihat share post dari seorang teman. Ada sebuah akun yang mengkonfirmasi mengenai statusnya yang telah lalu. Dan statusnya yang lalu itu telah menjadi viral di media sosial.

Saya mampir ke akun orang itu dan melihat status yang dimaksud, status yang membuat dia di bully begitu banyak orang. Komentarnya hingga seribu sekian, like-nya juga nggak kalah banyak. Banyak yang memaki-maki di statusnya padahal saya yakin mereka tidak mengenal akun dengan nama D.P. ini. Komentar-komentar itu saya perkirakan berasal dari orang yang tersinggung atau sebal dengan statusnya kemudian menshare di akun masing-masing yang menarik banyak orang hingga akhirnya status tersebut menjadi viral. 
Mau tahu bagaimana status yang menghebohkan ini? Ini yang saya dapat setelah cek ke history editing status akun tersebut :


Saya adalah seorang orangtua tunggal dengan 3 orang anak. Keseharian saya sibuk bekerja, sehingga terus terang saya tidak punya banyak waktu untuk ketiga anak-anak saya. karena itulah, setiap kali ada waktu luang, saya selalu melewatinya dengan quality time bersama anak-anak saya.

Bertepatan dengan akhir pekan kemarin, seperti biasa, saya meluangkan waktu untuk ketiga anak saya yang tercinta. Perlu diketahui, ketiga anak saya ini adalah anak-anak yang pintar dan berprestasi di sekolahnya, saya merasa sangat bangga.

Biasanya akhir pekan saya lewati bersama anak-anak saya untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari dan mainan mereka. Mungkin terdengar seperti pemborosan atau terlalu memanjakan anak, tapi saya merasa itulah yang bisa saya berikan untuk menggantikan keberadaan saya yang tidak selalu ada untuk mereka.

Anak tertua saya (yang sudah berusia 12 tahun) kemudian mengajak saya untuk menonton di bioskop. Filmnya tentang superhero bertopeng. Dia bilang, teman-temannya di sekolah selalu membicarakan tentang film ini, jadi dia juga ingin menontonnya agar tidak ketinggalan trend. Saya berpikir ini merupakan kesempatan yang bagus untuk quality time bersama ketiga anak saya. Sembari mengajarkan nilai-nilai moral dan keluhuran yang selalu diajarkan di semua film super hero. Ini juga merupakan kesempatan yang baik untuk memperlancar kemampuan berbahasa inggris mereka.

Singkat cerita, kami berempat pun menonton film itu.

Film itu memiliki rating dewasa. Petugas penjual tiket juga sudah memperingatkan.
Tapi saya yakin dan.percaya kepada anak-anak saya. Mereka sudah cukup dewasa untuk menonton film superhero Hollywood. Mereka tidak sebodoh itu meniru adegan terbang atau menembakkan sinar laser dari mata. Anak saya adalah anak yang cerdas.

Tetapi alangkah terkejutnya saya ketika menonton film itu.
Adegan sadis dimana-mana. Tindak kekerasan dan darah di setiap adegannya. Lalu tindakan-tindakan porno yang sangat tidak pantas dilakukan. Belum lagi isu homoseksual dan lelucon porno dan tutur bahasa yang kasar.
Sungguh tontonan yang tidak pantas.
Benar-benar merusak moral.

Waktu berharga yang seharusnya saya lewati bersama anak-anak saya, malah dipergunakan untuk menonton film amoral seperti ini.
Saya jadi bertanya-tanya, apa yang dilakukan pemerintah selama ini?
Bagaimana bisa film semacam ini beredar, terpampang di bioskop-bioskop besar sebagai film yang paling diminati?
ini jelas dekadensi moral dan pembodohan?
Jelas merusak generasi penerus yang masih dibawah umur!

apakah kita akan diam saja? apakah kita akan membiarkan generasi muda kita dirusak oleh budaya asing yang tidak cocok untuk adat ketimuran?

para ibu dan ayah dimanapun berada, mari bersama satukan suara untuk membuat petisi, menarik film ini dari peredaran! jangan biarkan anak-anak kita dirusak!
#SaveGenerasiMuda #SaveIndonesia

P.s
Satu-satunya hal yang bukan merupakan kebohongan adalah, bok*ng pemeran utamanya memang bagus.

Ya terus ?
Setelah baca ini saya ngakak saking nggak nahan karena lucu sekaligus miris. 
P.s. nya memang sengaja saya ubah dengan font yang lebih besar agar kita menangkap maksud dibalik status ini yang sebenarnya.

Di bagian komentar, orang-orang sibuk memaki dan mengkritisi kalau ibu D.P. ini kolot dan bodoh, sudah tahu dilarang petugas bioskop kok masih nekad bawa anaknya masuk nonton film dewasa ini. Mereka melewatkan bagian penting dari status ini bahwa ibu-ibu diatas hanyalah tokoh fiktif, demikian juga dengan kejadian dan curcolannya. Ibu ini TIDAK NYATA. Yang menyatakan tidak nyata dan bohong adalah pemilik akun sendiri di status awalnya, di akhir paragraf.

Netizen mengecam dan terlanjur menganggap bahwa sang pemilik akun, D.P. adalah seorang ibu-ibu yang o'on-nya nggak ketulungan. Lah yang bikin saya ngakak campur bingung ini apa mereka nggak baca tulisan P.s di belakang komentar? Status dengan P.s ini padahal asli belum diedit, cek saja edit history statusnya.

Saya pikir D.P. yang dikira ibu-ibu namun ternyata mas-mas ini sebenarnya nggak bermaksud kok untuk membuat status yang bakalan jadi viral di dunia maya. Saya rasa dia hanya sedang bercanda, dan bercandaan dia ini unik yaitu dengan menulis status berupa cerpen singkat ala-ala flash fiction tapi lebih panjang. Mungkin kebanyakan pengguna media sosial belum pernah baca flash fiction ya... karena orang-orang yang paham dan ketawa nggak sebanyak orang-orang gagal paham berjama'ah lantas tanpa pikir panjang langsung membully. Karena mereka merasa kebodohan seorang ibu-ibu bisa membuat sebuah film luar yang tengah mereka gandrungi - Deadpool punya image buruk.

D.P. kemudian mengkonfirmasi lagi di status berikutnya: 


Halo, nama saya D.P., pria dan belum menikah.

Terima kasih sudah menjadi bagian dari social experiment saya.

Tujuannya simple, untuk membuat kita menjadi pengguna social media yang lebih baik.

Terus terang saya merasa miris karena beberapa tahun terakhir, pengguna social media meningkat drastis namun tidak disertai kemampuan yang mumpuni.

Kemampuan yang saya maksud adalah kepedulian.

Peduli untuk terlebih dulu mengetahui duduk persoalannya.
Peduli untuk terlebih dulu mencari tau akar permasalahannya.

Berapa banyak orang yang begitu mudah terpancing untuk memberikan komentar-komentar negatif untuk setiap hal yang dianggap tidak sesuai dengan pendapatnya. Postingan mengenai SARA, isu LGBT bahkan budaya pop sekalipun.
Orang dengan mudahnya menjudge segala sesuatu hanya dari sampul luarnya.

Misalnya adalah postingan ini.

Dalam semalam, bahkan kurang dari 12 jam, post ini menjadi sangat viral di social media. Berbagai komentar muncul dari banyak orang, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Kebiasaan prejudge yang sudah seperti mendarah daging, membuat sebagian besar komentator seenaknya menyimpulkan bahwa saya seorang perempuan —dari nama depan saya, dan saya benar-benar orang tua tunggal. kalau saya boleh berkomentar, lucu memang.

Beberapa hal yang bisa ditemukan di post ini:
— orang selalu menilai sesuatu mulai dari luarnya dulu —itu manusiawi.
— sebagian besar pengguna social media punya kebiasaan bullying tanpa disadari, terlihat dari banyaknya komentar dengan mention semacam "woi, liat ini, g*blok banget"
— perasaan attached untuk sesuatu yang disenangi bisa membuat seseorang jadi kehilangan akal sehat, in this case, karena deadpool 'diserang' akhirnya jadi membela membabi-buta
— tidak adanya kesadaran bahwa, kalo goblok-goblokin orang yang (mereka pikir) goblok, sebenarnya hanya membuat kita terlihat goblok

Nah, post ini terlanjur viral.
lebih dari 500 orang yang share, ribuan total comment.

tapi setelah postnya di edit begini, apa yang terjadi?
malukah dengan caption impulsif yang anda tulis ketika ngeshare?
merasa bodoh dengan komentar judgemental yang terlanjur anda tulis?
atau merasa hebat karena ngerti satire nya lalu teriak-teriak goblok ke yang nggak ngerti?

kalau iya, mari kedepannya kita menjadi pengguna social media yang lebih cerdas.

#SaveIndonesia #SaveGenerasiMuda

P.S
Kalian sadar kan, kalo sebenarnya post semacam ini memancing trafik data yang bikin suatu oknum tertentu terkenal, untuk kemudian memanfaatkannya buat kepentingan personal?
STOP MAKING STUPID PEOPLE FAMOUS.

P.P.S
Kalian butuh piknik.
Sulitnya ekonomi dan tuntutan sosial tidak membenarkan kalian untuk memaki-maki orang yang kalian tidak kenal. #StayPositive


Wah...  setelah baca status konfirmasinya ini terus terang saya nggak bisa ngira apakah memang beneran social experiment atau dia nggak sengaja karena punya niatan bercanda. 

Anyway saya sih masih menduga kalau dia cuma bercanda sebenarnya :D

Tanggapan dari statusnya ini? Bukannya mereda dan jadi ngeh kalau salah bully tapi sama aja makin banyak yang komentar dan membully. Ngapain si D.P. ini ngepost ginian segala, maksudnya apa sih? Kurang kerjaan dan sebagainya-sebagainya. Menuduhnya bahwa posting yang terakhir adalah pembelaan karena nggak kuat dibully dan sebagainya.

Lha kok marah-marah lagi, makin lucu jadinya. Habis gimana ya baca status yang niatnya lelucuan kok pake otot... :))) la piye toh ya...

Oh ya... mengamati kejadian ini jadi bikin saya inget kejadian yang udah lama banget, waktu itu saya masih kuliah dan sedang suka nonton serial drama korea God of Study. Yang bercerita mengenai remaja-remaja bandel dari sebuah SMA yang kemudian diajar oleh seorang pengacara (kalau nggak salah versi korea dari dorama jepang dengan cerita yang mirip). Nah ada tokoh utama cowok B yang menyukai salah satu tokoh utama cewek sebut saja C *lupa namanya*, C ini enggak cantik tapi manis dan baik hati banget. Ada tokoh utama cewek lain namanya D (pemerannya anggota girlband T-Ara kalau nggak salah), D ini cantik dan anak orang kaya tapi juga masa lalunya pernah jadi korban bully. Dia suka sama B karena B beberapa kali menyelamatkan dia dari kejadian buruk. D ini egois dan keegoisannya sering menyusahkan C. Intinya si D ini ngeselin.

Seperti biasa di youtube banyak yang komentar per episode, dari yang biasa aja sampek komentar kasar. Mengenai C yang jelek banget menurut mereka dan kenapa si B kok suka sama cewek ini. Saya ingat saya bilang nimbrung di komentar kalau si C ini manis kok, dan dia baik hati banget. Ya wajarlah aja kan B lebih memilih C yang baik hati ketimbang si D yang egois dan ngerepotin.
(note ya saya nyebutnya B, C dan D... bukannya nama asli mereka loh... saya juga nggak tahu nama asli aktor aktrisnya siapa).

Saya ingat banget beberapa hari kemudian ada orang yang bales komentar saya, dibalesnya juga nggak selow tapi pake maki-maki. Yang intinya orang tersebut nggak suka saya komen gitu soalnya dia suka banget si aktris pemeran D, dia juga ngatain saya kalau saya bisa sampek komentar gitu tentu karena saya juga jelek makanya belain orang jelek seperti si C ini.
Saya bingung pas baca komentar itu, harus sedih atau ngerasa lucu. 

Tapi beneran ironis, jika kita mengidolakan sesuatu atau seseorang secara berlebihan lantas membuat kita merasa layak untuk menghina juga mengeluarkan kata-kata buruk kepada siapapun yang tidak sependapat dengan kita. Lebih buruknya lagi, hal itu juga membuat kita merasa berhak untuk membully seseorang entah sendiri atau dengan mengajak teman-teman kita via mention atau sharing untuk nimbrung komentar bully juga tanpa memikirkan bahwa yang kita lakukan adalah suatu bentuk dari tindakan bullying.

Seiring dengan digalakkannya gerakan anti bully di masyarakat karena sudah banyak orang-orang sakit bahkan meninggal dan keluarga yang terluka karena perilaku pembullyan, pembully malah makin banyak jumlahnya. Hanya saat ini, banyak bergerak melalui media sosial dan lebih sering berbicara dengan ketikan jari tanpa berpikir panjang mengenai apa yang menyebabkan dia serta merta membully, apalagi memikirkan dampaknya pada orang yang dibully?

Maki-maki untuk membully seseorang itu nggak keren sama sekali lho, entah lewat mulut atau lewat jari yang ngetik-ngetik. 
Jadi... gimana menurut kamu?

.

Thursday, December 17, 2015

Jobseeker Dilemma

"Mbak... orang tua sudah wanti-wanti nanti ketika aku lulus mau dimasukin perusahaan A, soalnya orang tua ada koneksi disitu. Gimana ya?"
Hmm... saya takjub dengan pertanyaan ini karena surprise, jaman sekarang ini dimana orang bilang cari kerja itu susah banget... jarang-jarang ada yang mempertanyakan harus bagaimana. Saya yakin banyak orang akan langsung mengiyakan tawaran orang tua yang seperti ini. Sudah terjamin keterimanya, nggak susah kesana kemari nyari kerja. Sebulan berikutnya udah dapat gaji, udah bisa beli wishlist ini itu.

"Ya menurut kamu sendiri gimana?" saya ketawa, bukan gimana sih... saya pengin tahu juga pertimbangan pribadi dia.
Dia menggaruk kepala bingung, "Nggak tau deh... agak males sih... tapi... hmm menurut mbak sendiri?"
Dibaliktanyain gitu saya jadi keinget masa lalu waktu masih jobseeker. Saya cukup lama juga jadi jobseeker, hampir setahun. Dan selama itu anggota keluarga besar saya ada yang menawarkan job menjadi frontliner sebuah bank ternama. Tawaran itu cukup gencar, tapi saya menolak.

Alasan saya saat itu, saya kurang suka jobdesk frontliner. Sudah. Alasan yang kurang bisa diterima dan bikin orang tersebut nanya-nanya. Sebenarnya saya nggak suka kerjaan 'katrolan' gitu, didapat dari keluarga bukannya usaha sendiri. Sudah gitu frontliner lagi, yang bakalan bikin kuliah saya selama ini nggak kepakai. Harus terus pasang senyum dan sabar berlebih. Posisinya bisa jadi juga yang paling rendah di kantor kalau anak magang dan mbak/mas yang kerjaannya beres-beres kantor nggak diitung. Belum kalau ketahuan masuk kerjanya dapat via koneksi, kena bully, dipergunjingkan oleh karyawan lain.. apa enaknya? Belum rasa hutang budinya juga bisa bikin nggak nyaman.
Ya memang adaaa sih yang sudah dibantu pakai koneksi eh rese pula di kantor dan bad attitude :)) hehe ya gitu makin jadi omongan deh.

Saya idealis? Mungkin. Yang jelas kalau saya sudah berhenti bersabar dalam menunggu pekerjaan yang cocok, nggak masalah juga kok saya jadi frontliner sementara asal masuk dengan keringat sendiri.
Bok... masa sih tes jadi frontliner aja mesti pake koneksi...

Saya dinasehatin biar nggak 'sombong', saya cengengesan aja. Saya akui saya memang melamar di semua posisi management trainee bank meskipun berharap dalam hati agar saya diterima di perusahaan non-bank saja. Khawatir ribanya. Tapi karena nasib sebagai jobseeker yang nggak banyak pilihan, saya mikirnya apapun pekerjaan yang datang duluan bakal saya iyakan karena butuh uang. Saya masuk seleksi akhir management trainee salah satu bank BUMN tapi gagal di interview user karena masih kelewat hijau soal trik wawancara. Belakangan, ketika sudah diterima dan tanda tangan perjanjian sebuah perusahaan non-bank sebagai MT, telepon datang karena saya juga lolos seleksi akhir management trainee sebuah bank BUMN lain. Yang tentu saja terlambat. Keterlambatan yang saya syukuri karena nggak harus masuk perbankan. Tapi paling tidak bagi saya merupakan kepuasan tersendiri karena berhasil melewati tes tes itu, dan hey.... tanpa bantuan koneksi dan bukan posisi frontliner :))))

Kesalahan saya adalah cerita soal itu pada keluarga, jadinya setiap saya pulang ada aja komentar miring yang nanyain saya kenapa saat itu gak milih bank BUMN itu aja. Bikin merah kuping. Tapi disahutin dengan sabar pun juga mereka nggak ngerti-ngerti juga. Anggota keluarga saya memang banyak yang tidak tahu menahu dunia luar sih... nggak pernah merantau lama dan jauh. Terfokus jadi penduduk kota kecil yang merasa bahwa jadi pegawai bank itu prestis banget. Jadi ya susah... Ya saya mah mau aja nabung bayar denda konsekuensi ikatan dinas kalau keterimanya di BI, bukan bank konvensional :)

"Ya kalau saya sih... nggak mau, coba kerja keras dulu buktikan kalau kita bisa. Koneksi boleh aja kalau kita sudah punya pengalaman dan CV yang bagus terutama di riwayat pekerjaan kita. Soalnya kalau CVnya udah bagus koneksi nggak cuma nyangkut di orang tua, kita sendiri juga bisa punya koneksi dari mitra kerja atau kolega lain. Karena sudah ada buktinya kita bagus, bukan cuma menang dikoneksi," kata saya.

"Gitu ya mbak...? Tapi jadi gaenak sih sama keluarga,"
"Ya terserah aja sih gimana pertimbangan kamu nanti. Yang jelas udah ditawarin gitu enaknya cepet kerja, nggak nganggur, punya status baru... nggak enaknya juga banyak, mulai yang punya hutang budi sama yang masukin kamu kerja dan resiko adanya omongan miring. Gitu sih..."
Dia mengangguk-angguk. Saya membiarkannya menyimpulkan sendiri. Karena terlepas dari pendapat saya yang dia minta, setiap orang tetap punya hak untuk memutuskan langkah yang akan diambil. Jadi ya... jika dia tetap mengiyakan tawaran itu, paling tidak saat mengiyakan dia sudah punya gambaran terhadap kemungkinan resiko yang akan terjadi. Serta lebih siap juga tentunya.

Pernah atau sedang mengalami dilema serupa?

pic taken from random googling


.

Friday, December 11, 2015

Duh.

Pada bulan-bulan yang teramat sibuk, pada bulan-bulan terakhir ini waktu saya tersita dengan pekerjaan dan pikiran hal-hal yang saya list detailnya agar dapat saya tinggalkan pada siapapun yang meneruskan pekerjaan-pekerjaan itu nantinya. Pulang kerja dalam kondisi lelah dan menyisihkan waktu untuk berolahraga lebih dari 30 menit, kelelahan dan tertidur lelap. Rutinitas yang terus berulang hingga membuat saya merasa, waktu bisa sangat berlari cepat pada kondisi tertentu. Mendadak weekend berlalu berganti senin dan selasa, tahu-tahu sudah weekend lagi.

Saya jadi melupakan tanggal-tanggal penting seperti hari lahir. Bahkan juga hari lahir saya sendiri yang semestinya penuh dengan renungan tentang apa yang sudah saya lewatkan selama setahun dan apa yang akan saya perbaiki berikutnya. Umur sudah berkurang lagi setahun.

Ah ya... kata orang-orang kita tidak perlu iri pada rezeki orang lain karena kita tidak tahu apa-apa saja kehilangan macam apa yang pernah dia rasakan. Dalam bertahun-tahun hidup saya, saya pernah berada dalam titik terendah kesedihan. Iri sama teman yang ini, iri sama teman yang itu. Teman yang keluarganya normal dan tidak pernah mengalami kesulitan keuangan. Yang mau beli apa aja bisa langsung beli tanpa mikir.

Saya pernah berada dalam fase... nggak mau ngapa-ngapain yang nggak menghasilkan uang karena kondisi saya yang sedemikian itu. Tapi saya nggak bisa patah terutama di depan adik saya karena saya tahu, sayalah tiang penopangnya.

Saya sering iri seperti itu dan nggak pernah membayangkan kalau suatu saat ada teman yang bakalan iri beneran dengan saya.

Kemarin salah satu teman mengontak saya dan mengucapkan selamat. Saya terharu karena dia bahkan tahu tanggal lahir saya, padahal saya sendiri saja lupa. Teman saya yang pintar dan rajin.
Ada sesuatu yang kurang nyaman dalam obrolan itu, ketika entah bagaimana dia ngomong: "kamu enak ya targetnya sudah tercapai, semoga aku juga segera menyusul,"
.......
Tahu nggak, saya bengong.
Saya tahu yang dia maksud, mengenai pernikahan itu. Saya menghela nafas dan membalas bahwa saya berharap yang terbaik untuk dia. Saya benar-benar serius dengan harapan saya bahwa si teman akan mendapatkan jodoh terbaik.

Dulu angan-angan saya menikah pada umur sekitar 26. Jika sudah terjadi sebelum saya genap berusia 25 tahun, maka itu rezeki.
Iya pernikahan adalah juga rezeki. Mencintai pasangan yang Allah peruntukkan bagi kita pun juga rezeki. Karena ya... ada kok orang yang hidup bersama pasangannya sekian tahun namun merasa tidak mencintai pasangannya seperti seharusnya suami istri meskipun sudah berusaha. Ada juga yang cuma merasakannya diawal kemudian sudah, perasaan itu selesai begitu saja atau mungkin malah lebih buruk lagi dengan ingin menemukan perasaan itu lagi pada orang yang berbeda.

Duh sayang kan.
Yah mungkin bagi sebagian orang, "ngomong sih enak lu, Nin... kan umur segini sudah nggak jomblo, jadi mana tahu rasanya?"
Tapi pemikiran ini bukan tumbuh begitu saja dan mentang-mentang. Bukan karena mentang-mentang saya dapat jodohnya cepet atau kebanyakan nonton drama korea dan turki. Namun karena curhatan-curhatan yang saya dengar langsung dari teman-teman yang lebih kenal asam garam pengalaman pernikahan.

Kata seorang teman dekat yang menikah diusia muda dan harus bercerai karena KDRT dan suami yang tidak bertanggung jawab : Ya menikahlah kalau memang sudah benar-benar siap. Siap dengan segala kebahagiaan dan resikonya. Jangan memaksa kesiapan diri kita sendiri, juga kesiapan keluarga kita.

Jadi memang bukan soal karena target atau juga keinginan-keinginan sepintas yang mungkin nantinya bakal kita sesali cuma karena muak disindir jomblo atau sudah bosen ditanyain calon sama orang tua. Menikah adalah sebuah langkah besar yang mestinya tidak dibebani target pribadi ataupun target sosial.

Kita ini terlalu berharga untuk menukar diri kita dengan status sosial yang 'mereda' sementara.
Kenapa sementara?
Ya karena setelah beberapa bulan juga rongrongannya berubah jadi kenapa kok belum hamil juga?
Ya gitu mulu deh terus... :) Kapan selesainya?
Susah... kita kayak ada di merry go round, muter doang.




.
Next Page Home