Saturday, June 4, 2016

TAK KENAL MAKA NGE-JUDGE

sesederhana mungkin kita mengira isi cangkir ini adalah kopi, padahal isinya cokelat panas. atau justru sebaliknya

Susahnya jadi manusia, sering blunder. Bukan soal bohong dan tidak sih, tapi kan kita bukan mesin yang bisa terprogram untuk mengingat memori jangka waktu sekian bulan misalnya. Ingatan kita cenderung acak - eh atau cuma saya? -  ingat dengan jelas apa yang terjadi belasan tahun lalu, tapi tidak ingat dengan yang kita bicarakan minggu lalu.

Maraknya media sosial membuat fenomena unggahan apapun bisa berbuntut panjang, tidak cuma sebagai kontrol sosial, kadang juga bertindak sebagai kedok kontrol sosial.

Saya masih ingat masa SMA yang membuat saya urung mendaftar sebuah sekolah berikatan dinas dengan pemerintah karena kasus penganiayaan dan bullyingnya. Saat itu, gencar seluruh media dan masyarakat menyatakan penolakan sikap terhadap bullying.

Eh sekarang malah musim banget. Peningkatan atau penurunan?

Arus informasi yang kencang dan internet yang makin lancar membuat siapapun bisa jadi objek bully, masalah sekecil apapun bisa memancing bully. Objek bully tidak lagi terbatas orang-orang tertentu, sekarang sudah tipis sekali dinding pembatas. Orang bisa membully orang lain bahkan yang dia tidak kenal sama sekali, sekadar tahu akunnya di internet.

Dan seringnya bully terjadi karena perbedaan pendapat, padahal disertai dengan embel-embel jangan nge-judge seenaknya dong?

Don't judge. Katanya.
Padahal yang ngomong gitu juga nge-judge, ngejudge orang yang dianggep ngejudge *ribet. Yah saat menulis ini saya juga lagi nge-judge sepertinya.
Begitulah, muter-muter saja.

Kita sering bilang jangan men-judge seseorang, karena itu bikin kita merasa layak mengadili seseorang dan membuat kita merasa paling benar. Memangnya Tuhan? Yang lain salah semua. Ibarat nilai ujian. Kita mungkin manusia yang mendapat nilai 90, orang lain cuma 50.
Gitu katanya.

Tapi, benar nggak sih pengkampaye jangan nge-judge ini nggak pernah nge-judge juga?

Setelah saya pikir-pikir, nggak menjudge seseorang itu susah lho. Mau nggak mau kita sering melakukannya, entah yang baru sekadar level dalam hati atau sudah terucapkan lewat lisan dan tersampaikan lewat tulisan.

Kita. juga. tidak. bisa. menolong. diri. kita. sendiri. dari. menjudge orang lain.

Kok?
Coba kita lagi sendiri di pinggir jalan, nunggu jemputan terus ada mas-mas gondrong berbaju belel dengan tato penuh sedang jalan menuju ke arah kita. Reaksi kita? Takut, serem, khawatir? Wajaaarrr.
Secara sadar atau tidak kita sedang menjudge mas-mas tersebut entah preman, entah kriminal, atau entah apa. Kalau beliau justru polisi bagian intel ya mana kita tahu?

Sebaliknya, masih ingat beberapa kasus orang biasa yang menyamar jadi aparat di Jakarta yang sempat di blowup media? Orang-orang membayarkan sejumlah uang pada mereka untuk menjamin keamanan lingkungan tersebut, orang-orang segan dan takut. Ternyata aparat palsu, menyamar untuk tipu-tipu agar dapat uang.

Judge-menjudge ini memang dekat sekali dengan keseharian, biasanya kita lakukan karena kita tidak kenal dengan orang tersebut. Ah jangankan tidak kenal, sudah saling kenal pun susah untuk terhindar dari judging, biarpun levelnya baru sampai pikiran atau omongan dalam hati saja. Padahal ya lagi-lagi, belum tentu itu benar.

Karena itu agama kita memerintahkan untuk menghindarkan dari prasangka buruk, namun juga menghimbau kita untuk menjaga diri, tetap waspada.

Jadi, judging itu wajar. Justru malah sifat alamiah manusia. Cuma memang kudu di filter aja ya, cara menyampaikannya jangan yang nyolot tanpa sebab ah. Lah kita juga nggak mau dinyolotin sembarangan sama orang kan? Jangankan tanpa sebab, yang jelas-jelas ada sebabnya aja juga enggan. Enggan dinyolotin maksudnya :))

14 comments:

eha said...

menilai diam-diam dalam hati itu tak terhindarkan, buat aku. Tiap ketemu orang, ato berinteraksi sama orang, pasti hati bicara. Tapi apa pun penilaianku, aku tetep berusaha sopan dan menghargai. Kalo kesannya baik, ya interaksi jalan baik. Kalo kesannya ga enak, ya interaksi seperlunya aja

Keke Naima said...

dijudge di social media buat saya lebih seram walaupun yang melakukan cuma 1 orang. Karena kita gak bisa mengukur ada berapa banyak yang melihat diri sendiri sedang dijudge

Husnul Khotimah said...

kirain kalo gak kenal ya kenalan, tambah koneksi vroh hhahaa

Ratusya said...

Kadang ngejudge itu terbentuk dari opini publik yg udah terlanjur melekat di pikiran kita.
Kaya, laki2 tatoan pasti jahat, makanya ga ada aparat yg tatoan.
Atau orang yg ramah biasanya baik. Padahal banyak juga penjahat terselubung yg ramah.
Begitu ga?

The Other Side said...

Nah, mumpung besok udah masuk bulan Ramadhan, mari jaga hati dan pikiran, hilangkan prasangka buruk di bulan yang Suci :)Kalau di bulan Ramadhan masih aja ngejudge, berarti murni kelemahan diri sendiri, kan setan dibellenggu di bulan Suci, gak ada yang bisikin suruh ngejudge orang :D Tapi ya sisi keuntungnya kita bener - bener tahu kelemahan kita untuk diinstropeksi dan diperbaiki sebagai persiapan menjelang bulan setelah Ramadhan dimana setan udah gak dibellenggu, kita semakin kuat menangkal bisikiannya :)

Silviana Noerita said...

Terkadang lelah dengan sosial media yang begitu-begitu saja. Semoga aku sendiri, bisa selalu menahan diri dalam kondisi apapun.

tia putri said...

untuk case yang ketemu mas2 nyleneh, rasanya antara was-was dan ngejudge itu beda tipis.

eh ternyata di paragraf akhir menyebutkan juga, "menghindarkan dari prasangka buruk, namun juga menghimbau kita untuk menjaga diri, tetap waspada".

dan setuju sih, ngejudge itu udah sifat alami manusia, susah ilang tapi bisa dikontrol. ngejudge lah pada porsinya dan elegan. ya ga?

Innnayah said...

Yg nyebelin itu udah judge...ngeyel maksain kita harus ngikutin dia

Lidha Maul said...

justru yang saya suka dari tulisan ini adalah bagian;"Yah saat menulis ini saya juga lagi nge-judge sepertinya. Begitulah, muter-muter saja." manusiawi banget ini
dan; "Setelah saya pikir-pikir, nggak menjudge seseorang itu susah lho" iya ya :( berattt.

Aul Howler's Blog said...

Kalau dalam ceramah yang aku denger, ini penyakit hati yang namanya TBC dan FLU

TBC = Terlalu Banyak Curiga
FLU = Fitnah Melulu

Wihihhihi

Nge-judge tanpa tau kebenarannya jatohnya fitnah kan ya kak

Btw aku setuju banget nih
Si pengkampanye jangan nge-judge sebenernya udah nge-judge juga
Tapi nggak ngerasa aja hahaha

Yoggy Satya said...

Nge-judge setelah baca postingan ini kok jadi sama saja dengan prasangka buruk ya, haha. Simpelnya sih jangan keterlaluan saja, biar ndak ada barisan patah hati #eaa. :D

Suciati Cristina said...

Jadi inget, dulu pernah ditolongin mas gondrong banget rambutnya, ya seperti reman, serem. Tapi waktu itu aku nyasar, alhamdulillah dianterin ke tempat yg bener :D

Wenny Pangestuti said...

Men-judge ya..? Bisa jadi ada orang bermaksud memberi tahu yang benar atau meluruskan, tapi penerimaan orang bersangkutan salah alias tidak terima, tidak legowo menerima masukan. Bisa jadi juga ada orang bermasksud meluruskan, tapi cara kurang ma’ruf. Saling mengingatkan itu perlu dan tertuang dalam QS Al-Ashr. Saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Barangkali masih banyaknya dari kita yg kurang legowo ketika menerima masukan dan tak paham adab dalam mengingatkan. Wallahu’alam bi shawab. Ikut prihatin juga, Nin!

Mbul Kecil said...

iya banget euy
nulis postingan dikira ngejudge egegeggekkk
ya begitu nin blunder
e ini menyoroti tema apa nih ceritanya? masi sambungan yang kemarenkah?

Previous Page Next Page Home