Monday, October 10, 2016

DALAM KERLIP LAMPU DAN CATATAN LAMA DI KEPALA

Setiap kali ditanya tentang mengapa saya dulu sangat kerasan tinggal di Jakarta, biasanya saya hanya senyum, nyengir atau ketawa sebagai reaksi dari pertanyaan tersebut. Tergantung siapa yang nanya.
Tapi memang saya selalu butuh waktu untuk mempersiapkan jawaban mengenai ini.

Nggak tahu sejak kapan, saya mulai jatuh cinta pada Jakarta. Mungkin karena saat pertama kali datang saya masih begitu muda, single dan siap untuk bertahan hidup di zona yang baru. Mungkin karena di kota ini saya menemukan jarak yang cukup untuk segala hal yang dari sekian lama saya ingin hindari. Pergi dari konflik keluarga, pergi dari keharusan pulang dan lagi-lagi terluka seperti sebelumnya, pergi dari pertanyaan kebingungan besok kamu mau jadi apa?, besok kamu mau makan apa kalau uangmu tinggal segini dan kamu masih harus menghadiri segambreng tes kerja di luar kota? Dan... beragam saran yang kemudian justru menjadi teror bagi pikiran saya: sudahlah kamu jadi pegawai bank saja! Saat pernah tawaran mengajar di universitas datang, tapi syaratnya saya harus S2 dulu. Lantas darimana biaya hidup plus biaya sekolah lagi? Rasanya nggak pernah enak menggantungkan diri dari keprihatinan orang lain. Beneran.

Berani-beraninya datang ke Jakarta yang begitu jauh dari rumah cuma sendiri?
Sebenarnya saya nggak benar-benar sendiri, saya juga masih punya teman yang mungkin karena sama-sama perantau yang jauh dari rumah sehingga kami jadi saling peduli satu sama lain. Waktu pertama kali datang, oom saya yang tinggal di Bogor juga menjemput dari stasiun kereta api meskipun berikut-berikutnya ya saya toh bukan orang yang senang merepotkan orang lain.

Padahal Jakarta banyak orang jahatnya, atau orang biasa yang egois dan selfish.
Ya, memang benar. Meskipun bukan berarti daerah lain bebas dari kejahatan juga. Ya, memang benar banyak warga Jakarta yang terkesan egois, selfish dan bahkan aneh. Tapi seperti sedemikian banyaknya orang yang bersikap seperti itu, banyak juga orang yang bersikap sedemikian baik tanpa balasan. Jakarta tidak kehilangan warga-warganya yang baik hati, itu yang saya masih setuju dan akan saya jelaskan di tulisan mendatang meskipun repotnya harus menggali-gali ingatan.

Yang masih menempel di kepala saya adalah suatu malam saat bulan puasa dan kami - saya dan beberapa orang teman baru saja usai melakukan kunjungan kerja ke bagian lain ibukota. Padahal kami baru weekend kemarin melelahkan tubuh untuk outbound di kota sebelah. Entah bagaimana bus kota yang kami naiki saat itu berbeda alur dengan yang biasanya, saya nggak begitu ingat dengan jelas alurnya. Tapi yang jelas bus itu memiliki pintu kaca yang besar dan saya berdiri tepat di dekatnya sehingga saya bisa menyaksikan apapun di luar sana. Dan saya melihat kolam-kolam besar dan air mancur yang membiaskan cahaya lampu, hening, hikmat, tanpa ada selipan macet meskipun itulah saat-saat dimana saya nggak keberatan jika macet terjadi saat saya menyaksikan itu.

O Jakarta City, you're so beautiful tonight! pikir saya, dalam kepala. Pantas saja dalam www.indonesia.travel, foto yang mewakili Jakarta adalah gedung-gedung mandi cahaya. Karena memang Jakarta paling cantik saat malam hari. Serupa wanita yang menghabiskan siangnya menyelesaikan dandanan dan bersolek kemudian keluar dari ruang hiasnya menjelang gelap dengan gemerlap. Iya seperti itu.

Jika ingin merunut jawaban atas sejak kapan saya menyukai kota ini adalah saat itu, menit-menit dimana saya menyukai pemandangan di luar jendela bus di malam hari. Malam yang kemudian membuat saya lebih suka memilih tempat dekat jendela besar bening dalam bus hanya untuk menyaksikan hasil bersolek kota ini setiap malam. Entahlah ada sesuatu yang berhasil lepas dari himpitan pikiran saat berdiri disana dan menatap kelap-kelip lampu itu.

Mendadak saya tidak lagi merasa sendiri.

12 comments:

  1. Jakarta itu indah saat lebaran, sepi dan ga (begitu) macet

    ReplyDelete
    Replies
    1. bisa gegoleran di jalan gitu ya mbak :))

      Delete
  2. Sukses di perantauan akan jadi kebahagiaan tersendiri saat pulkam. Mungkin ngunu ya nyin

    ReplyDelete
    Replies
    1. pulkamnya sih biasa aja yan, gak ada hubungannya. soalnya aku ngerasa punya uang cukup diperantauan itu ya memang buat diri sendiri dan keluarga juga

      Delete
  3. pemandangan malem sih oke banget mbak, tapi kalo pemandangan pagi pas jam kerja, duh ga kuat dehhh

    ReplyDelete
  4. Aku jg mash pengen merantau. Entah knp tdk enak klo hidup nempel terus sma keluarga. Adakalanya jarak adalah hal yg baik, krn d sana ada rindu, ada pertemuan dan kbersamaan yg berkualiats krena jrgnya bertatap muka.

    ReplyDelete
  5. Kok kayak aku cin.. So far masih cinta sm Jakarta, dengan segala kesempatan yang ditawarkan, dengan segala kerumitannya *tsah

    ReplyDelete
    Replies
    1. jiwa pekerja jakartans dong kita ya monce

      Delete
  6. Aku jarang melihat kerlip jakarta di malam hari ninda... tp bnr saat sesekali melewatinya pemandangan sprti pd gambar slalu berhasil menghipnotis :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. terus jadi mellow sendiri gitu mbak :p

      Delete
  7. Jakarta, dibenci tapi dicinta eakkkk #mulai puitis hihi

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...