Saturday, April 22, 2017

'MENJAGA' SUAMI

Belakangan ini netizen sedang gemes-gemes geram ketika ada share tentang skandal suami yang selingkuh ketika istrinya sedang hamil. Selingkuhnya sama rekan kerja sendiri. Padahal mukanya si cewek selingkuhan well kalau mau judging by cover menurut saya mukanya bukan muka-muka yang gimana sih ya wild, bitchy or whatsoever lah ya.

Mukanya kalem-kalem aja kayak cewek pada umumnya yang kita temui di tempat-tempat umum biasa kayak mall, restoran dan sebagainya. Tapi attitude dia lah yang akhirnya membuat kita sampai pada kesimpulan - atau malah kesangsian - dia beneran manusia nggak sih? Atau mutan yang kebetulan mirip manusia? Atau apa? Kok bisa-bisanya jalan sama suami orang pas si istri lagi hamil, kondisi yang kata orang adalah selemah-lemahnya fisik seorang wanita yang pastinya juga lagi butuh-butuhnya sama kasih sayang dan perhatian suami. Udah jalan bareng, berdua doang, gelendotan pula. Serius, saya nggak habis pikir aja sih.

Sering orang bertindak seperti nggak punya hati, padahal kita tahu bahwa pembeda kita dengan ciptaan lain adalah akal dan hati. Jadi ketika seseorang bertindak dengan mengabaikan akal dan hati, mengabaikan norma sosial maupun aturan agama, lantas apakah dia masih manusia?

Terkait kejadian ini, saya ingat pas lagi ngobrol 'just another random girl talk' bareng sahabat saya yang masih single lantas dia nanya ke saya, "Gimana rasanya menjaga suami?"
Ditanya gitu sebenernya saya bingung sih, menjaga gimana maksudnya?
"Yah you know lah ya kan ditempat kerja dia nggak cuma ketemu sama sesama pria aja cewek juga banyak apalagi kan suami kamu profesinya punya nilai tinggi di mata masyarakat?"
"Oh itu maksudnya," saya langsung paham.
Girl talk kami rupanya jadi langsung pindah dari zone single ke zona menikah.

"Ada temanku yang dia tiap hari selalu ngecek isi ponsel suaminya gitu dari mulai sms, chat, panggilan keluar masuk, gallery semuanya lah sampek yang udah dihapus-hapus juga dia lihat semuanya," kata sahabat saya, "nggakpapa kah kayak gitu? dan apa dengan begitu bisa membuat kita terhindar dari masalah orang ketiga?" dia kelihatan khawatir, yang mana wajar sih karena saya masih inget dulu pas belum menikah saya juga punya kekhawatiran dan ketakutan yang sama.

"Yah itu terserah masing-masing orang sih, kalau itu yang bikin teman kamu merasa lega dan nyaman... dengan ngecekin ponsel suaminya tiap hari ya nggak masalah, apalagi kalau suaminya juga nggak keberatan. Tergantung kesepakatan masing-masing pasangan. Kalau aku... well I don't mind to." kata saya, "Aku nggak merasa harus jagain dia atau apa yang gimana gitu sih enggak ya. I just put my trust to him," kata saya.

"Alasannya ya karena kita nggak pernah tahu apa yang pasangan kita lakukan diluar sana ketika nggak bareng kita pun kita juga nggak tahu apa yang dia rasakan jauh di dalam hati. All we can do just guessing, mengira-ngira. We don't really know. Mungkin cuma dia, Allah dan malaikat pencatat amal yang tahu semuanya."

"Isi chat itu bisa dihapus, sms dan panggilan juga bisa dihapus. Cuma perlu sepersekian detik kok untuk melakukannya. Makanya menurutku nggak ngaruh juga kalau kita mau kepoin isi ponselnya setiap hari buat ngecekin interaksi yang nggak enak. Sebagai istri tanggung jawab dan kewajiban kita adalah mengurus kebutuhan suami dan menjaga diri, mengutamakan suami, mendo'akan diluar sana rezekinya barokah dan dikaruniai kesehatan serta iman yang menetap dalam hatinya. Menurutku semuanya yang bisa kita lakukan sebagai istri adalah itu,"

"Ketika kewajiban kita sebagai istri sudah kita lakukan dengan sebaik mungkin - yah sebaik yang kita bisa, maka selebihnya adalah tergantung suami kita. Apakah dia memilih untuk juga menjaga dirinya saat kita nggak lagi bareng dia atau dia memilih untuk 'mengotori' dirinya sendiri, well it's their choices. Itu pilihan mereka, itu juga akan menjadi dosa mereka sendiri. Dan selama kita sudah melaksanakan kewajiban sebagai istri ya menurutku kita terlepas dari itu. Pada akhirnya Allah lah pemilik hati dan yang maha membolak-balikkannya baik tentang iman maupun tentang perasaan, all we can do is praying and put our trust. Itu menurutku sih, menurut orang lain bisa beda lagi," kata saya, mengakhiri jawaban. Sahabat saya mengangguk-angguk dan obrolan kami kembali bergulir ke zona single dan masa depan yang dihadapi sahabat saya.

Untuk saat ini, hanya itu yang bisa saya jawab, tentu saya sadar sekali bahwa dengan usia pernikahan yang baru dua tahun, jalan saya dan suami insyaAllah masih sangat panjang. Dan sebagai seorang istri pengalaman saya dalam pernikahan juga masih hanya dua tahun, saya tahu masih bukan apa-apa dibanding orang yang sudah menikah puluhan tahun, baik dalam urusan menjaga keharmonisan pasangan dan menjaga pernikahan. Saya sadar bahwa banyak yang mungkin saya belum pahami dalam rumah tangga tapi saya tahu saya akan terus belajar dan bertumbuh bersama dengan bertambahnya usia pernikahan kami.

Pernahkah teman-teman mengobrol topik yang sama seperti yang saya dan sahabat saya lakukan? Apa yang kamu lakukan untuk 'menjaga pasangan' dalam pernikahan? Let me know by your comments below :)

12 comments:

  1. yang paling penting memang rasa saling percaya satu sama lain ya kak Ninda :)

    ReplyDelete
  2. Saling menjaga menurutku penting. Menjaga kepercayaan terutama. Istri menjaga suami dan sebaliknya. Ditambah dengan komunikasi yang efektif antara keduanya.

    ReplyDelete
  3. saling terbuka agar tidak menimbulkan prasangka
    godaan dalam rumah tangga pasti ada itu

    ReplyDelete
  4. Untung aku belu punya suami ...#eh
    Tentu sebagai seorang isteri yah lebih baik menjalankan peran sebagai seorang istri dengan baik, doain dia, rawat dia kalau sakit, yang penting berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi yang terbaik dll,

    bukan malah sibuk kepoin dia,, nanti malah nyiksa diri sendiri,,, kalau udah niat selingkuh yah selingkuh aja,,, dalam rumah tangga memang banyak cobaannya,, dicoba oleh tahta, harta dan wanita,,, makanya cari suami itu yang ganteng, soleh dan kaya,,, nih kaya aku :v... wkwkwkwk
    ah gitulah pokonya, mending berodo'a agar suaminya dijauhkan dari godaan setan dan perempuan perebut suami orang...

    ReplyDelete
  5. Aku melakukan obrolan ini ke beberapa teman loh sist, hehe.. dan kesimpulannya seperti yang kamu bilang diatas.. Bukan dengan ngecek handphone lalu lantas kita merasa "aman" terhadap suami, tapi ya rasa percayaa itu saja, dan kita sdh melakukan kewajiban2 kita sebagai istri.. :D

    tapi kalau boleh jujur nih ya, saat2 masih LDM seperti ini, rasa "was-was" itu lebih gedee.. huhuhu.. kalau tiba-tiba terlintas negative thinking rasanya pengen cepat2 terbang, pulang kesuami.. hiks..

    ReplyDelete
  6. Subhanallah mbak
    judulnya kok bikin baper banget
    gak kubaca wes postingannya
    langsung komen ae

    >.<

    ReplyDelete
  7. mudah2an suami kita mah dijauhkan dari para hello kitty ya nin :D

    ReplyDelete
  8. Hal pertama yg saya inget dr papa saya adalah cari suami yang biasa2 aja, ga cakep banget, ga jelek bgt. Std lah.
    Kenapa? Karena kalo cakep banget jadi idola banyak cewe, susah ngejaganya.
    Ya kan kaya ig nya cowo cakep, misalnya tian, berapa kali di screenshot trus dishare ke group wa untuk dinikmati bersama2, ya walaupun wajah laki2 bukan aurat tapi bisa mengundang zina.

    Saya sendiri? Biasa aja. Huahaha. Ga nyambung.
    Percaya aja kalo saya wanita pilihannya selama dia bisa. Semua hal ada konsekuensinya dan berani berbuat pasti siap dengan konsekuensi. Gitcu aja sih.

    Saya banyak deadline dan ga punya waktu untuk ngecekin henponnya. Ya palingan kalo ada hal2 yg ga beres, Allah with me, hemponnya jg nanti bermasalah, rejeki seret. Huahahaha

    ReplyDelete
  9. Kalo aku apa yah. Kadang memang aku buka-buka hape suami. Tapi bukan bermaksud 'menjaga', sih. Lebih ke arah kepo dan kekurangan bahan gosip. Hahahahahah..... Yah bagaimanapun juga, kayaknya cara paling ampuh menjaga suami adalah dengan menjaga dan meningkatkan kualitas diri kita sendiri baik dari segi penampilan dan isi otak supaya kita tetap 'berharga' di mata suami, ya. *selfreminder

    ReplyDelete
  10. wuuaa, ini obrolan hangat beberapa waktu lalu di kantor. gegara kasus dokter itu. apalagi masih orang bandung dan sekitar sini juga!

    ReplyDelete
  11. Hoiyaa sama bahasan kita, beda sisi aja. Kamu pasangan baru, aku dari sisi single

    ReplyDelete
  12. Sepakat dgn kalimat "i just put my trust to him". dgn begini saya yakin akan tercipta saling percaya satu sama lain. Trims tulisannya

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home