Friday, December 8, 2017

RESEP MINUMAN TRADISIONAL PALING MEMORABLE

Apa minuman tradisional yang paling related sama masa kecil teman-teman?

Kalau saya ada beberapa sih. Dan salah satu minuman yang memorable bagi saya itu akan saya ceritakan disini.

Seperti yang sudah pernah saya bilang, makanan bisa menjadi mesin waktu yang membuat kita mendadak terlompat ke masa lalu.
Minuman juga begitu kok. 

Suatu hari seusai lebaran, ada acara halal bihalal bareng keluarga yang diadakan teman-teman di tempat kerja suami. Acaranya makan-makan bareng gitu disebuah tempat yang sudah ditentukan. Ya, saya ada disana.

Menu yang disajikan macam-macam, mulai dari makanan-makanan tradisional khas indonesia, western, Chinese dan Jepang karena style tempat makannya buffet alias all you can eat. Habis makan berat dan udah kenyang, kami menuju bagian jajanan. Nah bagian jajanan ini kebanyakan pilihan menunya jajanan jadul khas indonesia meskipun ada juga yang western, dari mulai martabak manis, kue cubit, kue pancong, cucur, getuk sampai roti bakar, waffle dan pancake. Di bagian jajanan ada juga minuman tradisional seperti sinom, es tebu, kolak, es campur, angsle, wedang ronde.

Ngerasa teringat sesuatu, saya memesan satu porsi angsle dengan topping kacang goreng yang cukup banyak diatasnya.

Jadi, meanwhile ago... ketika saya masih terlalu kecil untuk tahu bahwa sebenarnya apa yang kita lihat tidak selalu sama dengan kondisi sebenarnya, dan bagaimana menjadi survivor dalam hidup yang ternyata berat itu bisa melukai seseorang dengan telak. Hal-hal seperti itu.

Saya dan orang tua, kerap kali pada saat malam minggu pergi ke tengah kota. Mampir ke alun-alun kota, kemudian sedikit menepi di sebuah gerobak dorong yang menjual angsle. Rasanya saat itu udara di kota saya nggak sepanas saat ini, malam hari juga cenderung dingin. Angsle hangat yang dimakan dengan mangkuk legendaris bergambar ayam dengan campuran potongan roti murah yang saya malah suka dan topping kacang goreng. Nggak tahu kenapa saya kok suka banget sama roti campuran dan kacang goreng yang rasanya menurut saya jadi enak banget ketika sudah bercampur dengan keseluruhan isi angsle. 

Saya masih ingat bahwa penjual angsle di gerobak dorong itu adalah seorang nenek yang kira-kira usianya sama dengan nenek saya, mengenakan kebaya lengkap dengan kain dan rambut yang digulung. Wajahnya cerah dan lembut, bergerak gesit dan semangat untuk ukuran usianya saat itu meskipun saya lupa bagaimana tepatnya wajah nenek itu.

Karena selalu menghabiskan kacang dan roti duluan dan sering merengek minta tambah kedua pelengkap itu ke ibu saya, beliau sering sekali memberi saya ekstra kacang goreng dan roti. Saya, tentu saja sebagai anak kecil menerimanya dengan senang, sesuatu yang ditegur ibu saya karena ngerasa anaknya celamitan dan memaksa membayar ekstra yang diberikan nenek penjual - meskipun ditolak.

Ya pada masa-masa itu keluarga saya masih punya agenda terjadwal untuk keluar rumah dan makan di luar meskipun cuma di warung bakso langganan maupun tempat makan pinggir jalan. Mungkin bagi anak-anak lain di zaman sekarang atau bahkan pada saat itu, ini hal biasa. Tapi kebiasaan itu nggak berlangsung lama, setidaknya dalam ingatan saya karena kemudian dengan tanpa alasan jelas ayah saya selalu menentang kegiatan makan di luar apapun bentuknya. Kalau toh beli makanan diluar mendingan dibawa pulang saja.

Resep minuman tradisional yang terdiri dari santan, daun pandan, beras ketan dan beberapa campuran lainnya itu terlalu memorable. Dan angsle yang dijual di gerobak dorong itu terlalu enak dalam ingatan saya, hingga setelah remaja angsle manapun yang saya makan nggak tahu kenapa kok rasanya tetap nggak bisa menyamai buatan si nenek. Entah memang benar begitu atau karena memorable dan terdaftar sebagai salah satu bagian menyenangkan dalam ingatan saya maka rasanya jadi jauh lebih enak dan terasa beda. Meskipun beliau sudah lama sekali nggak berjualan, entah dilanjutkan anaknya atau usaha itu mandeg sama sekali ketika beliau sudah terlalu tua atau malah sudah meninggal. Entahlah, saya lupa tepat lokasinya berada juga.

3 comments:

  1. Mungkin karena piringnya dicuci ala kadarnya doank, trus pas bapaknya mbak Anin liat, jadi ogah makan di luar lagi *sotoy*

    Aku juga suka angsle pakai extra kacang, biasanya beli di depan taman krida :D

    ReplyDelete
  2. Angsle ituuu mengingatkan pada Malang..Nin, kangen masa kecil jadinya :D

    ReplyDelete
  3. angsle sama wedang ronde beda ya mba?

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home