Friday, October 9, 2020

PENCAPAIAN DAN KECEPATAN

Bertemu dengan teman lama biasanya akan banyak membangkitkan ingatan akan masa lalu.
Saya sering sekali terlibat pembicaraan dengan teman-teman yang merasa bahwa mereka ingin berada di posisi saya saat ini. Memiliki kendali sendiri atas pekerjaan, menjalankan bisnis sendiri dan tidak harus terlibat dalam konflik emosional dalam bentuk apapun dengan rekan kerja, atasan, maupun bawahan.
Saya biasanya hanya tersenyum menanggapi itu, kemudian berkata bahwa ada bagian diri saya yang merindukan suasana kantor, suasana bekerja di kantor dan interaksi antar pekerja.

Saya merasa sebagian besar jiwa saya adalah jiwa pekerja korporat yang menikmati rutinitas dan interaksi korporasi. Pekerja korporasi setiap gajian juga nggak pakai bingung, sudah jelas pos-posnya akan lari kemana aja, kebutuhan, tabungan dan investasi santai. Menjalankan usaha tentu saja lebih ribet, pemasukan yang kita dapat di hari ini, mikirnya sampai beberapa bulan bahkan bertahun demi kelangsungan usaha.

Saya jadi mengerti mengapa banyak pemilik usaha (yang super sukses sekalipun) memilih tetap berpenampilan dan berperilaku sederhana. Tidak hanya karena lebih mementingkan pengembangan dan kelangsungan usaha, mereka juga tetap mempertahankan gaya hidup semula saking sadarnya bahwa hidup ini berjalan seperti roda. Ada kalanya kita berada di bawah, kemudian naik berada di atas dan punya segalanya. Tidak menutup kemungkinan suatu hari kita harus turun ke bawah lagi dan kehilangan banyak hal yang kita miliki saat ini. 

Dan meskipun sudah lebih dari 10 tahun saya masuk ke dunia blogging, serta hampir 4 tahun mengelola bisnis kecil saya sendiri, saya masih merasa bukan apa-apa. 
Apakah saya pernah merasa bahwa rasanya saya bergerak terlalu pelan dengan semua ini?
Ya, tentu saja pernah. Terutama pada tahun-tahun pertama dan kedua, ragu apakah bisa terus melaju, apakah bisa terus bertahan?

Ternyata atas izin Allah saya mampu berjalan dan bertahan menjalankan usaha yang saya kelola sampai saat ini. Memang tidak ada hasil yang bombastis, saya merasa masih berjalan seperti keong. Perlahan dan lama.

Namun tidak mengapa, karena ternyata saya menikmati kecepatan ini. Mengenal setiap orang dengan karakter dan tipe seleranya yang berbeda-beda, mempelajari dan belajar memprediksi situasi pasar yang terus menerus berubah dan super dinamis...

Dulu ketika masa kuliah, saya selalu tertarik dengan mata kuliah marketing namun tidak pernah punya bayangan untuk harus menjalani dunia ini. Marketing menurut saya adalah ilmu yang sulit meskipun sebagian besar teman saya tidak merasa begitu. Konsentrasi marketing biasanya lulus paling cepat dibanding yang lain dan lebih mudah dihafal, katanya. Marketing adalah ilmu yang menarik, namun tidak ada kata berhenti untuk melakukan perbaruan ilmu jika kita sudah memutuskan masuk ke dalamnya. Pasar terus berubah dengan dinamis, tidak bisa diprediksi dengan rumus dan angka yang jelas. Sesuatu yang tidak mampu diprediksi menggunakan angka dan rumus adalah sesuatu yang sulit, bagi saya.

Memutuskan untuk membangun usaha sendiri membuat saya perlahan menyadari bahwa ternyata hidup bisa lebih sederhana dan lebih sederhana lagi. Rendahnya tuntutan pergaulan contohnya, ini cukup berimbas pada gaya hidup dan pengelolaan keuangan harian. Gaya hidup yang menuntut untuk memiliki banyak pos pengeluaran adalah permasalahan yang biasanya dimiliki pekerja korporasi. Semakin naik posisinya, semakin tinggi juga tuntutan pergaulan dan gaya hidupnya.

Sementara itu, lucunya, semakin sederhana semakin rendah juga tuntutan pergaulan dan gaya hidup, saya jadi mudah mensyukuri hal-hal kecil.

Ternyata semakin sederhana hidup ini, akan lebih mudah bagi kita untuk berbahagia.
Cukup menjalani dengan sungguh-sungguh dan berusaha sebaik-baiknya. 
Bagian inilah yang terpenting.
Lebih fokus pada diri dan hidup kita, tanpa merasa perlu untuk melihat dan membandingkan dengan hidup orang lain. Hidup kita memang memiliki ritme dan kecepatan yang berbeda dengan orang lain. Namun lantas kenapa? Menjadi lebih lambat asalkan tetap berusaha, nggak masalah kok. Nggak dosa juga.

Pada usia segini dia kok udah wakil CEO perusahaan X ya?
Pada usia segini dia kok udah jadi staff khusus kepala negara?
Pada usia segini... gila sih investasinya sudah bejibun dan siap untuk pensiun.
Sementara kita kok kayak gini-gini aja, berasa sudah ketinggalan jauh banget dengan pencapaian orang di luar sana.

Mengapa kita merasa harus repot-repot memperbandingkan diri dengan pencapaian orang lain?
Sementara jelas-jelas banyak faktor yang berbeda antara hidup kita dengan orang tersebut. Bisa jadi dari segi pendidikan, lingkungan pertemanan, orang tua yang full support dan banyak hal lain yang tidak kita miliki. Yang paling penting kita sering tidak mampu melihat sisi resikonya, hanya aspek pencapaiannya saja. Padahal pencapaian seringkali beriringan dengan tingginya resiko. Belum tentu kemampuan yang kita miliki sama cukupnya untuk menghadapi resiko tersebut.

Kembali lagi bahwa Allah lah yang paling tahu kemampuan kita, lebih dari diri kita sendiri.
Jika berada di titik ini saja kita sudah mampu berbahagia, jika ada di posisi ini saja kita mampu berkontribusi untuk ummat sesuai porsi yang kita miliki...
Kita harus tahu bahwa kita sedang berada di posisi yang tepat, untuk saat ini.

Jika mau kita akui, bahkan standar kebahagiaan kita saja sudah berbeda satu sama lain. Semakin mengeliminasi macam-macam hal-hal yang kita pikirkan dan memilih untuk fokus pada apa yang benar-benar penting bagi diri kita adalah lebih baik.

Dewasa ini, kita banyak mendapat suguhan konten tentang kesuksesan di usia muda, tanpa sadar cara pandang kita sudah berubah. Seolah-olah semua orang bergerak dengan sangat cepat, hanya kita sendiri yang sepertinya lambat dan tidak ada progress.

Padahal sudah ukurannya bahwa timeline setiap orang berbeda.
Setiap orang punya waktunya masing-masing.
Ada yang lulus dengan cepat tapi kesusahan mendapatkan pekerjaan, ada yang lulus cepat dan langsung dapat kerja tapi meniti karir dengan susah payah, ada yang lama lulus namun setelah bekerja karirnya mulus meroket. Ada yang berbisnis sekali langsung sukses namun menemukan banyak kendala saat hendak mengembangkan bisnis ke sektor lain, ada juga yang susah payah membangun bisnis dan butuh waktu lama untuk profit namun setelah profit jalan pengembangan bisnis lancar jaya.
Itu dia, kecepatan pencapaian setiap orang berbeda-beda, maka tidak adil jika mensejajarkan diri dengan orang lain yang sudah jelas punya faktor-faktor pendukung berbeda dengan kita.
Selagi kita sedang mengusahakan yang terbaik, maka tidak ada yang salah dengan kita.

Ada banyak namun kurang sorotan, bahwa banyak orang baru meraih kesuksesan yang didapatkan pada usia matang, tidak sedikit juga yang baru pada usia lanjut/tua. Kita tentu akrab dengan contohnya, resto waralaba yang nyaris selalu mampu kita temukan di kota-kota besar maupun kecil, pendiri KFC. Tidak hanya menemukan hal yang dia benar-benar sukai di usia lanjut, Colonel Sanders mendapatkan kesuksesan besar hingga kita tidak perlu lagi harus ke Kentucky untuk bisa mencicipi KFC.

Cerita yang jarang dikisahkan juga adalah kematian usia muda, tidak jarang orang yang luar biasa terkenal dan sukses meninggal di usia muda.

Saya jadi teringat artikel yang pernah saya baca terkait dengan rezeki dan kematian yang saling terikat satu sama lain.
Imam Al-Muzani rahimahullah berkata,

وَالخَلْقُ مَيِّتُوْنَ بِآجاَلِهِمْ عِنْدَ نَفَادِ أَرْزَاقِهِمْ وَانْقِطَاعِ آثَارِهِمْ

“Makhluk itu akan mati dan punya ajal masing-masing. Bila ajal tiba berarti rezekinya telah habis dan amalannya telah berakhir.”
sumber dari sini

Jika kita merasa insecure hari ini, mari mengisi waktu dengan lebih fokus pada diri sendiri dan keinginan kita sendiri, meskipun pelan, meskipun lambat... yuk kita berikan penghargaan pada diri kita sendiri karena tetap berjuang dalam kecepatan kita sendiri. Karena hidup ini mungkin saja lebih singkat dari yang kita kira, akan lebih baik jika kita penuhi dengan sesuatu yang kecil kemungkinan akan kita sesali di kemudian hari. 

Karena hidup ini amanat dan tugas kita tidak sekalipun berubah untuk melakukan yang terbaik dan Allah sukai dalam keseharian hingga jatah usia kita nantinya habis.

Tidak masalah untuk meniti langkah perlahan, selama dalam prosesnya kita mampu menemukan diri kita sendiri yang berubah, tumbuh dari hari ke hari.

Diri kita yang makin mendewasa.

1 comment:

  1. Dewasa ini, kita banyak mendapat suguhan konten tentang kesuksesan di usia muda, tanpa sadar cara pandang kita sudah berubah. Seolah-olah semua orang bergerak dengan sangat cepat, hanya kita sendiri yang sepertinya lambat dan tidak ada progress.

    Setuju banget sama paragraf ini.
    Di sisi lain, kalau liat orang-orang muda yang sukses rasanya ingin mulai sekarang juga biar nggak tertinggal seperti mereka. Tapi "seperti mereka" ini berarti juga sedang membandingkan diri sendiri ya kan ?
    Kadang membandingkan diri sendiri dengan orang lain itu semacam "reflek" atas kejadian atau peristiwa disekitar kita. Pas udah nyadar aja baru ngeh "aduh ga boleh gitu".
    Hahhaa

    Btw iya, aku jg kadang kangen sama suasana kantor dan punya temen kantor. Tapi bener banget si, semakin banyak pergaulan akan semakin banyak pengeluaran semacam makan siang bareng di tempat fancy atau jalan jalan bareng. Sementara sekarang jadi ibu rumah tangga, nggak ada kebutuhan pengeluaran semacam itu. Ternyata hidup sederhana juga bisa bahagia (ya meskipun tetep kadang kangen) hahaha.

    Samaaa. satu lagi soal pemasaran.
    Aku jg lagi mulai usaha sendiri, kirain gampang ya tinggal upload2 hahahah tp ternyata ada beban tersendiri ketika punya usaha tp stock masih banyak yg belum terjual. Musti belaajar banyak lagi untuk promosi dan marekting strategi :D

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home