Sunday, November 21, 2021

SELAMAT TINGGAL PADA SELEMBAR KENANGAN

Nggak nyangka saya bakal sampai tidak menulis selama satu bulan di blog ini.

Bulan Oktober terlalu sibuk dan rupanya bulan November saya juga cukup berantakan mengatur rutinitas dan waktu. Bisa dibilang saya hanya menikmati beberapa hari di awal November yang cukup tenang dan bisa melakukan beberapa aktivitas yang sudah lama saya tunda di bulan sebelumnya.

Awal bulan November adalah suaka bagi rasa malas dan sentimentil, namun saya berniat untuk melakukan hal yang sudah sangat lama saya tunda yaitu menyortir barang lama yang sulit saya lepaskan meskipun sudah lama tidak dipakai.

Yang paling susah keluar adalah barang yang satu ini:

Selembar seprai set sarung bantal guling motif jadul yang dibelikan ibu saya dan sudah menemani belasan hidup saya merantau jauh dari rumah. Selembar seprai set terakhir yang dibelikan ibu saya sebelum Allah yang lebih sayang beliau memanggilnya pergi.

Seprai yang hangat karena siapa yang memberi sekaligus cukup dingin menemani tidur saya di kota-kota panas seperti Surabaya dan Jakarta. Seprai yang saking lamanya menemani saya jalinan benangnya juga melemah, sehingga bolong ketika suatu kali saya berpindah posisi saat sulit tidur dalam malam yang tidak nyaman. Saya masih mencoba menjahitnya sekali hingga kemudian bagian bolong itu jadi merembet kemana-mana. 

Ketika saya pindah rumah berdua suami dengan kamar tidur dan kasur baru, seprai ini tidak lagi muat untuk dipakai karena ukuran yang lebih cocok untuk kasur single yang agak lebar.

Namun harus saya akui, sulit sekali untuk memasukan seprai ini bersama baju lusuh lain untuk donasi upcycle kain perca. Saking berpisah dengan seprai ini terasa seperti saya juga berpisah dengan kenangan dan bagian dari hidup saya. Rasanya hidup saya selama belasan tahun yang disaksikan si seprai juga ikutan ingin mengucapkan selamat tinggal. Sesusah itu.

Tahun ini adalah tahun kesekian saya masih mempertahankan si seprai. Menjelang penghujung tahun ini barulah saya akhirnya mampu memantapkan hati untuk melepasnya setelah mengambil foto-foto dalam postingan ini untuk saya ingat. 

Seprai sederhana dengan sepaket kenangan menyertainya.

Pada malam-malam dan dini hari yang sepi mencoba menghasilkan saldo tabungan dengan koneksi internet dan skill ala kadarnya, saat-saat membaca buku kuliah dan mengerjakan tugas, saat-saat mental sedang down, saat kesedihan serasa mencapai titik nadir, saat merasa hanya memiliki sedikit kehidupan sosial yang baik dan sisanya kosong, saat-saat melalui akhir masa remaja dengan kebingungan dan ketika menginjak golden age yang lebih mapan namun selalu memikirkan tujuan hidup dan masa depan. Orang-orang yang datang, orang-orang yang pergi, hal-hal yang saya pikirkan di ujung kantuk sembari berbaring sendirian. Begitu banyak yang sudah terlewati.

Namun saya mencoba berpikir bahwa ibu saya sendiri tentu tidak ingin pemberiannya membebani. Barang yang sudah tidak dipakai akan tetap harus dirawat meskipun nilai gunanya sudah tidak ada. Saya juga tidak ingin kehilangan seprai ini karena rusak atau hilang suatu saat nanti. Ketika kondisinya masih layak untuk disumbangkan ke donasi perca, memperpanjang usia kain dan membuatnya lebih berguna untuk orang lain adalah pilihan yang layak untuk menghargai seluruh masa hidup saya yang sudah berlalu ditemani lembaran seprai set ini.





Selamat tinggal dan terima kasih untuk selama ini.

No comments:

Post a Comment

Next Page Home