Monday, December 12, 2022

SEUSAI SENJA

Kakek saya meninggal.

Bagi teman yang sudah mengenal saya dari lama pasti tahu kalau kakek nenek dari pihak ibu saya sudah seperti set orang tua kedua. Dengan mereka saya menghabiskan masa kecil saya yang cukup indah diingat. Setidaknya hingga saat ini. Kakek saya adalah orang yang selalu membuatkan mainan buatan sendiri, ayunan contohnya. Beliau juga selalu bisa memperbaiki apapun barang yang rusak dan juga selalu siap membantu membuat aneka prakarya tugas sekolah yang seringkali terasa tidak masuk akal untuk dikerjakan dengan skill anak-anak seperti membuat kerangka kanvas untuk lukisan dan banyak hal lain yang entahlah untuk apa saya harus belajar membuatnya di sekolah. Toh saya melupakannya segera setelah naik kelas.

Kakek saya selalu sholat di musholla setiap waktu sholat, musholla yang dimaksud adalah musholla yang dibangunnya sendiri dekat rumah. Rumah kami jauh dari masjid dan musholla, maka musholla itu lah satu-satunya rumah ibadah terdekat sejak saya kecil hingga sekarang. Dulu selalu hiruk pikuk oleh anak-anak yang datang mengaji dan warga sekitar untuk sholat berjamaah, terutama saat Ramadhan. Namun ketika warga yang sepuh bergantian tutup usia, banyak anak muda seperti saya yang merantau, hanya tersisa sedikit sekali orang yang menghidupkan musholla. Anak muda yang tetap di desa dan bermatapencaharian memilih beribadah di rumah masing-masing atau tidak pernah. Entahlah. Tapi kakek saya masih selalu sholat di dalam musholla itu.

Kakek saya selalu marah ketika saya tidak ikut tarawih di musholla ketika kanak-kanak, tidak pernah mengomel heboh, hanya mengancam tidak mau memperbaiki sepeda saya jika rusak lagi. Ancaman itu tidak pernah terlaksana karena saya juga cukup ketakutan untuk segera berlari ke masjid. Sekolah saya jauh, memakan waktu satu jam untuk berjalan kaki ke desa sebelah setiap pagi dan siang saat pulang. Belum lagi kegiatan belajar kelompok, saya tidak sanggup harus bolak-balik desa sebelah berjalan kaki dengan buku memberati punggung, terlebih saat sore menjelang. Petang berpadu dengan sepinya jalan di tengah ladang tanpa perumahan, semak-semak dan rumpun bambu yang rimbun akan membuat siapapun sibuk berpikir mana yang harus lebih dulu ditakuti, hewan liar berbahaya atau hantu. Tidak ada pikiran mengenai orang jahat saat itu, desa kami selalu aman dan akrab.

Saat saya kecil saya selalu mengira kakek dan nenek akan hidup puluhan tahun lagi, tidak bertambah renta seiring waktu. Saking mereka selalu terlihat trengginas berkegiatan di rumah, kebun dan ladang mengingat keduanya adalah petani dan pedagang sejak masih usia belasan.

Kalau diingat lagi, rasanya saya justru lebih dekat secara emosional dengan kakek dan nenek dibanding orang tua saya sendiri. Mungkin karena saya cucu tertua yang tinggal bersama mereka sejak lahir dan masih tetap bersama mereka meskipun orang tua saya sudah pindah ke daerah yang lebih dekat dengan pusat kota.

Setiap kali pulang kampung, kakek selalu sibuk menghawatirkan saya dan adik terlebih saat kami berstatus pengangguran. Selain karena kami tumbuh dewasa dalam kondisi piatu, adalah juga karena kondisi keluarga yang tidak baik. Kadang mengobrol dengan beliau terasa menyesakkan, karena saya merasa beliau tidak memahami perasaan saya, meskipun kondisi itu membaik ketika saya bertambah dewasa dan menjadi lebih bisa menerima bahwa saya juga semestinya lebih mampu bersabar menghadapi pemahamannya yang berbeda.

Entah kenapa menjadi orang dewasa juga berarti bahwa kita akan lebih banyak merasa sendirian dan lebih sering merasa kesepian. Merasa tidak dimengerti dan didengarkan namun disaat yang sama juga harus merasa cukup.

Sejak masih kecil saya selalu berharap kakek nenek saya berumur sangat panjang, bisa menemani saya hingga saya cukup tua. Namun saat saya mulai mencapai usia akhir 20-an, ternyata saya sudah mulai bertanya-tanya untuk apa umur yang panjang? Apa pentingnya hidup dalam waktu lama? Meskipun jiwa kita terasa masih belia, sibuk bertanya dan merasa, masih banyak yang belum kita ketahui tentang dunia, namun sayangnya kita toh hanya manusia biasa yang tubuhnya punya batas waktu.

"Umur panjang itu untuk beribadah," kata seorang teman ketika saya pernah membahas hal ini dalam pembicaraan kami.

"Benar, harapannya memang demikian. Tapi tubuh kita tidak bisa makin muda, demikian juga tiap selnya. Ingatan kita tidak bisa makin panjang dan kelelahan semakin mudah bertambah ketika kita banyak beraktivitas. Makin tua pada umumnya kita akan makin mudah sakit dan memerlukan waktu yang lebih lama untuk sembuh, makin gampang pegel-pegel dan sebentar-sebentar lupa. Bisa jadi keindahan beribadah, mengadu pada Allah juga mengalami penurunan terganggu encok dan teman-temannya. 

Seperti ketika kita masih muda dan lutut lecet-lecet berdarah karena jatuh tapi harus sholat, cukup menyiksa kan? Wudhu saja bikin luka terbukanya jadi nyeri, sholat juga serba ngga konsen karena menahan perih. Mau sholat sambil duduk kok kayak lebay secara lutut kita cuma lecet luka yang nggak parah, bukannya dislokasi.

Waktu kita muda saja, hal-hal kecil mengganggu keindahan ibadah kita jadi kewajiban yang mau nggak mau kudu kita laksanakan, apalagi pas udah tua, segala sendi baru mau gerak aja kadang serasa mau copot semua engselnya?"

Yang jelas, saya berhenti berharap usia kakek saya akan panjang ketika bertambah dewasa (berhubung nenek saya sudah tiada ketika saya masih remaja). Saya hanya berharap kematian beliau dalam kondisi yang baik, wafat dalam keadaan dicintai Allah.

Saya teringat rasulullah memilih wafat di usia 60 tahun meskipun rasul bisa saja meminta pada Allah untuk berumur sangat panjang, mengingat pengetahuan agama saya yang terbatas, mungkin saya harus mencari tahu pendapat ulama terkait ini.

Kehilangan nenek membuat kakek saya menjalani hidup seolah timpang dan meninggalnya ibu saya menjadi himpitan beban berat yang semakin menyedot energinya. Untuk ukuran kakek saya yang sudah lama menjalani hidup dengan sewajarnya tanpa banyak mau, mungkin sudah semakin sulit ketika hidup dalam kondisi kehilangan. Ketika semakin tua, sudah semakin sedikit hal-hal yang kita inginkan untuk dicapai, bahkan mungkin ambisi sudah sangat tipis.

Tahun ini pun kondisi kesehatan beliau semakin memburuk saja, dulunya saya dan adiklah yang selalu menjaga kakek ketika kami masih sekolah hingga kuliah dan belum bekerja. Namun dalam tahun ini pertemuan dengan kakek semakin membuat saya merasa sedih. Ingatannya sudah jauh berkurang, kakek sudah tidak lagi mengingat saya. Ketika melihat saya yang baru datang, beliau langsung bertanya saya ini siapa? dengan bahasa jawa krama inggil yang sangat halus. Kemudian mengajak saya mengobrol, lagi dengan bahasa jawa halus. Lupa saya ini siapa, lupa juga kalau saya cucunya. Beliau juga tidak bisa bergerak dengan leluasa, pinggangnya sakit dan belum sembuh karena jatuh dan harus terus berbaring atau bangkit dan berjalan dengan super pelan menggunakan kruk.

Suatu siang, tante saya memberi kabar bahwa kakek saya baru saja meninggal.

Saya bersedih karena kemungkinan untuk tidak bisa bertemu beliau lagi baik di dunia ini dan setelahnya, namun disaat yang sama juga lega bahwa beliau sudah terbebas dari segala rasa sakit dan tidak nyaman yang diderita di usia tuanya.

Rasanya sangat ganjil ketika saya tiba di kampung halaman dan menjumpai ranjang tempat beliau biasa berbaring hening, kosong dan sepi. Setiap sudut kamarnya terasa dingin karena ditinggal penghuninya, bukan untuk bekerja di ladang atau mengurus ternak, tapi kepergian yang ajeg tanpa kembali.

Lebih dari rasa asing yang janggal, ketika senja itu berkunjung ke kakek saya yang sudah disemayamkan di pemakaman. Menemukan peristirahatan terakhirnya setelah menelusuri jengkal demi jengkal pemakaman desa yang tidak beraturan. Saat akhirnya menghadapi gundukan tanah merah dengan nisan bertuliskan namanya, taburan bunga-bunga yang masih segar, menutupi tubuhnya yang sudah jauh dalam dekapan tanah. 

Namun dengan sosok kakek yang sudah saya kenal seumur hidup saya, dengan kebiasaannya yang selalu sholat tepat waktu di musholla sampai beliau sudah terlalu tua dan tidak sanggup berjalan untuk beribadah keluar rumah lagi, menyisihkan harta untuk membangun musholla, memberi kontribusi dana pendidikan dan lapangan pekerjaan pada banyak tetangga sekitar yang kurang mampu... 

Dipenghujung senja itu, matahari masih cerah meskipun jam sudah sangat sore. Ketika tapak kaki kami meninggalkan pemakaman untuk bersiap kembali ke perantauan, ada bagian diri saya yang cukup yakin bahwa beliau akan berada di tempat yang lebih baik. 

InsyaAllah.

No comments:

Next Page Home